Callista terkejut bukan main, kala dirinya mendapati kembali jika dirinya telah kembali ke lima tahun lalu..
Dimana dia kembali pada awal pernikahan dengan Darius suami yang di di cintai secara ugal-ugalan.
Namun kini cinta itu telah berubah menjadi kebencian, segala perbuatan Darius di kehidupan lalu selalu di ingat nya.
Kini hanya akan hidup untuk membalas kan dendam nya di masa lalu.
Akan kah Callista mampu membalas dendam nya, yuk kita simak aja cerita nya sama-sama.
Warning, mungkin akan terdapat beberapa typo dan flashback di cerita Mak ini, jadi jangan heran ya😅.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segera Bawa Dia Padaku
"Ayo cerita sama Mommy.. Apapun itu Mommy akan mendengar kan nya, dan pasti nya Mommy juga akan mempercayai semua cerita mu itu" Begitulah Theresa, dia akan selalu sigap di saat Julian membutuhkan nya.
"Tapi mungkin ini akan terdengar tak masuk akal!!" Di era sekarang siapa yang akan percaya dengan hal-hal mustahil selain kakek nya.
"Kamu tak mempercayai Mommy??" Raut wajah Theresa seketika berubah.
Begitu lah Theresa dengan keluarga nya, dia hanya akan bersikap dingin dan keras pada orang lain.
Tapi tidak pada keluarga nya, apalagi pada anak nya itu.
"Bukan begitu Mommy.. " Julian selalu panik kala melihat sang Mommy bersedih.
Dan Julian juga paling tak menyukai jika ada air mata menetes dari sang Mommy apalagi jika sang Mommy menangis karna ulah orang lain.
"Jika begitu maka segera lah ceritakan semuanya.. " Jika sudah seperti ini Julian tak akan bisa menolak lagi.
"Hah... " Nafas Julian di tarik panjang selama beberapa kali.
"Kenapa kamu malah menghela nafas?? Ayolah, ceritakan segalanya sekarang juga sama Mommy" Theresa mendesak Julian agar segera bercerita.
"Oke, oke!! " Tak ada pilihan lain Julian pun akan menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi dari sang mommy.
"Mommy pasti heran kan kemarin aku bisa tidur selama itu" Di balik tidur panjang nya Julian.
Ada kisah yang tak akan dia lupakan dalam ingatan nya.
"Tentu, dan pasti nya Mommy sangat mengkhawatirkan mu" Selama Julian tidur, Theresa sudah setengah gila.
Dia takut Julian tak akan terbangun lagi.
Dia takut Julian akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Mungkin kemarin aku bukan tidur" Nafas panjang Julian kembali terdengar oleh Theresa.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi??" Ekpresi wajah Teresa kini sudah berubah serius.
"Mungkin, sebenarnya aku bukan tidur.. Dan saat ini sebenarnya kita mungkin telah kembali pada masa lalu!!" Kedengaran mungkin sangat mustahil.
Tapi inilah kenyataan nya, mau tak mau Julian mengakui kenyataan ini.
"Maksud mu???" Mulut Teresa di tutup dengan kedua telapak tangan nya.
Ini memang terdengar tidak mungkin, pasti nya ini sangatlah mustahil untuk di percayai.
"Huum, ini memang sangat mustahil.. Tapi inilah kenyataan nya" Setelah itu mengalir lah cerita Julian tentang apa yang di lewati nya.
Tak ada yang terlewat, semuanya dia ceritakan pada sang mommy.
Bahkan saat ini, pipi mulus Teresa sudah di banjiri air mata.
Tisu juga sudah berserakan di atas lantai, menunjukkan jika Theresa sangat sedih mendengar cerita Julian.
"Sekarang menurut Mommy aku harus bagaimana???" Cerita Julian di akhiri.
Terlihat Julian sangat sedih, karna dia kembali mengingat penderitaan Callista di kehidupan masa lalu.
"Segera bawa dia kembali, bawa dia untuk menemui ku, bawa dia agar bisa hidup dengan mu.. Rebut dia, nikahi dia, jadikan dia wanita paling bahagia dalam hidup nya.. Tentu nya, balaskan semua perlakuan jahat mereka pada menantu ku" Tangan Theresa mengepal kuat.
Entah ini nyata atau hanya sekedar mimpi, yang jelas Theresa tak suka jika Callista di perlakukan seburuk itu.
Apalagi hingga Callista beserta cucu nya meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan.
"Jangan terlalu emosi Mommy.. " Punggung Theresa di usap halus.
"Bagaimana aku tidak emosi?? Mereka kejam, mereka jahat, apalagi mereka telah membunuh cucu ku juga" Pandangan mata Theresa berkilat tajam.
Untuk pertama kali nya lagi sisi gelap Theresa telah di bangun kan.
Dan jika sudah begini, akan dapat di pastikan orang yang telah membuat nya marah tak akan selamat.
"Mommy aku juga sama seperti Mommy.. Aku sakit kala mengingat semuanya, bahkan sebenarnya aku ingin menghabisi mereka saat ini juga! Tapi Mommy, Kakek melarang ku untuk bertindak" Sebenarnya setelah tersadar tadi Julian akan langsung mengambil tindakan.
Namun setelah mendengar ucapan sang kakek Julian tak mau berbuat gegabah.
"Kenapa?? Bukan kah lebih baik jika kita menghabisi mereka sebelum kejadian itu terulang kembali??" Pemikiran Theresa sama seperti Julian.
Dia ingin segera pergi untuk menghabisi orang-orang itu dan meluluh ratakan nya dengan tanah.
"Kakek bilang jika aku mengambil tindakan dengan gegabah, pasti akan ada timpal balik yang terjadi pada nya juga padaku" Sekarang langkah mereka harus di pertimbangan kan.
Julian tak mau jika tindakan nya akan membuat Callista celaka.
Mendengar penjelasan Julian, Theresa terdiam sejenak.
Dia terlihat seperti sedang berpikir, mencerna setiap ucapan Julian tadi.
"Jika memang seperti itu!! Kita memang tak bisa asal mengambil tindakan, apa lagi dirimu.. Untuk sekarang kamu cukup pantau saja semuanya, biarkan Mommy, Kakek, beserta Daddy mu yang mulai melakukan tindakan" .
………………………………………………
"Suami ku kamu sudah pulang??".
Disisi Callista kini dia kembali memainkan peran Bunglon nya.
Dia bersikap seperti biasa nya, dengan dandanan seperti biasa nya.
Kaca mata tebal menutupi matanya yang indah, baju longgar dan celana longgar selalu di kenakan untuk menutupi keindahan tubuh nya.
Dan jangan lupakan, bedak tebal tetap dia gunakan dengan warna yang tak senada dengan warna kulit nya.
Belum lagi rambut yang dia kepang dua, hingga rambut panjang nan indah nya tak terlihat.
Jika ber penampilan seperti ini, pasti Caroline menjadi pemenang nya.
Selain, pakaian modis, wajah Caroline juga di rawat agar selalu terlihat cantik.
Pastinya pakaian yang di gunakan Caroline adalah pakaian kurang bahan, dimana lekuk tubuh nya akan terlihat sangat jelas.
Disini Darius selalu menunjukkan jika dia seperti seorang suami pecinta istri.
Namun di belakang Callista segala nya berbeda, berbagai kata makian juga hinaan selalu dia lontarkan untuk Callista.
"Iya sayang aku sudah pulang!!" Begitulah Darius.
Dia selalu memainkan peran nya dengan baik, jika di hadapan Callista segala nya akan berubah.
Dia berperan dengan begitu baik, maka sebab itu di masalalu Callista sangat mempercayai nya.
Tak lupa, setiap mau berangkat ke kantor dan setelah pulang Darius selalu memeluk Callista dan mencium kening nya.
Dia memperlakukan Callista layak nya suami yang sangat mencintai istri.
"kamu pasti lelah.. pergi lah mandi, biar aku yang menyimpan tas kerja mu" Jas serta tas Darius Callista ambil alih.
Callista juga ikut permainan Darius, berpura-pura sesempurna mungkin.
"Oke, tunggu lah sebentar.. Nanti kita makan malam bersama.. " rambut Callista di usap halus, setelah nya Darius pun berlalu menuju ke kamar pribadi nya.
Karna selalu ini mereka memiliki kamar terpisah, Darius beralasan jika dia jarang pulang dan terkadang pulang di saat waktu sudah larut.
Dia mengatakan jika dia tak mau mengganggu waktu istirahat Callista.
Sedetik berikutnya ekpresi Callista berubah total penuh kebencian.
Begitu juga dengan Darius, ekpresi nya menunjukkan penuh rasa jijik.
Brak
Pintu kamar mandi di tutup keras oleh Darius.
Byuurrrrrr
"Menjijikan...