Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang Harus Kupilih?
Udara mendadak berubah dingin. Bukan sekadar malam yang menusuk kulit, melainkan seperti sesuatu baru saja membuka pintu dari tempat lain. Semua orang di lingkaran diam, tetapi bukan karena patuh. Mereka ragu.
Endric menatap sosok Ningsih di pinggir lingkaran. Atau sesuatu yang menyerupai Ningsih.
“Dia bukan milik kalian.”
Kalimat itu masih menggantung. Namun nadanya tidak sama seperti di hutan tadi. Tidak ada getar emosi dan tidak ada rasa takut. Hanya dingin.
“Ning?” panggil Endric pelan.
Gandhul langsung menyikutnya. “Jangan manggil!”
“Kenapa?!”
“Kalau itu bukan dia, lo malah ngasih perhatian.”
Endric langsung menutup mulutnya. Sosok itu tersenyum pelan, tetapi tidak menghangatkan.
“Masih manggil namaku?” katanya.
Suaranya mirip, tetapi terlalu halus, seperti suara yang dipoles. Endric menelan ludah.
“Lo Ningsih, kan?”
Sosok itu tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk ke lingkaran. Tidak ada satu pun warga yang menghalangi. Bahkan pria tua itu hanya menatap dalam diam.
“Pertanyaan yang salah,” katanya pelan.
Endric mengernyit. “Terus yang benar apa?”
Sosok itu berhenti dan menatap Endric. “Siapa yang kamu lihat?”
Endric langsung diam. Pertanyaan itu terasa salah, tetapi juga benar. Ia mencoba fokus pada wajah itu. Bentuknya sama, tetapi matanya kosong, lebih dalam dan lebih gelap.
“Bukan Ningsih,” jawab Endric akhirnya.
Gandhul langsung berbisik, “Bagus.”
Sosok itu tersenyum lebih lebar. “Kamu belajar cepat.”
Endric menghela napas. “Gue dipaksa belajar.”
Sosok itu tertawa kecil, tetapi suaranya tetap datar. “Bagus. Yang cepat belajar biasanya menarik.”
Endric langsung mengangkat tangan. “Stop. Gue gak mau jadi menarik.”
Beberapa warga bergerak, tampak tidak suka. Gandhul hampir tertawa. Sosok itu mendekat. Langkahnya tidak menyentuh tanah. Endric langsung menegang.
“Lo mau apa?” tanyanya.
Sosok itu berhenti tepat di depannya, sangat dekat. “Menolongmu.”
Endric langsung tertawa pendek. “Di desa ini, kata ‘tolong’ tuh mencurigakan banget, tahu.”
Sosok itu memiringkan kepala dengan geEndricn yang tidak alami. “Hanya karena kamu belum tahu caranya.”
Endric menatapnya. "Cara apa?”
Sosok itu mengangkat tangannya dan menunjuk kuku hitam di jari Endric. “Lepas.”
Endric langsung menegang. “Lo bisa?”
Sosok itu mengangguk pelan. “Bisa.”
Gandhul langsung berbisik cepat, “Jangan percaya.”
Endric tidak menoleh. “Kenapa gue harus percaya lo?”
Sosok itu tersenyum. “Karena mereka ingin kamu tetap seperti itu.”
Ia menoleh ke arah pria tua. Untuk pertama kalinya, ekspresi pria itu berubah, tipis dan tidak suka.
Endric langsung menyadari. “Menarik.”
Sosok itu kembali menatap Endric.
“Kalau kamu tetap bertanda, kamu akan lebih mudah dipilih.”
Endric mengangguk pelan. “Itu gue tahu.”
“Kalau aku lepas, kamu punya peluang.”
Endric diam. Pikirannya berputar cepat. Ini bisa jadi jebakan, tetapi juga bisa jadi kesempatan.
“Risiko?” tanya Endric.
Sosok itu tersenyum. “Selalu ada.”
“Jelasin.”
Sosok itu mendekat sedikit lagi, hampir berbisik. “Kalau gagal, kamu bukan jadi milik mereka.”
Endric menelan ludah. “Terus?”
Sosok itu tersenyum lebih lebar. “Jadi milikku.”
Endric langsung mundur satu langkah. “Nah, ini dia.”
Gandhul langsung nyeletuk, “Ya, ini lebih jujur.”
Endric menatapnya kesal. “Lo santai banget, cok.”
“Gue gak yang ditawarin.”
Endric kembali ke sosok itu. “Oke. Jadi pilihannya...”
Ia menunjuk ke arah lingkaran. “Mati versi mereka.” Lalu menunjuk sosok itu. “Atau jadi sesuatu yang gak jelas sama lo.”
Sosok itu mengangguk. “Tepat.”
Endric tertawa kecil. “Gue suka banget pilihan hidup gue sekarang.”
Sunyi sejenak. Lalu pria tua itu akhirnya bicara. “Cukup.”
Suaranya berat dan tekanannya langsung terasa. Lingkaran kembali menegang. Sosok itu tidak menoleh. Ia tetap fokus pada Endric.
“Waktumu sedikit,” katanya.
Endric mengangkat alis. “Lo yakin gue harus mutusin sekarang?”
Sosok itu mengangguk. “Semakin lama, semakin dalam.”
Endric melirik tangannya. Kuku itu bergerak lagi, lebih kuat, seperti berdenyut.
Tok... tok...
“Anjir...” bisiknya.
Pria tua itu melangkah maju, hanya satu langkah, tetapi seluruh lingkaran ikut bergerak, menekan.
“Milik kami,” katanya pelan.
Sosok itu tersenyum. “Belum.”
Udara terasa retak. Endric bisa merasakannya. Dua sisi, dua tekanan, menariknya.
“Gue jadi rebutan, ya,” gumamnya.
Gandhul menjawab, “Iya. Lo populer.”
“Gue gak mau populer!”
Endric menarik napas dalam. Matanya berpindah dari pria tua ke sosok itu. Keduanya berbahaya, dan keduanya salah.
“Gue punya pilihan ketiga?” tanyanya.
Sunyi. Tidak ada yang menjawab.
Endric mengangguk pelan. “Ya sudah. Berarti gue bikin sendiri.”
Gandhul langsung menoleh. “Rek...”
“Tenang,” kata Endric cepat.
Ia mengangkat tangannya dan menatap kuku hitam itu. Lalu ia menggigitnya keras.
“WOI!” Gandhul kaget.
Endric menahan sakit. Kuku itu tidak lepas, tetapi retak sedikit. Endric langsung menariknya dengan tangan lain.
“Gue gak pilih kalian berdua,” katanya sambil meringis.
Sosok itu menatapnya. Ekspresinya berubah, tampak sedikit tertarik. Pria tua itu juga diam, mengamati. Endric menarik lagi, lebih kuat. Darah mulai keluar.
“Kalau gue harus rusak, gue rusak sendiri,” katanya.
Krak.
Kuku itu lepas separuh.
Endric terjatuh ke lutut. Napasnya terengah dan darah menetes. Namun, ia tertawa kecil.
“Sakit, cok.”
Gandhul menatapnya. “Lo gila.”
“Sedikit.”
Semua diam. Udara berubah dan terasa tidak stabil. Kuku yang tersisa masih menempel, tetapi kini tidak utuh.
Sosok itu tersenyum lebih lebar. “Menarik.”
Pria tua itu menatap lebih dalam. Ia tidak marah, tetapi lebih fokus.
“Belum selesai,” katanya.
Endric mengangkat kepala. “Gue juga.”
Namun, saat ia mencoba menarik lagi, tangannya tiba-tiba ditahan. Dingin, sangat dingin.
Endric menoleh. Sosok itu sudah memegang tangannya. Namun wajahnya berubah. Bukan Ningsih. Bukan siapa pun yang pernah ia lihat. Lebih gelap dan lebih kosong.
“Sekarang kamu milikku,” bisiknya.
Endric langsung membeku.
Gandhul berteriak, “LEPAS!”