NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan

Dua tahun berselang, hamparan hijau di ujung desa itu tidak lagi tampak seperti sepetak tanah terlantar. Kini, barisan tanaman obat membentang luas dengan keteraturan yang rapi. Sinar fajar menyiram pucuk daun basah, memperlihatkan kemakmuran yang tumbuh pesat di sana.

Di tengah kebun, seorang pemuda bertubuh tegap sedang sibuk. Yang Chan, yang kini genap berusia enam belas tahun, terlihat jauh lebih kokoh dibandingkan dulu. Bahunya melebar, dan langkah kakinya menapak mantap ke tanah gembur.

Dua karung pupuk ukuran raksasa bertengger di pundak lebarnya. Tanpa gemetar sedikit pun, ia melangkah melintasi pematang. Beban berat itu seolah tidak ada artinya bagi fisiknya yang kian terlatih.

Ia menghentikan langkah di dekat pembatas tanaman. Dengan punggung lengan, disekanya pelan keringat yang menetes di dahi. Ia menurunkan karung-karung tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak mengotori tunas muda di dekat kakinya.

Dari kejauhan, sebuah lambaian tangan terlihat dari balik pagar bambu. Yang Wei berdiri di sana dengan senyum lebar menghias wajah tuanya.

"Taruh di sudut utara, Nak! Udara hari ini sangat bagus untuk menggarap tanah," teriak Yang Wei, suaranya terdengar lantang menyisir ladang.

Yang Chan menegakkan tubuhnya kembali. Napasnya tetap teratur setelah memikul beban berat sejak subuh.

"Sudah, Ayah," sahut Yang Chan santai. "Tinggal sisa petak timur yang belum disiram."

Matanya menyapu seluruh ladang hijau yang subur itu dengan kepuasan batin. Rasa lelah di ototnya menguap, digantikan oleh kedamaian yang tidak pernah ia rasakan di kehidupan sebelumnya yang penuh perebutan takhta berdarah.

Matahari perlahan naik menyengat kulit. Bayangan pepohonan persik di tepi ladang memanjang, memberi tanda bahwa pagi telah sepenuhnya datang.

Satu sentuhan lembut namun tegas mendarat tepat di siku kanan Yang Chan. Bing Chan membenarkan posisi lengannya dengan gerakan yang cepat. Detail kecil itu langsung mengubah seluruh aliran tenaganya.

Di halaman samping rumah yang teduh, latihan fisik harian sedang berlangsung. Yang Chan mempertahankan posisi kuda-kuda rendah dengan napas yang berderak halus di dalam dada.

Tidak ada ledakan energi spiritual yang dramatis. Hanya ada kepulan uap panas tipis yang keluar dari pori-pori kulitnya, menandakan sirkulasi darah yang bekerja keras.

Bing Chan, yang mengenakan pakaian rumah sederhana yang kusam, berjalan memutarinya. Di tangannya terdapat sebatang ranting kecil untuk mengetuk bahu kiri putranya yang sedikit menurun.

"Tulangmu sudah memadat, tapi napasmu masih tertinggal," tutur Bing Chan datar. "Pusatkan di pusar, jangan biarkan menguap."

Yang Chan menahan rasa pegal yang mulai menggigit otot pahanya. Sebuah senyuman miring terukir di sudut bibirnya.

"Ibu selalu tahu kapan aku mulai mengantuk berdiri," kelakar Yang Chan.

Ibunya hanya mendengus pelan, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada binar tipis di sana saat ia menatap putranya. Dari jarak sedekat ini, ia merasakan ada yang tidak biasa.

Udara di sekitar tubuh Yang Chan sedikit bergetar. Ada pusaran energi statis yang tipis berkumpul di sekitar pemuda itu. Sesuatu yang sangat langka untuk remaja di desa terpencil ini.

Rasa lelah dari latihan rutin yang monoton ini bergeser menjadi sebuah antisipasi tenang di dalam dada Yang Chan. Ada kehangatan baru yang terkumpul di dalam nadinya.

Gemerincing logam yang saling berbenturan dari arah depan rumah mendadak memecah konsentrasi mereka.

Kepingan koin tembaga dan perak mendarat dengan bunyi menyenangkan di dalam kantong kulit. Yang Wei menerima kantong itu dengan kedua tangan terbuka dari seorang pedagang berwajah semringah di gerbang ladang.

Senyum tulus menghiasi wajah sang pedagang saat melihat tumpukan sayuran segar di atas gerobaknya. Roda ekonomi keluarga Yang benar-benar berputar dengan baik dalam dua tahun terakhir.

"Sayuran dari ladangmu ini aneh, Kakang Yang! Jauh lebih segar dari panenan Sektor Pusat!" seru pedagang itu sambil tertawa renyah.

Yang Wei membungkuk sopan berkali-kali layaknya petani miskin yang bersyukur. Ia membersihkan debu tanah di celana lusuhnya dengan gerakan canggung.

"Ah, Tuan terlalu memuji," jawab Yang Wei canggung. "Kami cuma petani beruntung yang kebetulan dapat tanah sisa pupuk yang bagus."

Di bawah keteduhan teras rumah, Yang Chan duduk bersandar santai di atas kursi kayu. Ia memegang secangkir teh hangat, mengamati transaksi di depannya tanpa niat ikut campur. Keduanya kompak menyembunyikan kelebihan di balik kesederhanaan ini.

Namun, saat ia menyesap tehnya, aliran Qi yang ia latih selama ini tiba-tiba bergerak liar, mengalir deras menuju meridian utamanya.

Riak kecil muncul di permukaan air teh di dalam cangkirnya. Air itu bergetar cepat, merespons langsung fluktuasi energi yang meledak di dalam tubuh Yang Chan.

Ia berada tepat di ambang gerbang ranah Pengumpulan Qi. Gerbang yang selama ini ia incar dengan sabar tanpa mau terburu-buru.

'Sial, kenapa harus sekarang?' batin Yang Chan, matanya sedikit melebar merasakan lonjakan energi yang mendesak keluar.

Rasa santai yang ia nikmati seketika menguap, digantikan oleh kewaspadaan tinggi. Ia harus menekan fluktuasi ini agar tidak menimbulkan kekacauan yang mencolok.

Perlahan, Yang Chan meletakkan cangkir tehnya di atas meja kayu. Ia memejamkan mata dengan rapat.

Ia menarik napas panjang, menjinakkan aliran energi liar di dalam tubuhnya. Riak di permukaan air teh itu mendadak berhenti secara instan seiring dengan embusan napasnya yang kembali tenang.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!