Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Naya
Bab 9 - Naya
Matanya Risa dan Shanaz melotot melihat pesan WA yang dikirimkan Bima padaku.
“Terima!” kata Shanaz dan Risa.
Aku menghela napas, menatap ponselku dengan dahi berkerut. “Nggak segampang itu nggak sih? Apa kata orang tua gue?”
“Tapi udah bilang?” tanya Risa yang berdiri mondar mandir di depan ruang meeting di atas kafe.
“Belum.”
“Bilang dulu lah, orang tua lu pasti suka sama Bima,” kata Risa sambil menggebrak meja.
“Setuju!” sahut Shanaz.
“Kalau elu nikah sama dia, WO kita juga pasti bisa naik!”
“Setuju!”
“Dan yang paling penting!” Risa melotot ke arah aku. Begitu juga Shanaz, seperti sudah siap ngomong setuju, apa pun yang akan dikatakan Risa. “Elu bisa ngetawain Alfian!”
“Setu…,” Shanaz menoleh ke Risa, “Ngapain ketawain, Kak?”
“Ya, salah dia! Dia udah tiba tiba mutusin, liat, yang nikah duluan siapa?”
“Hooo, iya juga ya. Setuju!” Shanaz mendekap kedua tangannya sambil manggut-manggut.
Hatiku berdebar. Aku memang dulu pernah sangat menyukainya, bahkan mencintainya, tapi sekarang melihat nama Alfian di ponselku saja tidak sudi. Tapi apa berarti karena alasan itu aku bisa menerima Bima? “Gue kan baru kenal sama dia. Masa gara gara dia cakep doang, gue bilang iya?”
“Iya, lah!” Shanaz dan Risa sama sama kompak jawab pertanyaan aku.
“Masa gara gara dia kaya doang, gue bilang iya, gue mau nikah sama dia?” tanyaku mencari alasan yang lain selain memang aku suka – semua orang juga sih – sama Bima.
“Iya, lah!” lagi lagi Shanaz dan Risa sama sama kompak menjawab.
“Serius? Elu berdua mau nikah sama dia, kalau dia ngajak kalian nikah?” kataku menatap Shanaz dan Risa.
“Ya gue kan udah nikah!” Risa menghela napas, menggelengkan kepala. Ia melangkah ke ambang pintu dan melongo keluar pintu sejenak, lalu kembali ke meja. “Kalau gue belum nikah sih, gue bakalan langsung iya in.”
“Gue, Kak! Gue mah bakaln langsung iya. Nggak pake ba bi bu, mau ke KUA sekarang, hayu! Gue kan belum nikah!” Shanaz semangat banget.
“Eh, elu mah kuliah juga belum beres!” Risa manyun melirik Shanaz. “Main KUA KUA aja!”
Shanaz manyun, “Biarin lah.”
“Iya sih. Dia ganteng, kaya,” aku membuka media sosial tentang Bima. Meski Bima tidak punya akun Instagram sendiri, tapi dia punya fans club yang bikin akun khusus tentang Bima. “Tapi kalau ternyata orangnya, sifatnya jelek gimana?”
“Nay! Kalau dia sifatnya jelek, dia nggak akan kayak sekarang,” Risa menghela napas. “Kata Mas Bayu, dia orangnya baik banget. Super baik.”
“Iya sih, dia baik. Kemaren pas ketemuan…” aku berhenti bicara, karena Risa dan Shanaz seperti dokter kulit yang memeriksa kulit ku. Mata mereka berdua melotot memperhatikan setiap pori poriku. “Kalian bisa chill aja nggak sih dengernya?”
“Kemaren pas ketemuan gimana?” Shanaz benar benar kepo, suaranya sangat serius dan fokus.
“Dia ngasih aku ini,” aku mengeluarkan sapu tangan putih yang dari kemarin belum dikembalikannya.
“Waaaaah!” Shanaz mengambil dan menciumnya, “Wangi banget!”
“Ya kan udah gue cuciin!” aku menghela napas.
“Oh,” Shanaz mengembalikan saputangannya.
“Kenapa dia ngasih kamu ini?” tanya Risa curiga.
“Aku keselek milk tea,” kataku malu, dengan suara pelan.
Risa dan Shanaz ketawa terbahak-bahak.
“Tapi intinya dia itu baik,” Risa akhirnya mengakhiri keraguan aku.
“Iya sih. Tapi…,”
“Tapi apa lagi sih?” Risa dan Shanaz tolak pinggang, tapi karena sama-sama tolak pinggang. Mereka tidak mau saling kompak, lalu menurunkan tangannya.
“Dia ngajak aku ketemuan sama manajernya. Manajernya juga mau kenal aku.”
“Bagus! Bagus itu. Gue juga mau kenal!” Risa menggebrak meja membuat aku melompat kaget.
“Aku ikut! Aku juga mau kenal!” Shanaz langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
--
Kafe milik suaminya Risa sudah sepi. Aku, Shanaz, dan Risa duduk di salah satu kursi. Bayu membalikkan tanda close di pintu lalu berpaling ke arah kami, “Beres! Kira kira mereka dateng jam berapa?”
“Aduh, sumpah ya, aku deg degan!” Shanaz merangkul tangan kanan aku.
“Eh, dia yang mau ketemuan sama calonnya, kenapa elu yang deg degan!” Risa menepuk kepala Shanaz.
“Apa sih, Kak!” Shanaz merajuk. Kesal karena dianggap seperti anak kecil. “Sakit, kan!”
Risa menatapku seperti kakak menatap adik kecilnya, “Nggak nyangka ya, kemaren kita bingung banget kenapa Alfian nggak mau berkomitmen, sekarang elu malah tiba-tiba dapet durian runtuh.”
“Terus kita bakalan temenan sama istrinya artis!” Shanaz mencubit pipinya sendiri, gemes.
“Kita bakalan dapet klien artis!” Risa menjentikkan jarinya.
“Wah, omzet bakalan merokte!” Shanaz meluncurkan tangannya ke udara.
Bayu menepuk kedua tangannya dengan keras, “Heh! Jangan mimpi dulu! Tuh yang bersangkutan lagi galau gitu!”
Bayu, Shanaz, dan Risa menatapku yang duduk termenung melihat ponselku. Semua yang dikatakan Risa dan Shanaz itu benar benar pernah aku pikirkan, bahkan selalu. Kalau aku menerimanya, hidupku akan berubah drastis. Tapi apakah aku sanggup? Apakah hal ini akan baik untukku? Aku tidak mau bisa jadi istri artis, aku cuma jadi istri orang biasa yang hidup sederhana. Tapi kalau aku tolak, apakah aku akan menyesal?
Ponsel ku berdering membuyarkan semua pertanyaan yang selalu muncul di kepalaku itu. Semua melihatku, menunggu aku menjawab telepon yang ternyata dari Bima. Aku menatap Shanaz dan Risa yang menganggukkan kepala, memberikan kode untuk aku menjawab teleponnya. Aku mengambil napas dalam dalam, “Halo?”
“Halo,” suara Bima terdengar sudah sangat nyaman di telingaku. “Aku udah sampai. Tapi kok kafenya tutup ya?”
“Oh, udah sampe, ya?” aku melongo ke luar jendela. Ada mobil Alphard putih dengan nomor polisi B 1111 MAA.
Risa, Shanaz, dan Bayu langsung menghadap ke jendela kafe. “Alphard putih ya?” tanya Risa padaku.
Aku bicara ke telepon, “Alphard putih?”
Bima menjawab, “Iya.”
“Masuk aja, Bim. Eh, Kak, eh…, itu kafenya di close biar bisa sepi,” aku bingung harus memanggil Bima apa, jadi salah tingkah.
“Itu, Bima!” Shanaz girang, menepuk nepuk pundak Risa dengan girang.
“Shanaz! Chill!” Risa melotot ke Shanaz.
Shanaz nyengir, malu.
Risa, Shanaz, dan Bayu mundur menjauh dari pintu masuk begitu melihat Bima dan Celsi turun dari mobil dan jalan ke kafe.
“Itu manajernya?” Shanaz berbisik sambil menoleh kepadaku.
“Mungkin, aku juga nggak tau!” aku menaikkan kedua bahuku.
“Cantik banget!” Shanaz mendekati aku sambil membuat muka jiper. Sehingga aku memutar mataku. Tentu saja, aktor setaraf Bima punya manajer yang juga nggak kalah kerennya.
Bima dan Celsi masuk ke dalam kafe. Padahal mereka hanya memakai baju casual biasa. Bima memakai jeans putih dan kemeja lengan pendek warna hitam, sedangkan Celsi memakai celana aladin biru tua dan kaos v neck motif tenun. Tapi seperti dua orang keturunan ningrat, mereka seperti tokoh utama, raja dan ratu berjalan disorot cahaya ilahi dari belakang.
Aku, Shanaz, Risa, dan Bayu bengong melihat kedatangan mereka.
Pintu kafe tertutup.
Kami baru bisa melihat jelas wajah Bima dan Celsi.
“Halo!” Bima menangkupkan kedua tangannya, lalu salaman dengan Risa, Bayu, dan Shanaz, “Aku Bima. Ini Celsi, manajer aku.”
“Ini Risa, yang punya WO,” kataku mengenalkan Risa ketika salaman dengan Bima. “Ini suaminya, yang punya kafe.”
“Aku adiknya Kak Risa,” kata Shanaz memotong aku yang baru mau mengenalkannya.
Celsi mengikuti Bima, salaman dengan semuanya, termasuk aku. “Akhirnya, aku bisa kenalan sama kamu,” kata Celsi ketika salaman denganku.
“Iya, halo, kak,” dadaku berdebar, pertanyaan pertanyaan tadi muncul membuatku merasa semakin tidak pantas menerima lamaran Bima.
“Celsi aja! Ngapain pake kakak!” pinta Celsi sambil menoleh bolak balik ke Bima dan aku, sehingga rambutnya yang lurus sebahu bergoyang ringan.
“Kalau nggak salah, kita pernah ketemu ya?” tanya Bima pada Bayu, membuka pembicaraan.