Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5
Point of view Gerald
Tuhan telah menciptakan dunia ini dengan begitu indah. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memanfaatkannya dan menikmatinya dengan baik. Berbahagialah kita karena telah diberi kesempatan untuk melihat dunia yang begitu menakjubkan ini. Dunia yang penuh dengan kesenangan.
Kaya, populer, wajah tampan, itu adalah aku. Wanita cantik selalu mengelilingiku dan segala hal terbaik selalu diberikan padaku. Belajar bukanlah hal penting bagiku. Yang terpenting bagiku adalah aku menikmati hidup ini dan terus bersenang-senang.
" Senior Gerald!!"
Teriak wanita-wanita yang mengelilingiku.
Ini masih begitu pagi. Namun mereka telah mengerumuniku seperti semut. Aku berjalan bak model catwalk sambil memasang senyum terbaikku. Senior? Ya. Aku senior di sekolah menengah Y dan tahun ini aku duduk di bangku kelas 2.
"Senior! Tumben datang pagi? Ada apa?"
Tanya salah satu wanita yang mengerumuniku.
"Hm, entahlah. Aku merasa ada yang spesial saja hari ini?"
"Aaaaa!! Senior Gerald!"
Jeritan mereka terdengar semakin keras.
Sudah menjadi keseharian bagi sekolah menengah Y dengan kebisingan wanita-wanita gila ini saat orang terpopuler datang. Dan memang kebanyakan wanita di negara P ini sungguh agresif.
"Kali ini, jangan ikuti aku ya."
"Ya senior!"
Ucap mereka berbarengan. Kemudian aku berjalan meninggalkan kerumunan itu.
Yah, itulah keseharianku setiap pagi di sekolah. Tanpa perlu menebar pesona, pesonaku sudah bertebaran dimana-mana. Membuat semua gadis menyukaiku, itu hal yang mudah. Tidak ada wanita yang tidak takluk dihadapanku. Jika aku meminta mereka tidur denganku, mereka tidak akan pernah menolak. Bahkan sepertinya seumur hidupku aku tidak pernah meminta. Mereka bahkan datang sendiri untuk menawarkan diri mereka.
Aku tidak pernah serius dengan wanita-wanita disekelilingku. Aku hanya menganggap mereka mainanku. Mereka aku gunakan hanya sebagai alat untuk bersenang-senang. Semua wanita sudah tau itu. Namun tidak ada yang meninggalkanku.
Di sekolah ini, julukan pangeran diberikan kepada dua orang. Dan aku salah satunya. Aku tidak keberatan jika harus berbagi singgasana ini selama tidak menggangu kesenanganku. Lagi pula, sulit bagiku menikmati wanita sebanyak ini seorang diri bukan? Aku tidak pernah mengambil pusing atau merasa tersaingi akan hal itu. Selagi pangeran yang satu itu tidak mengusikku. Aku tidak masalah.
"Gerald!"
Seseorang memanggilku.
"Bass!"
Aku membalas sapaannya dengan melambaikan tanganku.
Bass adalah temanku. Walaupun aku seperti ini, tapi aku juga masih punya teman. Dan ada dua temanku yang lain yang belum muncul sampai sekarang.
"Kemana si gembrot?"
Tanyaku.
"Biasa, di kantin."
"Kebiasaan! Dia melewatkanku tapi tidak pernah melewatkan makanannya! Awas kalau ketemu!"
"Haha dia memang seperti itu. Karena itu, Mei selalu disampingnya untuk menahan nafsu makannya"
Si gembrot? Tidak. Dia tidak terlihat seperti yang aku katakan. Aku memanggilnya begitu karena dia sangat-sangat doyan makan. Tapi percayalah. Entah perutnya terbuat dari apa, dia tidak pernah gemuk. Biarpun makan sebanyak apapun. Mei adalah temanku dikelompok ini juga. Dia kekasih dari si Gembrot. Ah nama asli si gembrot itu...
"Juna!"
Teriakku dari kejauhan. Aku menghampiri keduanya yang tengah duduk dibangku kantin tepat didekat jendela. Itu adalah spot nongkrong kami di kantin.
"Jun. Sudah, jangan makan terus!"
"Aku lapar Mei."
"Hei kalian! Pagi-pagi sudah ada di sini? Pacaran pula!"
Ucapku.
"Kau iri? Mangkanya cari perempuan yang benar dong untuk kau pacari!"
Balas Juna judes.
"Hei-hei! Itu tidak menarik! Untuk apa punya pacar jika aku masih bisa menikmati wanita tanpa hubungan apapun kan? Haha"
Hap!
Bass menjejali mulutku dengan roti. Aku tidak tahu ternyata dia mengikutiku dari belakang.
"Diam mulut sampah!"
Ucap Bass yang ternyata mengikuti juga ke kantin.
"Haha makan tuh roti."
Mei tertawa keras. Aku mengunyah roti yang di jejali itu den menelannya dengan susah payah. Lalu Mei memberiku air minum.
"Wanita yang mampu merubahmu pasti sangatlah hebat."
Lanjut Mei kemudian.
"Haha tidak akan ada wanita yang seperti itu."
"Bagaimana kalau ada?"
Tanya Bass.
"Hm... Tidak tahu? Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Mungkin kalaupun ada pun itu hanya dalam mimpiku! Haha"
"Aku ada pertandingan Anggar, datanglah untuk menonton."
Ucap Juna dengan mulutnya yang penuh.
"Ok!"
Jawab Bass.
"Aku akan menyusul. Ada latihan taekwondo hari ini."
Balasku.
"Okay."
Kelompokku terkenal akan anggotanya yang tampan. Dan Mei adalah satu-satunya perempuan di kelompok ini. Aku kenal dirinya pun karena selalu bersama Juna. Dia adalah pengecualian. Karena Mei adalah tunangan Juna. Mereka di satukan oleh keluarga mereka sebagai pernikahan bisnis. Namun siapa sangka, kalau ternyata mereka benar-benar saling jatuh cinta. Jika aku macam-macam, mungkin aku sudah dilenyapkan Juna kan? Haha.
Aku memang suka bersenang-senang. Tapi asalkan kalian tahu, uang yang aku pakai untuk bersenang-senang adalah milikku sendiri. Bukan uang dari keluargaku. Hm... Awalnya mungkin iya, tapi modal awal sudah di gantikan dari keuntungan bisnisku. Kecintaanku pada mobil sport membuatku tergerak untuk membuka showroom mobil. Siapa sangka, yang tadinya hanya hobi menjadi bisnis sampinganku. Ya, sampingan. Karena bisnisku yang sebenarnya adalah membuat mobil sport custom untuk kalangan elit. Aku bekerja sama dengan beberapa brand mobil sport. Dan uang yang ditawarkan sangat besar. Hidup di dunia yang isinya manusia serakah itu menguntungkan juga. Apalagi mengeruk uang dari kalangan elit dengan mobil jenis ini tidaklah sulit. Bass dan Juna adalah partnerku dalam membuatnya. Aku sebenarnya bukan orang yang bodoh di sekolah. Aku hanya menganggap sekolah sebagai formalitas saja. Karena aku mandiri secara finansial, keluargaku tidak pernah memusingkan masalah apa yang aku lakukan di luar sana atau bahkan soal pelajaranku di sekolah. Yang terpenting tidak mempengaruhi reputasi keluarga. Tapi tak jarang juga mereka menegurku untuk lebih serius di sekolah. Katanya mereka juga ingin melihatku jadi sarjana. "Ah yang serius itu tidak menyenangkan bukan?" Pikirku saat itu.
Taekwondo adalah kegiatan ekstrakulikuler yang aku ikuti di sekolah. Yah, selain aku suka akan berbau mobil sport, aku pun menyukai seni bela diri. Khususnya Taekwondo. Dan Bass mengikuti ekstrakurikuler di bidang seni. Dia sudah sering menyelenggarakan pameran lukisan. Tak jarang juga mendapatkan penghargaan sebagai seniman termuda di kota P. Sedangkan Mei, dia mengikuti ekstrakurikuler para pencinta dan pembuat komik. Mei juga pernah menerbitkan komiknya sendiri di sebuah platform web komik digital. Juna selalu khawatir terhadap Mei ketika dia melewatkan deadline pengumpulan panel komik kepada editornya. Ada satu waktu ketika Juna setiap hari berdiri didepan rumahnya hanya karena Mei tidak bisa dihubungi. Padahal sudah jelas pengurus rumah mengatakan bahwa Mei sedang sibuk menyelesaikan komiknya. Dan bahkan Mei tidak membiarkan Juna masuk biarpun hanya sekedar mengantar makanan. Konsentrasi Mei selalu buyar ketika Juna ada di hadapannya. Dan Juna adalah satu-satunya pewaris grup X. Orang terkaya ke tiga di negara P. Anak tunggal kaya raya. Dia sudah mulai masuk perusahaan di usianya yang baru berusia 16 tahun. Sudah 2 tahun waktu berjalan saat dia memegang cabang kecil perusahaan grup X di kota T untuk pertama kalinya atas perintah ayahnya. Dan siapa sangka, anak bau kencur berumur 16 tahun mampu membawa kejayaan pada anak cabang perusahaan yang hampir hancur hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Aku ingat sekali, saat dia harus meeting dan melakukan hal penting itu di kursi toilet. Kelompok kami bukanlah sembarang kelompok. Kami bukanlah kelompok orang kaya yang selalu berlindung di ketiak orangtua kami. Kami lebih dari pada itu. Bahkan lebih dari yang orang lain bayangkan.