Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Detik-Detik Terakhir Sang jantung
Gema suara ceburan Liora ke dalam sungai yang dingin masih terngiang di telinga Sora, lebih keras daripada raungan sirine polisi yang kini mengepung dermaga. Dunia seolah melambat. Hael masih bergulat dengan Bastian di tepi dermaga yang licin, sementara beberapa petugas kepolisian mulai berlari mendekat dengan senjata terhunus, meneriakkan perintah yang tidak lagi bisa dicerna oleh pendengaran Sora.
Fokus Sora hanya tertuju pada benda di tangannya. The Chronos Heart.
Jam saku emas putih itu terasa panas, suhunya meningkat drastis hingga menembus sarung tangan kulit tipis yang ia kenakan. Safir biru yang melingkar di sekelilingnya kini berpendar dengan cahaya neon yang tidak stabil. Suara detaknya bukan lagi tik-tok yang elegan, melainkan suara desis logam yang bergesekan dengan kecepatan tinggi.
"Sora! Jatuhkan jam itu!" teriak Hael setelah berhasil melumpuhkan Bastian dengan satu hantaman keras ke rahang pria itu. Hael menyadari bahaya yang mengintai. "Energi kinetiknya tidak stabil, baterai nuklirnya akan bocor!"
Sora menggeleng kuat. Matanya terbelalak melihat jarum jam yang berputar liar berlawanan arah jarum jam. "Jika aku menjatuhkannya, benturan itu akan memicu ledakan termal kecil, Hael! Seluruh dermaga ini akan terkena radiasinya!"
Sora berlutut di atas kayu dermaga yang basah, mengabaikan teriakan polisi yang menyuruhnya angkat tangan. Ia meletakkan jam itu di atas kain mantelnya yang tebal. Jemarinya yang gemetar merogoh saku, mencari obeng presisi terkecil yang selalu ia bawa sebagai jimat keberuntungan.
"Detak terakhir... ini bukan tentang pencurian," gumam Sora dengan napas tersengal. "Bastian... dia sengaja menyabotase poros penyeimbangnya agar jam ini menjadi bom waktu."
Ia harus masuk ke pusat mekanismenya dalam hitungan detik. Dengan presisi seorang ahli bedah, Sora menusukkan ujung obeng ke celah mikroskopis di samping pengunci safir. Tangannya berkeringat, membuat alat logam itu licin.
"Satu milimeter lagi..." bisiknya.
Krak.
Casing belakang jam itu terbuka, mengeluarkan uap tipis beraroma ozon. Di dalamnya, sebuah inti kristal berputar dengan kecepatan ribuan RPM. Sora melihat sebuah serat optik kecil yang terjepit di antara roda gigi utama—sebuah sabotase yang kasar namun mematikan.
"Detektif Januar, hentikan anak buahmu! Jangan mendekat!" Hael berteriak pada polisi yang mulai mengepung mereka. "Wanita ini sedang menjinakkan bom, bukan mencuri perhiasan!"
Sora memejamkan mata sejenak, mencoba menyelaraskan detak jantungnya sendiri dengan frekuensi jam yang kacau itu. Ia teringat pelajaran kakeknya: Jam bukan sekadar mesin, ia adalah napas yang terperangkap dalam logam. Dengarkan ia bicara.
Sora merasakan getaran jam itu di ujung jarinya. Ia menarik serat optik yang terjepit itu dengan gerakan satu hentakan yang sangat halus.
Zing!
Putaran inti kristal itu melambat seketika. Cahaya biru neon yang menyilaukan meredup menjadi pendar safir yang tenang. Jarum jam yang tadinya berputar liar, kini berhenti tepat di angka dua belas, sebelum akhirnya kembali berdetak dengan ritme yang agung.
Tik... tok... tik... tok...
Keheningan yang mencekam menyelimuti dermaga. Sora jatuh terduduk, napasnya keluar dalam helaan panjang yang penuh kelegaan. Jam itu kini terasa dingin di tangannya. Ia telah menyelamatkannya. Ia telah menyelamatkan "jantung" keluarga Vance, namun ia merasa hatinya sendiri justru semakin kosong.
Detektif Januar mendekat, wajahnya penuh kekaguman sekaligus kewaspadaan. "Nona Kalani, Anda baru saja melakukan sesuatu yang gila."
Hael berjalan mendekati Sora, membantu wanita itu berdiri. Ia tidak peduli pada polisi atau Bastian yang kini sedang diborgol. Ia hanya menatap Sora dengan tatapan yang sangat dalam. "Kamu tidak apa-apa?"
Sora mengangguk lemah, namun matanya menatap ke arah sungai yang gelap. "Liora... dia benar-benar pergi, Hael."
Tepat pada saat itu, sebuah mobil mewah meluncur cepat masuk ke area dermaga. Ezra Vance keluar dari mobil dengan wajah yang hancur. Ia berlari melewati barikade polisi, matanya langsung tertuju pada jam di tangan Sora.
"Sora! Kamu menemukannya? Kamu menyelamatkan The Chronos Heart?" Ezra mencoba meraih jam itu, namun Sora menarik tangannya mundur.
Sora menatap Ezra dengan dingin. Tidak ada lagi sisa-sisa cinta atau kekaguman di matanya. Hanya ada rasa muak yang mendalam. "Ini jammu, Ezra. Simbol cinta yang ingin kamu kalungkan di leher wanita yang justru lebih memilih melompat ke sungai daripada hidup bersamamu."
Sora meletakkan jam itu di telapak tangan Ezra yang terbuka. Logam dingin itu berpindah tangan untuk terakhir kalinya.
"Liora... di mana dia?" tanya Ezra gagap, baru menyadari ketidakhadiran tunangannya.
"Dia sudah bebas, Ezra," ucap Sora tajam. "Dia melepaskan dirinya dari rantai ini. Dan sekarang, giliranku."
Sora berbalik, membelakangi Ezra yang terpaku memegang jam mahalnya di bawah lampu dermaga yang berkedip. Ia berjalan menuju Hael, yang sudah menunggu dengan pintu jip yang terbuka.
"Ayo pergi dari sini, Hael," bisik Sora. "Waktuku bersama mereka sudah benar-benar habis. Tidak ada lagi satu detik pun yang tersisa."
Hael mengangguk, ia menatap Ezra dengan pandangan menghina sebelum menutup pintu mobil. Saat mereka melaju meninggalkan dermaga, Sora tidak menoleh ke belakang. Di depannya, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membawa cahaya baru bagi nakhoda yang akhirnya menemukan jalannya sendiri.