Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
"Saya tidak membutuhkan uang anda!" Cynthia semakin geram saja "Tapi anda tenang saja nyonya! Saya akan menjauhi Kevin, saya tahu jika saya memang tidak setara dengan keluarga anda!"
Cynthia tersenyum meledek, ia tahu ini hanya akal bulus Alanna saja. Wanita miskin seperti ini pasti tidak mau rugi
"Kamu keras kepala juga rupanya, saya menawarkan sesuatu yang menarik tapi kamu menolaknya! Kamu pasti akan dapat lebih banyak dengan bisa menjadi istri Kevin dan menantu keluarga Argantara!"
Cynthia meraih sebuah kertas yang Alanna ketahui adalah sebuah cek "Ini sudah ditandatangani, kamu bisa tulis berapapun yang kamu inginkan!"
Alanna tersenyum, meraih cek tersebut membuat Cynthia tersenyum. Ia yakin semua wanita miskin pasti tergoda dengan uang
"Terima kasih atas kemurahan hati nyonya, tapi saya benar-benar tidak membutuhkan uang keluarga anda!"
Alanna meletakkan lagi kertas itu diatas meja, hal itu jelas menyulut emosi Cynthia yang merasa wanita dihadapannya ini terlalu berani
"Jika tidak ada yang dibicarakan, apa bisa saya kembali bekerja?" Tanya Alanna dengan sopan
"Kamu hanya office girl tapi terlalu sombong"
"Apa tuan dan nyonya butuh sesuatu? Akan saya bawakan?" Alanna hanya ingin bekerja dengan baik, ia tidak ingin kehilangan pekerjaan ini lalu kembali menjadi pelayan di klub
Cynthia mengibaskan tangannya lalu mengalihkan wajahnya, kesal juga menghadapi wanita keras kepala seperti Alanna ini
"Dengar Alanna!" Alanna membawa pandangannya pada seorang pria yang duduk dibalik kursi kebesarannya
"Ya tuan?"
"Kamu jangan tersinggung, kami hanya ingin Kevin mendapat pendamping hidup yang setara" Ucapan itu jelas melukai hati wanita itu "Kami tau kamu dijanjikan banyak hal oleh Kevin, itu kenapa istri saya menawarkan semua ini pada kamu"
"Maaf sekali lagi tuan, saya mencintai Kevin dengan tulus. Andai dia bukan keluarga Argantara mungkin saya akan mempertahankan cinta saya" Ujar Alanna "Tapi saya sadar akan adanya jurang pemisah yang begitu dalam, dan saya tidak akan memaksakan diri untuk jatuh kedalamnya"
Alanna merasa jawaban itu sudah cukup, wanita cantik itu pamit dan keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang teramat sakit
Alanna melangkah, bukan untuk kembali ke pantry tapi untuk menumpahkan segala tangisnya. Dan yang dipilih adalah kamar mandi
Wanita cantik itu bersandar pada pintu yang tertutup, harga dirinya terluka. Ia tidak pernah bermimpi ada diantara keluarga seperti ini
Ia hanya gadis sederhana, yang ingin keluar dari neraka yang keluarganya ciptakan untuknya
Tapi takdir menjanjikan sesuatu yang jauh lebih indah, cinta sejati. Siapa yang tidak ingin bersama pria yang dicintai, namun Kevin begitu sulit untuk digapai
"Selamat siang tuan, nyonya!" Seorang pria dengan pakaian rapi memasuki ruangan
"Dimas" Sapa Renaldi Argantara "Saya ada pekerjaan untuk kamu!"
Cynthia menyerahkan sebuah foto, pria empat puluh tahun itu meraihnya dan melihat dengan seksama
"Apa yang tuan dan nyonya ingin saya lakukan?"
"Saya ingin kamu mencari tahu informasi apapun tentang wanita ini! Dia kekasih anak saya dan saya harus tau dilingkungan mana dia berasal!" Titah Cynthia
Pria bernama Dimas itu mengangguk, setelah itu berlalu meninggalkan ruang sang Direktur
***
Kevin memegangi kepalanya yang terasa berat, pengar karena mabuk semalam belum sepenuhnya hilang
"Dimana gue?" Suaranya terdengar serak
"Udah bangun lo? Nih!" Ujar Gerry seraya menyerahkan segelas air putih
"Gue mabuk?" Kevin menenggak air tersebut
"Hhmm"
"HP gue mana?"
"Tuh" Gerry menunjuk dengan memajukan bibirnya
Kevin meraih ponsel yang terletak diatas nakas, mencari nama seseorang lalu melakukan panggilan
"Nggak diangkat, apa dia marah?" Gumamnya
"Alanna pasti lagi kerja, dia pasti nggak pegang hp" Gerry mengingatkan
Baru saja hendak kembali menelepon, benda pipih miliknya berdering dan nama sang asisten tertera
"Ada apa Evan?"
"Maaf saya mengganggu, tuan. Tuan dan nyonya Argantara ada disini, dan baru saja Alanna keluar dari sana dalam keadaan menangis"
Asisten pribadi Kevin itu memang telah mengetahui hubungan diantara keduanya. Dan ia diminta untuk melindungi Alanna dari masalah yang mungkin wanita itu alami
"Apa? Mama sama Papa ada disana?" Kevin terkejut, dengan langkah cepat turun dari tempat tidur lalu mengenakan kembali jas serta sepatunya
"Thanks bro! Gue cabut dulu!" Kevin dengan cepat meninggalkan gedung apartemen tersebut
Sesampainya dikantor, tempat yang pertama ia datangi adalah ruangan Direktur dimana kedua orang tuanya berada
"Apa yang Papa sama Mama lakukan pada Alanna?" Tanya Kevin dengan tidak sabaran, ia khawatir pada kekasihnya
"Dari mana saja kamu? Apa kamu lupa tentang jabatan kamu di perusahaan ini?" Tanya Cynthia
"Apa yang kalian lakukan pada Alanna?" Kevin mengabaikan kemarahan sang ibu
"KEVIN?" Bentak Renaldi "Apa wanita itu segitu pentingnya untuk kamu?"
"Alanna segalanya untuk aku, aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyakiti dia!" Ujarnya dengan tegas membuat kedua orang tuanya tidak percaya
"Apa kamu waras Kevin? Kamu mengatakan semua ini pada kami?" Cynthia tidak percaya, putranya begitu penurut, karena cinta hingga membuatnya melakukan ini
"Aku hanya jatuh cinta, apa yang salah dengan itu? Jangan pernah mengusik Alanna! Karena aku nggak akan pernah memaafkan itu!"
Ucapan itu seolah peringatan bagi keduanya, Kevin meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ruangannya sendiri
Pria tampan itu meraih gagang telepon lalu menekan angka satu "Minta Alanna keruangan saya untuk membawakan kopi!"
Pintu diketuk, Kevin mempersilahkan seseorang diluar untuk masuk. Pria tampan mengerutkan keningnya begitu Amel memasuki ruangan
"Dimana Alanna?" Tanya Kevin, bukannya jelas jika dirinya meminta kekasihnya itu untuk datang
"Maaf tuan, tapi Alanna sedang mengerjakan tugas lain" Jawab Amel
Kevin mengibaskan tangannya, Amel keluar setelah itu. Kevin menyesap kopi miliknya dan itu memang buatan kekasihnya
Artinya Alanna ada disana dan meminta orang lain untuk mengantarkan kopinya. Kekasihnya itu jelas tengah menghindarinya
Kevin mengepal, ia keluar dari ruangan CEO dan jelas menuju kearah dimana kekasihnya berada. Semua orang disana menunduk
Untuk pertama kalinya sang CEO menginjakkan kakinya di pantry. Tatapannya tajam pada seorang wanita yang menundukkan kepalanya
"Ikut saya!" Alanna terbelalak, begitupun semua orang yang ada disana
"Maaf tuan, saya sedang bekerja" tolak Alanna, hal itu semakin membuat rekannya yang lain terkejut. Bagaimana bisa ada seorang office girl yang berani melawan ucapan seorang atasan
"Kamu ikut! Atau kamu berhenti bekerja disini!" Peringatan itu jelas! Alanna sendiri tidak ingin membuatnya lebih sulit
"Saya bisa jalan sendiri!" Kevin mengabaikan ucapan kekasihnya, tangannya masih menggenggam pergelangan tangan wanita itu hingga keduanya berada di lobby
Hal ini jelas menarik perhatian siapa saja, hal itu tidak pernah dilakukan oleh Kevin pada pekerja disini
"Masuk!"
Tak ingin memperburuk, Alanna menurut. Wanita cantik itu masuk lalu duduk menunggu Kevin yang ikut masuk