NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:423
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: DANA ABADI DAN GERBANG BARU

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar VIP Rumah Sakit Polri tidak lagi terasa mengancam. Tidak ada lagi bayangan sniper di gedung seberang, tidak ada lagi penyadap di balik bingkai foto, dan yang paling penting: tidak ada lagi beban rahasia yang menghimpit dada Sasmita. Sudah seminggu sejak peristiwa di basement Kuningan. Neurotoksin dalam tubuhnya telah dinetralkan, meski sisa-sisa trauma fisik masih membuatnya harus duduk di kursi roda untuk sementara waktu.

Sakti berdiri di dekat jendela, tangannya yang bersilang di dada menunjukkan kewaspadaan yang sudah menjadi insting alaminya. Sementara itu, Bramasta duduk di sofa kecil, sedang mengupas apel dengan gerakan yang jauh lebih tenang daripada seminggu yang lalu.

"Hari ini adalah sidang perdana pembacaan dakwaan untuk Agatha dan Hendra," ujar Bramasta tanpa mendongak. "Jaksa menggunakan kesaksian tertulis yang kamu tandatangani kemarin. Mereka tidak akan bisa mengelak lagi, Sasmita."

Sasmita menatap tangannya yang kini tampak sedikit lebih berisi. "Bagaimana dengan Aris?"

"Dia ditempatkan di sel rehabilitasi medis bawah tanah," Sakti menyahut. "Luka tembak di bahunya infeksi, dan dia menunjukkan gejala ketidakstabilan mental. Pengacaranya mencoba mengajukan pembelaan gangguan jiwa, tapi tim ahli forensik kita sudah memastikan bahwa semua tindakannya dilakukan dengan kesadaran penuh dan perencanaan yang matang."

Sasmita mengangguk pelan. Ia tidak merasakan kepuasan saat mendengar penderitaan Aris. Yang ia rasakan hanyalah kelegaan bahwa ancaman itu telah dipenjara.

Sasmita meraih sebuah map cokelat tua yang diletakkan Yudhistira di atas meja nakas. Ini adalah dokumen wasiat terakhir yang asli, yang diambil dari kotak timah di makam ibunya. Di dalamnya terdapat kunci fisik dan kode akses digital untuk sebuah deposit box di Singapura.

"Sakti, siapkan keberangkatan kita ke Singapura lusa," perintah Sasmita. "Aku ingin melihat apa yang sebenarnya Ayah Wirya sembunyikan di sana. 'Dana Abadi' itu... aku harus tahu apakah itu berkah atau justru kutukan baru."

"Nona, polisi mungkin akan meminta Anda tetap di sini sebagai saksi mahkota," Sakti mengingatkan.

"Sampaikan pada mereka bahwa aku akan memberikan kesaksian lewat video conference. Aku butuh udara segar, Sakti. Aku butuh keluar dari kota yang penuh dengan bau asap dan darah ini."

Dua hari kemudian, Sasmita mendarat di Bandara Changi. Ia tidak lagi menggunakan nama Sasmita Janardana. Paspor di tangannya tertulis Saga Anindita—identitas yang diberikan ibunya untuk memulai hidup baru.

Di sebuah bank swasta yang berdiri angkuh di pusat distrik finansial Singapura, Sasmita melangkah masuk dengan bantuan tongkat penyangga. Ia diantar menuju ruang bawah tanah yang dijaga ketat oleh sistem keamanan biometrik tingkat tinggi.

Saat pintu baja tebal itu terbuka, Sasmita tertegun. Ia mengira akan menemukan tumpukan emas, tumpukan uang tunai, atau sertifikat saham senilai triliunan rupiah. Namun, di dalam kotak nomor 0909 itu, hanya ada sebuah buku catatan tua, sebuah kamera Leica antik milik ibunya, dan sebuah hard drive eksternal kecil.

Sasmita duduk di kursi beludru yang disediakan. Ia membuka buku catatan itu.

"Untuk Sasmita, putriku yang paling berani.

Jika kamu sampai di sini, artinya kamu sudah memilih untuk berhenti menjadi pion. Dana Abadi yang aku maksud bukanlah uang yang bisa kamu gunakan untuk membeli gedung atau perusahaan. Dana ini adalah modal untuk 'Yayasan Melati Putih'. >

Semua aset yang aku kumpulkan secara rahasia selama tiga puluh tahun telah aku alihkan ke yayasan ini. Tujuannya hanya satu: Membiayai perlindungan bagi wanita dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan domestik dan perebutan kekuasaan korporasi. Aku ingin kamu menjadi pelindung bagi mereka yang rumahnya 'terbagi' seperti rumahmu dulu.

Uang ini tidak akan habis jika dikelola dengan jujur. Tapi ingat, Sasmita... jangan pernah gunakan satu sen pun untuk kepentingan pribadimu. Aku sudah menyisihkan tabungan terpisah untuk hidupmu yang sederhana di Malta.

Jadilah cahaya, bukan pedang.

Ayahmu, Wirya Janardana."

Air mata Sasmita menetes membasahi halaman buku itu. Wirya Janardana, pria yang ia kira lemah dan penuh dosa, ternyata telah membangun sebuah benteng kebaikan di tengah-tengah kehancuran yang diciptakan Keluarga Waskita. Ia tidak memberinya harta untuk berfoya-foya; ia memberinya sebuah misi.

"Nona? Apa isinya?" tanya Sakti yang menunggu di luar pintu kaca.

Sasmita menghapus air matanya dan berdiri tegak. "Isinya adalah penebusan dosa, Sakti. Ayah memberikan tanggung jawab besar padaku."

Sasmita menyerahkan hard drive itu pada Sakti. "Di dalam sini ada akses ke dana hibah internasional. Kita tidak akan membangun kembali Janardana Group. Kita akan membangun jaringan perlindungan. Sakti, aku ingin kamu menjadi kepala keamanannya. Dan Bramasta... dia akan menjadi pengelola asetnya. Dia tahu cara memutar uang, dan kali ini, dia harus melakukannya untuk tujuan yang benar."

Sakti membungkuk hormat. "Apapun perintah Anda, Nona Saga."

Sasmita keluar dari bank tersebut dengan perasaan yang sangat ringan. Matahari Singapura yang cerah menyambutnya. Ia melihat ke arah pelabuhan, memikirkan masa depannya. Garis merah itu benar-benar telah hilang. Tidak ada lagi musuh yang harus diburu, tidak ada lagi dendam yang harus dibalas.

Namun, saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah menunggu, ponsel Sasmita bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

"Penghapusan aset digital tidak akan menghentikan ideologi, Sasmita. Agatha mungkin jatuh, tapi 'Dewan Waskita' masih ada. Kami melihat apa yang kamu lakukan di Singapura. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya."

Sasmita berhenti melangkah. Ia menatap layar ponselnya tanpa rasa takut. Ia justru tersenyum dingin.

"Sakti, sepertinya hidup tenang di Malta harus kita tunda sebentar," ujar Sasmita sambil menunjukkan pesan itu.

"Ada apa, Nona?"

"Agatha hanyalah satu dari banyak monster di dalam Keluarga Waskita. Mereka pikir mereka bisa mengancamku dengan pesan anonim ini?" Sasmita mematikan ponselnya dan membuang kartu SIM-nya ke dalam tempat sampah. "Mereka lupa satu hal. Aku tidak lagi menggambar garis merah di lantai. Aku adalah garis merah itu sendiri. Siapapun yang melintasinya... akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Yayasan Melati Putih."

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!