NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: HADIAH DARI AYAH

Sarapan pagi ini terasa seperti pemakaman.

Ini hari kedua sejak skandal itu meledak. Tapi rasanya seperti sudah berminggu-minggu Ardi hidup dalam keadaan melayang, tidak menyentuh tanah.

Dia duduk di kursi sebelah kanan ujung meja. Tempat yang sama setiap hari. Tapi pagi ini tubuhnya terasa asing di kursi itu. Seperti pakaian yang dulu pas, kini sesak di bahu.

Dua puluh empat jam sejak artikel itu muncul. Sejak dewan komisaris mengirim surat resmi yang memintanya mengundurkan diri. Sejak Sari mengirim pesan terakhir: "Selamat menikmati apa yang kau tabur."

Delapan belas jam sejak Maya mengatakan dia tidak yakin apa yang dirasakannya adalah cinta.

Masih ada bagian dari Ardi yang berharap ini semua mimpi. Bahwa jika dia memejamkan mata cukup lama, akan terbangun di hari biasa, dengan Maya yang tersenyum di meja makan dan Bram yang sibuk dengan koran.

Tapi matanya terbuka. Meja makan ini nyata. Dan Maya belum turun.

Malam tadi Ardi tidak tidur. Dia hanya berbaring di kamar tamu—kamar yang sama sejak dua malam lalu—menatap langit-langit, mendengar rumah berderit, detak jantungnya sendiri yang terlalu keras di telinga.

Sekitar pukul tiga pagi, langkah kaki di lorong.

Langkah Maya. Sengaja dibuat pelan, seperti mencoba menghilang. Langkah yang berhenti tepat di depan pintu kamar tamunya. Berhenti di sana. Lama.

Ardi menahan napas. Jari-jarinya menggenggam selimut. Dorongan untuk membuka pintu. Bertanya, Apa yang sebenarnya terjadi dengan kita?

Tapi dia tidak bergerak.

Setelah beberapa menit—atau mungkin satu jam—langkah itu menjauh. Kembali ke kamar Maya. Pintu tertutup pelan.

Sekarang piring di depannya nyaris kosong, hanya nasi yang dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain. Kopi hitam di cangkir sudah dingin sejak setengah jam lalu. Dia belum menyentuhnya. Jari-jarinya menggenggam cangkir itu tanpa sadar, membiarkan dingin merambat ke telapak tangan.

Bu Lastri mondar-mandir dari dapur. Matanya berkali-kali melirik Ardi.

Mungkin semua orang di rumah ini tahu.

Maya belum turun. Kursi di sebelah kiri Ardi kosong.

Suara langkah kaki di tangga. Bukan Maya. Bram.

Ayahnya turun dengan langkah lebih lambat dari biasanya. Tangan kanan memegang pagar, kiri menggenggam map cokelat tipis. Wajah pucat, kantung mata menggantung. Dokter bilang serangan jantung ringan dua minggu lalu, tapi Bram tetap memaksakan diri bekerja. Perusahaan tidak bisa berhenti hanya karena aku sakit.

Dan sekarang perusahaan itu berdarah-darah karena skandal yang dimulai dari anaknya sendiri.

Ardi menunduk. Jari-jarinya memutar cangkir kopi, menciptakan lingkaran basah di atas meja kayu jati.

Bram duduk di kursi kepala. Tidak menyapa. Tidak menatap Ardi. Dia membuka map cokelat itu, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di samping piring. Tangannya berhenti di atas dokumen itu. Untuk sesaat tampak seperti akan menghancurkannya. Tapi tidak. Hanya menarik napas panjang.

Hening. Suara sendok Bu Lastri dari dapur terdengar terlalu keras.

"Apa Bapak sudah sarapan?" Ardi bertanya. Suaranya serak.

Bram tidak menjawab. Dia meraih teko teh, menuang sendiri. Tangannya sedikit gemetar. Teh tumpah ke piring, membentuk genangan kecil.

Bu Lastri muncul dengan handuk, membersihkannya tanpa berkata.

Ardi membuka mulut untuk mengatakan sesuatu—Maaf, atau Aku akan mundur—tapi semua kata terasa palsu. Sebenarnya dia ingin berteriak. Ini tidak adil. Aku bukan satu-satunya yang salah. Bapak juga.

Tapi dia tahu itu hanya alasan.

Karena dia tahu dari awal. Setiap kali tangannya menyentuh Maya, setiap kali bibirnya bertemu bibir Maya, dia tahu sedang mempertaruhkan segalanya.

Dan dia tetap melakukannya.

Bukan karena tidak bisa berhenti. Tapi karena tidak ingin berhenti.

Itu pilihan. Disadari. Berulang.

Langkah kaki di tangga. Lebih ringan, lebih pelan. Maya.

Ardi menegakkan punggung. Dadanya berdegup lebih cepat. Pengakuan Maya tadi malam: "Aku tidak yakin apakah yang kurasakan adalah cinta, atau hanya takut sendirian."

Kata-kata itu masih menusuk. Apakah yang dia rasakan juga cinta? Atau hanya takut kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa tidak sendirian?

Maya masuk. Rambut diikat sederhana, wajah tanpa riasan. Blus putih lengan panjang, rok kain cokelat—terlalu sopan untuk seorang istri yang sarapan dengan suami dan anak tiri.

Matanya beralih ke Ardi sebentar. Hanya sebentar. Lalu ke Bram. Dia mengambil kursi di sebelah kiri Ardi.

Tidak ada "selamat pagi". Tidak ada senyum.

Dia duduk, merapikan rok, lalu diam. Tapi sebelum benar-benar diam, bibirnya bergerak seperti akan mengatakan sesuatu. Lalu tidak jadi.

Tiga orang di meja makan. Keluarga yang sah. Tapi tidak satu pun tahu harus mulai dari mana.

Bram akhirnya bicara. Suaranya berat. Ada jeda sebelum dia mulai, jeda yang cukup lama untuk membuat Ardi menyadari bahwa ayahnya juga tidak sekuat yang dia tampilkan.

"Aku tidak akan menanyakan apakah berita itu benar atau tidak."

Ardi menegang. Jari-jarinya berhenti memutar cangkir.

"Karena aku sudah tahu." Mata Bram masih tertuju pada dokumen di depannya. Tangannya menggenggam map itu erat, buku-buku jarinya memutih. "Dewan komisaris mengirimkan salinan bukti-bukti yang mereka terima. Foto. Rekaman. Semua."

Maya tidak bergerak. Tangannya di pangkuan, tenang. Tapi ujung jarinya memutih, menggenggam rok.

"Bapak..." Ardi mulai. Ada dorongan untuk menyangkal. Tapi kata-kata itu mati di tenggorokan. Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan.

"Aku belum selesai." Bram mengangkat tangan. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. "Aku sudah bicara dengan dewan komisaris tadi malam. Mereka ingin kau mundur. Aku setuju."

Ardi sudah tahu. Tapi mendengar langsung dari Bram—ayahnya—membuat semuanya final.

Semua terasa seperti mimpi yang salah. Ardi ingin membanting meja, bertanya mengapa Bram tidak pernah ada. Tapi yang keluar hanya suara datar:

"Aku akan menandatangani surat pengunduran diri hari ini."

Bram mengangguk. "Itu yang terbaik."

Hening. Jam dinding di ruang keluarga terdengar jelas.

Bu Lastri muncul dengan teh hangat untuk Maya. Meletakkannya di depan wanita itu, lalu pergi.

Maya mengambil cangkir tehnya. Menghirup pelan. Tangannya tidak gemetar.

Tapi ketika dia menurunkan cangkir, jari-jarinya bergerak cepat, seperti mencari pegangan. Ardi melihatnya. Hanya sesaat. Lalu wajah itu kembali tenang.

Bram menutup map cokelat itu. Tangannya yang gemetar tadi kini lebih stabil. Tapi napasnya masih tersengal.

"Ada satu hal lagi." Suaranya berbeda. Lebih ringan. "Aku punya hadiah untuk kalian berdua."

Ardi mengerutkan kening. Maya menurunkan cangkir tehnya.

Bram mengeluarkan kunci dari saku jas. Dua gantungan kunci. Satu perak, satu hitam. Dia meletakkannya di atas meja, tepat di antara piring Ardi dan Maya.

"Mobil baru. Mercedes terbaru. Aku sudah pesan dari minggu lalu, sebelum... semua ini."

Ardi menatap kunci itu. Perak dan hitam. Mengilap di bawah lampu gantung.

Perutnya mual. Jari-jarinya yang memegang cangkir kopi mulai gemetar. Dia meletakkan cangkir itu.

Hadiah dari ayah. Untuk anak dan istrinya.

Dunia terasa jungkir balik. Bagaimana Bram bisa—mengapa Bram bisa—memberi hadiah di saat seperti ini?

"Apa Bapak..." Ardi tidak bisa menyelesaikan kalimat.

Bram mengangkat alis. "Ada yang salah?"

Ardi menatap ayahnya. Mencari kemarahan. Mencari luka. Mencari sesuatu yang normal.

Tapi yang dia lihat hanya mata lelah.

Atau ini cara Bapak menunjukkan siapa yang berkuasa.

"Terima kasih, Pak."

Suara Maya memotong lamunan.

Maya sudah berdiri, tangannya mengambil kunci perak. Dia tersenyum—senyum yang Ardi kenal, senyum yang Maya pakai saat berada di ruangan bersama Bram. Tapi ada sekejap, saat jari-jarinya menyentuh kunci itu, ragu. Mengambang sesaat. Lalu menggenggam.

"Apa Bapak sudah sarapan?" tanya Maya lembut. "Aku bisa minta Bu Lastri menyiapkan bubur."

Bram menggeleng. "Tidak perlu. Aku harus ke kantor."

"Tapi dokter bilang Bapak harus istirahat—"

"Perusahaan sedang hancur karena skandal yang dibuat anakmu sendiri." Bram berdiri. Suaranya tajam di akhir. Dia memegang meja sebentar, seperti butuh sesuatu untuk menopang. "Aku tidak punya waktu untuk istirahat."

Dia mengambil map cokelat itu, berjalan ke ruang keluarga. Di ambang pintu, Bram berhenti. Tidak menoleh. Ardi melihat bahu ayahnya naik turun cepat.

"Kalian berdua, gunakan mobil itu untuk apa pun yang kalian butuhkan. Pergi. Menjauh dari rumah untuk sementara."

Kalimat itu menggantung.

Ardi menatap punggung ayahnya. Membungkuk karena usia, karena sakit, karena beban. Punggung yang dulu dia harapkan akan menoleh dan melihatnya.

Bram melangkah keluar. Pintu tertutup.

Dan Ardi dan Maya sendirian.

Ardi menatap kunci hitam di meja. Hadiah dari ayah untuk anak yang meniduri istrinya.

Maya masih berdiri. Kunci perak tergenggam di tangannya.

"Apa kau tahu?" Ardi bertanya. Suaranya parau. "Sebelumnya? Apa Bapak sudah tahu dari awal?"

Maya menatapnya. Tidak menjawab.

"Kau tahu, kan?" Ardi berdiri. Kakinya terasa lemah. Tangannya terkepal di samping tubuh. "Itu sebabnya kau tenang. Itu sebabnya kau tidak panik kemarin."

Maya menggenggam kunci itu lebih erat. Rahangnya mengeras.

"Jawab, Maya."

"Apa yang ingin kau dengar?" Suara Maya keluar. Lembut. Tapi ada nada dingin di sana. Dan di sela dingin itu, ada getaran kecil. "Bahwa aku tahu? Bahwa aku tidak tahu? Apakah itu akan mengubah apa pun?"

Tidak.

Hening.

Hening yang membuat Ardi mendengar detak jantungnya sendiri. Hening yang membuat udara terasa berat. Maya tidak bergerak. Ardi tidak bergerak.

"Aku tidak tahu." Suara Maya pelan. "Aku tidak tahu Bapak akan memberi mobil. Tapi aku tahu... Bapak tidak akan marah seperti orang normal."

"Karena?"

Maya menatap Ardi. Dan untuk pertama kalinya pagi ini, ada sesuatu yang nyata di matanya. Bukan topeng.

Tapi kelelahan. Kelelahan yang sama seperti yang Ardi lihat di mata Bram.

"Karena Bapak tidak pernah benar-benar mencintai siapa pun. Termasuk kau. Termasuk aku. Yang Bapak cintai hanya kendali."

Ardi merasakan sesuatu meledak di dadanya.

"Dan kita? Apa ini cinta? Atau hanya—"

"Takut sendirian?" Maya menyelesaikan kalimatnya. Suaranya pahit. Dan kali ini, ada nada yang retak di akhir. "Aku tidak yakin. Dan sepertinya kau juga tidak."

Ardi tidak bisa menjawab. Karena dia benar.

Selama ini dia pikir yang dia rasakan adalah cinta. Tapi mungkin itu hanya rasa takut. Takut menjadi seperti ayahnya. Takut sendirian. Takut tidak pernah dicintai.

Dan Maya datang, dan Maya hangat, dan dia mengira itu cinta.

Tapi jika itu cinta, mengapa terasa seperti luka?

Maya melangkah mendekat. Cukup dekat untuk Ardi mencium aroma sabun yang biasa dia pakai. Wangi yang dulu terasa seperti rumah. Sekarang hanya mengingatkannya pada semua yang hancur.

"Aku akan pergi," kata Maya.

"Ke mana?"

Maya tersenyum. Senyum kecil yang tidak sampai ke mata. "Bukannya kau sendiri yang bilang aku butuh udara?"

Kata-katanya sendiri, dari kemarin pagi, kembali menghantui. Aku butuh udara, Di. Aku akan kembali.

Dia kembali kemarin sore. Wajahnya lebih dingin. Tapi dia kembali.

Akankah kali ini juga kembali?

"Apa kau akan kembali?" tanya Ardi. Suaranya pecah.

Maya menatapnya lama. Matanya mencari sesuatu di wajah Ardi. Mungkin kejujuran. Mungkin keyakinan.

Dan untuk sesaat, Ardi melihat sesuatu bergerak di wajah itu. Keraguan. Rasa sakit. Tapi secepat itu menghilang.

"Aku tidak tahu."

Dia berbalik. Melangkah ke pintu. Kunci perak di tangannya bergerak maju mundur di sela jari, lebih cepat dari sebelumnya.

Ardi tidak mengejar.

Dia hanya berdiri di ruang makan yang sunyi, menatap kunci hitam di atas meja, mendengar pintu depan terbuka lalu tertutup, suara mobil menyala di halaman—mobil baru, hadiah dari ayahnya, yang membawa istrinya pergi.

Mobil itu melaju. Suaranya semakin jauh. Lalu hilang.

Ardi sendirian. Piring tidak disentuh. Kopi dingin. Kunci hitam tergeletak.

Dia mengambil ponsel. Membuka chat dengan Maya.

Pesan terakhir: stiker bunga. Dari dua hari lalu. Saat semuanya belum sehancur ini.

Ardi mengetik: "Apa ini yang kau mau?"

Jari berhenti di atas tombol kirim.

Lalu dia menghapusnya.

Mengambil kunci hitam dari meja. Merasakan dinginnya logam di telapak tangan.

Satu kunci. Hitam. Miliknya.

Satu lagi—perak—telah pergi.

Dua kunci yang sama. Dua arah yang berbeda.

Dia tidak tahu ke mana Maya pergi. Tidak tahu apakah dia akan kembali. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan, pada ayahnya, pada sisa hidup yang harus dia jalani.

Tapi untuk pertama kalinya, Ardi mempertanyakan semuanya.

Apakah ini cinta? Atau hanya ketakutan akan kesepian yang menyamar sebagai cinta?

Dan jika itu bukan cinta—lalu apa yang telah dia lakukan? Siapa yang telah dia hancurkan?

Di ruang makan yang sunyi, dengan sinar matahari pagi yang terus menyusup, Ardi Sebastian Hartono memegang kunci hitam di tangannya dan untuk pertama kalinya tidak punya jawaban.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!