Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tweed Membosankan
Hari itu, Oxford terasa sedikit lebih bersahabat meski kesunyian menyelimuti Gaby. Tidak ada konfrontasi, tidak ada sindiran tajam, dan tidak ada drama yang memicu adrenalin. Melvin tampaknya memiliki intuisi yang tajam. Pria itu menjaga jarak profesional yang sempurna. Sepanjang sesi asistensi, ia hanya memberikan instruksi umum dari depan kelas atau berbicara dengan kelompok lain, seolah memberikan ruang bernapas yang sangat dibutuhkan Gaby untuk memulihkan ketenangannya.
Gaby duduk di pojok perpustakaan fakultas yang tenang, dikelilingi oleh aroma buku tua dan kayu ek. Emilia dan Sabrina sesekali menemaninya, namun mereka lebih banyak diam, membiarkan Gaby tenggelam dalam sketsa digitalnya. Tanpa gangguan ponsel, kecuali beban rahasia di saku blazer-nya. Gaby justru menemukan fokus yang luar biasa. Jemarinya menari di atas layar, menuangkan rasa terkungkungnya ke dalam desain "Sanctuary" yang diminta Melvin.
Namun, kedamaian ini terasa semu. Di setiap sudut matanya, Gaby masih bisa melihat bayangan pengawal Emrys yang berdiri mematung di dekat rak buku sejarah. Mereka tidak mendekat, tidak bicara, namun keberadaan mereka adalah pengingat konstan bahwa ia masih dalam pengawasan.
Sore hari tiba dengan semburat warna lavender di langit Oxford. Gaby membereskan barang-barangnya, merasakan berat ponsel pemberian Sabrina di sakunya. Ia belum berani menyalakannya.
Saat melangkah keluar menuju gerbang tempat penjemputan, ia melihat SUV hitam itu sudah menunggu. Emrys tidak turun, namun kaca jendela belakang yang gelap perlahan turun sedikit, menunjukkan sorot mata yang dingin namun intens memantau setiap langkah Gaby mendekati mobil.
"Bagaimana harimu?" tanya Emrys datar saat Gaby sudah duduk di sampingnya. Kalimat itu lebih terdengar seperti interogasi daripada perhatian seorang kakak.
Gaby menatap lurus ke depan, mencoba mengatur detak jantungnya agar tidak terlihat mencurigakan. "Damai. Tidak ada yang terjadi," jawabnya singkat.
Emrys hanya bergumam rendah, kembali sibuk dengan urusan bisnis di tabletnya. Mobil pun melaju membelah jalanan menuju London, meninggalkan kampus yang tenang namun membawa Gaby kembali ke dalam sangkar emas yang menunggunya di penthouse.
.
.
.
Malam semakin larut di penthouse mewah itu. Setelah sesi makan malam yang sunyi dan penuh tekanan bersama Emrys, seorang pelayan mengantarkan Gaby kembali ke kamarnya dengan sikap formal yang membeku. Gaby bisa mendengar bunyi klik elektronik yang halus saat pintu kamarnya terkunci secara otomatis dari luar.
Di sudut ruangan, lampu indikator merah pada CCTV kecil di langit-langit berkedip pelan, mengingatkan Gaby bahwa setiap gerakannya sedang dipantau oleh mata-mata elektronik kakaknya. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia melangkah menuju kamar mandi. Satu-satunya sudut privasi yang tersisa, tempat di mana Emrys masih menyisakan sedikit martabat dengan tidak memasang kamera pengawas.
Gaby segera mengunci pintu toilet dan menyalakan keran air wastafel hingga alirannya menderu, menciptakan barikade suara untuk menyamarkan bunyi apa pun. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku blazer-nya dan mengeluarkan ponsel lipat pemberian Sabrina.
Cahaya kecil dari layar ponsel itu menerangi wajah pucat Gaby di tengah keremangan. Jemarinya dengan cepat mengetik pesan singkat, napasnya tertahan setiap kali ia mendengar suara langkah kaki pelayan di koridor luar.
"Sab, ini aku. Aku aman di kamar, tapi ponselku masih disita. Besok tolong bawakan aku beberapa referensi cetak untuk proyek Melvin, aku tidak bisa riset online lewat iPad yang dipantau Emrys. Terima kasih sudah membantuku."
Setelah menekan tombol kirim, Gaby segera mematikan ponsel itu dan menyembunyikannya di balik tumpukan handuk bersih di lemari kecil kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak kecemasan yang terpancar di matanya.
Di luar sana, di ruang kerja pribadinya, Emrys mungkin sedang sibuk dengan angka-angka saham dan ekspansi Kaito Group.
.
.
.
Satu Bulan Berlalu
Waktu berlalu seperti helaian kain yang ditarik perlahan. Satu bulan telah terlewati dalam ritme yang ganjil di penthouse London itu. Ketegangan yang awalnya mencekik, kini mulai mencair menjadi sebuah normalitas baru yang rapuh.
Perubahan itu terjadi secara bertahap. Pintu kamar Gaby tidak lagi mengeluarkan bunyi klik elektronik yang mengintimidasi setiap malam. Emrys seolah mulai memberikan kembali "oksigen" bagi adiknya. Gaby kini diizinkan memilih pakaiannya sendiri dari walk-in closet. Kembali ke gaya yang lebih ekspresif, meski ia tetap menjaga batasan agar tidak terlalu memancing amarah kakaknya. Namun, satu hal tetap tidak berubah. Ponsel pribadinya masih berada di bawah kekuasaan Emrys, dan pengawal bersetelan gelap itu masih ada, meski kini mereka lebih sering terlihat seperti bayangan jauh di ujung koridor kampus.
Di Oxford, suasana pun mendingin. Melvin, dengan kecerdasannya yang provokatif, sesekali bersinggungan dengan Gaby di lorong fakultas atau saat asistensi proyek. Emrys, yang biasanya akan langsung bereaksi keras, kini justru tampak acuh tak acuh. Tidak ada interogasi tajam di dalam mobil, tidak ada tatapan mengancam. Seolah-olah Emrys sedang menguji sejauh mana Gaby bisa menjaga kepercayaannya setelah sebulan "dididik" dalam sangkar.
Sore itu, Gaby sedang membereskan buku-bukunya di studio desain saat ia menyadari bahwa pengawalnya hari ini menjaga jarak lebih jauh dari biasanya. Mereka berdiri di luar gerbang gedung, memberikan Gaby ruang privasi yang hampir tidak pernah ia rasakan selama sebulan terakhir.
Tiba-tiba, langkah sepatu yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Bukan langkah tegap para pengawal, melainkan langkah santai yang penuh ritme.
"Your sanctuary seems to be expanding, Gaby," suara Melvin memecah kesunyian studio. Ia berdiri di dekat meja Gaby, melipat tangan di depan dada sambil menatap sketsa digital yang hampir selesai. "The dragon is sleeping, or is he just giving you enough rope to see if you’ll hang yourself?"
Gaby mendongak, matanya melirik ke arah pintu keluar, memastikan tidak ada mata-mata yang menguping. "Dia hanya mulai mempercayaiku, Melvin. Kumohon, jangan hancurkan ketenangan ini."
Melvin tersenyum miring, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rencana. "Trust is a dangerous luxury in our world. Tapi aku punya sesuatu yang mungkin bisa membuat ketenanganmu sedikit lebih berwarna."
Melvin meletakkan sebuah undangan fisik berwarna hitam elegan dengan stempel lilin perak di atas meja Gaby. "An exclusive gallery opening. Friday night. No cameras, no press, just pure art. Aku akan ada di sana. Dan aku rasa, ini saatnya kau menunjukkan pada dunia..dan pada kakakmu itu bahwa kau bukan lagi sekadar pajangan di rak bukunya."
Gaby menatap undangan itu dengan jantung berdebar. Di satu sisi, ia merindukan kebebasannya. Di sisi lain, ia tahu bahwa satu langkah salah akan membuat Emrys kembali mengunci pintu kamarnya untuk selamanya.
.
.
.
Mobil Bentley hitam itu membelah jalanan Oxford yang mulai meremang. Gaby meremas ujung roknya, merasakan tekstur kain yang halus di bawah jemarinya yang dingin. Di sampingnya, Emrys sedang meninjau dokumen di tablet, profil wajahnya yang tegas tampak seperti patung pahatan dalam cahaya sore yang keemasan.
Gaby menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian yang selama sebulan ini ia timbun di balik kepatuhannya.
"Kak... ada pembukaan galeri eksklusif Jumat malam ini," suara Gaby terdengar sedikit bergetar. "Aku... aku ingin datang ke sana. Tanpa pengawal yang berdiri di belakang punggungku."
Ia menunggu ledakan amarah, atau setidaknya penolakan dingin yang biasa ia terima. Namun, Emrys tetap diam selama beberapa detik, hanya jemarinya yang bergerak menggeser layar tablet.
"Lakukan sesukamu," jawab Emrys tanpa menoleh. Suaranya datar, namun ada nada finalitas di sana.
Mata Gaby membelalak. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Benarkah? Aku bisa pergi?"
"Tapi aku akan menemanimu," lanjut Emrys. Ia mematikan tabletnya dan akhirnya menoleh, menatap Gaby dengan sepasang mata tajam yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya.
Gaby tertegun. "Uh... Itu artinya apa?"
Emrys menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mewah, menyilangkan kakinya dengan gestur yang sangat dominan. "Artinya, kau tidak akan pergi sebagai mahasiswi yang diawasi pengawal dari jauh. Kau akan pergi sebagai bagian dari keluarga Aetherion-Kaito. Dan aku akan berada di sana sebagai pendampingmu."
Ia mendekat sedikit, aroma expensive cologne miliknya kini memenuhi ruang di antara mereka. "Kau ingin kebebasan, bukan? Aku akan memberikannya. Kau bisa memakai pakaian apa pun yang kau buat, bicara dengan siapa pun yang kau mau termasuk Blackwood jika dia ada di sana. Tapi kau akan melakukannya dalam jangkauan lenganku."
Gaby menelan ludah. Ini bukan sekadar izin. Ini adalah sebuah jebakan baru yang jauh lebih elegan. Emrys tidak lagi mengurungnya di kamar, dia akan "mengurungnya" di depan publik dengan kehadirannya sendiri.
"Kau akan mengawasiku sepanjang acara?" tanya Gaby pelan.
"Aku akan menjagamu, Gaby," koreksi Emrys dengan suara rendah yang menggetarkan. "Ada perbedaan besar di antara keduanya. Sekarang, tunjukkan padaku apa yang akan kau pakai nanti. Aku ingin memastikan seleramu sudah kembali setelah sebulan memakai tweed yang membosankan itu."