Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Kelihatan Cantik
Cila langsung melangkah cepat ke gerobak sosis bakar yang mengepul harum. Aku mengikutinya, memperhatikan rambutnya yang terayun ringan.
"Bang, dua yang paling besar ya!" serunya antusias.
Dia menoleh. "Kamu mau?"
"Ikutin kamu aja."
"Oke, dua sosis sama dua jagung, Bang!"
Aku melirik pesanan yang mulai disiapkan. "Udah?"
"Udah. Kamu mau nambah?"
Aku menggeleng.
Saat penjual menyebut harga, aku langsung menyodorkan selembar seratus ribu yang masih kaku dari dompetku.
"Berapa, Bang?" tanyaku mantap.
Penjual itu sempat melihat uangku, lalu tersenyum kecil melihat nominalnya yang cukup besar untuk sekadar jajan sore. "Sebentar ya, kembaliannya dicari dulu."
Di sampingku, Cila yang tadi sudah membuka dompet langsung berhenti. Tatapannya berpindah dari uang itu ke wajahku, seolah tidak percaya aku sudah bergerak secepat itu.
"Lho, kok kamu yang bayar? Waktu itu kamu juga yang bayarin," protesnya dengan nada yang sedikit meninggi, mengingat kejadian lama yang menurutnya belum terbalas.
Aku hanya tersenyum tipis, menikmati kemenangan kecil ini. "Kan aku yang ngajak."
Penjual menyerahkan tumpukan kembalian. Aku menerimanya begitu saja tanpa menghitung, lalu memasukkannya ke saku celana dengan asal. Bagiku, jumlah kembalian itu tidak sepenting perasaan menang karena bisa mentraktirnya hari ini.
Cila terdiam. Bibirnya mulai manyun, ekspresi "ngambek" khasnya yang selalu terlihat menggemaskan. Tapi matanya tetap menyimpan binar lucu yang sulit ditahan, seolah dia juga tidak benar-benar marah.
"Ya sudah!" katanya akhirnya, suaranya dibuat-buat tegas. "Kamu mau es jeruk, kan? Sekarang aku yang bayar. Nggak ada penolakan!"
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung berbalik dan berjalan cepat ke arah gerobak minuman di pojok taman.
Aku menggeleng kecil, menatap punggungnya yang menjauh. Untuk pertama kalinya, rasanya aku benar-benar ikut hadir di momen ini, bukan sekadar mengikuti arus atau mengintip dari balik gorden kamarku lagi. Aku adalah Rendra yang sedang menikmati sore bersama gadis yang kusukai.
"Ini sosis sama jagungnya, Dek. Masih panas," ujar penjual sambil menyodorkan bungkusan plastik yang mengepulkan aroma gurih.
Aku menerimanya, merasakan hangat plastik itu di telapak tanganku. Aku pun berjalan perlahan mencari bangku kayu kosong yang menghadap langsung ke arah danau, menunggu Cila kembali dengan es jeruk "balas dendam"-nya.
Aku menemukan bangku kayu yang menghadap langsung ke danau, posisinya agak menjauh dari keramaian gerobak jajan. Suasananya jauh lebih tenang di sini, hanya ada suara air yang pelan beriak menabrak tepian beton.
Dari kejauhan, kulihat Cila celingukan mencariku setelah selesai membeli minuman. Aku segera melambaikan tangan, memberi tanda keberadaanku. Dia langsung menghampiri dengan langkah ringan, membawa dua plastik es jeruk, lalu duduk di sampingku.
"Nih minumannya. Mana makananku?" tagih Cila sambil menyerahkan plastik es yang embun dinginnya menetes di tanganku.
Aku menyodorkan sosis dan jagung bakar miliknya. Kami pun mulai makan tanpa banyak bicara, hanya ditemani suara plastik yang bergesekan dan semilir angin sore yang mulai mendingin.
"Enak?" tanyaku singkat, memecah keheningan.
Cila mengangguk kecil sambil terus mengunyah. "Mm, enak," jawabnya puas.
Aku tersenyum tipis, memperhatikan caranya makan yang tampak lepas dan tanpa beban. Rasanya damai bisa melihatnya sedekat ini. Beberapa saat kemudian, setelah sosisnya habis, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku.
"Kamu sekarang rajin olahraga ya?" tanyanya tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah danau yang permukaannya mulai menggelap.
"Ya... biar sehat," jawabku berusaha santai, meski dalam hati ada rasa bangga karena ternyata dia menyadari perubahan pada tubuhku.
"Kayaknya aku juga harus deh. Kamu jogging juga?" tanya Cila lagi.
"Iya, biasanya kalau pagi. Mau ikut? Nanti aku kabarin kalau aku mau lari," tawarku.
Cila diam sebentar, lalu melirik ke arahku dengan tatapan sedikit ragu. "Segini aku kelihatan gemuk nggak sih, Ren?"
"Nggak. Kamu kelihatan cantik."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Aku baru benar-benar sadar apa yang kuucapkan tepat setelah kata terakhir keluar dari mulutku.
Cila langsung menoleh penuh ke arahku. "Apa?" tanya dia, seolah ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
Jantungku seakan tersentak, berdegup kencang secara tidak beraturan. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke danau, menatap air seolah-olah itu adalah hal paling penting saat ini.
"Maksudku... kalau besok kamu mau ikut, nanti aku kabarin pagi-pagi!" kataku cepat, berusaha menutupi kegugupanku yang luar biasa.
Aku sempat meliriknya sekilas dari sudut mata. Cila tampak menahan senyum kecil sambil kembali membuang muka ke arah danau.
"Boleh," jawabnya pelan, hampir berupa bisikan.
Hening kembali turun di antara kami, tapi kali ini rasanya berbeda—terasa lebih hangat dan intim. Tanganku tergeletak di atas bangku kayu, diam di samping tubuhku. Tanpa kusadari, Cila sedikit menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman.
Dan di sana, di atas kayu tua itu, punggung tangannya menyentuh tanganku.
Aku terdiam, nafasku seolah tertahan. Sentuhannya sangat ringan, hanya gesekan kulit yang tipis, tapi itu cukup untuk membuatku sadar sepenuhnya akan keberadaannya di sampingku. Aku ingin menarik tangan karena takut dianggap lancang, tapi kehangatannya membuatku tidak ingin merusak momen ini.
Cila tidak menjauhkan tangannya.
Kami tetap diam dalam posisi itu, sama-sama terpaku menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala danau, sementara punggung tangan kami tetap menempel di atas bangku kayu, menjadi saksi bisu perasaan yang mulai tumbuh tanpa perlu banyak kata.