Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wibawa yang Kalem
Udara Wonosobo masih terasa sejuk ketika Danendra telah berpakaian rapi. Kemeja biru muda yang ia kenakan dipadukan dengan celana bahan hitam semakin menambah wibawa yang kalem serta begitu memikat pada penampilannya, sementara kunci mobil pun telah berada di tangan seolah siap untuk memulai aktivitas di hari itu. Sedangkan Niken masih berdiri di depan cermin sambil merapikan lipatan jilbabnya.
"Sudah siap?" tanya Danendra.
"Sebentar, Mas." Jawabnya sambil memperhatikan setiap sisi jilbab, untuk memastikan area lehernya tidak sampai terlihat.
Danendra yang melihat itu, melangkah mendekat. "Ada apa?" tanyanya lagi sambil menyembunyikan senyum di wajahnya.
"Tidak apa-apa. Aku cuma memastikan, apa jilbabku sudah rapi."
"Bekasnya sudah tertutup rapi, sudah benar-benar tidak terlihat." Kata Danendra yang membuat Niken tak mampu menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Mas... pagi-pagi sudah mulai."
Danendra memandang wajah cantik istrinya dalam pantulan cermin sambil memegang bahunya dari belakang. "Lihat, sudah tertutup rapi, kan?"
Sudut bibirnya melengkung membentuk bulan sabit sambil bergeser, lalu mengambil tas kerjanya. "Ayo."
Danendra hanya mengukir senyum sembari terus menatapnya.
"Nanti Ayah dan Ibu menunggu kita." Kata Niken lalu segera melangkah menuju pintu, seolah takut Danendra akan mengodanya lagi.
Danendra pun akhirnya ikut keluar kamar mengikuti Niken.
Di ruang makan, aroma bubur ayam hangat memenuhi ruangan. Bi Inah sibuk menata lauk di atas meja, Ratih menuangkan minum ke dalam beberapa cangkir, sementara Pradipta sudah duduk di kursinya dengan wajah yang masih pucat.
"Selamat pagi," sapa Danendra.
"Pagi," jawab Pradipta sambil tersenyum.
Kemudian dengan penuh semangat, Ratih mengajak Niken duduk dan bersarapan bersama. "Nik, sini duduk, nanti sarapannya keburu dingin."
Niken tersenyum kemudian duduk di dekat ibu mertuanya. Ia lalu menoleh kepada Pradipta, "bagaimana sekarang, Yah?" tanyanya.
"Sudah jauh lebih enak, hanya saja badan masih agak lemas." Kata Pradipta yang dijawab anggukan lega oleh Niken.
"Syukurlah."
Kemudian Bi Inah datang membawa semangkuk bubur hangat. "Ini buat Bapak. Kemarin dokter bilang supaya Bapak jangan dulu makan yang terlalu berat."
Ratih mengaduk bubur itu perlahan sebelum meletakannya di depan suaminya. "Mas, dihabiskan ya."
"Iya," jawab Pradipta tanpa membantah, lalu menoleh kepada Danendra yang tampak sedang tertawa kecil. Ia mendengus pelan sebelum berkata, "kalau tidak menurut, Ibumu pasti akan cerewet."
Ratih langsung melotot kecil. "Mas, kapan aku cerewet?" bantahnya yang membuat semua orang tertawa.
Suasana yang sempat dipenuhi kecemasan sehari sebelumnya, perlahan menjadi lebih hangat.
Disela-sela sarapan, Danendra melirik jam tangannya. "Kita berangkat sekitar lima belas menit lagi, supaya Niken tidak terlambat ke sekolah."
Ratih mengangguk setuju, "nanti setelah mengantar Niken, langsung ke rumah sakit."
"Iya, Bu."
Tak lama kemudian, sarapan pun selesai. Bi Inah membantu membereskan meja, sementara Danendra mengambil kunci mobil yang ia letakan di meja kecil.
"Ayah siap?" Tanya Danendra yang dijawab anggukan oleh ayahnya.
"Siap."
Danendra lalu menggandeng lengan ayahnya menuju teras, kemudian Ratih berjalan dibelakangnya, sementra Niken menutup pintu rumah setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Beberapa saat setelah semuanya masuk, mobil pun perlahan meninggalkan halaman. Pagi itu jalanan Wonosobo mulai dipenuhi kendaraan para pekerja dan anak-anak sekolah.
Niken yang duduk di kursi depan sesekali menoleh ke belakang. "Ayah tidak pusing?"
"Tidak, masih nyaman." Jawab Pradipta.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil memasuki kawasan TK Tunas Arunika. Kemudian Danendra memperlambat laju mobil hingga berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Beberapa guru dan murid tampak sedang berdatangan.
"Kita sudah sampai," ucap Danendra lembut.
Niken mengangguk, kemudian menoleh ke belakang. "Yah, Bu, aku berangkat dulu," pamitnya. "Semoga pemeriksaannya lancar."
Pradipta mengangguk sambil tersenyum hangat. "Iya, amin. Kamu juga semangat mengajarnya."
Niken mengangguk, kemudian berpamitan dengan suaminya. "Aku berangkat dulu, Mas," ucapnya sambil mencium punggung tangan Danendra.
Senyum kecil mengembang di wajah Danendra. "Jaga diri."
"Mas juga."
"Nanti Ibu kabari," ucap Ratih saat Niken menyalaminya.
"Baik, Bu." Jawab Niken.
Niken melambaikan tangan sebelum melangkah memasuki gerbang sekolah. Danendra menunggu hingga sang istri benar-benar menghilang di bangunan kelas, barulah ia kembali menjalankan mobilnya kembali.
Tidak ada lagi tujuan lain, kini mobil langsung melaju menuju rumah sakit, membawa harapan agar pemeriksaan pagi itu hanya menjadi kabar baik yang mampu menghapus kecemasan seluruh keluarga.
Ratih menoleh ke arah suaminya, "Mas masih merasa sesak?"
"Tidak, aku baik-baik saja, kenapa kalian begitu khawatir?"
"Syukurlah, tapi kami tetap saja merasa khawatir."
Danendra yang mendengar percakapan itu, ikut menoleh melalui kaca spion. "Kalau ada yang terasa tidak nyaman, sebaiknya Ayah langsung bilang."
"Iya, Danen. Ayah tidak akan diam saja." Kata Pradipta yang membuat semuanya terkekeh kecil.
Danendra kembali memusatkan perhatian ke jalan. Beberapa menit kemudian, gedung rumah sakit pun terlihat. Mobil memasuki halaman dan berhenti di area pemeriksaan, kemudian Danendra turun lebih dulu, membukakan pintu untuk sang ayah.
"Ayah, pelan-pelan."
Pradipta tersenyum sambil menerima uluran tangan putranya. "Tenang saja, Danen. Ayah masih kuat."
Ratih ikut turun, kemudian semuanya melangkah masuk ke dalam. Usai mengantri beberapa saat, akhirnya seorang perawat keluar membawa berkas.
"Pak Pradipta?"
Danendra langsung berdiri. "Iya."
"Silahkan menuju ruang pemeriksaan." Kata perawat yang langsung membuat Pradipta bangkit perlahan.
Ratih hendak ikut masuk, tetapi perawat menahannya.
"Untuk pemeriksaan awal, satu pendamping saja ya, Ibu." Ucapnya ramah yang dijawab anggukan patuh oleh Ratih.
"Biar aku saja, Bu." Kata Danendra.
Ratih akhirnya duduk kembali. "Ibu tunggu di sini."
Sebelum masuk, Pradipta menoleh kepada Ratih. "Jangan khawatir," ucapnya karena melihat kecemasan di wajah sang istri.
Pintu ruang pemeriksaan tertutup, Ratih kini hanya bisa menunggu.
Sementara di dalam, dokter mulai menanyakan keluhan Pradipta sejak kemarin. "Kapan pertama kali merasa sesak, Pak?"
Pradipta menjelaskan semua keluhan yang ia rasakan.
Kemudian Danendra yang duduk di sampingnya bertanya dengan serius. "Dok, apakah itu perlu dikhawatirkan?"
Dokter tidak langsung menjawab, ia tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata. "Saya tidak bisa langsung menyimpulkan, saya ingin melakukan pemeriksaan jantung terlebih dahulu."
"Baik, Dok."
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan pun dilakukan. Danendra berdiri di sisi ranjang pemeriksaan, melihat ayahnya mengikuti instruksi dokter. Di balik wajah tenangnya, kecemasan mulai kembali memenuhi pikiran. Sementara di luar ruangan, Ratih juga menunggu dengan perasaan yang sama.
...****************...