NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seberkas Cahaya

Laila kembali meminta izin kepada dokter untuk menjenguk Ayahnya lebih dekat. Langkah kakinya terasa lebih berat dari kemarin, meski ini bukan pertama kalinya ia melewati lorong sunyi menuju ruang ICU. Bagi Laila, setiap kali melangkah kembali ke ruangan ini, rasanya seperti memasuki medan pertempuran yang sama, namun dengan sisa-sisa kekuatan yang kian menipis.

Setelah menyelesaikan ritual sterilisasi yang kini sudah di luar kepala, memakai baju pelindung, masker yang menekan erat wajahnya, dan membasuh tangan hingga dingin oleh alkohol, Laila berdiri di depan pintu kaca itu lagi.

Desis halus pintu otomatis yang terbuka menyambutnya bersama embusan udara dingin khas ruang perawatan intensif. Bunyi ritmis dari monitor hemodinamik langsung menyergap pendengarannya. Suara yang beberapa hari lalu sempat membuatnya panik luar biasa, kini justru menjadi satu-satunya melodi yang paling ingin ia dengar, penanda bahwa detak jantung sang Ayah masih ada.

Laila berjalan mendekati sang Ayah masih terbujur di antara labirin selang infus dan mesin ventilator. Ia menarik kursi plastik di samping tempat tidur, duduk sedekat mungkin tanpa menyentuh kabel-kabel yang terpasang. Perlahan, Laila mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Ayahnya yang terasa dingin dan tampak memar akibat jarum infus. Ia mengusapnya lembut, menyalurkan kehangatan yang ia punya.

"Pi Laila dateng lagi," bisiknya, suaranya agak tertahan oleh masker N95 yang dipakainya.

"Ayo bangun Pi, ada yang mau Laila sampaikan sama Papi, cepet bangun Pi."

Meski tidak ada jawaban, dan mata sang Ayah masih terpejam rapat di bawah pengaruh obat, Laila tahu Ayahnya bisa mendengar. Di ruangan yang serba putih dan dingin ini, di mana waktu seolah berjalan begitu lambat, Laila kembali bersiap untuk duduk berjam-jam. Menemani, menjaga, dan merajut harapan yang belum putus.

Laila menaruh kepalanya di pinggir ranjang, ditaruhnya tangan Ayahnya ke pucuk kepalanya. "Laila kangen Papi elus kepala Laila," gumam Laila.

Tanpa diduga Laila seperti merasakan pergerakan tangan Ayahnya sekilas, kebingungan dengan kejadian singkat itu, Laila kembali diam dan mencoba fokus merasakan pergerakan itu apakah nyata atau hanya perasaannya saja.

Beberapa detik kemudian ia merasakan lagi pergerakan itu, jantung Laila langsung berdegup kencang, ia mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada Ayah dan menatap lekat-lekat wajah itu.

Di bawah masker oksigen yang berembun, ia melihat kelopak mata Ayahnya yang bergetar hebat. Perlahan, dengan usaha yang tampak begitu berat, kelopak mata itu terbuka. Hanya segaris kecil pada awalnya, menampilkan netra yang masih sayu dan kebingungan akibat pengaruh koma beberapa hari. Ayahnya mencoba mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruang ICU yang putih benderang.

Laila terpaku. Dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Rasa terkejut, tidak percaya, dan haru yang membuncah hebat seketika menyergap dadanya hingga ia lupa bagaimana cara bernapas.

"Papi...?" bisik Laila, suaranya bergetar hebat di balik masker. Air mata yang sejak tadi ditahannya langsung luruh tanpa bisa dibendung lagi. "Papi bisa dengar Laila? Ini Laila, Pi..."

Mata Ayahnya bergerak lambat, mencari sumber suara, hingga akhirnya pandangan mereka bertemu. Meskipun tatapan itu masih kosong dan sangat lemah, ada binar kesadaran di sana. Ayah mengenali dirinya.

Laila hampir saja melompat dari kursinya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menekan tombol darurat di atas kepala ranjang berkali-kali untuk memanggil perawat, sementara matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Ayahnya. Mukjizat yang ia tunggu-tunggu, akhirnya terjadi di depan matanya sendiri.

Tak lama dokter dan perawat masuk ke ruangan itu, dengan sigap mereka memeriksa keadaan Ayah. Sedangkan Laila diminta untuk menunggu sebentar di luar ruangan.

Di luar ruangan Laila mengirimi pesan kepada kedua sahabatnya dan juga Devan untuk memberitahu keadaan Ayah.

Laila menautkan tangan dan mengucapkan harapannya dalam hati, sembari menutup mata. "Semoga Papi lekas pulih."

Laila yang sedang menutup mata itu dikejutkan dengan suara langkah kaki cepat dari seseorang yang sepertinya sedang berlari mengarah ke Laila. Saat membuka mata Laila melihat sosok Arjuna yang masih berpakaian dinas lengkap sedang berlari tergopoh-gopoh.

Arjuna berhenti di hadapan Laila dengan napas tak beraturan dan dada yang naik turun. "Bagaimana keadaan Om Dirga Dek?" tanyanya.

"Belum tau, masih diperiksa sama dokter di dalem," ucap Laila jutek.

"Tapi tadi udah mulai buka mata," sambung Laila.

Mendengar itu Arjuna menghela napas lega, sesekali ia menyeka keringat yang mengucur deras di dahinya.

Suara pintu ruangan ICU memecah keheningan di antara Laila dan Arjuna. Dokter yang menangani Ayah Laila keluar dan mendekati keduanya.

"Mas ini yang bernama Arjuna bukan?" tanya dokter itu.

"Betul dokter," jawab Arjuna.

"Bisa saya berbicara sebentar di ruangan," ajak dokter itu mengarahkan tangannya agar Arjuna mengikutinya.

Laila yang kebingungan menghentikan langkah dokter. "Loh dok, saya yang anak pasien di ruangan ini. Kenapa malah dia yang diajak berbicara tentang Ayah saya?" tanya Laila.

"Ohh Mbak ini anak Pak Dirga ya, baik Mbak juga boleh ikut ke ruangan saya sebentar." Tanpa memperpanjang omongan, dokter juga ma ngajak Laila sekalian ke ruangannya.

Sesampainya di ruangan Laila dan Arjuna dipersilahkan duduk.

"Mas dan Mbak ini suami istri ya?" tanya dokter tiba-tiba.

"Bukan!" ujar Laila.

"Belum," jawab Arjuna.

Laila dan Arjuna kompak menjawab namun dengan jawaban yang berbeda. Dokter yang mendengar pun kebingungan dengan tingkah mereka.

"Dia ini calon istri saya dok," lanjut Arjuna.

"Ohhh begitu." Dokter mengangguk paham.

Laila tidak bisa menyangkal jawaban Arjuna yang satu itu, dia memanglah calon istri Arjuna.

Dokter perlahan melepas kacamata bacanya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. Di hadapannya, Laila dan Arjuna duduk dengan tegang. Ruang konsultasi dokter spesialis jantung seketika terasa begitu sunyi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan.

Setelah memeriksa lembar hasil ekokardiografi dan grafik EKG terbaru, Dokter menatap mereka dengan tatapan yang meneduhkan namun tetap tegas.

"Alhamdulillah, masa kritis Pak Dirga di ICU sudah lewat, dan besok Bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa," buka dokter dengan senyum tipis, membuat pundak Laila yang tadinya tegang seketika merosot lega.

"Tapi," lanjut dokter, nadanya berubah serius.

"setelah pulang dari rumah sakit nanti, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Kondisi jantung Bapak tidak lagi sama seperti dulu. Ada beberapa hal krusial yang wajib dijaga ketat oleh keluarga agar serangan serupa tidak terulang."

Dokter kemudian mengambil selembar kertas, lalu menuliskan beberapa poin penting sambil menjelaskannya satu per satu pada Laila dan Arjuna, mulai dari manajemen konsumsi obat hingga bagaimana keluarga harus ikut andil dalam menjaga stres dan emosi pasien.

"Jantung sangat sensitif terhadap stres. Tolong jaga suasana rumah agar tetap tenang. Jangan biarkan Bapak memikirkan hal-hal yang berat atau mendapat kabar yang mengejutkan secara mendadak. Emosi yang melonjak bisa memicu penyempitan pembuluh darah."

Dokter menyodorkan kertas catatan tersebut kepada Laila. Ia menatap Laila dalam-dalam, menyalurkan kekuatan lewat pandangannya.

"Saya tahu ini tidak akan mudah untuk keluarga. Perlu kesabaran ekstra untuk mengingatkan dan menjaga Bapak. Tapi percaya sama saya, kedisiplinan Anda di rumah adalah obat terbaik untuk jantung Ayah Anda saat ini."

Laila menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit bergetar, namun matanya memancarkan tekad yang kuat. "Baik, Dok. Kami akan jaga Papi seketat mungkin."

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!