Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 sedikit memaksa
Erick memanggil pelayan ketika ia merasa mereka telah selesai makan.
Dia juga sudah berkali kali menawarkan Biel makanan lagi, tapi Biel menolak.
" terimakasih untuk makan malamnya, aku pamit dulu " ucap Biel formal kepada Erick.
setelahnya ia segera berdiri dan mulai melangkah pergi,
Erick tertegun sejenak sebelum akhirnya ia turut berdiri dan melangkah cepat menyusul Biel.
Ini adalah waktunya....
Ia harap ia tak salah mengartikan perasaannya,
Ia menyukai gadis itu dan ia merasa yakin dengan perjodohan yang di atur sang ibu.
Terlepas dari siapa dan bagaimana latar belakang Biel selama ini.
Biel melangkah dan hampir saja sampai di pintu ketika tiba tiba Erick meraih jemarinya dan menggenggamnya.
" hei...apa apaan kau ini ?! lepaskan " pekik Biel terkejut dan berusaha menghempas jemari Erick yang menggenggam jemarinya.
Tapi Biel tak berhasil,
Nampaknya Erick telah lebih dulu bersiap dengan reaksinya.
Genggamannya kian kuat pada jemari gadis itu,
Erick terus melangkah dengan menggenggam jemari Biel.
" lepaskan tanganmu ?! Apa yang kau lakukan...." omel Biel dengan terpaksa mengikuti langkah Erick.
" apa yang aku lakukan ?! Tidak ada....aku hanya coba menggenggam masa depanku agar jangan sampai terlepas.... " jawab Erick ketika mereka berhenti di sisi sebuah mobil.
Biel mendengus mendengar jawaban Eric itu yang menurutnya sangat tidak berbobot.
" pak komisaris.....
sepertinya kau sedang asal bicara...atau mungkin kau sedang bercanda.
Tapi asal kau tahu, aku tidak suka bercandamu seperti itu....." sentak Biel, ia sudah kembali ke mode dirinya sebelumnya. Jutek dan keras kepala.
Tatapannya tajam dan wajahnya berubah ketus kepada Erick.
Ia tak suka Erick yang menurutnya sudah lancang kepadanya itu.
Tapi bukannya takut,
Erick justru menatap Biel dengan tatapan yang dalam.
Tiba tiba ia menarik tangan Biel yang lain kemudian menarik kedua tangan Biel yang kini ia pegang kebelakang tubuh gadis itu sendiri dengan kedua tangannya.
Ia maju ke depan, kedua tangannya melingkar di pinggang Biel.
Kini posisinya seperti sedang memeluk Biel dari depan.
Tubuh Biel seketika menegang, ia bahkan seperti tak bisa bernafas.
Entah ini sudah yang keberapa kalinya laki laki itu berada begitu dekat dengannya.
sangking dekatnya hingga ia bisa mencium aroma wangi parfum Erick yang maskulin.
Dan yang paling menyebalkan adalah reaksi tubuhnya yang selalu sama,
Ia seolah kehilangan reflek tubuhnya yang selama ini sudah ia latih.
Tubuhnya tiba tiba memegang dan ia seolah kehilangan kontrol dirinya.
" aku tidak sedang asal bicara dan aku tidak sedang bercanda...
aku menyetujui perjodohan ini " bisik Erick di telinga Biel dengan pelan namun nadanya terdengar tegas.
Hembusan nafasnya menerpa daun telinga gadis itu dan semakin sukses membuat Biel kian mematung.
" ayo masuk....aku ingin mengenalkanmu pasa seseorang " ucap Erick lagi.
Kali ini ia sudah melepaskan kedua tangannya dari belakang tubuh Biel dan ia membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Sementara Biel,
Ia masih tertegun, ia bahkan tak menyadari kedua tangannya yang telah di lepaskan oleh Erick.
" Bee...." panggil Erick lagi dan barulah Biel tersadar
" hemm.....?! " jawabnya gelagapan
" ayo masuk " ucap Erick lagi, Biel menoleh ke arah pintu mobil yang telah di buka Erick untuknya.
Keningnya mengerut seolah ia baru menyadari sesuatu,
Tak lama ia menggeleng.
" tidak terima kasih.....aku bisa pulang sen...."
Ucapan Biel menggantung di udara karena Erick yang lebih dulu memotong ucapannya sembari meraih tangannya dengan cepat.
" tidak,
kau ikut denganku....aku ingin mengenalkanmu pada seseorang " ucap Eric dengan cepat meraih pergelangan tangan Biel.
" aku tidak pernah bilang menyetujui perjodohan ini,
jadi aku keberatan dengan ajakanmu ini, lepaskan tanganmu " jawab Biel dengan tatapan tajam kepada Erick.
Erick menarik nafas panjang, rasanya memang tidak akan mudah jika ia ingin meyakinkan perjodohan ini pada sosok gadis di hadapannya itu.
Selain itu....
Ia sadar, mereka memang belum begitu mengenal.
" aku tidak perduli, aku setuju dengan perjodohan ini dan itu artinya kau juga setuju....
ayo masuk...." jawab Erick kemudian dengan sangat tegas seolah ia benar benar tak bisa di bantah.
Ia menarik tangan Biel sedikit kencang kemudian mendorong gadis itu masuk ke dalam mobil.
Ia tak perduli meski saat ini ia terkesan memaksakan kehendaknya pada gadis itu.
" ada apa pak ?! " seorang satpam tiba tiba telah berada di sekitar Erick,
Mungkin penolakan Biel barusan menarik perhatian satpam itu.
Blak ..
Erick menutup pintu mobil lebih dulu sebelum menoleh kepada satpam itu.
Ia berdiri tegak tepat di samping pintu mobil di mana saat ini Biel sedang duduk.
" istriku sedang hamil muda....
tahukan bagaimana kondisi kejiwaan wanita yang sedang hamil muda ?! " jawab Erick dengan tenang dan satpam itu akhirnya hanya mengangguk angguk sambil tersenyum kecil.
Ia sempat menoleh sejenak ke arah Biel yang duduk di dalam mobil dengan muka masam sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Biel yang juga mendengar ucapan Erick tadi hanya mencebik kesal,
kaca mobil terbuka setengah, karenanya ia bisa mendengar jawaban Erick tadi.
" cihhh...hamil muda, sepertinya kau memang tipe orang yang pandai membual " ejek Biel ketika Erick telah masuk kedalam mobil.
Mendengar ejekan Biel, Erick tersenyum.
" aku tidak membual, secepatnya aku akan merealisasikan ucapanku tadi " jawab Erick sambil menoleh kepada Biel.
Tak lama ia mencondongkan tubuhnya kepada Biel.
Hal itu sontak membuat Biel memundurkan tubuhnya kebelakang hingga ia menabrak kaca mobil.
" mau apa kau ?! Jangan macam macam denganku brengsek !! " sentak Biel, tapi Erixk tak menggubrisnya.
Ia terus semakin memajukan tubuhnya pada gadis itu dan kemudian menarik sabuk pengaman yang masih menggantung di sisi Biel.
" aku hanya mau ambil ini, ayo pakai.....aku seorang polisi dan tentu istriku juga harus taat aturan kan " jawab Erick dengan santai dan bersiap memakaikan sabuk itu kepada Biel.
Tapi yang wajahnya yang sudah merah karena marah dan malu malah menyahut sabuk itu dengan kasar dari tangan Erick kemudian mendorong dada Erick dengan kasar pula kebelakang.
Tubuh Erick sedikit terbanting ke belakang dan menabrak pintu mobil.
" kau bisa bicara sajakan ?! Tidak usah mendekat seperti itu " ucap Biel sambil melotot kepada Erick.
" memangnya kenapa ?! Kau calon istriku....
aku hanya ingin memberimu perhatian " jawab Erick sambil nyengir.
" kenapa ?! kau malu ?! Atau ...kau berharap aku melakukan hal yang lain ?! " goda Erick lagi dengan masih tersenyum menggoda Biel.
" jaga bicaramu pak Komisaris, siapa yang calon istrimu ?!
sudah kukatakan padamu aku tidak pernah berkata setuju dengan perjodohan ini.....
Jadi jangan memaksa.
Dan satu lagi....aku tidak pernah malu padamu atau berharap kau akan melakukan sesuatu untukku,
Aku hanya risih dengan gayamu yang sok dekat itu !!!! " sentak Biel
Erick menatap dalam ke dalam manik mata Biel,
Senyumnya yang tadi tersungging di bibirnya perlahan sirna.
" ok...
sesuai keinginanmu calon istri.....secepatnya aku segera membuat kita benar benar dekat, sedekat itu hingga kita tidak akan pernah terpisah satu sama lain......"
Biel sontak melotot mendengar jawaban Erick itu.