TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 13: HARGA SEBUAH KEHADIRAN*
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 13: HARGA SEBUAH KEHADIRAN*
Dentuman musik bass yang berat dari lantai dansa Aston Club terasa bergetar hingga ke dalam dinding ruang VIP 109.
Di dalam ruangan bernuansa emas dan beludru merah itu, Rian Pradifta duduk bersandar di sofa tengah dengan kemeja hitam yang tiga kancing teratasnya sudah terbuka bebas.
Tatapan mata elangnya sayu, dipenuhi kabut alkohol dan rasa frustrasi yang tidak juga surut. Di sisi kanan dan kirinya, dua wanita penghibur dengan pakaian super minim terus bergelayut manja, menuangkan minuman dan sesekali membisikkan godaan sensual di ceruk lehernya.
Rian membiarkan mereka, menenggak cairan whiskey pekat itu berulang kali seolah tubuhnya kebal terhadap rasa panas alkohol. Pikirannya kosong, namun egonya yang terluka masih menuntut pelampiasan liar.
`Cklek.`
Pintu ruangan terbuka perlahan. Kinara Jose melangkah masuk dengan nampan besi di tangannya.
Malam ini, dengan setelan jumpsuit satin hijau zamrud dan rambut bob pendek berponi rata, dia terlihat begitu berani dan dewasa.
Namun, langkah kaki Kinara mendadak terhenti kaku di dekat meja kaca. Sepasang matanya meminta kejelasan di balik riasan smokey eyes-nya saat melihat kondisi Rian yang sedang mabuk berantakan ditemani wanita-wanita tersebut.
Rasa muak dan jijik yang luar biasa seketika bergejolak di hulu hati Kinara. Setelah kejadian di toilet sekolah siang tadi, malam ini dia harus kembali menyaksikan keliaran cowok itu di tempat kerja malamnya.
Menolak untuk terlibat lebih jauh, Kinara buru-buru menurunkan beberapa botol minuman pesanan ke atas meja dengan gerakan cepat. Dia hanya ingin menaruh botol-botol itu lalu segera pergi dari sana.
Namun, tepat saat Kinara membalikkan badan dan bersiap melangkah keluar, sebuah suara bariton yang berat dan serak memecah keheningan ruangan.
"Berhenti di situ."
Langkah Kinara membeku. Jantungnya berdegup kencang. Dia menoleh sedikit, mendapati Rian sedang menatapnya lurus dengan sorot mata yang teramat dingin dan pekat dari balik kabut mabuknya.
Rian menegakkan tubuh, menepis kasar tangan kedua wanita penghibur yang bergelayut di bahunya hingga mereka terperanjat kaget.
"Temani aku minum malam ini," perintah Rian datar, nadanya tidak menerima bantahan apa pun.
Kinara meremas nampan besinya kuat-kuat, berusaha mempertahankan penyamarannya sebagai Nara sang pelayan kelab. Dia merendahkan suaranya agar terdengar berbeda.
"Maaf, Tuan. Tugas saya hanya mengantarkan pesanan. Saya tidak bisa menemani tamu minum."
Rian terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang teramat menjengkelkan. Dia meraih gelas kristalnya, memutarnya perlahan sebelum menatap Kinara dengan senyuman miring yang penuh ancaman terselubung.
"Kamu pikir aku tidak punya kekuasaan untuk membuat tempat ini ditutup besok pagi?" desis Rian tenang, namun setiap katanya sarat akan kendali mutlak yang mematikan.
"Pilih dengan bijak, Pelayan. Duduk di sini, atau cari pekerjaan baru di kota lain karena kelab ini akan rata dengan tanah atas perintahku."
Ancaman itu menghantam telak pertahanan Kinara. Wajahnya seketika memucat di balik riasan tebalnya. Dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini; ibunya butuh biaya pengobatan di rumah sakit.
Dengan perasaan terpaksa dan hati yang bergemuruh oleh rasa benci, Kinara akhirnya menurut. Dia melangkah perlahan dan mendudukkan dirinya di ujung sofa tunggal yang berseberangan dengan Rian, menjaga jarak sejauh mungkin.
Kinara membuang muka, merasa sangat jijik melihat bagaimana kedua cewek nakal itu kembali bergelendotan di lengan Rian dan mencoba mengambil alih perhatian sang tuan muda.
Di dalam hatinya, Kinara merasa sedikit beruntung. Dengan penampilannya yang jauh lebih berani malam ini, wig bob pendek, dan riasan mata yang tebal, Kinara mengira Rian masih belum mengenali dirinya yang sebenarnya.
Dia tidak tahu bahwa sejak malam pertama geng mereka menginjakkan kaki di kelab ini, Rian sebenarnya sudah mengetahui identitas aslinya.
Rian memperhatikan setiap riak ketidaknyamanan di wajah pelayan di depannya. Matanya menggelap pekat, mengunci manik mata jernih yang bersembunyi di balik riasan smokey eyes itu.
Senyuman miring di bibir Rian semakin melebar, penuh dengan kejam dan arogansi yang mutlak. Rian memajukan tubuhnya ke depan meja, menatap Kinara dengan binar obsesi yang mengerikan.
"Berapa harga kamu semalam?" Kalimat pelecehan yang teramat vulgar itu meluncur begitu enteng dari bibir Rian, sengaja ditujukan khusus untuk menusuk harga diri Kinara.
"Temani aku malam ini," tambahnya dengan suara baritonnya yang rendah dan berat.
Kinara mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya bergemuruh hebat menahan amarah yang nyaris meledak.
"Tolong jaga ucapan Anda, Tuan. Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak menjual diri!" tolak Kinara dengan sangat tegas, matanya menatap Rian penuh kilat perlawanan.
Mendengar penolakan yang kesekian kalinya itu, pertahanan ego Rian yang sudah hancur oleh alkohol runtuh sepenuhnya.
Tiba-tiba saja, Rian berteriak frustrasi dengan nada yang sangat kasar hingga membuat isi ruangan itu gemetar.
"BERHENTI MENOLAKKU, WANITA SIALAN!" umpat Rian keras, membuat Kinara tersentak kaget setengah mati di atas sofanya.
Kedua wanita penghibur di samping Rian bahkan langsung ciut ketakutan.
"Kamu pikir... kamu siapa, hah?!" lanjut Rian dengan napas yang memburu, matanya merah menyala menatap Kinara.
"Kamu tahu? Apa pun yang aku inginkan pasti aku dapatkan... termasuk kamu yang cuma pelayan rendah!"
Tanpa memedulikan apa pun lagi, Rian bangkit dari duduknya. Dengan langkah sempoyongan namun cepat, dia bergeser mendekati sofa tempat Kinara duduk, lalu langsung memojokkan tubuh kecil gadis itu ke sudut sandaran sofa.
Kinara terkunci sepenuhnya di bawah kurungan tubuh kekar Rian.
"Kenapa kamu terus menolakku...?" bisik Rian mendadak melunak, suaranya terdengar serak dan begitu rapuh di tengah kabut alkohol.
Rian mengangkat tangan kirinya, lalu menyentuh dada bidangnya sendiri tepat di bagian jantung.
"Kamu tahu tidak... di sini... rasanya sakit."
Kinara memalingkan wajahnya, dadanya berdegup gila karena ketakutan berbaur dengan rasa bingung yang amat sangat. Sikap Rian malam ini benar-benar tidak tertebak.
"Tuan, kendalikan diri Anda. Anda sudah mabuk," cicit Kinara dengan suara yang gemetar, berusaha mendorong bahu tegap Rian agar menjauh.
Rian seolah tuli. Dia mengulurkan tangan kanannya yang kekar, bergerak perlahan menyentuh permukaan pipi Kinara yang dilapisi riasan tebal. Ibu jarinya mengusap kulit gadis itu dengan kelembutan yang aneh.
"Apa yang kurang dariku? Kenapa kamu terus-menerus menolakku..."
Tatapan mata elang Rian yang sayu perlahan turun, beralih dan tertuju lurus pada bibir ranum Kinara. Binar obsesi dan keliaran dalam otak gilanya mengambil alih kendali sepenuhnya.
Sebelum Kinara sempat menyadari bahaya dan menghindar, Rian dengan gerakan secepat kilat maju menarik tengkuk Kinara.
Rian meraup bibir ranum gadis itu dengan kasar dan penuh ketamakan, melumatnya secara brutal seolah sedang memakan es krim di tengah rasa dahaga yang menyiksa.
Kinara membelalakkan matanya sempurna, memukul dada bidang Rian sekuat tenaga demi melepaskan diri.
Namun, malam itu, Rian benar-benar telah mabuk berat dan hilang kendali sepenuhnya di dalam ruangan VIP yang temaram.
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk