Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Dengan air mata kemarahan yang tertahan di pelupuk matanya, Liana berbalik dan melangkah cepat kembali ke lantai atas sambil setengah berlari.
Gaun pengantin panjang yang dikenakannya terasa begitu berat, seberat hantaman kenyataan yang baru saja meremukkan harga dirinya.
Begitu masuk ke dalam kamar, Liana membanting pintu dengan keras.
Dengan tubuh bergetar hebat namun tatapan mata yang memancarkan ketegasan mutlak, Liana membentak tim MUA dan Bunga yang sedang merapikan perlengkapan di sudut ruangan.
"Semua keluar! Keluar dari kamar ini sekarang juga!" jerit Liana, suaranya parau namun sarat akan emosi yang siap meledak.
Bunga dan para pekerja MUA seketika tersentak kaget.
Melihat dada Liana yang naik-turun karena napas yang memburu dan matanya yang memerah, mereka tidak berani membantah.
Dengan wajah panik, bingung, dan saling berpandangan penuh tanya, mereka buru-buru mengemasi barang seadanya dan keluar dari kamar, meninggalkan Liana sendirian dalam keheningan yang mencekam.
Liana melangkah terseok-seok menuju cermin besar di sudut kamar.
Ia menatap pantulan dirinya yang mengenakan riasan pengantin begitu indah—riasan yang kini terasa seperti lelucon paling menjijikkan di dunia.
Dengan gerakan frustrasi, Liana menyambar botol remover dan kapas di atas meja rias.
Tanpa memedulikan rasa perih, ia menghapus riasan wajahnya dengan kasar.
Ia menggosok pipi, bibir, dan matanya berulang kali hingga kulit wajahnya memerah padam.
Air mata kemarahan mengalir bersama lunturnya sisa-sisa kosmetik di wajahnya.
Sreeet!
Liana meraih punggungnya, menarik paksa ritsleting gaun pengantin putih klasik milik mendiang ibu Kenzo yang melekat di tubuhnya.
Begitu gaun itu terlepas, Liana melemparnya ke lantai dengan kasar, membiarkan kain mewah itu teronggok tak berdaya di atas marmer.
Ia tidak peduli lagi seberapa sakralnya gaun itu bagi Kenzo.
Baginya, kebenaran di balik pernikahan ini jauh lebih kotor dari apa pun.
Dengan tangan yang masih gemetar, Liana melangkah ke lemari dan menyambar pakaian biasanya—kaus longgar dan celana kain yang sederhana.
Setelah memakainya kembali, ia berdiri di tengah kamar dengan napas yang mulai teratur namun tatapan yang dipenuhi kobaran api pemberontakan.
Liana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Cukup sudah.
Ia menolak keras untuk menjadi boneka dalam pernikahan paksa yang didasari oleh kecelakaan obat sialan dan tameng tanggung jawab egois ini.
Jika Kenzo mengira bisa menjinakkannya dengan ikatan sakral sepihak, maka pria itu salah besar.
"Bos! Ratumu sepertinya... urung menikah! Dia mengusir kami semua keluar dan menangis," ucap Bunga dengan napas tersengal-sengal di depan pintu ruang kerja.
Kenzo yang mendengar laporan itu langsung
menegang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik untuk meninggalkan Kania.
Di bawah kaki Kenzo, Kania masih terus memohon dan menangis histeris sampai mencengkeram erat ujung celana Kenzo.
Namun, Kenzo menghentakkan kakinya dengan dingin hingga cengkeraman Kania terlepas, lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Kania yang meraung frustrasi di lantai marmer.
Kenzo berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamar atas.
Awalnya, ia melangkah dengan aura penuh wibawa, siap untuk melaksanakan akad nikah yang matang di kepalanya.
Namun, langkahnya sempat tertahan saat melihat tim MUA berdiri panik di lorong depan kamar.
Dengan perasaan tak tenang, Kenzo membuka pintu kamar dengan kasar.
Sedetik kemudian, tubuh tegapnya langsung membeku di ambang pintu.
Di dalam kamar, ia melihat Liana yang sudah berdiri dengan wajah polos tanpa riasan—bahkan kulit wajahnya memerah akibat gosokan kasar.
Gaun pengantin milik mendiang ibunya tergeletak begitu saja di lantai seperti kain tak berharga.
Liana berdiri di sana, menatap Kenzo dengan tatapan yang dipenuhi kobaran api kebencian yang mendalam.
"Aku tidak akan pernah sudi menikah denganmu hari ini, Kenzo," desis Liana dengan suara bergetar menahan amarah.
Kenzo melangkah maju, hatinya mencelos melihat gaun ibunya di lantai, namun rasa khawatirnya pada Liana jauh lebih besar.
"Liana, ada apa? Kenapa kamu melepas gaunnya?"
"A-aku tidak mau menikah dengan kamu hanya karena rasa kasihan, karena efek obat sialan itu, atau karena anak ini!" air mata Liana kembali luruh.
"Lebih baik aku membesarkannya sendiri dan... ARRGHHHH!"
Kalimat Liana terputus menjadi jeritan kesakitan. Wajahnya seketika memucat pasi.
Kedua tangannya bergerak cepat mencengkeram perut bagian bawahnya yang mendadak terasa kram luar biasa, seperti diremas dengan sangat kuat.
Efek emosi yang meledak-ledak dan stres ekstrem rupanya memicu kontraksi dini pada rahimnya.
Liana ambruk berlutut di lantai, namun ia tetap mendongak menatap Kenzo dengan sisa kekuatannya.
"Biarkan... biarkan aku keguguran, Kenzo... J-jangan selamatkan aku... Aku tidak mau terikat dengan penjahat egois sepertimu..."
"Langkahi dulu mayatku, Liana...!" potong Kenzo dengan bentakan bariton yang sarat akan kepanikan dan rasa takut kehilangan yang teramat sangat.
Seketika, insting seorang pria yang mencintai wanitanya dan naluri seorang dokter di dalam diri Kenzo mengambil alih sepenuhnya.
Kenzo menerjang maju, langsung membopong tubuh mungil Liana yang gemetar ke dalam pelukan kekarnya, lalu membawanya dengan cepat ke atas tempat tidur.
Sebagai seorang dokter spesialis kandungan, Kenzo tahu persis apa yang sedang terjadi pada rahim Liana.
Flek darah tipis mulai terlihat menyelimuti kaki Liana, menandakan ancaman keguguran (abortus imminens) yang sangat serius akibat tekanan mental.
"Bunga!! Ambilkan tas medis daruratku di ruang kerja dan siapkan obat penguat kandungan injeksi sekarang juga!!" teriak Kenzo menggema ke luar kamar dengan suara menggelegar, sementara tangannya dengan cekatan mulai memeriksa denyut nadi Liana dan melakukan tindakan medis darurat untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya serta anak mereka yang sedang berada di ujung tanduk.
Kenzo bergerak dengan kecepatan dan akurasi seorang profesional.
Di saat kritis seperti ini, emosinya sebagai seorang pria ditekan habis-habisan, digantikan oleh ketenangan dingin seorang dokter spesialis.
Ia menyambar masker medis di meja samping, memakainya dengan cepat, lalu segera melakukan pemeriksaan palpasi pada perut Liana untuk meraba ketegangan dinding rahimnya.
"Bunga! Pasang selang infus sekarang, dan berikan obat tokolitik untuk menghentikan kontraksinya!" perintah Kenzo, suaranya terdengar meredam di balik masker namun penuh penekanan yang mutlak.
"Ok, Bos!" jawab Bunga sigap.
Tangannya yang biasa memegang senjata kini dengan cekatan menusukkan jarum infus ke pembuluh darah Liana dan memasukkan obat penguat kandungan dosis tinggi ke dalam kantung cairan.
Kenzo menempelkan stetoskopnya ke perut Liana, mendengarkan dengan saksama.
Detak jantung janin terdengar sangat cepat dan tidak stabil.
Ketakutan terbesar dalam hidup Kenzo menghantam dadanya.
Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke perut Liana yang tegang, lalu berbisik lirih dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Jangan tinggalkan Papa ya, Nak... Bertahanlah, Papa mohon..." bisik Kenzo.
"S-sakit, Kenzo... Perutku rasanya seperti mau pecah..." rintih Liana. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.
Rasa mulas yang teramat sangat membuat tubuhnya bergetar, dan secara refleks, Liana mulai mengambil napas dalam-dalam dan bersiap untuk mengejan.
"Sayang, jangan mengejan!" bentak Kenzo panik saat menyadari perubahan gestur tubuh Liana.
Ia menahan pangkal paha Liana agar tidak melakukan gerakan itu.
"Belum saatnya, Liana! Usia kandungan ini masih terlalu muda, bayinya belum siap untuk keluar!"
Kenzo menatap wajah Liana yang memucat pasi dengan rasa iba yang mendalam.
Kasihan dia, tekanan mental ini menyiksanya, batin Kenzo egois sekaligus mengutuk dirinya sendiri karena telah menjadi penyebab stres sang wanita.
Di tengah rasa sakit yang mendera dan kesadaran yang mulai menipis, Liana mencari pegangan.
Tangan mungilnya yang gemetar bergerak acak, hingga akhirnya ia menggenggam tangan Kenzo dengan sangat erat.
Cengkeraman Liana begitu kuat, menyalurkan rasa sakit fisik dan batin yang sedang dialaminya.
Kenzo tidak melepaskannya.
Ia justru membalas genggaman tangan Liana menggunakan kedua tangannya, mencoba menyalurkan seluruh kekuatan dan kehangatan yang ia miliki agar wanita itu tahu, ia tidak akan membiarkan Liana ataupun anak mereka pergi.
Kenzo menggenggam tangan Liana semakin erat, membiarkan jemari wanita itu menyalurkan rasa sakit yang luar biasa ke telapak tangannya.
Tatapan mata Kenzo di balik masker medisnya melunak, menatap Liana dengan binar yang mendadak terasa begitu jujur dan hangat.
"Apa kamu tahu... malam itu, saat aku 'melakukannya' denganmu dalam kondisi setengah sadar?" Kenzo menjeda kalimatnya, mengusap punggung tangan Liana dengan ibu jarinya.
"Di dalam otakku yang kacau karena obat, aku hanya berpikir... ini bidadari dari mana? Atau jangan-jangan bukan bidadari."
Kenzo terkekeh rendah, sebuah tawa sarkas untuk menutupi rasa panik yang sempat mendera dadanya.
"Aku bahkan sempat mengira kamu itu boti jalanan yang sedang mencari mangsa di dekat gudang kosong."
Mendengar ucapan konyol dan blak-blakan dari mulut sang pimpinan geng motor legendaris, pertahanan Liana runtuh.
Di tengah ringisan dan peluh keringat dingin yang membanjiri wajahnya, Liana tertawa kecil.
Tawa yang tertahan, berbaur dengan desisan pelan saat kram di perutnya kembali bergejolak.
Kenzo ikut tersenyum melihat tawa itu, namun sedetik kemudian wajahnya kembali berubah sangat serius.
Ia mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Liana yang masih berair.
"Liana, dengarkan aku baik-baik," ucap Kenzo dengan suara bariton yang dalam, bergetar oleh emosi yang tulus.
"Aku mengajakmu menikah hari ini... sama sekali bukan karena rasa kasihan. Juga bukan semata-mata karena kecelakaan obat sialan malam itu."
Kenzo membawa tangan Liana ke bibirnya, mengecupnya dengan takzim dan lama.
"Aku ingin membangun rumah tangga bersamamu, Liana. Aku ingin kamu yang menjadi akhir dari perjalananku yang liar ini. Jadi, aku mohon... bertahanlah untukku, dan untuk anak kita," bisik Kenzo tepat di depan wajah Liana, sementara cairan infus di atas mereka perlahan mulai bekerja menenangkan rahim Liana yang sempat menegang.
Melihat cairan obat penenang rahim yang mengalir melalui infus mulai bekerja, ketegangan di tubuh Liana perlahan-lahan mengendur.
Dengan sisa kekuatannya yang hampir habis, Liana menganggukkan kepalanya pelan, menerima ketulusan yang baru saja diucapkan Kenzo.
Detik berikutnya, kedua kelopak matanya terasa teramat berat, dan ia pun pingsan—kehilangan kesadaran karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
Kenzo segera meletakkan kembali stetoskopnya ke atas perut Liana.
Ia menghela napas lega yang amat panjang saat mendengarkan detak jantung janin di dalam rahim Liana perlahan kembali stabil dan normal.
Kontraksi hebat yang sempat membuat perut wanita itu mengeras kini sudah sepenuhnya mereda.
Liana kini tertidur dengan napas yang teratur, meskipun wajahnya masih menyisakan rona pucat.
Kenzo perlahan melepas masker medisnya, lalu menyeka keringat dingin yang membanjiri dahinya sendiri.
Ia berbalik menatap Bunga yang sejak tadi berdiri siaga di samping tempat tidur.
"Bunga, pernikahanku tunda tiga jam lagi," perintah Kenzo dengan nada suara yang kembali tenang namun penuh otoritas.
"Biarkan Liana istirahat dan memulihkan kondisinya dulu. Bilang pada pamanmu, aku akan membayar jasanya dua kali lipat karena sudah membuat beliau menunggu lama."
Bunga yang ikut lega melihat kondisi Liana langsung menganggukkan kepalanya patuh.
"Baik, Bos. Akan saya sampaikan pada Paman di bawah. Bos juga sebaiknya istirahat sebentar," ujarnya memberi saran sebelum akhirnya melangkah pelan keluar dari kamar dan menutup pintu dengan rapat, memberikan privasi penuh bagi sang pimpinan untuk menjaga calon istrinya.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak