"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Cium
Pagi itu. Setelah sarapan.
Adea akhirnya bisa berdiri.
Tidak langsung tegap, masih sedikit gemetar di lutut, seperti anak rusa baru lahir yang belajar berjalan. Tapi ia tidak jatuh. Angga masih berdiri di sampingnya, satu tangan siap menangkap jika gadis itu ambruk.
"Gue bisa," ucap Adea, mendorong tangan Angga pelan.
"Lu bilang bisa dari tadi, tapi kaki lo masih goyang."
"Itu karena lantainya goyang."
"Lantai rumah gak goyang, Adea."
"Sekarang goyang. Gempa."
Angga menatap mendongak, lalu menatap lantai, lalu menatap Adea dengan ekspresi datar. "Gak ada gempa."
"Gempa hati."
Angga menghela napas. "Lu keterlaluan."
"Lo juga."
Adea tersenyum manis, lalu berjalan dengan hati-hati menuju kamar mandi. Di balik pintu, ia bersandar sebentar, menangkup wajahnya yang panas.
Dia bilang cinta. Dia bilang cinta. DIA BILANG CINTA.
Ia ingin berteriak kegirangan, tapi suaranya akan terdengar ke seluruh rumah. Jadi ia hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan dan melompat-lompat kecil di depan wastafel. Lupa bahwa pahanya masih pegal.
"Aduh-?" ia meringis, tapi tetap tersenyum.
Di kamar Adea.
Angga berdiri di depan lemari baju Adea, sesuatu yang jarang ia lakukan. Biasanya Adea yang memilih pakaian sendiri. Tapi pagi ini, Adea memerintahkannya dari balik pintu kamar mandi.
"Angga! Ambilin baju!"
"Yang mana?"
"Yang putih! Rok abu-abu!"
Angga membuka lemari. Mata pria itu menyapu deretan baju gantung, kebanyakan warna pastel, krem, putih, dan beberapa motif lucu. Ada boneka di sudut lemari. Ada juga foto Polaroid mereka berdua ditempel di bagian dalam pintu lemari.
Ia tersenyum kecil melihat foto itu.
Lalu ia mengambil kemeja putih dan rok abu-abu.
Tapi matanya menangkap sesuatu di rak paling bawah.
Sebuah kotak kardus kecil. Tidak ditutup rapat. Dari dalamnya, terlihat ujung kain berwarna merah muda dan hitam dengan renda.
Angga mengerjap.
Ia tahu apa itu.
Ia buru-buru menutup lemari dan meletakkan baju di atas tempat tidur.
"Udah gue taro di kasur!" teriaknya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.
"Kenapa lo teriak-teriak?" teriak Adea dari kamar mandi.
"Gak kenapa-kenapa! Cepetan mandi! Kita telat!"
"Iyaa~"
Di teras rumah.
Angga sudah siap. Jaket kulit hitam, kemeja putih polos, jins, sepatu boots. Rambutnya disisir rapi ke belakang, tapi beberapa helai tetap jatuh ke dahi, membuatnya terlihat sedikit berantakan dengan cara yang tidak disengaja.
Ia berdiri di samping motor Ninja hitamnya, helm biru Adea di stang, helm hitamnya di tangan. Matanya menatap pintu rumah, menunggu.
Cumi duduk di dekat pot bunga, ekornya melingkar di kaki, matanya menyipit ke arah Angga seolah berkata "lo kenapa tegang begitu?"
"Diem lo, Cum," bisik Angga.
"Meong."
Pintu terbuka.
Adea keluar.
Kemeja putih, tapi bukan yang Angga ambilkan. Ini kemeja putih dengan pita di kerah, lebih feminin. Rok abu-abu selutut. Rambutnya diikat dua kepang rapi, tapi kali ini tidak memakai pita. Wajahnya segar, ada sedikit perona pipi alami, atau mungkin itu efek samping dari kebahagiaan.
Dan ia memakai parfum.
Angga tahu. Wangi vanilla itu menyebar begitu Adea melangkah keluar pintu.
"Lo ganti baju," ucap Angga.
"Iya. Yang lo ambilin ketinggalan jaman."
"Itu baju lo."
"Dulu. Sekarang udah ketinggalan jaman."
Angga tidak membantah. Ia hanya menghela napas dan mengambil helm biru dari stang.
"Ditekuk."
Adea menunduk. Angga memasangkan helm biru itu, perlahan, lembut, seperti biasa. Tapi kali ini, ketika tali helm sudah terpasang, ia tidak segera melepaskan tangannya.
Ia menahan sebentar. Matanya menatap mata Adea dari balik kaca helm.
"Hari ini semangat."
"Iya."
"Jangan telat."
"Gak akan."
"Jangan lupa-"
"Angga." Adea memotong. "Udah, gas."
Angga tersenyum kecil. Ia memasang helmnya sendiri, naik ke motor, dan menunggu hingga Adea memeluknya dari belakang.
Tapi Adea tidak langsung memeluk.
Ia naik ke jok belakang dengan susah payah, karena kakinya masih sedikit gemetar. Lalu ia merapatkan tubuhnya ke punggung Angga. Tangannya melingkar di perut pria itu. Dan kepalanya... kepalanya tidak menempel di punggung.
Ia menempelkan pipinya di sela-sela bahu dan leher Angga. Di tempat yang biasanya tidak ia sentuh.
"Lo kenapa?" tanya Angga, sedikit canggung.
"Gue mau nyium."
"Apa?"
"Gue mau nyium leher lo."
"Dea, kita di depan rumah-"
"Cepetan, sebelum gue berubah pikiran."
Angga tidak bergerak. Ia hanya diam, jantungnya berdebar kencang, menunggu.
Adea menunduk.
Bibirnya menyentuh leher Angga tepat di bawah telinga, di tempat yang sensitif. Ia mengecupnya pelan. Sekali. Lalu ia menggigitnya sedikit. Tidak keras, hanya cukup untuk meninggalkan bekas yang akan hilang dalam beberapa jam.
Angga menarik napas tajam.
"Adea."
"Iya."
"Lo nyium gue."
"Iya."
"Di leher."
"Iya."
"Di depan rumah."
"Iya. Gas. Nanti telat."
Angga menggeleng. Tapi ia menyalakan mesin. Motor melaju pelan meninggalkan halaman, dengan bekas gigitan di lehernya yang masih terasa panas, dan gadis di belakangnya yang tertawa kecil karena berhasil membuatnya salah tingkah.
Cumi duduk di teras, menatap motor itu pergi.
"Meong."
"Semoga harimu menyenangkan, majikanku yang aneh."
Fakultas Kedokteran. Parkiran.
Angga memarkir motor di tempat biasa. Adea turun, kali ini tanpa diangkat, karena ia keras kepala. Tapi begitu kakinya menyentuh tanah, ia hampir terjungkal.
Angga menangkapnya tepat waktu.
"Lu bilang udah bisa."
"Bisa kok. Cuma... rada lemes."
"Rada lemes atau rada lemes banget?"
"Rada lemes banget."
Angga menghela napas. Ia menggandeng tangan Adea, menggenggam erat jari-jari mungil itu, memastikan gadis itu tidak jatuh.
"Angga, ini di kampus. Banyak orang."
"Gue gak peduli."
"Tapi-"
"Gue gak peduli, Adea Kara."
Adea terdiam. Ia menatap genggaman tangan mereka, tangan besarnya yang kasar membungkus tangannya yang kecil. Lalu ia tersenyum.
"Ya udah. Tapi jangan sampe foto kita viral."
"Kenapa? Takut?"
"Takut saingan gue banyak."
Angga tertawa kecil. Mereka berjalan berdua menuju gedung kedokteran, tangan bergandengan, bahu bersentuhan. Beberapa mahasiswa menoleh. Ada yang tersenyum, ada yang berbisik, ada yang mengangkat alis.
Tapi tidak ada yang berani bersuara.
Karena Angga...dengan tinggi badannya yang menjulang, jaket hitamnya yang keren, dan ekspresi judesnya itu terlihat seperti orang yang tidak ingin diganggu.
Sampai di depan gedung kedokteran, Angga berhenti.
"Udah. Masuk."
"Lepas dulu tangannya."
Angga melepas genggamannya. Tapi sebelum Adea sempat melangkah, ia mencium kening gadis itu dengan cepat, singkat, tapi cukup untuk membuat beberapa mahasiswi di dekat pintu tercengang.
"Semangat praktikumnya," ucap Angga.
Adea tidak bisa berkata-kata. Pipinya merah. Matanya berbinar.
Ia berjalan hampir setengah berlari menuju pintu gedung. Di ambang pintu, ia menoleh.
"Angga! Nanti jemput jam tiga!"
"Iya!"
"Jangan telat!"
"Iya!"
"Jangan lupa bawa-"
"Adea! Masuk!"
Adea tertawa dan masuk ke dalam gedung. Angga masih berdiri di tempatnya, tersenyum seperti orang bodoh.
Beberapa mahasiswi berbisik di dekatnya.
"Itu siapa sih? Ganteng banget."
"Pacar Adea katanya."
"Adea? Yang kecil itu? Cocok banget ya."
"Ih, jangan iri. Cari aja sendiri."
Angga tidak mendengar. Atau ia pura-pura tidak mendengar. Ia berbalik dan berjalan menuju parkiran, senyumnya masih tersisa.
Fakultas Ekonomi. Ruang kuliah.
Angga masuk dengan langkah santai. Wajahnya kembali datar seperti biasa, tidak ada senyum, tidak ada ekspresi berlebihan. Tapi ada sesuatu yang berbeda, sesuatu di matanya, sesuatu di caranya berjalan, sesuatu yang membuat beberapa mahasiswi menoleh lebih lama dari biasanya.
"Eh, lo kenapa?" Yoga menyenggol lengannya begitu ia duduk.
"Kenapa kenapa?"
"Muka lo kayak orang habis nangis bahagia."
"Gue gak nangis."
"Iya, tapi muka lo... bersinar." Yoga bergidik. "Cie yang lagi jatuh cinta."
"Diem, Yoga."
"Cieeeee-"
"Gue kasih nilai E buat tugas kelompok lo, kalo lo gak diem."
Yoga langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tahu Angga tidak pernah bercanda soal nilai.
Tapi matanya masih menyipit curiga.
Angga membuka laptop. Layar menyala, memperlihatkan wallpaper foto Adea sedang tertawa sambil menggendong Cumi, diambil dari belakang, cahaya matahari sore jatuh di rambutnya.
Yoga melihat sekilas.
"Dih, sus."
"Yoga."
"Diem. Gue diem."
Jam istirahat. Kantin Fakultas Ekonomi.
Angga duduk sendirian di pojok kantin, segelas es teh manis di tangan, ponsel di meja. Ia sedang membaca pesan dari Adea yang dikirim sepuluh menit lalu.
"Angga! Praktikum gue selesai lebih cepet! Dosennya izin karena anaknya sakit. Gue bisa pulang jam setengah dua!"
"Jam setengah dua? Gue masih ada kelas."
"Ya udah gue tunggu."
"Di mana?"
"Di perpustakaan. Mau pinjem buku."
"Buku apa?"
"Kamasutra."
Angga hampir tersedak es tehnya. Ia mengetik balasan dengan cepat.
"Jangan becanda."
"Gue serius. Ada tugas anatomi tentang posisi..."
"Adea."
"Iya iya. Gue becanda. Tapi reaksi lo lucu."
"Gue gak bereaksi."
"Lo hampir keselek kan?"
"Gue minum es teh. Emang segar."
"Bohong. Gue tahu lo keselek. Gue tahu semuanya."
Angga menghela napas. Tapi ia tersenyum.
"Ya udah. Lo tunggu di perpustakaan. Gue jemput jam setengah dua."
"Boleh minta sesuatu?"
"Apa?"
"Cium."
Angga menatap layar ponselnya. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi.
Akhirnya ia mengetik:
"Nanti."
"Janji?"
"Janji."
"💙"
Angga memasukkan ponsel ke saku. Ia menyesap es tehnya, berusaha dingin. Tapi wajahnya merah.
Yoga yang duduk di seberangnya menatap dengan ekspresi jijik.
"Lo lagi chat-an sama Adea kan?"
"Urusan gue."
"Muke lu merah, Jerr~"
"Panas."
"Di sini pake AC."
"Yoga."
"Iya."
"Diam."
Yoga diam. Tapi ia tersenyum puas karena berhasil mengganggu.