Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Lari, Qinar! Jangan ke belakang!"
Suara Ki Kusumo menggelegar di tengah kekacauan Pasar Setan. Ledakan Qi dari para pengejar berbaju hitam itu menghancurkan meja-meja kedai. Aku tidak punya waktu untuk berpikir. Aku melesat, memanfaatkan kelenturan tubuh hasil latihan "Menangkap Angin", melewati celah-celah sempit di antara kerumunan manusia yang panik.
Kami tidak kembali ke jalan utama. Ki Kusumo menarikku masuk ke sebuah lubang pembuangan yang menuju ke arah tebing curam di sisi barat pasar. Di sana, tersembunyi di balik tirai air terjun yang berbau tembaga, terdapat sebuah mulut goa yang gelap gulita.
"Masuk ke dalam! Jangan keluar sampai aku menjemputmu!" Ki Kusumo mendorong punggungku. Wajahnya yang biasanya penuh ejekan kini tampak tegang dan pucat. "Pengejar itu... mereka bukan sekadar tentara. Mereka adalah Pasukan Bayangan Matahari. Mereka bisa melacak bau Qi-mu."
"Lalu kau bagaimana, Ki?" tanyaku cemas.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Di dalam goa itu ada formasi pelindung kuno. Selama kau tidak membiarkan pikiranmu kacau, mereka tidak akan bisa menemukanmu," Ki Kusumo melempar sebuah batu bercahaya redup ke tanganku. "Ingat, Qinar! Musuh terbesarmu di dalam sana bukan pedang mereka, tapi dirimu sendiri!"
Sebelum aku sempat membantah, Ki Kusumo sudah melesat kembali ke arah pasar, meninggalkan jejak debu yang tebal. Aku berdiri sendirian di kegelapan goa. Suara air terjun di luar meredam segala bunyi, menciptakan keheningan yang menyesakkan.
Aku melangkah masuk. Goa ini sangat lembap, dindingnya ditutupi lumut yang mengeluarkan aroma tanah basah. Semakin dalam aku melangkah, udara terasa semakin dingin—dingin yang tidak wajar, dingin yang seolah-olah mencoba membekukan jiwaku.
Tiba-tiba, batu cahaya di tanganku padam.
Srett...
Kegelapan total menyelimutiku. Aku mencoba memanggil Qi petirku untuk menciptakan cahaya, tapi anehnya, energinya tidak mau keluar. Rasanya seperti sumsum emas Level 3-ku terkunci oleh sesuatu yang sangat kuat.
Dug... dug... dug...
Suara detak jantung. Sangat dekat. Sangat tenang.
"Siapa di sana?!" teriakku. Suaraku menggema di dinding goa, memantul kembali sebagai ejekan.
Wusss...
Kabut tebal berwarna ungu tiba-tiba muncul dari dasar goa. Di tengah kabut itu, sebuah bayangan mulai terbentuk. Bayangan seorang pria yang sangat tinggi, mengenakan jubah kebesaran yang bersulam emas. Mahkota di kepalanya berkilat meski tidak ada cahaya.
Wajahnya... aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tertutup oleh kegelapan yang pekat. Tapi aura yang dipancarkannya begitu menyesakkan, membuat lututku gemetar hebat.
"Anak yang tidak diinginkan," suara pria itu menggema, dingin dan tanpa emosi. "Kenapa kau masih hidup? Kau seharusnya sudah menjadi debu delapan tahun yang lalu."
"Ayah...?" bisikku. Lidahku terasa kelu.
"Ayah?" Bayangan itu tertawa, suara tawa yang lebih menyakitkan daripada gigitan kobra. "Aku tidak punya putra yang bersembunyi di gunung seperti tikus. Kau hanyalah noda pada papan caturku. Kau hanyalah kesalahan yang harus dihapus."
Bayangan itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kakiku retak. Aku mencoba mundur, tapi punggungku menabrak dinding goa yang membeku.
"Lihat dirimu, Qinar," bayangan itu menunjuk ke arahku. "Kau belajar sekeras itu hanya untuk bertahan hidup sehari lagi? Sia-sia. Kekuatan yang kau banggakan itu... aku yang memberikannya lewat darahku, dan aku bisa mengambilnya kembali kapan saja."
Tiba-tiba, aku merasa tanganku ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Tanda merah di pergelangan tanganku mulai membara, tapi rasanya sangat menyakitkan, seolah-olah kulitku sedang dikuliti hidup-hidup.
"Tidaaakk!" aku berteriak.
"Kau dibuang karena kau lemah. Kau dibuang karena kau tidak berharga," bayangan itu kini berdiri tepat di depanku. Aku bisa merasakan nafasnya yang dingin di keningku. "Mati di sini, di kegelapan ini, adalah nasib terbaik untukmu. Jangan biarkan cahaya merahmu mengotori duniaku lagi."
Tangisanku pecah. Rasa sakit fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hancur di hatiku. Selama ini aku berlatih untuk membuktikan diriku, untuk mencari jawaban... dan inilah jawabannya? Aku hanyalah sampah yang ingin dihapus?
Kesadaranku mulai menipis. Aku ingin menyerah. Aku ingin membiarkan kegelapan ini menelanku.
Krak!
Suara batu pecah di dalam kepalaku. Aku teringat latihan membelah batu. Jangan lihat batunya, rasakan intinya.
Aku membuka mata di tengah halusinasi itu. Aku menatap lurus ke arah kegelapan di mana wajah "Ayahku" seharusnya berada.
"Kau... kau bukan dia," bisikku serak. "Kau hanya ketakutanku. Kau hanya bayangan yang diciptakan oleh pikiranku sendiri!"
Aku mengepalkan tangan. Aku tidak mencoba memanggil Qi keluar, tapi aku menarik semua ketakutan itu ke dalam jantungku. Jika ini adalah darahnya yang mengalir di nadiku, maka darah ini adalah milikku sekarang! Bukan miliknya!
"Hiaaaaa!"
Aku menghantamkan telapak tanganku ke udara kosong di depanku.
BOOM!
Gelombang Qi petir meledak dari tubuhku secara liar, menghancurkan kabut ungu dan bayangan pria berjubah itu seketika. Goa itu bergetar hebat. Cahaya biru keputihan menerangi setiap sudut ruangan, menyingkapkan bahwa aku hanya berdiri sendirian di tengah ruangan kosong.
Aku jatuh terduduk, napas tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi seluruh jubahku.
"Cuma halusinasi..." gumamku, mencoba menenangkan jantungku yang berpacu gila.
Tanda merah di tanganku kini meredup, namun terasa lebih hangat dan stabil dari sebelumnya. Aku menyadari sesuatu; ujian di dalam goa ini bukan tentang kekuatan fisik, tapi tentang menaklukkan iblis di dalam hati. Ayahku mungkin memang membuangku, tapi dia tidak lagi memiliki kuasa atas ketakutanku.
"Bagus, Qinar. Kau tidak membiarkan bayangan itu memakan jiwamu."
Ki Kusumo muncul dari kegelapan di sudut lain goa. Bajunya sobek di beberapa tempat dan ada darah segar di sudut bibirnya, tapi dia tersenyum.
"Kau mengalahkan ketakutanmu sendiri. Itu jauh lebih sulit daripada membunuh seribu tentara," Ki Kusumo mendekat dan menepuk pundakku. "Ayo. Pengejar itu sudah kuberbereskan untuk sementara. Tapi Pasar Setan sudah tidak aman. Kita harus kembali ke puncak gunung sebelum matahari terbit."
Aku berdiri dengan kaki yang masih sedikit lemas, tapi tatapan mataku kini jauh lebih tajam.
"Ki," panggilku saat kami berjalan keluar goa.
"Apa?"
"Suatu hari nanti, aku akan bertemu dengannya secara nyata. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan gemetar lagi."
Ki Kusumo berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu mengangguk pelan. "Aku tahu, Qinar. Aku tahu."
Kami melesat menembus kegelapan malam, kembali menuju Gunung Sandaran. Delapan tahun usia Qinar, dan hari ini dia tidak hanya membelah batu, tapi dia juga baru saja membelah rantai ketakutan yang selama ini membelenggu hatinya.