Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
.
“Apa, Ma? Mandul?"
Tuan Aksara terbelalak tak percaya. Namun sedetik kemudian, pria itu meringis menahan sakit manakala capit kepiting milik sang istri mendarat di pinggangnya. Apalagi ketika istrinya yang seperti sengaja menginjak kakinya dengan keras. Tuan Aksara akhirnya sadar, itu adalah siasat istrinya dan segera ikut memasang wajah sedih.
“Mak… maksud Papa… seharusnya Mama tidak perlu mengatakan itu pada Rania. Itu adalah aib keluarga kita!” katanya pura-pura marah, sambil menoleh ke arah lain.
Masih dengan kepala tertunduk, Bu Soraya mengusap matanya yang sebenarnya kering. “Mama tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Rania. Rania harus tahu semuanya sebelum dia mengambil keputusan.”
“Lalu sekarang apa? Rania sudah mendengar semuanya. Pasti dia akan menolak Alvino. Wanita mana yang mau menikah dengan lelaki mandul?” Tuan Aksara menghela napas berat.
“Tuan…” Rania menatap ke arah Tuan Aksara dengan suara tercekat di tenggorokan.
“Kasihan anak itu. Gara-gara dia mandul, sudah umur tiga puluh tahun, masih belum berani menikah,” ucap Tuan Aksara dengan wajah tertunduk sedih
Rania seolah tidak percaya. Pak Alvino… mandul? Pria yang terlihat sempurna itu? Tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri, teringat dirinya juga memiliki aib yang sama.
Bu Soraya menggenggam kedua tangan Rania. “Rania… Kalian berdua sama-sama memiliki kekurangan. Kalau kamu menikah dengan Alvino, kamu jadi tidak perlu merasa minder. Kami tidak akan pernah menuntutmu memberikan cucu. Alvino juga tidak akan memaksamu memiliki anak. Karena dia sendiri…” Bu Soraya berhenti sejenak lalu menghela napas panjang, “…tidak bisa mempunyai anak.”
Tuan Aksara ikut mengangguk menatap Rania dengan wajah sendu. “Kami hanya ingin Alvino punya pendamping hidup. Dia itu sebenarnya anak yang baik. Tapi karena penyakitnya itu, sikapnya berubah menjadi dingin seperti robot,” tambah Tuan Aksara.
“Sebagai orang tua, kami hanya ingin ada seseorang yang mau menemani masa tuanya.” Bu Soraya menatap ke arah Rania dengan mata berkaca-kaca.
Air mata Rania akhirnya jatuh. Bukan karena bahagia, melainkan ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Bu Soraya dan Tuan aksara. Apalagi melihat seorang konglomerat besar seperti Tuan Mahendra memohon padanya demi kebahagiaan putranya.
“Bu… saya tidak tahu harus berkata apa,” ucapnya sambil mengusap mata yang perlahan mulai basah.
“Ibu mohon, Rania... Anggap saja Ibu minta belas kasihan padamu.” Bu Soraya bahkan mencubit pahanya sendiri dengan keras, agar dia bisa mengeluarkan air mata.
“Saya tahu apa yang kamu pikirkan,” tambah Tuan Mahendra. “Mungkin kamu takut orang akan menganggapmu rendah atau memanfaatkan. Tapi percayalah, itu tidak akan terjadi. Jika kamu bersedia menikah dengan putra kami, maka kami pasti akan selalu mendukungmu melindungimu dan berdiri di belakang kamu.”
"Saya…"
Rania tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Di satu sisi dia memang takut menjalin hubungan dengan keluarga Mahendra karena mereka memiliki hubungan dengan keluarga Pratama. Namun di sisi lain, dia juga memang membutuhkan perlindungan. Dengan kondisi dia dan Alvino yang sama-sama mandul, maka dia tidak akan dituntut untuk bisa memberikan keturunan.
Sementara itu di luar ruangan …
Alvino Mahendra yang baru saja datang ke restoran itu setelah menerima pesan dari kedua orang tuanya, berhenti di depan ruang privat itu dengan tangan kiri memegang handle pintu. Dan sejak telinganya mendengar apa yang diucapkan oleh ibu dan ayahnya…
“... Alvino juga mandul…”
Wajahnya yang biasanya dingin kini semakin kaku. Dengan mulut terbuka lebar, pria itu berkedip pelan. Lalu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk kanannya.
“Aku…? mandul…? Tega-teganya kalian memfitnahku,” gumamnya pelan.
Alvino memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Pria itu mengambil nafas dalam-dalam sebelum kemudian mengeluarkannya kembali. Kini dia tidak tahu apakah harus masuk ke dalam, atau pura-pura mati saja.
.
“Baiklah… saya… saya bersedia.”
Tuan Aksara dan Bu Soraya serentak membeku, matanya saling bertukar pandang tak percaya. Kalimat itu masih menggantung di udara, sampai akhirnya Bu Soraya menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
“Benarkah? Kamu serius, Nak?” suaranya sedikit bergetar.
Tuan Aksara pun maju sedikit ke depan. “Kami tidak bermaksud mendesak, tapi… apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”
Rania mengangguk pelan, pipinya merona merah. “Saya tidak berani berjanji banyak hal sekarang. Tapi jika Pak Alvino juga setuju, dan kalian benar‑benar menerima saya apa adanya… ya, saya mau mencoba melangkah bersama kalian.”
“Ya Tuhan… terima kasih, Nak, terima kasih banyak!” Bu Soraya langsung bangkit dan memeluk Rania erat, menepuk‑nepuk punggungnya berulang kali penuh haru.
Di sebelahnya, Tuan Aksara berdehem berulang kali hanya untuk menutupi senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. “Bagus! Saya senang mendengar keputusan kamu!” wajahnya tampak jauh lebih gembira dibanding saat menandatangani kesepakatan proyek kerjasama bernilai miliaran rupiah.
Sesaat mata kedua orang tua Alvino itu saling bertemu dan saling mengedipkan mata seolah berkata… “MISI BERHASIL!”
Di dalam pelukan Bu Soraya, Rania tersenyum canggung, ikut bahagia meski tak tahu sepenuhnya apa yang ada di benak kedua orang tua itu.
Tuan Aksara kembali duduk tegak, berusaha terlihat serius lagi. “Kalau begitu, urusan ini tidak perlu ditunda lagi.”
“Maksud Anda?” Rania mengerjap bingung.
“Sebelum ke sini tadi, saya sudah cek kalender,” ucap Tuan Mahendra santai. “Satu bulan lagi ada hari yang baik untuk pernikahan.”
Rania menegakkan badan kaget. “Ap- apa… Sa-satu bulan lagi? Apa itu tidak terlalu cepat, Tuan?”
“Cepat apanya?” Tuan Aksara mengangkat alis sambil tersenyum kecil. “Menurutku malah terlalu lama.”
“Benar sekali,” sela Bu Soraya antusias. “Kalau bisa minggu depan saja. Bukankah lebih cepat lebih baik?”
“Mama tidak sabaran sekali?” tegur Tuan Aksara sambil menggeleng, padahal matanya justru tampak setuju sepenuhnya.
Rania tak tahu mau tertawa atau menangis. “Tapi banyak hal yang harus disiapkan, Bu… rasanya waktu satu bulan terlalu singkat.”
“Tenang saja, Nak,” Bu Soraya menggenggam tangannya lembut. “Kamu tak perlu memikirkan apapun. Gedung, pakaian, makanan, undangan… semuanya biar kami yang urus.”
“Tapi?”
“Sudah tenang saja, yang penting kamu sudah setuju menikah dengan putra kami. Kamu hanya perlu bersiap menjadi pengantin tercantik saja nanti.”
Melihat raut wajah gadis itu masih ragu, Tuan Aksara berbicara lebih lembut. “Percayalah. Tidak ada satupun yang harus kamu khawatirkan.”
Hati Rania terasa hangat mendengarnya. Perlahan ia menunduk lalu mengangguk pelan. “Kalau memang itu yang terbaik… saya ikut saja keputusan kalian.”
“Bagus sekali!” seru Tuan Aksara sambil menepuk meja pelan.
“Berarti sudah sepakat ya!” Bu Soraya hampir saja melompat berdiri karena gembira. “Satu bulan lagi kita laksanakan!”
Sementara itu, di balik pintu ruangan yang sedikit terbuka…
Alvino masih berdiri diam di tempat. Hatinya bergejolak hebat mendengar jawaban Rania.
Beberapa detik berlalu. Ia berkedip sekali, dua kali, tiga kali… lalu perlahan sudut bibirnya terangkat naik, makin lebar dan makin lebar sampai tak bisa lagi ditahan.
“YA! BENAR‑BENAR DIA SETUJU!” serunya berbisik sambil mengepalkan tangan kuat, bahkan melompat kecil di lorong seolah anak kecil mendapat hadiah terindah. “Dia mau… dia benar‑benar mau!”
Alvino berjalan mondar‑mandir pelan sambil menahan tawa bahagia, wajah dingin dan tegas yang biasa dilihat orang hilang sama sekali. Kalau saja ada staf atau mitra kerjanya melihat tingkah konyolnya itu, pasti mereka akan mengira bosnya itu baru saja salah minum obat.
Alvino mengusap wajah berulang kali, berusaha menetralkan detak jantungnya. “Tenang, Alvino… jaga wibawa,” pikirnya, tapi detik berikutnya ia kembali tersenyum lebar sendiri. “Gak papalah difitnah sama orang tua sendiri,” gumamnya sambil tersenyum lebar.
Pria itu tidak masuk ke dalam ruangan, tetapi malah pergi meninggalkan tempat itu sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Kembali ke dalam ruangan…
Tuan Aksara berdehem sekali lagi memecah kebahagiaan yang meluap itu.
“Oh iya, Rania, karena kamu sudah setuju, maka kami akan datang berkunjung secara resmi ke rumah Ayah dan Ibumu,” ujarnya tegas namun lembut.
“Benar, Rania,” sambung Bu Soraya. “Putri mereka akan menikah dengan Putra kami. Tentu saja kami harus datang untuk melamar."
Rania tertegun. Tetapi kemudian wanita itu mengangguk. Entah apa jawaban kedua orang tuanya itu nanti, apakah mereka akan senang, ataukah sebaliknya.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁