"Pria Utama: Huo Chengming (36 tahun)
Wanita Utama: Ye Caoling (21 tahun)
Sejak lahir, Ye Caoling sudah berada dalam pelukan Huo Chengming. Di gendongan yang lembut, terdapat sebuah janji perjodohan antara dua keluarga—takdir gadis kecil ini telah ditetapkan.
Di usia enam tahun, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, Caoling menjadi ""anak angkat"" keluarga Huo.
Namun bagi Chengming, dia tak pernah sekadar adik perempuan...
Dia adalah orang yang rela ia tunggu seumur hidup.
Dari bocah polos hingga gadis dewasa, dari gejolak cinta pertama hingga badai perasaan, akhirnya semua bermuara pada sebuah pernyataan tegas:
""Dia bukan anak angkat. Dia adalah istriku.""
Sebuah kisah cinta dengan perbedaan usia yang jauh, manis sampai membuat pusing! Apakah kamu mau mencobanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ciarabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Cao Ling mengangkat kepalanya, mata basahnya menatap langit kelabu:
"Kalau Papa dan Mama masih hidup, pasti akan menertawakanku bodoh, kan? Kukira sudah dewasa, tapi ternyata masih rapuh seperti anak kecil."
Setetes air mata bergulir, meresap ke dalam tanah yang dingin. Ia gemetar dan melanjutkan:
"Kak Chengming bilang...dia mencintaiku. Aku tidak tahu harus senang atau takut. Sejak kecil, dia adalah sandaranku. Orang yang paling aku percayai... Kalau aku juga menyukainya, apakah salah, Papa Mama?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin yang melewati dedaunan, lonceng angin di samping nisan berdering lembut, seolah-olah jawaban samar dari alam.
"Aku sangat merindukan Papa Mama... Rindu cara kalian menggandeng tanganku saat berjalan, rindu suara lembut kalian membacakan cerita setiap malam. Kalau bisa, aku hanya ingin mengecilkan diri. Kembali ke saat aku berusia 6 tahun, membuat segalanya sesederhana dulu." — Air mata mengalir lebih deras sejak saat itu.
Ia duduk diam sejenak, menyeka air matanya dengan tangan, lalu berusaha memaksakan senyum:
"Aku akan kuat, jadi Papa Mama tenang saja. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan membiarkan diriku tersesat."
Ia berdiri, merapikan buket bunga, membungkuk dalam-dalam. Lalu berbalik dan pergi, setiap langkahnya seberat batu yang menekan hati.
Hanya angin yang tersisa menggoyangkan dahan dengan lembut, seolah-olah dua orang yang masih ia panggil dengan semua cinta - Papa Mama, penghiburan yang tak kasat mata.
Ponsel di atas meja berdering. Chengming baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen, melirik layar - itu adalah nomor sopir pribadinya. Ia mengangkat telepon, suaranya serak karena kelelahan:
"Ada apa?"
Suara hati-hati datang dari ujung telepon:
"Tuan muda... Nona Cao Ling... dia sedang berada di pemakaman di pinggiran kota, di depan makam Tuan dan Nyonya Ye."
Ia menggenggam pena erat-erat, hatinya terasa sakit samar. Ia berkata dengan dingin:
"Jaga jarak, jangan biarkan dia tahu. Jaga dia baik-baik, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kau yang akan bertanggung jawab."
Suaranya tenang, tetapi matanya penuh kekhawatiran.
...****************...
Malam itu
Cao Ling pulang lebih lambat dari biasanya. Lampu di ruang tamu masih menyala, Chengming masih duduk di sana, laptop menyala, kopi masih panas.
"Kamu belum tidur?" — ia bertanya dengan lembut.
"Menunggumu." — ia menjawab singkat.
"Menunggu...aku" — ia terkejut.
Ia mengangguk, matanya menatapnya lurus:
"Kamu keluar, tidak bilang. Lain kali jangan begitu."
"Aku hanya keluar jalan-jalan saja..." — ia menggigit bibirnya, suaranya sekecil nyamuk.
"Meskipun hanya jalan-jalan, tetap harus bilang. Aku tidak mau khawatir lagi."
"Kamu tidak berhak memerintahku seperti itu."
Kata-kata itu terucap, membuat suasana di ruangan menjadi suram. Ia terdiam beberapa detik, lalu meletakkan cangkir kopi di atas meja dengan lembut.
"Aku tahu. Tapi kalau kamu menghilang dari pandanganku lagi... Aku takut aku akan gila." — ia berkata perlahan.
Suaranya rendah dan serak, hingga membuat hatinya bergetar. Ia mundur perlahan, menundukkan kepalanya:
"Kamu...apa maksudnya?"
"Maksudnya aku tidak bisa lagi menganggapmu sebagai adik. Aku sudah mencoba...mencoba berkali-kali untuk menghentikan perasaan ini. Tapi semakin menghindar, semakin ingin mendekat." — ia berjalan maju, suaranya hampir berbisik.
Ia mengangkat kepalanya, matanya membelalak, napas tersendat di tenggorokan: "Jangan katakan..."
"Aku harus mengatakannya. Karena kalau aku tidak mengatakannya, kamu tidak akan pernah mengerti kenapa aku begitu takut kehilanganmu." — ia mengepalkan tinjunya, tersenyum tipis.
Ia mundur selangkah lagi, tetapi punggungnya sudah bersandar di dinding. Jarak di antara mereka hanya satu tarikan napas.
Ia gemetar, suaranya mengecil: "Kamu...kamu membuatku bingung."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa lagi berpura-pura." — ia menundukkan kepalanya, berbisik di telinganya.
Satu tangan Chengming diletakkan di dinding, menghalangi jalan keluar. Tangan lainnya memegang pergelangan tangan Cao Ling dengan lembut, suaranya serak:
"Aku hanya perlu tahu kamu masih di sini, masih melihatku...cukup."
Ruangan hening, hanya suara detak jantung dua orang yang tersisa. Ia tidak berani menatap langsung, suaranya bergetar:
"Kamu...kamu sedang membuat rumit masalah."
"Karena aku mencintaimu."
Kalimat itu membuatnya seolah mati rasa. Ia menyadari telah mengatakan hal yang tidak seharusnya, tatapannya perlahan melembut. Ia menundukkan kepalanya, mencium dahinya dengan lembut — kali ini lembut, tidak terburu-buru seperti sebelumnya.
"Aku tidak membutuhkan jawabanmu sekarang. Hanya perlu kamu tahu...aku tulus."
Ia terdiam, tidak berani menjawab, hanya menatapnya. Matanya penuh air mata, baik takut maupun bingung, sekaligus tergerak.
Ia mundur selangkah, berkata dengan lembut:
"Pergi tidur, Cao Ling. Sebelum aku tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hal yang lebih bodoh."
Ia berbalik dan berlari ke atas, jantungnya berdebar kencang, telinganya memanas. Pintu tertutup, ia bersandar di meja, tersenyum pahit:
"Akhirnya...tetap tidak bisa disembunyikan."