NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sihir Pencipta dan Waktu yang Berbeda

Hari-hari berikutnya di dunia Elysium terasa seperti mimpi yang tak berujung. Tanpa tekanan pengadilan dan tanpa rasa takut akan dihukum, Elara dan Kael bisa benar-benar fokus pada pengembangan diri mereka. Sang Pencipta menepati janjinya, ia menjadi guru pribadi bagi mereka berdua.

Pelatihan ini sangat berbeda dengan apa yang mereka alami di Kuil Keseimbangan. Jika di sana mereka belajar mengendalikan energi agar tidak meledak, di sini mereka belajar bagaimana membentuk energi itu menjadi sesuatu yang nyata.

"Pahamilah ini," kata Sang Pencipta suatu pagi saat mereka duduk bertiga di tepi sebuah danau kristal yang airnya jernih bening. "Sihir tingkat rendah adalah memanipulasi apa yang sudah ada. Kau memindahkan api, kau mengangkat batu, kau membelah angin. Itu hanyalah permainan anak-anak."

Ia menunjuk ke permukaan air danau. "Sihir tingkat tinggi, atau Sihir Pencipta, adalah membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada. Dari kehampaan menjadi kenyataan."

Sang Pencipta menggerakkan jarinya di udara. Tidak ada ledakan, tidak ada cahaya menyilaukan. Hanya gerakan lembut seperti seorang pelukis yang sedang menggoreskan kuas.

Dan tiba-tiba... di tengah udara kosong, muncul sekelompok kupu-kupu kecil yang berwarna-warni. Sayapnya bukan terbuat dari debu, melainkan dari cahaya murni yang berdenyut seperti jantung yang hidup. Kupu-kupu itu terbang berputar mengelilingi Elara dan Kael, lalu menghilang menjadi butiran cahaya.

Elara dan Kael terpana. Itu bukan ilusi. Itu kehidupan sungguhan yang baru saja diciptakan dari nol.

"Coba kalian," tantang Sang Pencipta sambil tersenyum. "Jangan memaksanya. Rasakan niat di dalam hati kalian. Jika kalian menginginkannya dengan tulus, alam semesta akan mendengarkan."

Kael maju dulu. Ia menutup matanya, mengingat kembali semua pelajaran. Ia tidak mencoba menarik energi dari luar, melainkan menggali dari dalam dirinya sendiri dari titik temu antara Cahaya dan Kegelapan yang ada di dadanya.

'Aku ingin... sesuatu yang kuat, tapi indah,' batin Kael.

Ia mengangkat tangannya pelan. Di telapak tangannya, muncul sebuah titik kecil gelap. Titik itu berputar, lalu perlahan membesar, memancarkan cahaya ungu keemasan. Bentuknya mulai memadat, memanjang, dan berkilau.

Saat Kael membuka mata, di tangannya kini terdapat sebuah pedang. Namun bukan pedang bayangan biasa. Pedang itu terlihat seperti terbuat dari kristal ungu yang padat namun tembus pandang. Ujungnya tajam mematikan, namun gagangnya terasa hangat dan nyaman di genggaman.

"Aku... aku menciptakannya?" bisik Kael tak percaya.

"Ya," jawab Sang Pencipta bangga. "Itu adalah manifestasi dari jiwamu. Selama kau memegangnya, pedang itu ada. Jika kau melepaskan niatmu, ia akan kembali menjadi energi. Itu adalah senjata sejati."

Giliran Elara. Gadis itu tidak ingin membuat senjata. Ia ingin membuat sesuatu yang menenangkan. Ia mengingat aroma bunga-bunga di kedai neneknya, dan hangatnya sinar matahari sore.

Elara membuka telapak tangannya ke atas. Ia membayangkan sebuah bunga yang sangat indah, bunga yang tidak ada di dunia mana pun.

Perlahan, di tangan Elara tumbuh sebuah tanaman kecil. Batangnya hijau perak, daunnya berkilau seperti berlian, dan di puncaknya mekar sebuah bunga besar dengan kelopak yang berwarna gradasi dari merah muda ke biru langit. Bunga itu mengeluarkan aroma harum yang membuat siapa saja yang menciumnya merasa bahagia dan rileks.

"Bunga Kehidupan..." gumam Sang Pencipta. "Kau bahkan memberinya emosi, Elara. Kau berbakat luar biasa."

Mereka berlatih terus menerus. Hari demi hari berlalu di Elysium. Mereka belajar terbang lebih cepat dari cahaya, belajar berbicara dengan benda mati, belajar menyembuhkan luka hanya dengan sentuhan, bahkan belajar bagaimana cara memperlambat atau mempercepat waktu di area kecil.

Satu minggu berlalu, dan perubahan pada fisik dan aura mereka sangat drastis.

Mata Elara kini tidak lagi hanya berwarna perak, tapi ada kedalaman galaksi di dalamnya. Kulitnya bersinar lembut secara alami, dan setiap langkahnya membuat bunga-bunga di sekitarnya tumbuh lebih subur.

Sementara Kael, postur tubuhnya terlihat lebih tegap dan berwibawa. Matanya yang merah gelap kini terlihat bijaksana, dan saat ia marah atau serius, bayangan di sekitarnya seolah tunduk dan patuh tanpa perlu diperintah.

Mereka bukan lagi sekadar penyihir kuat. Mereka kini memiliki kekuatan yang mendekati dewa.

Suatu sore, setelah menyelesaikan latihan menciptakan sebuah pulau kecil di tengah lautan kristal, Sang Pencipta memanggil mereka.

"Waktunya sudah hampir habis," kata Sang Pencipta dengan wajah yang kembali serius. "Satu tahun di duniamu sudah hampir berlalu. Lunaria pasti sudah menunggu kalian."

"Sudah satu tahun?" Elara terkejut. Rasanya baru kemarin mereka tiba di sini. Waktu berjalan begitu cepat dan menyenangkan saat mereka belajar hal-hal menakjubkan.

"Ya," jawab Sang Pencipta. "Dan kabar buruknya... ancaman yang kukatakan sebelumnya, The Void Walkers, mereka sudah mulai bergerak. Mereka sudah menyerang beberapa dunia kecil di perbatasan."

Wajah Kael dan Elara berubah tegang.

"Mereka seperti apa?" tanya Kael.

"Mereka bukan makhluk hidup seperti kalian atau kami," jelas Sang Pencipta. "Mereka adalah entitas kehampaan. Mereka tidak memiliki bentuk fisik yang tetap, mereka ibarat kabut hitam yang memakan segalanya. Jika mereka menyentuh sesuatu, benda itu akan hilang, kembali menjadi tidak ada sama sekali."

"Dan hanya kekuatan kami yang bisa menghentikan mereka?" tanya Elara.

"Benar. Karena kalian memiliki 'Zat Pencipta' di dalam diri kalian. Satu-satunya hal yang bisa melawan kehampaan adalah keberadaan yang nyata dan kuat. Kalian adalah obat penawarnya."

Sang Pencipta merentangkan tangannya, dan di hadapan mereka terbentuklah sebuah portal yang berbeda dari sebelumnya. Portal ini tidak berputar kacau, melainkan tenang dan stabil, memperlihatkan pemandangan gerbang kota Lunaria yang sudah sangat mereka rindukan.

"Kalian harus kembali sekarang," kata Sang Pencipta. "Dunia kalian membutuhkan pelindung. Ingatlah semua yang telah kuajarkan. Gunakan kekuatan itu bukan untuk menghancurkan, tapi untuk melindungi apa yang kalian cintai."

"Terima kasih, Guru," kata Kael dan Elara serempak dengan nada hormat yang paling dalam. Mereka membungkuk dalam.

"Pergilah, pahlawanku. Dan ingat... aku selalu mengawasi kalian dari mana saja."

Elara dan Kael saling menggenggam tangan. Mereka siap. Kekuatan mereka sudah penuh, tekad mereka sudah bulat.

Mereka melangkah maju, menembus cahaya portal itu.

(Bersambung ke Bab 18...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!