lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Suasana di dalam Bunker 07 begitu hening, kontras dengan raungan mesin Sentinel yang masih berusaha melakukan reboot di luar sana. Cahaya hijau dari layar konsol memantul di permukaan topeng las Jek yang kusam.
"Jek! Mereka mulai bergerak!" teriak Rara dari celah pintu baja. Suara hantaman logam pada beton terdengar berdentum—Sentinel itu sedang mencoba mendobrak masuk secara fisik.
Jek tidak menoleh. Jemarinya yang kasar menari di atas papan ketik mekanik. Setiap ketukan menghasilkan bunyi klik yang mantap, seolah-olah ia sedang menyusun kembali detak jantung dunia yang sempat berhenti.
"Protokol Gaia bukan senjata, Ra," bisik Jek pada radio di bahunya. "Ini adalah 'perintah tidur' bagi seluruh satelit Ares yang masih aktif memancarkan gelombang kontrol. Jika aku menekan tombol ini, semua teknologi Sektor Inti akan kehilangan koneksi satelitnya. Mereka akan menjadi buta, sama seperti kita."
"Lalu apa bedanya kita dengan mereka?" tanya Hafiz yang kini berdiri di ambang pintu, busurnya siap membidik celah yang mulai retak.
"Bedanya," Jek menekan tombol Enter terakhir, "kita sudah belajar cara mencangkul. Mereka belum."
Layar hijau itu mendadak berubah menjadi putih terang. Di atas sana, jauh di orbit bumi, rangkaian satelit tua milik Ares yang selama sepuluh tahun ini menjaga dominasi Sektor Inti mulai melipat antena mereka. Satu demi satu, mata elektronik di langit itu tertutup.
Seketika, Sentinel di depan pintu bunker terhenti. Kaki-kaki laba-labanya terkulai, lampu sensor merahnya meredup lalu mati total. Di Sektor Inti, lampu-lampu neon akan padam, gerbang-gerbang otomatis akan terkunci, dan Dr. Arra akan duduk di ruangannya yang gelap, menyadari bahwa era "tuhan digital" telah berakhir.
Jek melangkah keluar dari bunker, melepaskan topeng lasnya. Ia menghirup udara Gurun Kaca yang panas, namun kali ini terasa lebih murni.
"Sudah selesai?" tanya Rara, menurunkan senjatanya.
"Belum," Jek menatap ke arah traktor mereka. "Sekarang bagian yang sulit dimulai. Kita harus mengajari dunia cara menanam ubi di atas reruntuhan satelit."
Mereka kembali ke Kamp Sampah bukan sebagai pemenang perang, melainkan sebagai pembawa berita tentang kebebasan yang berat. Di sana, Gidion sudah menunggu di gerbang. Ia melihat traktor Jek yang penuh lubang peluru, namun ia melihat mata Jek yang tidak lagi terbebani oleh rahasia.
"Sektor Inti mengirim pesan lewat radio darurat sebelum frekuensinya mati," ujar Gidion pelan. "Mereka minta bantuan. Air mereka berhenti mengalir karena pompanya kehilangan sinyal kontrol."
Jek turun dari traktor, mengambil cangkulnya yang bersandar di dinding gubuk. Ia menatap ke arah kerumunan warga kamp, lalu ke arah teknisi kota seperti Kevin yang tampak bingung.
"Katakan pada mereka," ujar Jek sambil mulai menggali tanah di depan gubuknya. "Kami punya filter air analog, kami punya benih ubi, dan kami punya banyak waktu. Tapi jika mereka mau air, mereka harus datang ke sini dan belajar cara menggali sumur dengan tangan mereka sendiri."
Malam itu, Kamp Sampah tidak lagi terlihat seperti tumpukan rongsokan. Di bawah langit yang kini benar-benar gelap tanpa kerlap-kerlip satelit pengintai, cahaya api unggun terlihat lebih terang dari sebelumnya.
Jek duduk di atas batu besarnya, melihat Rara yang sedang tertawa bersama Maya, dan Hafiz yang mulai mengajari Kevin cara mengasah parang. Ia bukan lagi Alif sang Arsitek, bukan pula Jek sang kuli yang sakit punggung.
Ia hanyalah seorang pria yang akhirnya menemukan bahwa surga sejati tidak dibangun dengan kode, melainkan dengan lumpur, keringat, dan tangan-tangan yang saling menggenggam di tengah badai.
"Dunia ini memang berantakan," gumam Jek sambil menggigit ubi rebusnya yang hangat. "Tapi setidaknya, ia milik kita sekarang."
Lima tahun telah berlalu sejak satelit-satelit Ares memejamkan mata di langit. Sektor Inti tidak lagi menjadi menara gading yang angkuh; tembok-tembok betonnya kini ditumbuhi lumut dan tanaman merambat, sementara penduduknya—yang dulu berpakaian sintetis licin—kini mengenakan rami dan katun hasil tenunan Kamp Sampah.
Jek berdiri di puncak bukit rongsokan yang kini telah berubah menjadi terasering hijau. Di bawahnya, sebuah pemukiman besar membentang. Bukan lagi kumpulan gubuk kumal, melainkan arsitektur hibrida: pondasi beton bekas gedung tua yang dipadukan dengan atap bambu dan panel surya analog yang dirawat dengan tangan.
Gidion berjalan menghampiri Jek, perutnya sedikit lebih buncit, tanda kemakmuran yang stabil. Di pinggangnya tersampir sabuk perkakas, bukan lagi pemukul besi. "Jek, utusan dari Sektor Selatan baru saja tiba. Mereka membawa mesin cetak tua yang ingin mereka tukar dengan lima puluh karung benih ubi unggulanmu."
Jek menyeka keringat di dahinya dengan handuk kusam. "Katakan pada mereka, mesin itu harus bisa dimodifikasi untuk memeras biji jarak menjadi bahan bakar. Jika tidak, itu hanya akan jadi hiasan taman."
"Sudah kuduga kau akan bilang begitu," Gidion terkekeh. "Oh, dan ada surat dari 'Kota Bawah'. Arra bilang sistem irigasi manual yang kau rancang tahun lalu berhasil memulihkan aliran sungai di lembah. Dia mengundangmu untuk melihat bunga-bunga pertama yang mekar di sana."
Jek tersenyum tipis. Ia teringat wanita tua itu. Dr. Arra sekarang memimpin dewan rekonsiliasi, mengajari mantan ilmuwan elit cara mencintai tanah yang dulu mereka abaikan.
"Mungkin bulan depan, Gidion. Ubi di sisi timur sedang butuh perhatian ekstra," jawab Jek.
Di bengkel utama, suara dentuman logam terdengar berirama. Maya kini menjadi kepala teknisi wilayah, memimpin puluhan remaja—termasuk Kevin yang kini sudah menjadi ahli mekanik lokal—dalam merakit traktor-traktor bertenaga uap dan etanol. Rara masih menjadi bayangan di kegelapan, namun tugasnya bukan lagi menjaga rahasia Jek, melainkan melatih unit penjaga perbatasan dari serangan binatang buas yang mulai kembali ke hutan-hutan yang mulai pulih.
Hafiz mendekati Jek, membawa sebuah kotak kayu kecil. "Tuan, ada kiriman dari tim penjelajah di Gurun Kaca. Mereka menemukan ini di sela-sela Bunker 07 yang sudah tertimbun pasir."
Jek membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah chip memori emas—jantung dari sistem Ares yang asli. Chip yang bisa membangkitkan kembali tuhan digital dan mengembalikan dunia ke dalam genggaman satu orang.
Jek menatap chip itu sejenak. Ia melihat pantulan wajahnya di permukaan emas yang mengkilap—wajah seorang pria yang telah menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. Tanpa ragu, ia meletakkan chip itu di atas batu besar, lalu mengambil palu godam milik Gidion.
Prak!
Chip itu hancur menjadi serpihan tak berarti.
"Kenapa, Tuan?" Hafiz bertanya, meski ia sudah tahu jawabannya.
"Dunia sudah cukup lelah dengan rencana-rencana besar, Hafiz," ujar Jek sambil membuang palu itu. "Biarkan ia tumbuh dengan caranya sendiri yang berantakan. Aku lebih suka mendengar suara tawa anak-anak di sumur daripada suara mesin yang berpikir untuk kita."
Malam itu, perjamuan diadakan di tengah kamp. Tidak ada lampu neon, hanya obor dan lampu minyak yang berpijar hangat. Jek duduk di pojok, melihat anak-anak kecil berlarian tanpa tahu apa itu "internet" atau "biometrik". Mereka hanya tahu bahwa air itu segar, ubi itu manis, dan Jek adalah kakek pendiam yang punya cerita terbaik tentang bintang-bintang yang dulu pernah bicara.