NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Hantu Dari Masa Lalu

​Keheningan di dalam pondok kayu Zakopane itu mendadak menjadi begitu pekat, hingga suara detak jam dinding tua terdengar seperti dentuman palu godam. Nadia masih berdiri mematung dengan moncong senjatanya terarah lurus ke pintu kayu yang tampak rapuh itu. Namun, jemarinya yang biasanya stabil kini tampak sedikit bergetar.

​"El, jangan konyol," bisik Arga, matanya beralih antara Elina yang pucat dan pintu yang masih bergeming. "Ayahmu... paman Haris... dia meninggal di Zurich. Aku melihat laporannya. Kakek sendiri yang mengatakannya semalam."

​"Kakek adalah pembohong ulung, Arga. Kamu baru saja menyadarinya di Tatra, kan?" Elina mencoba duduk, menahan rasa nyeri yang menusuk di dadanya. Matanya tertuju pada pintu itu dengan binar yang sulit dijelaskan—antara harapan dan ketakutan yang mendalam. "Ketukan itu... tiga ketukan cepat, jeda dua detik, lalu satu ketukan berat. Itu adalah kode komunikasi rahasia antara Ayah dan kakek saat mereka bekerja di laboratorium bawah tanah. Hanya mereka yang tahu."

​Ketukan itu terulang kembali. Persis seperti yang digambarkan Elina.

​Arga perlahan bangkit, tangannya memberi isyarat agar Nadia tetap waspada namun tidak menembak tanpa perintahnya. Dia melangkah menuju pintu, setiap sendi di tubuhnya terasa kaku. Rasa trauma karena pengkhianatan Dani dan kakeknya membuat Arga sulit mempercayai siapa pun, bahkan sosok yang seharusnya sudah menjadi abu.

​Begitu pintu terbuka, udara dingin Zakopane menyergap masuk, membawa butiran salju halus yang mendarat di lantai kayu. Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya dengan mantel tebal berwarna abu-abu tua. Wajahnya tertutup bayangan topi beanie, namun begitu dia mendongak, Arga merasa jantungnya berhenti berdetak.

​Wajah itu. Meski lebih tua, lebih kurus, dan dihiasi bekas luka memanjang di pelipis kirinya, Arga mengenalnya. Pria itu adalah Haris, sahabat ayahnya, pria yang fotonya selalu terselip di album kenangan masa kecil Arga.

​"Haris?" gumam Arga tak percaya.

​Pria itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menatap Arga dengan tatapan yang penuh duka, lalu matanya beralih ke arah tempat tidur medis di mana Elina berada. Bibirnya gemetar, dan sebuah isak tangis yang tertahan keluar dari tenggorokannya.

​"Elina... anakku," bisiknya dengan suara yang serak, seolah-olah dia sudah bertahun-tahun tidak menggunakan pita suaranya.

​Elina merangkak turun dari tempat tidur, mengabaikan rasa lemasnya, dan lari ke pelukan pria itu. Mereka berdua jatuh berlutut di lantai pondok, menangis dalam pelukan yang seharusnya terjadi sepuluh tahun yang lalu. Arga hanya bisa berdiri terpaku, sementara Nadia perlahan menurunkan senjatanya, meski matanya tetap waspada menatap ke arah hutan di luar.

​"Bagaimana mungkin?" Arga akhirnya bersuara, menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. "Kakek bilang dia merancang kecelakaan itu. Dia bilang dia menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya."

​Haris melepaskan pelukannya, menatap Elina sekali lagi seolah ingin memastikan putrinya itu bukan sekadar ilusi, lalu berdiri menghadap Arga. "Dia memang merancangnya, Arga. Ayahmu, ibumu... mereka tidak selamat. Aku berhasil merangkak keluar dari mobil yang terbakar sebelum meledak, jatuh ke sungai Limmat di Zurich. Aku diselamatkan oleh faksi pemberontak di dalam The Iron Circle yang menyadari kegilaan Pak Broto."

​Haris berjalan mendekati meja monitor, menatap data yang sedang diproses Arga. "Selama sepuluh tahun, aku hidup sebagai hantu. Aku bekerja di balik bayang-bayang untuk merusak sistem kakekmu dari dalam. Akulah yang mengirimkan koordinat safe house ini ke dalam database bawah sadar Elina saat dia mulai 'terbangun' di Tatra. Aku tahu kakekmu akan menggunakan kalian berdua sebagai pelatuk terakhir."

​Arga mengepalkan tangannya. "Kalau kau tahu, kenapa kau tidak menyelamatkan kami lebih awal? Kenapa kau membiarkan Elina menjadi subjek eksperimen?"

​"Karena aku tidak punya pilihan, Arga!" suara Haris mendadak meninggi, penuh dengan kepahitan. "Pak Broto memiliki mata di mana-mana. Jika aku muncul lebih awal, dia akan membunuh Elina saat itu juga. Aku harus menunggu sampai sistemnya terbuka, sampai 'kunci' biometrikmu menghancurkan enkripsi utamanya. Aku harus menunggu kalian menghancurkan Tatra dari dalam agar aku bisa muncul tanpa langsung dieksekusi oleh satelit pembunuh milik kakekmu."

​Arga terdiam. Logika itu masuk akal, namun rasa sakit karena merasa dipermainkan tetap ada. "Kakek sudah mati, Haris. Fasilitas itu hancur. Tapi Siska dan Hendrawan masih mengejar kami. Mereka menyebut kami teroris."

​Haris mengangguk, ekspresinya menjadi sangat serius. "Itulah kenapa aku di sini. Kalian tidak punya waktu untuk bersembunyi. Siska baru saja menyewa tentara bayaran dari grup Vulture. Mereka sudah mendarat di Krakow dan sedang menuju ke sini menggunakan pemindai panas tubuh."

​Nadia segera memeriksa radar komunikasinya. "Sial! Ada tiga sinyal tak dikenal bergerak cepat dari arah utara. Mereka menggunakan kendaraan salju."

​"Arga," Haris memegang bahu Arga, tatapannya tajam. "Koin perak yang kau bawa itu... itu bukan hanya kunci biometrik. Di dalamnya terdapat mikro-chip yang berisi protokol Override untuk seluruh aset keuangan Pak Broto yang tersebar di bank-bank gelap Swiss. Jika kau bisa mengunggah kode itu ke server pusat di Krakow malam ini, kau bukan hanya akan membersihkan namamu, tapi kau akan menjadi orang paling berkuasa yang bisa membubarkan The Iron Circle selamanya."

​"Tapi Elina..." Arga melirik ke arah Elina yang tampak kebingungan.

​"Aku yang akan menjaga Elina," ucap Haris tegas. "Nadia akan membawamu ke Krakow. Ini adalah perjalanan satu arah, Arga. Jika kau gagal, dunia akan melihatmu sebagai penjahat. Tapi jika kau berhasil, kau akan memberikan kebebasan yang selama ini kakekmu curi dari kita semua."

​Arga menatap Elina. Wanita itu mendekatinya, menggenggam tangannya erat. "Pergilah, Arga. Aku sudah cukup lama menjadi beban. Sekarang, biarkan aku menjadi alasanmu untuk menang. Aku akan menunggumu di sini, bersama Ayah."

​Arga mencium kening Elina, sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah janji dan perpisahan di saat yang sama. Dia kemudian mengambil flash drive dan koin perak yang sudah hangus itu.

​"Nadia, siapkan senjatamu," perintah Arga, suaranya kini sekeras baja. "Kita akan ke Krakow. Dan beritahu tentara bayaran itu... jika mereka ingin darah, aku akan memberikan mereka banjir."

​Di luar, suara deru mesin kendaraan salju mulai terdengar mendekat melalui pepohonan pinus. Arga melangkah keluar dari pondok bersama Nadia, menembus badai salju yang mulai mengamuk kembali. Jarak antara dia dan musuh-musuhnya kini bukan lagi soal pelarian, melainkan soal siapa yang akan bertahan saat peluru terakhir ditembakkan.

​Cliffhanger: Saat Arga dan Nadia bersiap melakukan serangan balik, sebuah ledakan menghantam bagian depan pondok. Dari balik kabut salju, muncul sosok pria dengan baju tempur lengkap dan topeng kalajengking di wajahnya. Itu bukan tentara bayaran biasa. Itu adalah Dani yang entah bagaimana berhasil selamat dari ledakan Tatra dengan separuh wajah yang hancur dan digantikan oleh pelat logam.

​"Arga..." suara Dani terdengar seperti parutan logam. "Kamu lupa... iblis tidak mati semudah itu di neraka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!