Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Perjanjian Kontrak Pernikahan
Ketika Berys sampai di depan kamar rawat bu Wina, dia melihat embun sedang memijit kaki bu wina dengan sangat lembut, yang membuat mata yang memandangnya meneteskan air mata haru, terkecuali dengan Berys, pria ini kan pria Maco, jadi gak mampan air mata untuknya.
“heemm, gadis iki memang baik, tapi! Apakah dia mampu menghadapi masalah sebesar ini, kalau nanti dia sudah menjadi pemimpin pura pura, sementara latar belakagnya tidak, dan hanya tamatan sekolah menengah, haaiiss” lirih Berys sangat tersentuh dengan adegan yang ada pada pandangannya saat ini, kemudian dia buru buru menepis perasaan itu dan langsung mengetuk pintu ruangan itu.
“tok tok” embun langsung menoleh ketika dia mendengar pintu ruangan itu di ketuk dari luar.
“iya masuk” silahkannya tanpa dia tau siapa yang mengetuk pintu itu.
Berys nongol dari balik pintu besar itu, yang membuat embun dan bu wina mengerutkan kening mereka masing masing. “Maaf ya bi, saya mengganggu waktu kalian sebentar” ucap Berys dengan sopan kepada kedua makhluk indah itu di hadapannya.
“iya tuan tidak masalah, silahkan saja” sambut bu wina dengan cepat, karena bu wina mengenal Berys sebagai sekretaris Rido.
“tidak usah bi, saya kesini hanya untuk memanggil embun untuk datang menemui sang tuan besar dilantai atas” ucap Berys dengan terburu buru, dia takut bu wina akan salah paham akan kedatannya di ruangan itu.
“ohh tuan memanggil nak embun? Emang kenapa tuan besar memanggilnya, apakah dia telah melakukan sebuah kesalahan?” ucap bu wina dengan memelototkan matanya penuh dengan kekhawatiran.
“Oh tidak, tidak bu, tuan besar memanggilnya cuman karena ada keperluan sebentar” sahut Berys dengan cepat.
“Oh Baiklah” ucap bu wina kecil sambil dia mengangguk mengerti.
Embun tidak banyak bertanya, karena fokusnya sekarang adalah untuk kesembuhan sang ibu sambungnya itu, sehingga dia sangat butuh pekerjaan saat ini.
“Ayo tuan!” ajak Embun yang langsung berdiri, kemudian dia melirik bu wina, sambil dia berkata “Bu, saya pergi sebentar ya, saya akan kembali setelah selesai berbicara dengan tuan besar”.
Sedangkan bu wina tidak banyak menyumbangkan kata kata lagi, dia hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju dengan perkataan embun solai.
Embun mengekori Berys yang berjalan dengan tegas, embun tidak banyak pikiran dia hanya ingin bertemu dengan sang tuan besar, dan segera kembali kekamar bu wina yang masih dirawat.
Tidak menunggu waktu lama embun bersama Berys sudah sampai di kamar rawat Rido, embun melihat Rido yang masih tertidur kaku diatas ranjang pasien dan tuan besar sedang berdiri disebelahnya, dia hanya sedikit menggeleng. “Emang seperti ini kehidupan orang kaya? Selalu banyak ditimpa masalah!” monolog dalam hati kecil.
“Apa kabarmu nak?” Tanya Giancarlo memecahkan keheningan di ruangan itu, sambil dia melemparkan senyuman tampannya kepada embun, kita tidak tau apakah senyuman itu benar benar tulus ataukah bagaimana.
Mendengar tuan besar bersuara, embun dengan tidak kalah saingnya dia juga melemparkan senyuman manisnya kepada Giancarlo, kemudian dia berkata menjawab “kabar baik tuan besar”.
“Emm, baguslah!” sahut Giancarlo tanpa melepaskan pandanganya kepada embun solai.
“begini nak embun! Saya dengar bu wina sedang sakit?” Tanya Giancarlo dengan berbasa basi.
“iya benar tuan besar, bu wina memang sedang sakit, tapi dia itu bukan sakit biasa tuan” jawab embun dengan sangat polos.
“apa maksudmu bukan sakit biasa? Saya menjadi kurang paham!” seru Giancarlo degan mengerutkan keningnya memasang wajah penasaran, yang membuat embun solai semakin memercayai sang tuan besar itu.
“heem, begini tuan besar! Bu wina itu sakit jantung, jadi dia harus segera di operasi” ujar embun dengan santai.
“Apakah kau menyayangi bu wina?” Tanya Giancarlo memancing embun untuk berkata jujur.
Embun langsung menganggukan kepalanya, ketika dia mendengar Giancarlo bekata seperti itu, kemudian dia buru buru untuk menjawab “Saya sangat sangat menyayangi bu wina tuan besar, karena dia adalah ibu sambungku, dan hanya dialah keluargaku yang masih ada di dunia ini”.
Mendengar pernyataan dari embun, hati kecil Giancarlo menjadi tercubit dengan sangat membahana, dia sangat terkejut dengan sikap embun yang seperti malaikat, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan segera, dia harus menepis pikiran tentang gadis baik, karena tujuan utamanya adalah untuk membuat pernikahan kontrak antara embun dan Rido.
“Lalu apa yang mau kamu lakukan untuk bisa menebus biaya operasi bu wina?” Tanya Giancarlo memancing rasa percaya diri embun solai.
“Yaah, apalagi tuan, saya harus tetap semangat untuk bekerja lagi, supaya biaya operasi ibu saya bisa terkumpul” sahutnya sambil dia meneteskan air mata beningnya. Kemudian dia mengangkat wajahnya menghadap Giancarlo dan berkata “Tuan besar! Tolong jangan pecat saya, karena saya ingin mengumpulkan uang untuk berobat ibu saya” mohon embun sambil dia meletupkan kedua tangannya di dada.
Giancarlo tersenyum licik ketika dia mendengar embun memohon padanya, dia berpikir bahwa jalannya untuk menangkap gadis kecil itu tidak terlalu sulit. Namun hati kecilnya juga seperti tersayat ketika dia membayangkan jika hal tersebut menimpa dirinya atau anaknya, bahkan cucu cicitnya nanti.
Giancarlo kembali di alam sadarnya, kemudian dia langsung berkata dengan terburu buru sambil menggerakan kedua tangannya “tidak, tidak, saya tidak berniat memecatmu, bahkan saya ingin menawarkan pekerjaan untukmu, itupun kalau kamu mau”.
Mendengar perkataan dari sang tuan besar, sontak saja embun solai menyipitkan kedua matanya dengan penuh rasa penasaran. “heem, baiklah! Emang tuan besar menawarkan pekerjaan apa sama saya?” tanyanya balik.
“Baiklah langsung saja!” ucap sang tuan besar to the point saja.
“Saya mau kamu menikahi putra saya, dengan syarat pernikahan kontrak, kalau nanti putra saya sudah sembuh maka kalian boleh cerai, dengan imbalan 1 miliar untuk biaya pertama, nanti setelah cerai kamu mendapatkan 1 miliar lagi” jelas Giancarlo dengan santai.
Mata embun seakan melompat dari tempatnya ketika dia mendengar besaran uang yang ditawarkan kepadanya, karena seumur hidup dia tidak akan pernah mendapatkan jumlah uang sebesar itu.
“syaratnya hanya itu saja tuan besar!” Tanya embun solai dengan entengnya, dia tidak berpikir bahwa di dalam surat perjanjian pernikahan itu banyak tertulis pasal demi pasal.
“Iya! Pekerjaanmu hanyalah merawat anak saya, sama seperti yang kamu lakukan sebelum ini, kamu harus mengurusnya dengan teliti” ucap sang tuan besar, eh bukan! Sebentar lagi akan menjadi calon mertua.
“Oke! Saya siap!” sambut embun dengan senang.
Berys langsung menyerahkan surat perjanjian kontrak keatas meja, kemudian tanpa babibu lagi embun langsung menyerbu surat itu dengan tanda tangan aslinya.
“Sudah tuan besar” ucap Berys kepada Giancarlo ketika embun sudah selesai menandatangani surat pernjanjian itu.
“Berikan dia kartu itu, dan langsung urus jadwal operasi bi wina” titah Giancarlo dengan mode santainya.
Giancarlo langsung melangkahkan kakinya setelah dia memberikan perintah kepada sang anak buah, namun sebelum dia melangkah pergi dia terhenti dan berbalik menatap embun “Oh ya embun! Kamu tinggal disini mulai dari sekarang, dan ingat besok pagi kalian menikah disini” jelasnya dengan singkat.
Embun sangat terkejut dengan titah sang tuan besar, namun dia tidak punya pilihan untuk bertanya sehingga dia hanya bisa mengangguk dengan patuh.
“Oh iya! Bu wina akan dijadwalkan operasi, jadi kamu tidak usah memikirkan soal biayanya lagi, saya akan menanggung semuanya, sekarang kamu hanya focus untuk merawat anak saya saja” ucap Giancarlo memberikan perintah.
Embun bagaikan sedang melayang di atas awan biru, dia sangat senang dengan ucapan sang tuan besar, dia sekarang merasa legah dan bisa hidup dengan tenang.
“terimakasih tuan besar! Terimakasih” ucap embun dengn senang yang langsung mengangguk dan sekalian membungkuk dengan hormat kepada Giancarlo.
“Heem, sama sama” jawab sang tuan besar singkat, dan dia langsung pergi meninggalkan tempat itu, tinggal embun dan Rido yang menjadi penghuni kamar itu.
Sekarang embun menjadi tenang, ketika mendengar bu wina akan segera diatur jadwal operasinya, dia melihat kartu ATM yang berada digenggamannya saat ini, dengan senyuman kecilnya di begumam “Apakah ini harga diriku, sebesar satu miliar untuk awal, huuft,, sebentar lagi aku akan menikah, aku menikahi orang yang tidak aku cintai dan tidak mencintaiku sama sekali, apakah ini memang jalan takdirku ya Allah”.
Tanpa sadar embun sudah meneteskan air bening dari peluput matanya, kemudian dia menatap langit langit kamar itu sambil bergumam “Ibu! Besok saya akan menikah, apakah engkau sedang melihatku dari atas sana? Sebenarnya bagi orang lain besok adalah hari masa terindah dalam hidupnya, tapi itu berbeda denganku, besok adalah hari perjanjian kontrak di mulai, tolong ibu doakan saja aku dari sana ya, semoga aku bisa tegar menghadapi semua ini sendirian”.