Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Rencana
Rudi mencoba bersikap tenang, walaupun jawaban yang baru saja diberikan Surya cukup menguras emosinya.
"Apa alasannya?" Tanyanya lagi.
"Selama hidup, saya gak pernah melihat david memohon tentang sesuatu hingga menangis, saya selalu memberinya apapun tanpa sebuah permohonan" ungkapnya
"Tapi semalam dia tiba tiba saja menangis dan memohon untuk membiarkannya mencintai wanita yang dia ingin kan, dan saya setuju" Katanya lagi.
"Maksudnya nindi?!" Sarah menyulut tak Terima.
"Kamu benar sarah, yang di maksud david adalah nindi" Jawabnya.
Sarah menggeleng ribut, ia merasa tak Terima dengan keputusan ini.
"Gak bisa gitu dong om! gimana sama saya! saya cinta sama david, gimana dengan perasaan saya! lagian om sendiri yang janjikan tentang hubungan serius kita!" Ucap Sarah.
"Sarah tenangin diri kamu" Lerai ibu Sarah.
"Kamu gak bisa maksa seseorang buat cinta sama kamu Sarah, saya juga butuh mengambil keputusan untuk hidup saya, saya gak mungkin terpaku dengan permintaan ayah saya" Balas david.
"Apa kata orang nanti Dave! aku datang ke kantor di perkenalkan sebagai tunangan kamu! dan sekarang kamu sama cewek lain! apa sih kurangnya aku?!"
"Sarah!" Bentak Rudi.
"Papa ngomong dong pa!" Sarah semakin tak bisa mengendalikan dirinya.
Ia tentu saja merasa malu dengan keputusan ini, apa kata orang nanti jika mereka semua tau david lebih memilih bersama dengan nindi daripada dengannya.
"Saya tidak bisa memaksakan kehendak saya Sarah, om minta maaf" Ucap Surya tulus.
"Surya kamu gak perlu minta maaf" Balas Rudi.
Surya mengangguk samar ia merasa lega dengan jawaban yang di berikan oleh sahabatnya itu.
"Ini bukan salah kamu, saya sebagai orang tua bisa mengerti, kita tidak bisa memaksakan cinta anak kita kan?" Kata Rudi.
"Papa!" Sarah merengek tak Terima, ia tak menyangka bahwa ayahnya akan dengan mudah menerima semua ini.
Namun laki laki setengah tua itu tetap diam dan menerima ucapan david maupun ayahnya.
"David apapun yang jadi pilihan kamu om setuju" Katanya.
David tersenyum lebar, ia merasa sangat lega bahwa ini tak seperti yang ia bayangkan, setidaknya ia dapat memastikan bahwa hubungan ayahnya dengan ayah Sarah masih baik baik saja.
"Saya mengerti, saya bisa menerimanya" Ucap Rudi lagi.
"Terimakasih banyak om, saya harap om mau memberi pengertian pada Sarah"
"Tentu tentu" Rudi mengangguk meyakinkan.
Sarah membisu, ada yang tidak benar di sini, ia mengenal ayahnya dengan sangat baik, kenapa laki laki itu dengan sangat mudah menerima keputusan David dan ayahnya?
"Terimakasih banyak om"
...****************...
Dari kejauhan nindi melihat David melambai heboh padanya, kenapa kekasihnya itu terlihat sangat girang?
"Kamu kenapa sih?" Tanya nindi.
Tanpa berbasa-basi David memeluk nindi, pelukan yang sangat erat, David juga tertawa kecil di sela pelukannya.
"Kenapa?" Tanya nindi lagi.
"Kamu harus tau ini adalah hari paling bahagia dalam hidup aku" Katanya.
"Kenapa sih aku penasaran!" Tanya nindi jengkel.
"Papa aku nyetujuin hubungan kita" Katanya.
Nindi membeku, apa yang baru saja David katakan adalah benar? ayah David menerima hubungan mereka? bagaamana bisa?
"Kamu gak bercanda kan?" Tanyanya.
"Emang muka aku keliatan lagi bercanda?"
Bukannya tersenyum bahagia nindi justru tampak sendu, apa yang nindi pikir kan?
"Hei kamu kenapa?"
Nindi menggeleng, detik berikutnya senyum samar tercipta dari bibirnya, ada sedikit rasa bersalah terbesit dihati, bukankah ayah David sangat menginginkan hubungan antara David dengan Sarah.
"Aku ngerasa bersalah sama papa kamu" katanya.
"Kenapa? semuanya baik baik aja nin"
"Aku tau papa kamu yang mau hubungan kamu dan Sarah terjadi, papa kamu sahabatnya papanya Sarah kan?"
"Iya, aku sama sekali gak maksain hubungan kita, aku cuma mau mereka mengerti" Katanya.
"Mereka?" Tanya nindi pelan.
"Iya mereka, papa aku dan keluarga sarah"
"Jadi mereka semua udah tau?"
David mengangguk mantap.
"Terus? papa kamu gimana? respon mereka gimana?"
"Kamu tau enggak kenapa papa restuin hubungan kita?"
Nindi menggeleng tanda tak mengerti.
"Karena dia gak pernah ngeliat aku sebahagia ini, karena dia pengen ngeliat aku bahagia kaya gini, selamanya dan dia juga tau kalau bahagia aku itu karena kamu"
Nindi tersentuh, matanya berlinang, David selalu mampu membuatnya merasa berarti.
"Papanya sarah?"
"Aku menganggap kalau papanya Sarah adalah orang yang berhati luas, ya karena beliau bisa mengerti perasaan aku dan gak memaksakan perjodohan ini, semuanya akan baik baik aja nindi" Ucapnya.
Nindi menarik David dalam pelukannya, ia terisak, ia sama sekali tak menyangka bahwa jalan cerita cintanya dan David akan berlalu semudah ini, ia bersyukur dan sangat bahagia karena hal itu.
"Aku cinta sama kamu sayang, aku bakalan usahain semuanya buat kamu, i love you more" Ungkapnya.
"Makasih banyak Dave, makasih"
David sangat malu karena rumah sakit ini dua kali menjadi saksi cintanya, ia tak membawa nindi ke tempat yang romantis untuk mengungkapkan perasaannya, namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa lain kali ia akan membawa nindi ke tempat yang paling indah untuk ungkapan ungkapan cintanya yang lain.
...****************...
Brakk
Sarah membanting tasnya ke lantai saat sampai dirumah besarnya, ibu dan ayahnya ikut terkejut melihat kelakuan putrinya yang sangat tak terkendali.
"Sarah! tenangin diri kamu!" Peringat sang ayah.
"Gimana bisa tenang! kenapa sih papa mudah banget nerima ini semua! mau di taruh dimana muka aku pa! aku udah percaya diri bilang ke semua orang kalau David itu tunangan aku! sekarang apa?! bahkan papa gak ngusahain kemauan aku lagi!" teriaknya marah marah.
"Mama setuju sama David, cinta itu gak bisa di paksa Sarah, kamu mau nikah sama orang yang gak cinta sama kamu?"
"Peduli apa aku sama cinta! pokoknya aku mau nikah sama dia! gak mungkin orang kaya aku kalah sama cewek miskin modelan nindi! gak make sense!" Lanjutnya.
Ibu nindi menggeleng geleng tak percaya, dimana Sarah mendapatkan ego yang tinggi dan sikap keras kepala itu.
"Sarah kamu harus... "
Saat wanita setengah baya itu akan bicara tiba tiba saja tangan suaminya terangkat di udara, mengacungkan jari telunjuk memberi isyarat diam.
"Sarah" Panggilnya pelan.
Rudi menangkup pipi Sarah dan menatap anaknya lekat.
"Kamu itu cantik, menarik, ayah kamu juga orang terhormat" Katanya.
Sarah mencoba menenangkan dirinya dan mendengarkan sang ayah.
"Gak mungkin kalau kita terus terusan ngemis, apalagi minta di cintai, kamu harus berfikir cerdas dan pakai cara lain" Katanya.
"Papa? Jangan pernah berfikir macam macam, cukup pa cinta itu gak bisa di paksa" Ujar sang ibu.
"Kamu diam!" Peringatnya.
"Jadi papa gak setuju kan sebenarnya?"
"Enggak dong sayang, gak semudah itu"
"Terus gimana pa?"
"Papa akan cari cara lain, kamu tenang aja"
Sarah mengangguk lalu memeluk ayahnya erat, sementara sang ibu menggeleng tak habis pikir dengan kedua manusia tersebut.
"Ternyata aku tau darimana kamu punya sifat kaya begitu Sarah, kalian itu sama!" Marahnya.
Wanita tua itu pergi meninggalkan Sarah dan Rudi yang masih berpelukan.
"Biarin aja dia"