Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Garis Perbatasan
Di dalam ruang strategi istana—peta besar terbentang di atas meja. Menunjukkan wilayah kerajaan Risvela, hingga ke garis perbatasan. Beberapa titik ditandai. Namun salah satunya—mulai dipenuhi tanda peringatan.
Langkah kaki terdengar cepat. Seorang prajurit masuk, langsung berlutut.
“Pangeran Seyron!”
Seyron berdiri di dekat jendela. Punggungnya menghadap ruangan.
“Bicaralah.”
Suaranya datar.
Prajurit itu menelan napas.
“Laporan dari perbatasan. Monster sihir bermunculan dalam jumlah besar. Pasukan sudah dikerahkan, namun—”
Seyron mengangkat tangan sedikit.
“Reyd sudah ke sana?”
Tanyanya tanpa menoleh.
“…Ya, Pangeran.”
Sunyi sejenak.
“Kalau begitu, tidak ada masalah.”
Jawabannya cepat.
“Namun jumlah mereka—”
Seyron menoleh. Tatapannya langsung membuat prajurit itu diam.
“Kerajaan Risvela…”
Ia melangkah perlahan mendekat.
“Tidak akan runtuh hanya karena sekelompok makhluk sihir.”
Nada suaranya tenang. Namun tegas.
“Dan adikku…”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Sedang mencari pembuktian.”
Seyron berjalan ke arah meja.
“Ini ujian yang tepat.”
Bisiknya pelan.
“Jika dia berhasil…”
Matanya sedikit menyipit.
“Maka dia layak diperhatikan.”
Ia berhenti. Jari tangannya menyentuh tanda di peta.
“Jika dia gagal…”
Senyumnya tidak berubah.
“Maka tidak ada yang perlu disesalkan.”
Sunyi.
“Pergilah.”
Perintahnya singkat.
“Terus kirim laporan.”
Prajurit itu langsung menunduk.
“Siap, Pangeran!”
Ia berdiri, lalu segera pergi.
Ruangan kembali sunyi. Hanya tersisa Seyron.
Angin malam masuk perlahan.
Seyron menatap ke luar.
“Tunjukkan padaku.”
Bisiknya pelan.
“Seberapa jauh kau bisa melangkah, Reyd.”
---
Awan gelap menggantung rendah. Angin berputar liar, membawa debu dan bau tanah yang terkoyak.
Pasukan kerajaan bertahan. Formasi mereka mulai goyah. Monster sihir terus berdatangan.
“Pertahankan barisan!”
Teriak seorang komandan.
Namun—tekanan itu terlalu besar. Beberapa prajurit mulai mundur. Luka mulai bertambah.
Dan di saat itu—
WHOOSH!
Angin besar menerobos dari belakang.
Semua orang menoleh.
Ia mendarat di garis depan. Debu berterbangan. Matanya langsung menyapu medan.
“Apa masih banyak?”
Gumamnya pelan.
Komandan mendekat.
“Pangeran Kedua Reyd! Kami—”
“Tarik mundur sedikit pasukan.”
Reyd memotong.
“Apa?”
Reyd tidak menoleh. Tatapannya tetap ke depan.
“Aku akan bersihkan mereka.”
Sunyi.
Namun tidak ada waktu untuk ragu.
“Semua pasukan, mundur!”
Perintah itu akhirnya diberikan.
Para prajurit segera bergerak. Menjauh dari garis depan.
Reyd melangkah maju. Di hadapan puluhan—tidak. Ratusan makhluk sihir.
Angin mulai berputar di sekitarnya.
Ia menutup matanya sejenak. Mengingat—kata-kata Kesduls.
Setiap keputusan… harus kau tanggung akibatnya.
Reyd membuka matanya.
“Kalau begitu…”
Tangannya terangkat.
Langit langsung merespons. Awan bergerak cepat.
“Aku akan mengakhirinya sekaligus.”
BOOOOOM—
Angin meledak. Bukan sekadar hembusan—melainkan tekanan.
Badai mulai terbentuk. Tanah bergetar. Monster-monster itu mulai terguncang.
Namun belum sempat mereka bergerak—TORNADO RAKSASA TERBENTUK.
Berputar dengan kecepatan mengerikan.
Reyd berdiri di pusatnya.
“Pergilah dari kerajaanku, wahai makhluk terkutuk.”
Makhluk sihir pertama tersapu. Lalu kedua. Lalu—puluhan.
Tubuh mereka terangkat. Dihantam. Dihancurkan oleh tekanan angin dari segala arah.
GRAAAARRGH!!
Auman mereka tenggelam dalam badai.
Tanah terkoyak. Pepohonan tercabut. Segalanya terseret. Dalam satu arah—kehancuran.
Di belakang—para prajurit hanya bisa menatap terdiam.
“…Itu…”
“Pangeran Kedua sendirian…”
Komandan menelan ludah.
“Setengah dari mereka musnah…”
Ia tidak melanjutkan. Karena jawabannya sudah terlihat.
Dalam satu serangan—setengah dari pasukan monster itu… lenyap.
Badai perlahan mereda. Angin mulai tenang. Debu jatuh ke tanah.
Reyd masih berdiri. Napasnya berat. Matanya menatap sisa musuh.
“Belum selesai, ya.”
Angin kembali berputar di tangannya.
Ia melangkah maju.
“Sekarang…”
Tatapannya tajam.
“Kita selesaikan sisanya.”
Di kejauhan—langit mulai kembali terang.
Namun bekas badai itu—masih terasa.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?