Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan dari dua Arah
Pagi itu—
Ryan datang lebih awal dari biasanya.
Bengkel masih sepi.
Udara pagi terasa dingin.
Namun pikirannya…
tidak setenang itu.
Ia berdiri di depan pintu bengkel.
Menatap ke dalam.
Tempat itu kini sudah sempurna.
Bersih.
Rapi.
Modern.
Namun anehnya—
ia tidak merasakan kepuasan penuh.
Karena pikirannya masih tertinggal di malam sebelumnya.
Arini.
Percakapan singkat itu terus terulang di kepalanya.
Tatapan.
Nada suara.
Dan kalimat terakhir itu—
"Tidak semua hal bisa dibilang…"
Ryan menghela napas panjang.
“Pasti ada sesuatu…” gumamnya.
“Bang, pagi amat?”
Salah satu pekerjanya datang.
Ryan langsung kembali fokus.
“Iya.”
“Kerjaan hari ini banyak.”
Namun sebenarnya—
bukan hanya kerjaan yang ia pikirkan.
Beberapa jam kemudian—
bengkel mulai ramai.
Mobil masuk silih berganti.
Beberapa pelanggan baru.
Beberapa pelanggan lama.
Dan semuanya—
datang dengan ekspektasi tinggi.
Karena nama Ryan…
sudah mulai dikenal.
“Bang, ini mobil yang kemarin disuruh cepat,” kata seorang pekerja.
Ryan mengangguk.
“Masukkan ke area utama.”
“Siap.”
Namun di tengah kesibukan itu—
sebuah mobil berhenti di depan bengkel.
Berbeda dari yang lain.
Lebih mewah.
Lebih mencolok.
Dan dari dalamnya—
turun seorang pria.
Berpakaian rapi.
Dengan ekspresi dingin.
Ia masuk tanpa banyak bicara.
Matanya menyapu sekeliling.
Seolah sedang menilai.
“Siapa pemiliknya?” tanyanya.
Nada suaranya datar.
Namun tegas.
Ryan yang mendengar langsung mendekat.
“Saya.”
Pria itu menatapnya dari atas ke bawah.
Beberapa detik.
Tanpa senyum.
“Kamu Ryan?”
Ryan mengangguk.
“Iya.”
Pria itu tersenyum tipis.
Namun senyum itu…
tidak hangat.
“Saya pernah dengar tentang kamu.”
Ryan tidak menjawab.
Ia hanya menunggu.
Pria itu melanjutkan,
“Cepat naik.”
“Cepat terkenal.”
Ia mendekat sedikit.
“Tapi biasanya…”
Ia berhenti.
“…orang seperti itu juga cepat jatuh.”
Suasana langsung berubah.
Beberapa pekerja yang mendengar mulai saling pandang.
Ryan tetap tenang.
Tatapannya tidak berubah.
“Kalau hanya mau bicara…”
Ia berhenti sejenak.
“…sebaiknya tidak di sini.”
Jawaban itu halus.
Namun jelas.
Pria itu tertawa kecil.
“Menarik.”
Ia mengeluarkan kunci mobil.
Meletakkannya di meja.
“Saya mau kamu kerjakan mobil saya.”
Ryan melirik kunci itu.
Lalu kembali menatap pria itu.
“Apa masalahnya?”
Pria itu menjawab singkat,
“Tidak ada.”
Ryan mengernyit.
“Lalu?”
Pria itu tersenyum.
“Saya hanya ingin lihat… seberapa hebat kamu.”
Kalimat itu bukan permintaan.
Itu tantangan.
Dan semua orang di ruangan itu tahu.
Ryan diam beberapa detik.
Lalu berkata,
“Kalau cuma untuk tes…”
Ia menggeser kunci itu sedikit.
“…banyak tempat lain.”
Suasana makin tegang.
Karena tidak ada yang berani menolak pria seperti itu.
Namun Ryan…
berbeda.
Pria itu menatapnya lebih dalam.
Lalu tersenyum tipis.
“Baik.”
Ia mengambil kembali kunci itu.
“Berarti kamu tidak siap.”
Ryan langsung menjawab,
“Kalau saya tidak siap… tempat ini tidak akan berdiri.”
Jawaban cepat.
Tepat.
Dan cukup untuk membuat beberapa orang menahan napas.
Pria itu terdiam sejenak.
Lalu tertawa pelan.
“Kamu percaya diri.”
Ryan tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian—
pria itu kembali meletakkan kunci itu.
“Perbaiki.”
Kali ini—
nada suaranya berubah.
Lebih serius.
“Dan jangan mengecewakan saya.”
Ryan menatap kunci itu.
Lalu berkata,
“Kita lihat saja.”
Pria itu berbalik.
Namun sebelum keluar—
ia berhenti.
Tanpa menoleh—
ia berkata,
“Ngomong-ngomong…”
Ryan menatapnya.
“…kamu kenal Arini?”
Jantung Ryan berdetak sedikit lebih cepat.
Namun wajahnya tetap tenang.
“Kenal.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ia melangkah pergi.
“Maka kamu harus lebih berhati-hati.”
Pintu tertutup.
Dan suasana langsung terasa berat.
“Bang… itu siapa?” bisik salah satu pekerja.
Ryan menggeleng pelan.
“Tidak penting.”
Namun dalam hatinya—
ia tahu.
Orang itu…
bukan sekadar pelanggan.
Di tempat lain—
Arini duduk di ruang tamu rumahnya.
Wajahnya pucat.
Di depannya—
seorang pria paruh baya berbicara dengan tegas.
“Ayah sudah putuskan.”
Arini menunduk.
Tangannya mengepal pelan.
“Perjodohan ini tidak bisa dibatalkan.”
Kalimat itu seperti palu.
Menghantam.
Arini menutup matanya.
Dan tanpa ia sadari—
satu nama muncul di pikirannya.
Ryan.
Kembali ke bengkel—
Ryan berdiri di depan mobil itu.
Menatapnya.
Namun pikirannya…
tidak sepenuhnya di sana.
Ia mengingat kalimat pria tadi.
"Kamu harus lebih berhati-hati…"
Ryan tersenyum tipis.
Namun kali ini—
bukan karena santai.
Melainkan karena…
ia mulai mengerti.
Permainan ini—
sudah berubah.
Dan ia—
sudah berada di tengahnya.