Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kebebasan?
Malam itu, Gaby melangkah keluar dari walk-in closet dengan jantung yang berdegup kencang. Ia mengenakan gaun hasil rancangannya sendiri. Sebuah mahakarya dari kain sutra tipis berwarna hitam yang membalut tubuhnya seperti kulit kedua. Potongannya sangat berani, dengan bagian punggung yang terbuka sepenuhnya hingga batas pinggang dan belahan tinggi yang memamerkan lekuk kakinya yang jenjang setiap kali ia melangkah.
Pakaian itu adalah bentuk pemberontakan visual. Terlalu ekspresif, terlalu terbuka untuk standar "gadis baik-baik" yang selama sebulan ini Emrys paksakan padanya.
Gaby berdiri di depan Emrys, menantang sorot mata pria itu. Ia mengira Emrys akan meledak, menyuruhnya ganti baju, atau setidaknya melemparkan jasnya untuk menutupi bahu Gaby yang polos. Namun, Emrys hanya terdiam cukup lama. Pria itu menghela napas panjang, lalu memijit pelipisnya dengan ibu jari dan telunjuk, seolah sedang meredam badai di kepalanya.
"Kau ingin dunia melihat apa yang kumiliki, Gaby?" gumam Emrys dengan suara serak yang berbahaya. "Baiklah. Pakai sesukamu. Tapi jangan sekalipun jauh dari jangkauan pandanganku."
Sesampainya di galeri seni yang megah di pusat London, suasana terasa sangat glamor. Cahaya lampu kristal memantul pada karya-karya seni kontemporer yang dipajang di dinding putih bersih. Kehadiran mereka berdua seketika menjadi pusat perhatian. Emrys Kaito, sang naga bisnis yang dingin, bersanding dengan Gaby yang tampil begitu provokatif dan memukau.
Di luar dugaan Gaby, Emrys benar-benar menepati janjinya. Begitu mereka masuk ke area utama, pria itu melepaskan kaitan lengannya.
"Pergilah. Nikmati acaramu," ucap Emrys sembari mengambil segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat. Ia berdiri di sudut ruangan yang strategis, membiarkan Gaby berbaur dengan para seniman, kolektor, dan mahasiswa Oxford lainnya.
Gaby merasa seolah beban berat baru saja terangkat dari bahunya. Ia tertawa, berdiskusi tentang teknik pewarnaan dengan seorang pelukis, dan merasa hidup kembali. Namun, setiap kali ia menoleh, ia bisa merasakan sepasang mata tajam Emrys mengikutinya dari kejauhan. Pria itu tidak mendekat, tidak menginterupsi, namun keberadaannya di sana terasa seperti jangkar yang memastikan Gaby tidak terbang terlalu jauh.
Tiba-tiba, dari balik instalasi patung perak di tengah ruangan, Melvin muncul dengan setelan jas beludru berwarna marun. Ia memegang gelasnya, matanya berkilat saat melihat penampilan Gaby yang luar biasa malam itu.
"You look... lethal, Gaby," bisik Melvin, berdiri cukup dekat hingga aroma parfum-nya yang khas tercium oleh Gaby. Ia melirik ke arah Emrys yang sedang bicara dengan seorang kolektor di kejauhan, namun matanya tetap tertuju pada mereka. "The dragon finally let you out of the cave. Or did you just steal the key?"
Gaby tersenyum tipis, merasa adrenalinnya memuncak. "Dia yang membukakan pintunya, Melvin. Dan dia melihat kita sekarang."
Melvin tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh tantangan. "Good. I like an audience when I'm admiring a masterpiece."
Malam itu, galeri seni di London menjadi saksi bisu sebuah perubahan dinamika yang aneh. Emrys Aetherion Kaito, sang pria yang biasanya menarik tali kekang begitu kencang, kali ini benar-benar mematung di kejauhan. Ia membiarkan Gaby menjadi pusat gravitasi, membiarkannya tertawa, berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, bahkan saat Melvin Jabulani-Blackwood menghabiskan waktu cukup lama untuk berbisik di dekat telinga Gaby, Emrys tidak bergeming. Ia hanya menyesap minumannya dengan pandangan tajam yang tak terbaca, seolah sedang melakukan eksperimen ketenangan yang luar biasa.
Begitu acara usai dan udara dingin London menyergap di luar gedung, mereka langsung masuk ke dalam SUV hitam. Energi Gaby yang meledak-ledak sepanjang malam seolah menguap begitu saja saat pintu mobil tertutup kedap suara. Kelelahan emosional dan fisik membuatnya jatuh terlelap dalam hitungan menit, kepalanya terkulai lemas di sandaran kursi kulit.
Sesampainya di penthouse, Emrys tidak membangunkan gadis itu dengan suara dingin. Sebaliknya, ia turun dari mobil, membuka pintu sisi Gaby, dan dengan gerakan yang sangat sabar hampir terasa protektif. Ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
Langkah kaki Emrys tidak terdengar saat ia melewati koridor sunyi menuju kamar Gaby. Ia membaringkan gadis itu di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Tanpa memanggil pelayan terlebih dahulu, Emrys sendiri yang meraih kapas pembersih. Dengan tangan besar yang biasanya kaku, ia menghapus makeup di wajah Gaby dengan usapan lembut, menyingkap kecantikan polos yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng keberanian.
Pandangannya turun ke kaki Gaby. Ia berlutut di sisi tempat tidur, perlahan melepas high heels yang melilit pergelangan kaki gadis itu. Di sana, terdapat jejak kemerahan yang mencolok akibat gesekan sepatu mahal yang terlalu lama dikenakan. Emrys menghela napas pendek. Ia beranjak ke kamar mandi, membasahi handuk kecil dengan air hangat, lalu kembali untuk mengusap kaki Gaby dengan telaten, seolah ingin menghapus rasa sakit yang ia biarkan terjadi sepanjang malam.
Baru setelah itu, ia memanggil pelayan wanita untuk mengganti pakaian Gaby dengan baju tidur yang nyaman.
Begitu pelayan selesai dan keluar, Emrys kembali menghampiri adiknya. Ia berdiri di sisi ranjang, memandangi wajah tidur Gaby cukup lama dalam keheningan malam yang kental. Ada kerumitan di matanya antara keinginan untuk menguasai dan kesadaran bahwa burung yang cantik hanya akan bernyanyi jika ia merasa memiliki ruang. Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan kamar itu, membiarkan pintu tidak terkunci.
Di kamarnya sendiri, Emrys membiarkan tubuhnya dibasahi shower hangat untuk waktu yang sangat lama. Uap air memenuhi ruangan, seiring dengan beban di bahunya yang perlahan meluruh. Setelah merasa cukup tenang, ia mengenakan piyama hitamnya dan merebahkan diri di ranjang luasnya yang hangat.
.
.
.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke ruang makan, menciptakan suasana yang jauh lebih hangat dibandingkan sebulan terakhir. Gaby turun dengan langkah ringan, mengenakan pakaian santai yang nyaman. Di atas meja makan, di samping piring sarapannya, sebuah benda yang sangat ia rindukan akhirnya kembali. Z Fold 5 kesayangannya.
Emrys duduk di sana, menyesap kopi hitamnya dengan tenang. Ia mendongak saat Gaby mendekat.
"Aku mengembalikan ponselmu. Dan mulai hari ini, tidak akan ada lagi pengawal yang membuntutimu di kampus," ucap Emrys datar, namun ada nada kelembutan yang terselip di sana.
Mata Gaby berbinar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghambur ke arah Emrys dan memeluk leher kakaknya dengan erat. "Terima kasih, Kak! Benar-benar terima kasih!"
Emrys hanya berdeham pelan, menyembunyikan senyum tipisnya. "Belum selesai. Ikut aku ke basement."
Di area parkir pribadi penthouse, sebuah mahakarya otomotif berwarna merah menyala berdiri dengan gagah. Pintu butterfly miliknya terbuka lebar ke atas, memperlihatkan interior mewah yang sangat sporty. Emrys mengeluarkan sebuah kunci canggih dan meletakkannya di telapak tangan Gaby.
"Ini untukmu. Gunakan dengan bijak," gumam Emrys.
Gaby terpekik kegirangan. Ia berlari memutari mobil sport merah itu, menyentuh bodi mulusnya dengan wajah penuh kekaguman. Rasanya seperti mimpi. Kebebasannya benar-benar telah kembali, bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya.
Karena terlalu bahagia, Gaby berlari kembali ke arah Emrys dan melompat ke pelukan kakaknya. Secara refleks, Emrys segera menahan bobot tubuh Gaby yang ringan, kedua tangannya dengan sigap menyangga di bawah bokong gadis itu agar ia tidak terjatuh. Posisi mereka begitu dekat, membuat tawa ceria Gaby bergema di basement yang sunyi itu.
Cup! Cup!
Gaby mencium pipi kanan dan kiri Emrys dengan penuh semangat. "Kakak yang terbaik! Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi!"
Emrys tertegun sejenak, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan dari adiknya. Rasa takut yang selama sebulan ini membayangi mata Gaby telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Gaby telah kembali menjadi gadis yang riang, dan bagi Emrys, pemandangan itu jauh lebih berharga daripada kendali absolut yang selama ini ia genggam.
Emrys tidak segera menurunkan Gaby. Ia membiarkan gadis itu tetap berada dalam dekapannya selama beberapa saat, seolah sedang menikmati kembali kehangatan persaudaraan yang sempat membeku sebulan terakhir. Langkah kakinya yang tenang membawa mereka kembali dari area parkir menuju ruang makan yang kini terasa jauh lebih hidup. Gaby bahkan menyandarkan kepalanya dibahu sang kakak.
Dengan gerakan perlahan, Emrys melepaskan tubuh mungil Gaby di kursinya, memastikan adiknya duduk dengan nyaman sebelum ia kembali ke tempatnya sendiri.
"Habiskan sarapanmu," ucap Emrys sembari menggeser piring berisi croissant hangat ke arah Gaby. Suaranya rendah, namun tidak lagi mengandung nada perintah yang mengancam. "Mulai hari ini, aku tidak lagi mengantar atau menjemputmu. Kau punya kendali penuh atas waktumu sendiri."
Gaby menatap kakaknya dengan mata berbinar, tangannya meraih ponsel yang kini sudah aktif kembali di samping piringnya. Rasanya seperti menghirup udara segar setelah sekian lama tenggelam.
"Tapi tetap jaga dirimu dengan baik," lanjut Emrys, tatapannya mengunci mata Gaby sejenak. Sebuah peringatan halus yang sarat akan proteksi. "Kebebasan ini datang dengan tanggung jawab, Gaby. Jangan membuatku menyesal telah memberikan kunci itu padamu."
Gaby mengangguk mantap, senyumnya tidak luntur sedikit pun. "Aku janji, Kak! Aku akan langsung ke kampus dan pulang tepat waktu. Tidak akan ada drama, tidak akan ada pelarian."
Emrys hanya bergumam rendah, kembali menyesap kopinya. Ia melihat Gaby mulai makan dengan lahap, sesekali bersenandung kecil sambil membalas pesan-pesan yang menumpuk di ponselnya. Pemandangan itu membuat sudut bibir Emrys terangkat sangat tipis, nyaris tak terlihat.
Baginya, melihat Gaby kembali ceria dan tidak lagi menatapnya dengan ketakutan adalah sebuah kemenangan tersendiri, meski itu artinya ia harus menekan insting posesifnya sedalam mungkin.
"Oh ya, Kak," Gaby mendongak, mulutnya sedikit penuh dengan roti. "Boleh aku mengajak Emilia dan Sabrina mencoba mobil baru itu sore nanti? Hanya berkeliling London sebentar."