NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Dermaga Kecil

Kami masih berada di dalam mobil.

Saat itu aku mulai merasa mobil tidak lagi berada di jalan raya. Getarannya berubah—lebih bergelombang. Udara yang masuk pun terasa semakin sejuk.

Perlahan aku membuka mata.

Hal pertama yang kulihat adalah Cila… sedang cekikikan.

“Apa sih?” gumamku masih setengah sadar.

Tanpa menjawab, dia menunjukkan layar handphonenya. Sebuah foto terpampang di sana—aku dan dia. Bedanya, aku sedang tertidur… dengan mulut sedikit terbuka.

“Heh? Apa sih? Aku lagi tidur kok difoto,” kataku langsung tersadar.

Aku refleks bangun dan mencoba merebut handphonenya.

“Hapus, nggak?” lanjutku.

“Eit!” Cila cepat-cepat menghindar, tangannya menjauh sambil tetap tertawa. “Jangan dihapuslah. Ini lucu buat kenang-kenangan.”

“Lucu gimana? Jelek begitu,” balasku kesal.

“Ih, lucu tau,” katanya santai. Lalu menunjuk ke luar jendela. “Lihat deh, kita hampir sampai.”

Aku berhenti mengejar handphonenya dan menoleh ke luar. “Wah… bagus,” ucapku pelan.

Aku membuka jendela. Angin pegunungan langsung menyapu wajahku—dingin, segar, dan menenangkan. Di samping jalan, hamparan kebun teh terbentang luas. Beberapa petani tampak sibuk memetik daun teh di antara barisan hijau yang rapi.

Dari kejauhan, terlihat sebuah danau yang luas, permukaannya tenang memantulkan cahaya langit. Dikelilingi padang rumput, pepohonan, dan pegunungan yang berdiri megah. Pemandangannya… jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di area dekat danau.

“Nah, sudah sampai kita. Kalian di belakang tidurnya kenyang belum?” ucap Ayah Cila sambil menoleh.

“Yeey, nyampe!” seru Cila kegirangan.

Aku tersenyum kecil.

Kami turun dari mobil. Udara terasa sejuk dan segar. Matahari tertutup awan tipis, membuat suasana teduh. Tempat ini… benar-benar berbeda dari hiruk pikuk kota.

Awalnya aku berniat membantu menurunkan barang, mendirikan tenda, dan menyiapkan semuanya. Namun, Cila sudah lebih dulu menarik perhatianku.

“Rend, ayo ke sana!” katanya sambil menunjuk dermaga kecil di pinggir danau. Wajahnya cerah, penuh semangat.

“Tunggu dulu. Kita kan harus siapin barang dulu,” kataku mencoba menahan.

“Udah, nggak usah. Kan ada Papa sama Pak Bobi,” balasnya santai.

Aku menoleh ke Ayah Cila. Beliau tersenyum, memberi isyarat dengan tangannya—seolah mengatakan, *ikuti saja*.

Aku menghela napas. “Ya sudah…”

Aku mengikuti Cila yang sudah berjalan lebih dulu.

Di dermaga, air danau terlihat jernih, beberapa ikan kecil berenang di dasar yang dangkal. Batu-batu kecil tersusun di pinggir dermaga, entah alami atau sengaja.

“Rendra, ayo ke sini!” panggilnya.

Aku menghampiri sambil mengeluarkan handphone dan mulai merekam—awalannya ke Cila, lalu ke danau, pepohonan, dan pegunungan.

“Nanti aku minta hasilnya,” katanya.

“Enggak mau. Nggak boleh, wle,” balasku sambil menjulurkan lidah.

“Ih!” Cila mencoba merebut handphoneku. Aku refleks menghindar sambil tertawa. “Iya, iya… nanti.”

Setelah merekam, aku mundur untuk mengambil foto. “Pose dong, aku mau foto.”

Cila berdiri dengan berbagai gaya, dari manis sampai berlebihan. “Foto bareng yuk,” ajaknya.

“Boleh.”

Kami berfoto bersama. Pose biasa hingga pose konyol, membuat kami tertawa. “Mana, aku lihat,” pinta Cila.

“Nih,” kataku sambil menyerahkan handphone. Ia duduk di ujung dermaga, fokus melihat hasil foto.

“Ya sudah, aku bantu Papa kamu dulu ya,” ucapku.

“Iya,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Aku kembali ke arah tenda untuk membantu Ayah Cila dan Pak Bobi menyiapkan perlengkapan. Setelah semuanya siap, Ayah Cila mengeluarkan bekal makan yang sudah dikemas rapi dan membagikannya.

“Saatnya makan. Kelihatannya kamu sudah mulai gemeteran, Bob,” ujarnya sambil tersenyum.

“Hehe…” Pak Bobi tertawa malu. Kami ikut tersenyum.

Ayah Cila menoleh ke arah danau. “Cilaaa, makan dulu!” panggilnya. Tapi sepertinya Cila tidak mendengar.

Aku berinisiatif mengambil satu bekal. “Sini, Om. Biar aku yang antar. Boleh kan kalau aku sama Cila makan di sana?”

“Oo, iya, Ndra,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku berjalan menuju dermaga. “Cil…” panggilku.

“Hmm?” jawabnya tanpa menoleh, masih fokus pada handphone.

“Serius amat. Udah, makan dulu,” kataku sambil menyodorkan bekal.

“Iya, sebentar…”

Beberapa detik kemudian, Cila akhirnya meletakkan handphonenya. Kami makan bersama, ditemani angin sejuk dan pemandangan danau. Obrolan ringan—tentang rencana nanti, hal-hal kecil, dan candaan yang membuat kami tertawa sesekali.

Waktu terasa cepat. Rasa nyaman mulai tumbuh semakin dalam. Dulu, kagum karena cantiknya Cila. Sekarang… rasanya berbeda.

Setelah makan, aku kembali ke tenda, meninggalkan Cila yang masih memilih foto.

Dari kejauhan kulihat Ayah Cila sedang berbicara dengan Pak Bobi. Aku mendekat. “Bagaimana kalau malam ini kita buat api unggun?” tanya Ayah Cila.

“Ide bagus, Om,” jawabku.

“Tapi kayunya tidak ada,” lanjutnya.

“Mmm… gimana kalau kita beli saja ke warga di desa terdekat?” usulku.

“Oo, iya. Ide bagus,” katanya sambil mengangguk.

Aku menoleh ke jalan masuk. “Ya sudah, aku sama Pak Bobi cari kayu dulu ya. Om di sini saja sama Cila.”

“Oo iya. Cila lagi ngapain?” tanya Ayahnya.

“Itu, lagi milih-milih foto,” jawabku.

Ayah Cila tersenyum. Aku dan Pak Bobi pun berangkat ke desa, membeli kayu bakar, lalu kembali ke danau. Hari mulai sore, langit perlahan berubah warna. Kami bergegas merapikan semuanya.

Tiba-tiba Cila mendekat. “Dari mana aja? Kok nggak ajak-ajak? Aku juga pengen lihat desa,” katanya kesal.

“Lah, kamu tadi fokus foto,” jawabku.

“Iya, tapi…”

“Hahaha, sudah-sudah. Nanti keburu gelap,” sela Ayahnya.

Malam pun tiba. Satu per satu bintang bermunculan.

Di depan api unggun, kami duduk melingkar, menikmati camilan. Obrolan mengalir santai.

“Oh iya, Om… mobil kecil di garasi itu punya Om? Bagus sih, kecil tapi unik,” tanyaku.

“Itu punya Cila. Hadiah dari Om,” jawabnya santai.

Cila sibuk mengunyah camilan. “Wih, keren. Masih kecil sudah punya mobil sendiri,” kataku.

“Iya, waktu itu ulang tahunnya. Dia sempat ngambek, Om belum bisa kasih. Akhirnya Om belikan itu saja,” jelas Ayah Cila.

“Wah… ngambeknya mahal ya,” godaku.

Ayah Cila tertawa. Cila mengelak, “Enggak! Itu bukan keinginanku,” katanya sambil sedikit cemberut.

Kami tertawa. Obrolan terus berlanjut, ditemani suara api dan udara malam yang dingin. Waktu berjalan cepat. Satu per satu rasa kantuk datang.

Akhirnya kami beranjak ke tenda masing-masing. Cila bersama Ayahnya. Aku bersama Pak Bobi.

Aku berbaring di tenda, menatap atap kain yang bergerak pelan tertiup angin malam. Hari ini terasa sederhana, tapi sulit untuk dilupakan. Suara alam terdengar samar, angin membawa hawa dingin yang menenangkan.

Aku memejamkan mata perlahan. Dengan perasaan yang belum sepenuhnya kupahami… aku pun tertidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!