Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Valerie Vandersen masih berdiri tegak di depan Riyan dengan dada yang kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak.
Gaun merah menyalanya bergesek halus dengan lantai marmer seiring langkah kakinya yang maju satu depak, mempersempit jarak di antara mereka.
Sepasang mata birunya yang tajam bagai silet menatap kaus oblong abu-abu Riyan dengan jijik, tetapi juga memancarkan kilatan rasa tidak percaya yang amat sangat dalam.
Di belakang Valerie, pemandangan Vandersen Auto Gallery sudah seperti pasar malam bubar. Seorang abang ojek online dengan riang gembira menghidupkan mesin Ferrari merah yang baru dibelinya seharga dua puluh juta rupiah.
Suara raungan knalpot sport yang memekakkan telinga itu terdengar seperti suara terompet kematian bagi martabat eksklusif Keluarga Vandersen.
"Lu denger gak gua ngomong apa, kuli bajingan?!" bentak Valerie lagi, suaranya melengking tinggi mengalahkan kebisingan di sekitarnya.
"Lu pikir lu siapa, hah?! Datang ke mal gua, bawa duit entah dari dukun mana, terus ngancurin reputasi brand yang dibangun keluarga gua selama tiga generasi?! Lu sengaja mau bikin saham kami hancur kan?!"
Riyan Sadewa mengusap wajahnya yang kusam karena debu semen dengan telapak tangannya. Napasnya diembuskan dengan sangat berat.
Jam digital transparan di sudut matanya berkedip manja, menampilkan sisa waktu yang terus berkurang:
[16 Jam : 45 Menit : 20 Detik], dengan angka saldo gila sebesar 4,45 Triliun Rupiah hasil suntikan dana short-selling Sistem tadi.
"Aduh, Nona Rambut Pirang... tolong jangan teriak-teriak di kuping gua," kata Riyan dengan nada suara yang teramat melas.
"Gua ini kuping kuli, biasa denger suara mesin molen, bukan suara cewek ngamuk. Dan satu lagi, gua gak punya niat ngancurin saham lu."
"Gua beneran cuma pengen buang duit! Gua pengen miskin! Sumpah, kalau gua tahu beli mobil di sini malah bikin gua makin kaya, mending tadi gua tidur aja di bedeng proyek!"
Valerie tertawa sinis, suara tawanya terdengar sangat renyah namun dingin. Di matanya, ucapan Riyan yang mengaku "ingin miskin" adalah bentuk ejekan paling sarkastik dan arogan yang pernah dia dengar dari seorang pria.
Pria ini baru saja menghanguskan satu triliun lebih uang tunai dalam sepuluh menit, dan sekarang dia berlagak seolah dirinya adalah korban?
"Bagus. Akting yang sangat memukau!" Valerie melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Riyan dengan pandangan penuh dendam korporat.
"Lu pikir gua bakal percaya sama bualan gila lu? Lu pasti udah kongkalikong sama Keluarga Zevan buat ngejatuhin Vandersen! Lu pikir dengan status lu sebagai calon menantu Zevan, lu bisa semena-mena di wilayah gua?!"
Sebelum Riyan sempat membuka mulutnya untuk membantah tuduhan konspirasi yang kesekian kalinya itu, sebuah suara ketukan sepatu hak tinggi yang tegas dan berwibawa mendadak terdengar bergaung dari arah pintu masuk showroom.
Tuk... Tuk... Tuk...
Kerumunan massa yang sedang heboh berebut sisa unit mobil langsung terdiam secara instan, membelah diri menjadi dua jalur secara rapi. Dari tengah kerumunan, muncul sosok Kezia Zevan.
Siang itu, dia mengenakan setelan blazer kerja berwarna putih gading yang sangat pas, memancarkan aura seorang CEO wanita yang anggun namun sangat berkuasa. Di belakangnya, empat pengawal berjas hitam bertubuh raksasa mengawal langkahnya dengan pandangan mengintimidasi.
Kezia berjalan dengan tenang, senyum tipis yang misterius terukir di bibirnya. Dia langsung melangkah ke samping Riyan, lalu menatap Valerie Vandersen dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Wah, wah... lihat siapa yang sedang kehilangan kendali emosinya di sini," ucap Kezia, suaranya terdengar selembut sutra namun setajam belati.
"Valerie Vandersen. Sungguh pemandangan yang langka melihat Nona Besar Vandersen berteriak seperti emak-emak kehabisan gas elpiji di malnya sendiri."
Wajah Valerie langsung memerah padam mendengar ejekan tersebut.
"Kezia Zevan! Jadi bener dugaan gua! Bajingan baju kuli ini emang anjing peliharaan keluarga lu yang sengaja dilepas buat ngerusak bisnis otomotif gua?!"
Mendengar kata "anjing peliharaan", sepasang mata Kezia langsung menyipit tajam. Aura dingin di sekelilingnya mendadak melonjak hebat.
"Jaga mulutmu, Valerie. Pria di sebelahku ini bukan peliharaan siapa pun. Riyan Sadewa adalah tunanganku secara resmi, dan dia adalah seorang jenius finansial merdeka yang langkah bisnisnya bahkan tidak bisa ditebak oleh dewan direksi Zevan Group."
Kezia kemudian menoleh ke arah Riyan. Kilatan rasa kagum, takjub, dan sedikit gairah kepemilikan muncul di matanya.
"Riyan... manuvermu siang ini benar-benar membuat ayahku di Lembang langsung berdiri dari kursi kerjanya."
"Membakar satu triliun rupiah milikmu sendiri hanya untuk meruntuhkan valuasi saham Vandersen sebesar empat puluh persen dalam hitungan menit? Sungguh strategi predatory pricing yang sangat berani dan tanpa ampun."
"Aku datang ke sini untuk memastikan keselamatanmu dari... ancaman orang-orang kalah."
Riyan langsung memegang dadanya yang mendadak terasa sesak kembali. Dia menatap Kezia dengan pandangan mata yang benar-benar ingin mati saat itu juga.
'Ya Tuhan... tolong tenggelamkan gua ke dalam adukan semen tiga roda sekarang juga! jerit Riyan dalam hati dengan sangat merana.
'Si Kezia ngapain sih dateng-dateng malah nambah-nambahin bumbu gosip?! Siapa yang tunangan?! Siapa yang predator bisnis?! Gua cuma kuli bangunan yang lagi pusing karena dadanya mau meledak kena denda Sistem, woi!
"Nona Kezia... lu juga jangan ikut ngaco napa," bisik Riyan setengah merengek di samping telinga Kezia.
"Gua gak lagi nyerang bisnis si pirang ini. Gua beneran gak tahu kalau efeknya bakal kayak begini. Tolong bawa gua keluar dari mal ini, dada gua udah mulai sesak banget nih."
Kezia mengira rasa sesak di dada Riyan adalah akibat kelelahan mental setelah memikirkan rumus logaritma bursa saham yang rumit untuk menjatuhkan Vandersen. Dia langsung mengangguk paham dengan raut wajah yang mendadak protektif.
"Tenang saja, Riyan. Serahkan sisanya kepadaku," kata Kezia lembut. Dia kembali menatap Valerie dengan senyum kemenangan mutlak.
"Valerie, saham keluargamu sedang terjun bebas di bursa efek. Daripada kamu sibuk memaki tunanganku yang jelas-jelas berada di level yang jauh lebih tinggi darimu, lebih baik kamu segera pergi ke ruang rapat daruratmu. Permisi."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Valerie untuk membalas, Kezia langsung meraih lengan Riyan dengan erat. Sentuhan tangan Kezia yang halus dan hangat terasa sangat kontras dengan aura dinginnya, membuat Riyan agak tertegun selama satu detik.
Empat pengawal Zevan langsung membuat barisan tameng manusia, membuka jalan bagi Kezia dan Riyan untuk keluar dari Vandersen Auto Gallery yang masih dikepung lautan manusia.
Valerie Vandersen hanya bisa berdiri mematung di tengah showroom-nya yang hancur, menatap punggung Riyan dan Kezia yang menjauh dengan deru napas yang memburu penuh dendam.
"Riyan Sadewa... Kezia Zevan... gua gak bakal lepasin kalian berdua! Gua bakal bikin kalian bayar mahal buat penghinaan hari ini!" teriak Valerie histeris, yang suaranya langsung tenggelam oleh bunyi klakson Ferrari abang ojek yang sedang menjajal setir.
Sementara itu, Kezia menuntun Riyan masuk ke dalam mobil limosin mewah milik Keluarga Zevan yang sudah bersiap di pintu keluar khusus VIP.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan pendingin ruangan yang sejuk mulai terasa, Riyan langsung menyandarkan kepalanya ke jok kulit beludru dengan tubuh yang lemas tak bertulang.
Di sudut matanya, jam digital Sistem kembali berdenting kecil, memproses akhir dari babak kekacauan mal tersebut.
[Denting Sistem! Misi Utama Sektor Vandersen: Dinyatakan Selesai dengan Efek Samping Berkelanjutan!]
[Analisis Logika: Meskipun Inang mendapatkan suntikan dana 2 Triliun dari bursa saham, pengeluaran awal sebesar 1,2 Triliun dinilai sukses merusak ekosistem bisnis Vandersen secara permanen.]
[Misi Babak 3 Diaktifkan secara Otomatis: Hubungan Inang dengan Keluarga Zevan kini berada di fase krusial. Target (Kezia Zevan) sedang mencoba mengikat Anda ke dalam aliansi korporat resmi lewat proposal kerja sama.]
[Tugas Inang: Gagalkan proposal kerja sama tersebut dengan cara yang paling merugikan finansial secara mutlak dalam waktu 12 jam! Jika terjadi kesepakatan bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak, denda Sistem berupa Penghancuran Seluruh Jaringan Saraf Tubuh akan langsung dieksekusi!]
Riyan langsung menegakkan duduknya dengan mata melotot.
Rasa nyut-nyutan di dadanya mereda, tapi sekarang kepalanya terasa seperti sedang dihantam oleh palu gada seberat sepuluh kilogram.
Dia menoleh ke arah samping. Kezia Zevan sedang duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya yang jenjang sambil membuka sebuah dokumen tebal bersampul kulit hitam dari dalam tas kerjanya. Dokumen itu diletakkan di atas meja kecil di antara mereka.
"Riyan," Kezia membuka suara, sepasang mata elangnya menatap Riyan dengan keseriusan penuh.
"Aksi hebatmu di mal Vandersen tadi telah membuktikan bahwa kapasitas finansial dan strategimu berada di atas rata-rata konglomerat dunia. Oleh karena itu, atas nama Zevan Group, aku ingin menawarkan sebuah proposal kerja sama resmi."
"Kami ingin mendanai proyek pengembangan kawasan terpadu di atas lahan Tol Trans-Jawa yang kamu beli kemarin. Ini adalah draf kontrak kerja sama dengan proyeksi keuntungan bersih sebesar... lima triliun rupiah untukmu dalam tiga tahun ke depan."
Kezia menyodorkan sebuah pulpen berlapis emas ke tangan Riyan, menatapnya dengan pandangan penuh harap akan sebuah aliansi bisnis terbesar abad ini.
Riyan menatap pulpen emas di tangannya, lalu beralih menatap draf kontrak bernilai triliunan itu dengan pandangan ngeri bak melihat surat panggilan dari alam kubur.
'Proyeksi keuntungan lima triliun?! Kalau dia tanda tangan, Sistem akan langsung menghancurkan seluruh jaringan saraf tubuhnya sampai dia berubah jadi rempeyek!
Riyan menarik napas dalam-dalam. Otak kulinya yang sudah terpojok di ujung jurang kematian mendadak bekerja dengan kecepatan penuh secara radikal. Dia harus menolak, tapi dengan cara yang paling konyol dan merugikan agar proposal ini batal secara permanen tanpa merusak status perjodohannya yang menopang nyawanya saat ini.
Riyan meletakkan kembali pulpen emas itu ke atas meja dengan bantingan pelan. Dia menatap Kezia dengan senyum gila khasnya yang mulai terbentuk.
"Nona Kezia," kata Riyan dengan nada suara yang sengaja dibuat sesombong mungkin. "Proposal kerja sama lu ini... sampah banget bagi gua."
Kezia Zevan langsung tertegun, alisnya yang tertata rapi bertaut rapat mendengar kata 'sampah' keluar dari mulut seorang kuli bangunan untuk proyek bernilai lima triliun rupiah.