NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Tiga hari sebelum Ujian Tujuh Sekte.

Kota Bintang semakin ramai. Setiap penginapan penuh. Alun-alun dipadati para kultivator muda yang saling mengamati—sebagian berlatih, sebagian lagi mencari informasi tentang calon lawan.

Arga dan Nara memilih berjalan menyusuri jalan utama. Mereka tidak terburu-buru. Guru Tian pernah berkata, "Jangan hanya melatih tubuh. Pengalaman juga bagian dari kultivasi."

Di tengah perjalanan, aroma manisan buah memenuhi udara. Nara berhenti. Matanya berbinar melihat seorang pedagang menjual buah karamel berwarna merah mengilap.

Arga tersenyum kecil. "Kau mau?"

Nara berdehem. "Sedikit."

"Sedikit atau dua tusuk?"

Nara pura-pura berpikir. "...Dua."

Arga tertawa lalu membelinya.

Mereka berjalan sambil menikmati manisan itu. Suasana terasa ringan, seolah mereka sedang melupakan bahwa beberapa hari lagi akan menghadapi ujian yang menentukan masa depan.

Saat melewati sebuah toko buku kuno, seorang gadis berbaju putih keluar dari dalam. Ia membawa beberapa gulungan bambu di pelukannya. Karena terlalu fokus membaca salah satunya...

Bruk.

Ia tanpa sengaja menabrak Arga. Gulungan-gulungan itu jatuh berserakan.

"Maaf," ujar Arga yang segera berjongkok membantu memungutnya.

"Tidak apa-apa," jawab gadis itu sambil ikut berjongkok.

Saat tangan mereka sama-sama meraih satu gulungan, keduanya berhenti. Mata mereka bertemu.

Arga membeku. "Kau..."

Gadis itu tersenyum lembut. "Arga. Kita bertemu kembali."

"Ling Yue."

Nara yang berdiri di samping Arga ikut menoleh.

Ling Yue masih sama seperti dulu: tenang, anggun, dan tatapannya jernih seperti danau di pegunungan.

"Bagaimana perjalananmu?," katanya pelan. "Aku sempat khawatir."

Arga tersenyum. "Aku baik-baik saja."

"Syukurlah."

Hanya dua kata, namun terdengar tulus.

Nara memperhatikan keduanya. Entah mengapa, ia merasa dirinya seperti orang luar. Bukan karena Ling Yue bersikap tidak ramah—justru sebaliknya.

Ling Yue menoleh kepadanya dan tersenyum. "Nara. Kau juga ikut ujian sekte?"

Nara sedikit terkejut. "Kau tahu namaku?"

"Arga pernah menyebutmu."

Nara melirik Arga. Pemuda itu tampak sedikit canggung.

Ling Yue melanjutkan, "Terima kasih... karena sudah menemani Arga selama perjalanan."

Nara tersenyum tipis. "Aku juga banyak dibantu olehnya."

Ling Yue mengangguk. "Itu memang sifatnya."

Kalimat sederhana itu membuat Nara sadar bahwa Ling Yue mengenal Arga lebih dulu darinya. Ia mengetahui sifat Arga tanpa perlu dijelaskan.

Nara merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Bukan marah, bukan benci, tetapi rasa khawatir.

"Apa aku akan selalu terlambat...?" bisiknya dalam hati.

Ketiganya akhirnya berjalan bersama menyusuri jalan kota. Ling Yue menceritakan bahwa ia datang lebih dulu ke Kota Bintang bersama para tetua dari sektenya. Ia juga memberi beberapa informasi mengenai Ujian Tujuh Sekte.

"Tahun ini jumlah peserta lebih banyak," kata Ling Yue. "Banyak keluarga besar mengirim murid terbaik mereka."

Raut wajah Arga tetap tenang. "Aku hanya akan melakukan yang terbaik."

Ling Yue tersenyum. "Itu jawaban yang sangat khas dirimu."

Nara diam-diam ikut tersenyum. Memang benar, Arga tidak pernah berbicara tentang menjadi yang terkuat. Ia hanya selalu berusaha melangkah sejauh yang ia bisa.

Menjelang sore, mereka berhenti di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga putih. Angin bertiup lembut, membuat kelopak bunga beterbangan. Untuk sesaat, tak seorang pun berbicara.

Guru Tian yang melihat dari dalam liontin hanya menghela napas pelan. "Takdir memang suka mempertemukan orang pada waktu yang paling rumit."

Di kejauhan, lonceng besar Kota Bintang berdentang. Pertanda bahwa Ujian Tujuh Sekte akan segera dimulai.

Lampion-lampion batu di taman Kota Bintang menyala satu per satu. Cahayanya lembut, memantul di permukaan danau kecil yang tenang.

Arga duduk di tepi danau. Pedang Penjaga Langit diletakkan di sampingnya. Ia memejamkan mata, mengedarkan Qi perlahan. Pertarungan di Hutan Seribu Cemara masih meninggalkan beberapa luka pada meridiannya.

Di sisi lain taman, Ling Yue dan Nara berjalan perlahan. Tidak ada ketegangan, tidak ada tatapan bermusuhan. Justru keheningan canggung yang menyelimuti mereka.

Akhirnya Ling Yue yang membuka percakapan. "Selama perjalanan... Arga sering membuatmu repot, ya?"

Nara terkekeh pelan. "Kadang. Tapi lebih sering dia yang menolong orang lain."

Ling Yue tersenyum. "Itu memang kebiasaannya sejak dulu."

Nara menatap bunga-bunga putih yang bergoyang tertiup angin. "Dia tidak pernah berubah."

"Tidak," Ling Yue menggeleng. "Justru itu yang paling mengkhawatirkan bagiku."

Nara menoleh. "Maksudmu?"

Ling Yue menghela napas pelan. "Di dunia kultivasi, orang sebaik Arga sering dimanfaatkan. Karena dia terlalu mudah memercayai orang."

Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah. Arga memang seperti itu. Kalau melihat orang kesusahan, ia akan membantu lebih dulu daripada bertanya—kadang sampai melupakan keselamatannya sendiri.

"Itulah sebabnya..." kata Ling Yue lirih, "...dia membutuhkan teman yang berani mengingatkannya."

Nara memandang Ling Yue beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Aku akan melakukannya."

Ling Yue membalas senyum itu. "Terima kasih."

Untuk sesaat, keduanya merasa memiliki tujuan yang sama: melindungi Arga.

Sementara itu, Arga masih bermeditasi. Guru Tian tiba-tiba muncul dalam wujud roh yang hanya bisa dilihat oleh Arga.

"Kau tahu..."

Arga membuka mata. "Tahu apa, Senior?"

"Kau ini benar-benar sulit."

Arga mengernyit. "Apa lagi yang kulakukan?"

Guru Tian tertawa kecil. "Tidak ada. Hanya saja... ada dua gadis yang sama-sama mengkhawatirkanmu."

Arga tampak bingung. "Karena kita teman."

Guru Tian menepuk dahinya sendiri. "Ya, teman. Semoga nanti kau tidak menyesali kepolosanmu."

Arga benar-benar tidak mengerti. Ia menggaruk kepalanya. "Senior akhir-akhir ini suka bicara aneh."

Guru Tian hanya tertawa. "Muridku... dalam hal kultivasi kau belajar sangat cepat. Tapi dalam urusan hati, kau bahkan lebih lambat daripada kura-kura tua."

Tak lama kemudian, Ling Yue dan Nara kembali menghampiri Arga. Ling Yue mengeluarkan sebuah botol giok kecil.

"Ini."

"Apa?"

"Pil Pemulih Meridian. Ini dibuat oleh tetua sekteku. Meridianmu belum pulih sepenuhnya, kan?"

Arga sempat ragu. "Aku tidak bisa menerima benda berharga seperti ini."

Ling Yue tersenyum lembut. "Anggap saja aku membalas budi. Kalau dulu bukan karena bantuanmu, aku mungkin tidak akan berdiri di sini."

Arga akhirnya menerima pil itu. "Terima kasih."

Di sampingnya, Nara tidak berkata apa-apa. Ia sadar ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Arga dan Ling Yue. Namun anehnya, ia tidak merasa kalah. Justru ia ingin menciptakan kenangan baru bersama Arga—kenangan yang hanya menjadi milik mereka berdua.

Malam itu, ketiganya berjalan pulang melewati jalanan Kota Bintang yang diterangi ribuan lampion.

Di kejauhan, menara lonceng kembali berdentang. Satu kali, dua kali, tiga kali.

Besok pagi, Gerbang Arena Tujuh Sekte akan dibuka. Dan perjalanan mereka sebagai calon murid sekte akan benar-benar dimulai.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!