Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
"Maafkan aku, Bi," ucapnya lirih. "Aku bersalah. Aku pikir mereka hanya akan memarahi Harapan. Aku tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir seperti ini. Sejak hari itu aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Wajah Harapan selalu datang dalam mimpiku. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa mengembalikannya. Aku juga tidak akan pernah bisa menggantikannya. Tapi izinkan aku menebus kesalahanku seumur hidup. Izinkan aku berbakti kepada Bibi. Meski aku tidak sebaik Harapan, aku ingin belajar menjadi anak yang baik agar suatu hari nanti Harapan memaafkanku."
Mendengar pengakuan itu, seluruh pertahanan hati Mida runtuh. Ia menarik Dapit ke dalam pelukannya dan menangis sejadi-jadinya. "Kenapa, Pit...?" isaknya pecah. "Kenapa kamu tidak menolong Harapan? Kenapa kamu membiarkan anakku sendirian?"
Dapit menangis semakin keras hingga tubuhnya bergetar. "Aku takut, Bi... Aku benar-benar takut. Aku pengecut. Kalau saja aku berani meminta tolong orang dewasa hari itu, mungkin Harapan masih hidup."
Mida memejamkan mata. Pelukannya semakin erat, seolah memeluk anaknya sendiri. Di hadapan pusara Harapan, kemarahan, penyesalan, dan kasih sayang bercampur menjadi satu. Tak ada satu pun kata yang mampu menghidupkan kembali anak yang telah pergi. Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang kehilangan putranya dan seorang anak yang harus memikul rasa bersalah sepanjang hidupnya.
Di antara bunga-bunga yang mulai diterbangkan angin sore, Mida akhirnya mengerti bahwa luka tidak selalu bisa disembuhkan, tetapi penyesalan yang tulus adalah awal bagi seseorang untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Mida mengusap air mata Dapit dengan tangan yang masih gemetar. Dadanya masih dipenuhi sesak setiap kali mengingat Harapan, tetapi melihat anak kecil di hadapannya menangis sambil memikul rasa bersalah yang begitu besar, hatinya perlahan luluh. Ia menggenggam kedua bahu Dapit, memaksanya menatap matanya yang sembab. "Dapit," ucapnya pelan, "Bibi memaafkanmu."
Dapit langsung terisak semakin keras, seolah beban yang selama ini menghimpit dadanya mulai terangkat.
Mida menggeleng perlahan. "Tapi Bibi ingin kamu berjanji."
Dapit mengangguk berkali-kali. "Aku janji, Bi. Apa pun."
Mida menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Jadilah anak yang baik. Jangan pernah mengikuti orang untuk berbuat jahat hanya karena takut atau ingin diterima. Kalau kamu melihat seseorang disakiti, kamu harus berani menolong atau meminta bantuan orang dewasa. Keberanian bukan berarti berkelahi, tetapi berani melakukan yang benar meskipun kamu sendirian. Harapan sudah tidak bisa kembali, Nak. Bibi tidak ingin ada Harapan-Harapan lain yang kehilangan masa depan karena orang-orang memilih diam."
Dapit menangis sambil mengangguk. "Aku janji, Bi. Aku akan menjadi anak yang baik. Aku akan menjadi anak yang berani. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi."
Mida kemudian memeluknya sekali lagi. Di hadapan pusara Harapan, seorang ibu yang kehilangan putranya memilih memaafkan, bukan karena lukanya telah sembuh, melainkan karena ia berharap penyesalan seorang anak dapat tumbuh menjadi keberanian untuk selalu membela kebenaran di masa depan.
***
Mida semula mengira kepulangan mereka ke kampung hanya untuk berziarah ke makam Harapan. Namun, di dalam mobil, Fandi menyerahkan sebuah map berisi dokumen-dokumen yang belum pernah dilihatnya. "Masih ada satu urusan lagi yang harus kita selesaikan," katanya tenang.
Mida membuka map itu perlahan. Di dalamnya terdapat salinan sertifikat, bukti-bukti transaksi, surat keterangan, dan hasil penelusuran yang telah dilakukan tim hukum Fandi selama mereka berada di kota. Rupanya, tanpa sepengetahuan Mida, Fandi telah menugaskan timnya untuk memeriksa dugaan penguasaan harta peninggalan keluarga Mida yang selama ini dipersoalkan.
"Aku tidak ingin fokus kita hanya pada perkara Harapan," ujar Fandi. "Kalau memang ada hakmu yang diambil secara tidak sah, kita juga harus memperjuangkannya."
Sesampainya di kampung, tim hukum Fandi telah lebih dahulu menunggu. Mereka menjelaskan hasil pemeriksaan awal dan menunjukkan dokumen yang menjadi dasar langkah hukum berikutnya.
Berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan, Fandi mengirimkan somasi kepada pihak yang menguasai aset tersebut yaitu keluarga Joni, mantan suami Mida yang masih punya hubungan persaudaraan. Dengan nada tegas, ia berkata, "Kami memberikan kesempatan untuk menyelesaikan persoalan ini sesuai hukum. Jika memang terdapat utang atau kewajiban yang belum dipenuhi, segera selesaikan dalam waktu satu bulan sebagaimana tercantum dalam somasi ini. Apabila tidak ada penyelesaian dan bukti-bukti mendukung adanya pelanggaran hukum, kami akan menempuh jalur perdata maupun pidana sesuai ketentuan yang berlaku."
Mida memandangi Fandi dengan mata berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun ia mengira semua yang pernah dimiliki keluarganya telah hilang untuk selamanya. Kini, untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang memperjuangkan haknya bukan dengan ancaman atau kekerasan, melainkan melalui bukti, dokumen, dan proses hukum. Ia sadar, perjuangan mereka bukan hanya mencari keadilan bagi Harapan, tetapi juga mengembalikan hak-hak yang selama ini mungkin telah dirampas secara tidak semestinya.
Mida berdiri mematung di depan rumah yang telah lama meninggalkan begitu banyak kenangan dalam hidupnya. Jemarinya perlahan menyentuh pagar yang mulai berkarat, seolah memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. Matanya menyapu setiap sudut bangunan itu, lalu senyum pahit terukir di wajahnya. "Dulu..." ucapnya lirih, "dari kecil sampai usiaku dua belas tahun, aku adalah tuan putri di rumah ini. Ayah dan Ibu menyayangiku sepenuh hati. Aku tidak pernah kekurangan kasih sayang."
Suaranya mulai bergetar. "Lalu mereka pergi. Sejak saat itu semuanya berubah. Rumah yang dulu menjadi tempat paling nyaman bagiku berubah menjadi tempat di mana aku harus bekerja tanpa henti. Aku bukan lagi anak pemilik rumah. Aku diperlakukan seperti pembantu di rumahku sendiri." Air matanya jatuh perlahan.
"Kemudian aku menikah dengan harapan bisa memulai hidup baru. Tapi hanya dalam hitungan bulan, aku kembali kehilangan tempat berpijak. Aku diusir. Aku meninggalkan rumah ini tanpa membawa apa-apa, seolah aku tidak pernah menjadi bagian dari keluarga yang membangunnya." Mida menarik napas panjang sambil menatap pintu rumah yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia lihat dari kejauhan.
Ia menggenggam tangan Fandi yang berdiri di sampingnya. "Hari ini aku kembali..." bisiknya. "Bukan sebagai tamu. Bukan sebagai pembantu. Bukan sebagai perempuan yang terusir. Aku kembali sebagai pemilik rumah ini, rumah peninggalan Ayah dan Ibuku." Tangisnya pecah. Bukan karena dendam yang akhirnya terbalaskan, melainkan karena ia merasa seolah kedua orang tuanya sedang menyambut kepulangannya. Setelah bertahun-tahun kehilangan rumah, keluarga, bahkan anak yang paling dicintainya, untuk pertama kalinya Mida merasa bahwa sebagian dari hak dan harga dirinya akhirnya kembali pulang bersamanya.
Suasana di rumah peninggalan orang tua Mida yang semula tenang mendadak berubah ketika suara pintu dibanting keras dari luar.