NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Rencana Melvin

Penthouse Emrys – Dini Hari

Emrys tidak bisa tidur.

Ia berdiri di depan jendela panoramik yang menghadap ke cakrawala London yang gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang tak pernah sampai ke tanah. Segelas whisky sudah lama habis, namun ia masih memegang gelas kristal itu, jemarinya yang dingin memutarnya pelan.

Pikirannya tidak bisa berhenti pada satu nama.

Melvin Jabulani-Blackwood.

Setahun. Setahun penuh ia mencari. Setahun penuh ia membakar sumber daya, memeras informan, dan hampir kehilangan kewarasannya. Dan kini, Gaby sudah kembali. Duduk di kamarnya di sepanjang koridor ini, mungkin sedang terbangun juga, atau mungkin tertidur dengan mimpi buruk yang sama setiap malam.

Namun Emrys tahu. Ini belum selesai.

Melvin tidak akan menyerah. Pria itu bukan tipe yang mundur hanya karena rencananya gagal. Blackwood tidak pernah mundur. Mereka hanya berputar, mencari celah, lalu menerkam dari arah yang tidak terduga.

Emrys meletakkan gelasnya dengan gerakan yang terlalu keras hingga berbunyi klink tajam di atas meja marmer.

"Kau tidak akan menyentuhnya lagi, Melvin," bisiknya ke udara malam. "Aku bersumpah demi nyawaku."

Dari balik pintu kamar Gaby, ia mendengar suara samar. Mungkin gadis itu berguling di tempat tidur, atau mungkin menangis dalam diam. Emrys mengepalkan tangannya.

Dia merindukan orang tuanya. Dia merindukan rumahnya.

Tapi Emrys belum bisa mengabulkan itu. Belum aman. Belum cukup aman.

 

Kamar Gaby – Dini Hari yang Sama

Gaby tidak tidur.

Ia berbaring miring menghadap jendela, memeluk bantal yang sudah basah oleh air mata yang tidak ia sadari terus mengalir. Di luar, bulan bersinar penuh, terlalu terang untuk malam yang gelap seperti hatinya.

Di tangannya, ponsel yang diberikan Emrys kemarin. Tanpa kartu SIM. Tanpa akses ke dunia luar. Hanya sebuah alat untuk menghubungi kakaknya jika ia butuh sesuatu.

Kak Emrys bilang itu demi keamananku.

Gaby menghela napas panjang.

Jemarinya tanpa sadar membuka aplikasi catatan. Tidak ada koneksi internet, tapi setidaknya ia bisa menulis. Menuangkan isi kepalanya yang kacau ke dalam kata-kata.

Hari kedelapan.

Aku tidak tahu apa yang salah denganku.

Kemarin, aku hampir menangis karena seorang pelayan menyiapkan teh melati untukku. Bukan karena dia kasar atau tehnya buruk. Tapi karena... karena Melvin juga selalu menyiapkan teh melati untukku. Setiap pagi. Dengan satu sendok madu. Tanpa pernah lupa.

Aku benci mengingatnya. Aku benci bahwa ingatan itu membuat dadaku sesak. Bukan karena takut. Tapi karena... rindu? Astaga, Gaby, kau keterlaluan. Pria itu menculikmu. Pria itu mengurungmu selama setahun. Pria itu...

Gaby berhenti mengetik.

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Bukan karena tidak tahu apa yang ingin ia tulis, tapi karena ia takut pada jawabannya.

Pria itu... apa?

Pria itu membuatku merasa aman di saat yang paling menakutkan?

Pria itu adalah satu-satunya orang yang aku miliki selama setahun di pulau terkutuk itu?

Pria itu... menciumku seperti aku adalah satu-satunya perempuan di dunia?

Gaby membanting ponselnya ke atas kasur.

"Kau payah, Gaby," bisiknya kesal pada dirinya sendiri. "Kau benar-benar payah."

Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya, seperti anak kecil yang percaya bahwa jika ia tidak bisa melihat dunia, maka dunia juga tidak bisa melihatnya.

Tapi di balik kegelapan selimut itu, aroma sabun di bantal mengingatkannya pada sesuatu yang lain.

Bau khas Melvin. Cedar dan musk.

Gaby menutup mata rapat-rapat, berusaha mengganti bayangan itu dengan wajah Emrys, dengan wajah mamanya, dengan apapun yang aman.

Tapi alam bawah sadarnya adalah pengkhianat yang setia pada luka lamanya.

Dan untuk kesekian kalinya malam itu, Gaby menangis dalam diam.

 

Mansion Blackwood – Pagi Hari

Sabrina tidak tidur semalaman.

Ia duduk di depan meja belajarnya, dikelilingi oleh lembaran-lembaran kertas berisi cetakan data penerbangan, jadwal kapal yacht, dan koordinat properti Blackwood yang tidak terdaftar secara resmi.

Mata perih. Kepala pusing. Tapi ia tidak bisa berhenti.

Gaby mungkin sedang ketakutan di suatu tempat saat ini. Atau mungkin...

Sabrina mengusir pikiran buruk itu.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

"Masuk," ucapnya tanpa menoleh.

Emilia melangkah masuk dengan wajah yang sama lelahnya. Di tangannya, sebuah tablet yang masih menampilkan peta pelayaran.

"Aku punya sesuatu," kata Emilia, duduk di kursi di samping Sabrina. "Tiga hari sebelum Gaby ditemukan, ada satu kapal yacht Blackwood yang berlayar ke arah barat laut dari pelabuhan pribadi Southampton. Tidak ada manifest resmi. Tapi aku dapat akses ke log GPS-nya dari sumber anonim."

Sabrina menoleh cepat. "Sumber anonim?"

Emilia mengangkat bahu. "Terkadang uang bisa membeli apa pun, termasuk loyalitas mantan karyawan Blackwood."

"Mantan?"

"Dia dipecat enam bulan lalu karena alasan yang tidak jelas. Aku curiga dia tahu sesuatu. Tapi dia tidak mau bicara banyak, hanya memberi data ini dan bilang, 'Cari di sekitar Isle of Skye.'"

Sabrina mengambil tablet itu, matanya menyusuri rute yang ditampilkan.

"Isle of Skye..." gumamnya. "Pulau terpencil. Hampir tidak berpenghuni. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan seseorang."

"Tapi itu tebakan," kata Emilia hati-hati. "Bisa jadi Gaby sudah dipindahkan dari sana sebelum Emrys menjemputnya."

Sabrina menggeleng. "Tidak. Lihat ini." Ia menunjuk titik di peta. "Kapal itu berlabuh di sini selama tiga hari. Lalu kembali ke Southampton. Tidak ada catatan kapal lain yang meninggalkan pulau itu dalam waktu yang sama. Itu artinya..."

"Gaby dijemput oleh kapal lain," sambut Emilia. "Atau... oleh jet pribadi."

"Atau oleh Emrys," kata Sabrina pelan. "Jika benar Emrys yang menjemputnya, maka Gaby sekarang ada di London. Di penthouse Kaito. Tempat yang paling aman dan paling sulit ditembus."

Emilia menghela napas. "Jadi kita harus ke London?"

Sabrina mengangguk tegas. "Kita harus ke London. Tapi bukan sembarangan. Daddy mungkin sudah curiga aku tahu sesuatu. Aku tidak bisa kabur begitu saja tanpa alasan yang masuk akal."

"Kau punya alasan," kata Emilia sambil tersenyum tipis. "Kuliah. Kita bisa bilang kita harus mengurus administrasi kampus di Oxford. Lalu dari Oxford, kita ke London."

Sabrina menatap sahabatnya. "Kau yakin mau ikut? Ini berbahaya, Lia. Jika Daddy tahu kita melawannya..."

"Aku tidak takut pada ayahmu," potong Emilia tegas. "Aku takut pada rasa bersalah jika aku diam dan Gaby terus menderita."

Sabrina tersenyum kecil. Senyum pertama sejak malam yang menghancurkan itu.

"Baik. Kita berangkat besok pagi."

 

Ruang Kerja Lord Alistair – Sore Hari

Lord Alistair duduk di kursinya, menatap laporan keuangan yang sudah ia baca tiga kali tanpa benar-benar memahaminya.

Pikiran terus kembali pada percakapan dengan Sabrina semalam.

Wajah putrinya yang hancur. Air matanya yang mengalir deras. Teriakannya yang masih bergema di lorong-lorong mansion.

"Kalian berdua adalah monster!"

Alistair menghela napas berat. Ia tidak pernah ingin Sabrina tahu. Itu sebabnya ia menyembunyikan semua ini begitu rapat. Tapi seperti kata pepatah, rahasia tidak pernah benar-benar aman. Hanya menunggu waktu untuk meledak di wajahmu.

Pintu terbuka tanpa ketukan.

Melvin masuk dengan langkah santai, mengenakan kemeja hitam yang tidak dikancingkan di bagian atas, rambut putihnya masih basah setelah mandi. Wajahnya tenang, namun matanya... matanya selalu menjadi petunjuk sejati tentang suasana hatinya. Dan saat ini, mata biru itu dingin seperti es di kutub utara.

"Kau terlihat tua, Dad," sapa Melvin sambil duduk di kursi di hadapan meja ayahnya tanpa permisi. "Kurang tidur?"

"Sabrina tahu," kata Alistair langsung ke intinya. Ia tidak punya energi untuk basa-basi.

Melvin tidak terkejut. Bahkan, sudut bibirnya naik tipis.

"Akhirnya," ucapnya pelan. "Aku kira dia akan tahu lebih cepat."

Alistair menajamkan pandangan. "Kau tahu? Kau tahu dia akan menemukan kebenarannya?"

"Aku tidak merencanakannya," jawab Melvin sambil menyilangkan kaki. "Tapi aku tidak bodoh, Dad. Adikku bukan gadis bodoh. Dia terlalu dekat dengan Gaby untuk tidak curiga. Dan setelah aku pulang tanpa Gaby, setelah semua tekanan itu... hanya masalah waktu sampai dia memaksa jawaban darimu."

Alistair mengepalkan tangannya di atas meja. "Kau seharusnya memberitahuku bahwa Gaby sudah tidak ada di pulau itu. Aku masih bisa mengatur strategi-"

"Apa gunanya?" potong Melvin dingin. "Gaby sudah di tangan Emrys. Tidak ada yang bisa menembus penthouse Kaito. Bahkan kau tidak bisa."

"Lalu apa rencanamu sekarang?"

Melvin terdiam sejenak. Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela yang menghadap ke taman belakang. Di sana, Sabrina sedang berjalan mondar-mandir di dekat kolam, ponsel di telinga, gesturnya gelisah.

"Sabrina akan pergi," kata Melvin pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Mungkin besok. Atau lusa. Dia akan mencari Gaby ke London."

Alistair ikut berdiri. "Kau akan biarkan dia?"

"Aku akan ikuti dia."

Keheningan menguasai ruangan.

Alistair menatap putranya dengan pandangan tidak percaya. "Kau akan ikuti dia? Untuk apa? Untuk menculik Gaby lagi di depan mata Emrys?"

Melvin berbalik. Wajahnya kini tidak lagi dingin. Ada sesuatu yang lain di sana...sebuah kegilaan yang tenang, seperti api yang membakar di bawah es.

"Aku tidak akan menculiknya lagi, Dad," ucap Melvin. "Setidaknya, tidak dengan cara yang sama."

"Lalu?"

Melvin tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Aku akan membiarkan Gaby memilih."

Alistair mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Aku sudah mencoba cara kekerasan. Aku sudah mencoba mengurungnya, melindunginya, memaksanya untuk hanya melihat aku. Tapi itu tidak berhasil." Melvin berjalan mendekati meja ayahnya, kedua telapak tangannya menempel di permukaan kayu ek yang dingin. "Dia tetap memimpikan Emrys. Bahkan setelah setahun. Bahkan setelah semua yang aku berikan."

Suaranya bergetar di akhir kalimat. Bukan karena takut. Tapi karena amarah yang tertahan.

"Jadi sekarang aku akan coba cara lain. Aku akan biarkan dia kembali ke dunianya. Biarkan dia merasakan lagi kehidupan yang dulu. Biarkan dia melihat bahwa di luar sana, tidak ada yang benar-benar peduli padanya. Emrys terlalu sibuk melindunginya hingga melupakan bahwa Gaby butuh kebebasan, bukan hanya keamanan. Orang tuanya terlalu takut untuk menjemputnya. Dan teman-temannya..." Melvin tersenyum getir. "Teman-temannya tidak akan pernah bisa memberinya apa yang aku berikan."

Alistair terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Aku akan memberinya ruang," lanjut Melvin. "Tapi bukan karena aku menyerah. Aku hanya membiarkan tali kendali sedikit lebih panjang. Agar suatu hari nanti, ketika dia sadar bahwa tidak ada yang bisa memahaminya seperti aku, dia akan kembali dengan sukarela."

"Kau yakin itu akan terjadi?" tanya Alistair ragu.

Melvin menegakkan tubuhnya.

"Itu satu-satunya harapan yang aku miliki, Dad. Karena jika tidak..." Ia berhenti sejenak. "Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada diriku sendiri."

Untuk pertama kalinya, Lord Alistair melihat putranya dengan cara yang berbeda.

Bukan sebagai pewaris keluarga Blackwood yang dingin dan ambisius.

Tapi sebagai seorang pria yang benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis dengan cara yang paling tidak sehat dan paling berbahaya yang pernah ia lihat.

 

London – Malam Hari yang Sama

Di penthouse Kaito, Emrys baru saja selesai berbicara dengan tim keamanannya.

Laporan terakhir: Tidak ada gerak mencurigakan dari pihak Blackwood. Melvin terpantau di mansion keluarganya. Sabrina dan Emilia tampaknya merencanakan perjalanan ke Oxford untuk urusan kampus.

Emrys menghela napas lega. Mungkin ancaman itu benar-benar mereda.

Namun di kamarnya, Gaby sedang membuka jendela kamar mandi. Hanya selebar sepuluh sentimeter. Cukup untuk merasakan angin malam London yang dingin menusuk.

Ia menengadahkan wajahnya, membiarkan udara dingin itu membelai kulitnya.

Dan di kejauhan, di sebuah mobil hitam yang parkir di seberang jalan...jauh dari jangkauan kamera keamanan Kaito, seorang pria berambut putih tersenyum tipis.

Ia tidak bisa melihat Gaby dari sini.

Tapi ia tahu ia ada di sana.

"Aku akan menunggumu, Gaby girl," bisik Melvin pelan, menghidupkan mesin mobilnya.

"Sampai kau sadar bahwa hanya aku yang benar-benar mengerti isi hatimu."

Mobil itu melaju perlahan, menghilang di tikungan jalan, meninggalkan jejak asap tipis di udara malam London yang dingin.

 

Yeaaayyy~ aku comeback ><

1
Jj^
Thor kasih visualnya Melvin yg rambut putih itu pasti cakep bgtt dah😁
Jj^: ok thor
total 3 replies
Jj^
terimakasih Thor😍
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^
yg banyak update nya thor aku makin penasaran maaf ngelunjak 😁
Jj^
makin seru nih Thor🤩
Thinker Bully ><: aku juga😄👍
total 4 replies
Jj^
terimakasih Thor 🤗
lanjut update lagi thor
🤗
Jj^: siapp thor🤗
total 2 replies
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^: semangat Thor aku selalu menunggu 🤗
total 2 replies
Thinker Bully ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!