NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 5. BCS

"Albi, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu," ucap Abdi berdiri didepan ruang kerja.

“Iya, Pa," Albi mengangguk menuruti perintah papanya.

Abdi berdiri didekat jendela menatap luar, Albi berdiri tak jauh darinya dengan hati bertanya.

Abdi menarik napas dalam kemudian berbalik menatap Albi. “ Bagaimana hubunganmu dengan Dania, apakah ada perkembangan?"

Albi menggeleng malas. Abdi menghembuskan napas kasar melihat anaknya tidak bersemangat. Abdi ingin segera menikahkan Albi dengan Dania anak rekan kerjanya.

"Kalau membahas soal Dania lebih baik aku pergi," Albi hendak beranjak pergi , Abdi menahannya.

"Papa ingin kamu menentukan hari pernikahan kalian secepatnya," ucap Abdi dengan tegas.

Albi menatap papanya. ”Pa, Aku akan menikah tapi tidak dengan perempuan manja," ucap Albi kemudian meninggalkan papanya sendirian.

”Albi," panggil Abdi dengan suara keras membuat Albi berhenti namun tidak berbalik menatap papanya.

”Papa mohon sama kamu menikahlah dengan Dania, karena hanya kamu yang bisa meluluhkan hati Dania," Abdi sedikit memaksa.

Abdi tahu karakter anaknya dan hanya Albi , Dania berubah seperti sekarang. Dania menderita penyakit leukemia, dan saat ini Dania sedang membutuhkan banyak dukungan dari orang terdekat untuk kesembuhannya.

”Kalau Papa tetap memaksaku menikahi Dania, aku akan pergi. Pa, menikah itu bukan soal paksaan atau karena hal tertentu, aku tidak mau menikah dengan terpaksa. Aku harap Papa paham," Albi keluar dari ruangan.

Albi tahu masalah pernikahan kedua orang tuanya. Ia tidak mau menikah seperti kedua orang tuanya meskipun beda persepsinya. Albi ingin menikah dengan pilihannya.

Albi keluar rumah dengan mengendarai motornya menuju tempat pertemuan dengan teman-temannya.

Sementara Abdi merasa tersindir dengan perkataan anaknya. Khasanah masuk ke ruang kerja sambil membawa minuman, melihat abdi sedang memijat pelipisnya.

"Kalau pusing minum obat,” Khasanah meletakkan secangkir kopi panas diatas meja.

Abdi tersenyum menghentikan pijatannya melihat istrinya berdiri disampingnya sambil memijat bahunya.

"Albi tidak mau menikah dengan Dania," katanya kemudian minum buatan istrinya lalu meletakkan kembali diatas meja.

"Kalau memang Albi tidak mau jangan dipaksa tidak baik, takutnya menyesal dikemudian hari," ucap Khasanah.

"Apakah kamu membelanya?" Abdi melihat istrinya tersenyum manis ingin menciumnya.

Khasanah beranjak meninggalkan ruangan, ia tahu kalau Abdi melihatnya dengan senyuman nakal membuatnya kesal dan berakhir di tempat tidur.

_________

"Gue lihat pacar lo bersama lelaki lain masuk ruangan VIP," ucap Dasa ketika melihat Albi sudah datang bergabung dengan mereka.

Bisma tidak menghiraukannya memilih makan, sedangkan Abas mengiyakan saja.

Albi mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Dasa. "Apakah kalian tidak salah lihat, mana mungkin anak manja itu di ruang VIP,"

Albi bukannya tidak percaya hanya saja merasa aneh, setahu dia, Dania sedang berada di luar negeri menjalani terapi pada penyakitnya.

"Lo lihat sendiri nanti waktu dia keluar," sahut Dasa meyakinkan Albi.

Seorang pelayan datang membawa pesanan, meletakkannya diatas meja kemudian meninggalkan mereka.

Albi melihat menu makanan lidahnya tergiur ingin memakannya. Teman-temannya melihatnya heran saling pandang.

”Kamu seperti orang kelaparan, biasa aja kali makannya, kayak takut diambil orang," kata Bisma.

Albi langsung mengambil makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ia mengacungkan jari jempolnya mengisyaratkan kalau makanannya sangat nikmat.

" Makanlah sampai kenyang agar tidurmu nyenyak," celetuk Abas.

Beberapa menit kemudian seorang perempuan dengan pakaian mini keluar dari ruang VIP bersama seorang pria bule. Mereka berjalan keluar restauran.

Albi melebarkan matanya melihat perempuan tersebut, karena jarak antara tempat mereka duduk dengan ruang VIP tidak terlalu jauh sehingga masih melihat dengan jelas siapapun yang datang dan keluar dari ruangan tersebut.

"Kalian benar itu memang Dania, berarti kabarnya pergi ke luar negeri itu hanya kebohongan," kata Albi.

”Albi, Lo mau kemana?" tanya Dasa melihat Albi beranjak dari tempat duduknya.

Albi menghiraukan perkataan Dasa, ia mengikuti Dania dan pria bule. Teman-temannya heran melihat Albi meninggalkan mereka merasa kesal.

Saat Albi akan keluar tepat di pintu seorang perempuan masuk dan mereka bertabrakan, keduanya tanpa sengaja menarik pakaian satu sama lain. Tubuh mereka beradu dan satu kecupan mendarat di kedua bibir mereka.

Terkejut dan terdiam sesaat, merasakan getar tubuh menekan indra perasa. Setelah sepersekian detik keduanya melepaskan ciuman. Mata keduanya melebar sempurna.

"Kamu," kata keduanya bersamaan.

"Ternyata dunia ini sangat sempit, tiap kali bertemu denganmu selalu sial. Tidak siang , malam bawaannya emosi," ucap perempuan sambil membersihkan bibirnya menggunakan tisu.

”Heh, nona asal kamu tahu sebenarnya aku tidak suka sama perempuan sepertimu, lebih baik periksa dirimu ke psikolog agar otakmu bisa berpikir jernih dan tidak marah-marah terus," kata Albi kemudian keluar mencari Dania.

”Apa kamu bilang, memangnya aku punya penyakit jiwa harus pergi ke psikolog segala. Kamu tuh yang pergi ke psikolog," Prasasti merasa kesal.

Albi mengabaikan perkataan Prasasti dan mencari keberadaan Dania namun tidak menemukannya, ia kehilangan jejak. Meskipun tidak suka dengan Dania tapi ia mempunyai rasa peduli dengan kondisi Dania.

Prasasti melihat Albi sedang kebingungan mencari sesuatu memilih masuk ke dalam menemui Jesika teman dekatnya semasa sekolah.

"Sasti," panggil Jesika sambil melambaikan tangannya.

Prasasti membalas lambaian tangan Jesika berjalan ke arah tempat duduk Jesika berada.

Di tempat duduk lain teman-teman Albi melihat Prasasti tanpa berkedip merasa mengenal, namun tidak menyapa.

”Siapa dia?" tanya mereka bersamaan. lalu menjawab dengan gelengan kepala.

Beda dengan Bisma yang memang mengenal Prasasti, tapi ikut melihat seperti mereka karena terbawa suasana.

Albi kembali masuk ke dalam bergabung dengan teman-temannya.

" Ketemu?" tanya Dasa. Albi menggelengkan kepala.

"Ngapain kamu kejar perempuan seperti dia, lebih baik kamu kejar tuh perempuan yang duduk disana," perintah Abas menunjuk perempuan yang duduk di pinggir dekat jendela.

Albi mengikuti arah pandang Abas, ia melihat Prasasti duduk bersama temannya sedang tertawa bahagia. Tatapannya lurus seperti hendak membidik namun bukan seperti panah melainkan ingin mengajaknya pergi dari tempat itu.

”Biasa saja," celetuk Albi sambil mengaduk minumannya.

Teman-temannya melihat Albi tidak bersemangat merencanakan sesuatu sambil memberi kode satu sama lain.

"Semuanya gue pulang duluan," Dasa berpamitan lebih dulu.

Beberapa menit kemudian Abas dengan alasan kekasihnya. Begitu juga dengan Bisma yang tidak biasanya menemani Albi sampai pulang.

Tinggallah Albi sendirian di tempat duduknya melihat sisa makanan teman-temannya. Albi merasa kepalanya sangat pusing memijatnya agar reda.

Seorang pelayan datang mengambil piring kotor melihat Albi heran. " Mas, kenapa?"

Albi melihat pelayan mengambil piring kotor, ia beranjak dari tempat duduk tapi tubuhnya terasa berat.

"Aku tidak apa-apa, hanya pusing sedikit," jawabnya sambil berjalan sempoyongan hampir jatuh.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!