NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Malam yang panjang itu terasa seperti hukuman mati yang ditunda bagi Adinda. Di bawah temaram lampu tidur yang mewah, ia hanya bisa menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan cakrawala Jakarta. Tubuhnya terasa remuk, rasa perih di area intinya terus berdenyut, mengingatkannya pada setiap detik kehancuran yang ia alami semalam. Di belakangnya, lengan kekar Allandra melingkar erat di pinggangnya, seolah pria itu tidak ingin membiarkannya lepas bahkan dalam tidurnya.

Dinda menangis tanpa suara. Air matanya membasahi bantal sutra yang dingin. Ia membayangkan wajah Dika yang bangga saat memberinya buah-buahan sore tadi. Ia membayangkan senyum Dita yang penuh harapan untuk sekolah.

“Maafin Kakak, Dik... Kakak kotor,” batinnya menjerit pelan hingga akhirnya kelelahan membawanya ke alam bawah sadar yang kelam.

***

Pagi harinya, cahaya matahari yang tajam menembus celah gorden, menyinari noda merah yang mengering di atas sprei putih—saksi bisu dari paksaan semalam. Alan terbangun lebih dulu. Kepalanya masih terasa berat sisa pengaruh alkohol dan obat terkutuk itu, namun kesadarannya pulih seketika saat melihat bahu polos Dinda yang membelakanginya.

Alan terduduk, memijat pelipisnya. Memori semalam berputar seperti film rusak: teriakan Dinda, tangisannya, dan bagaimana ia sendiri kehilangan kendali karena gairah liar yang tak terbendung.

"Brengsek!" umpat Alan rendah pada dirinya sendiri.

Ia memang menginginkan Dinda. Ia ingin memiliki wanita ini, melindunginya, menjadikannya miliknya. Tapi bukan dengan cara bejat seperti ini. Alan segera bangkit, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu melangkah ke balkon dengan hanya mengenakan celana panjang yang kusut.

Di balkon lantai 50 itu, Alan menyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul, terbawa angin kencang. Tangannya sedikit gemetar. Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Leo.

"Leo, ke apartemen saya sekarang," perintah Alan, suaranya parau dan dingin.

"Baik, Tuan. Ada sesuatu yang darurat?" tanya Leo di seberang sana.

"Bawa beberapa set pakaian wanita formal, ukuran M. Dan..." Alan menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. "...beli pil kontrasepsi darurat. Yang paling bagus. Jangan sampai ada yang tahu."

"Saya mengerti, Tuan. Saya segera ke sana."

**

Baru saja Alan menutup telepon, sebuah bunyi debum keras terdengar dari dalam kamar, diikuti rintihan kecil. Alan membuang rokoknya dan berlari masuk.

"Dinda!"

Dinda terduduk di lantai, terjatuh saat mencoba bangkit dari ranjang. Tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun tampak begitu rapuh. Dengan gerakan panik, Dinda menyambar selimut tebal yang menjuntai dan membalut tubuhnya erat-erat hingga ke leher. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab dan merah.

Alan melangkah mendekat, tangannya terulur ingin membantu. "Dinda, biarkan aku bantu..."

"JANGAN SENTUH!" pekik Dinda. Suaranya serak, penuh dengan kebencian yang mendalam.

Alan terhenti di tempat. Ia melihat Dinda berusaha berdiri lagi, namun kakinya gemetar hebat. Rasa perih yang luar biasa di pangkal pahanya membuat Dinda kembali merosot. Ia menatap noda merah di sprei putih itu, lalu memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir deras.

Tanpa mempedulikan penolakan Dinda, Alan mendekat dan menggendong tubuh mungil itu. Dinda tidak meronta, ia hanya diam membeku seperti mayat hidup, namun tatapan matanya kosong dan dingin. Alan merebahkannya kembali di atas ranjang dengan sangat hati-hati.

"Aku akan siapkan air hangat. Biar aku bantu bersihkan..."

Dinda menoleh. Tatapannya begitu tajam, menusuk tepat di jantung Alan. Air matanya terus mengalir tanpa isakan, seolah setiap tetesnya adalah kutukan bagi Alan. Tatapan itu dengan jelas berteriak: Jika kau menyentuhku lagi, aku lebih baik mati.

Alan mundur perlahan, hatinya terasa sesak. Ia duduk di sofa di ujung ranjang, menangkupkan wajahnya di kedua telapak tangan.

"Maafkan aku, Dinda. Aku benar-benar minta maaf," ucap Alan dengan suara bergetar. "Aku dijebak semalam, obat itu... aku tidak bisa menahan diri. Tapi itu bukan alasan. Aku tahu aku salah."

Dinda tidak menyahut. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.

"Jujur, Dinda... aku mencintaimu," lanjut Alan, mencoba mencari pembenaran di tengah kekacauan ini. "Sejak kecelakaan itu, sejak aku melihatmu berjuang di rumah sakit, aku tertarik padamu. Aku membawa Anda ke kantor ini karena aku ingin Anda dekat denganku, ingin menjamin hidupmu dan adik-adikmu. Aku ingin bertanggung jawab atas semuanya."

Dinda memutar kepalanya, menatap Alan dengan sisa-sisa amarahnya. "Cinta?" suaranya keluar dengan getaran yang menyakitkan. "Tuan menyebut pemerkosaan ini sebagai cinta? Tuan menghancurkan saya! Tuan merampas satu-satunya hal yang saya jaga demi martabat keluarga saya, dan Tuan bilang itu cinta?"

"Dinda, aku akan menikahimu jika itu yang Anda mau. Aku akan menanggung semua biaya Dita, sekolah Dika, apapun!" seru Alan putus asa.

"DIAM!" teriak Dinda. "Jangan pernah sebut nama adik-adik saya dengan mulut kotor Tuan! Tuan tidak tahu apa-apa! Tuan hanya orang kaya yang berpikir bisa membeli segalanya dengan uang! Tuan pikir dengan menikahi saya, semuanya selesai? Hati saya mati semalam, Tuan Alan! Mati!"

Seketika ruangan itu menjadi hening mencekam. Hanya suara napas Dinda yang tersengal karena emosi yang meluap. Alan terdiam, ia merasa kerdil di hadapan wanita yang baru saja ia hancurkan itu.

Tiba-tiba, bel apartemen berbunyi. Bunyi itu memecah keheningan yang menyesakkan. Alan melirik monitor di dinding. Leo sudah berdiri di depan pintu membawa beberapa kantong belanjaan.

"Leo sudah di depan," ucap Alan pelan. Ia berdiri, menatap Dinda yang masih terbalut selimut. "Dia membawa pakaian untukmu. Dan obat... agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Aku akan mengambilnya."

Alan melangkah keluar kamar, meninggalkan Dinda yang kembali terisak dalam diam. Di balik pintu yang tertutup, Alan menyandarkan punggungnya, memejamkan mata erat. Ia tahu, mulai hari ini, Adinda tidak akan pernah menatapnya dengan cara yang sama lagi. Dan ia juga tahu, badai yang sebenarnya baru saja dimulai.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!