Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Waktu Luang
Sejak hari kejadian piyama yang menggelitik itu, Hu Lian dan Bai Xuning kembali menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.
Bai Xuning bahkan tidak pernah kembali ke apartemennya selama satu minggu penuh—dia menghabiskan waktu di kantor dan terkadang menginap di kamar tamu perusahaan karena tuntutan pekerjaan yang begitu banyak.
Sementara itu, Hu Lian juga tidak kalah sibuk. Kebanyakan waktunya dia habiskan di kampus untuk mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas kelompok yang menumpuk.
Hampir setiap hari dia baru pulang ke apartemen pukul 9 malam, terkadang bahkan lebih larut karena harus menyelesaikan makalah penting.
Sesekali di akhir pekan, Hu Lian akan menemui orang tuanya dan makan bersama di rumah mereka yang terletak di pinggiran kota.
Suatu hari saat makan malam bersama, kedua orang tuanya memberitahukan kepadanya bahwa mereka akan pergi ke Jerman selama tiga bulan ke depan—untuk menangani bisnis cabang perusahaan keluarga sekaligus menikmati liburan singkat.
"Apa kamu tidak ingin ikut? Kita bisa jalan-jalan ke beberapa kota sana setelah urusan bisnis selesai," ajak ibu Hu Lian dengan senyum hangat.
Namun Hu Lian hanya bisa menggeleng dengan penuh rasa sayang. "Maaf Bu, Ayah...aku tidak bisa ikut. Sebelum musim panas ada ujian besar yang harus aku siapkan dengan serius," jelasnya dengan sopan.
Orang tuanya mengerti dan hanya mengangguk perlahan. "Baiklah nak, kita mengerti. Kamu fokus aja ya pada kuliahmu. Jangan lupa makan dengan teratur dan jaga kesehatanmu," pesan ayahnya dengan nada yang penuh perhatian.
Beberapa hari kemudian, Hu Lian mengantar kedua orang tuanya ke bandara internasional.
Mereka berpelukan erat sebelum kedua orang tuanya memasuki lorong keberangkatan, dengan doa dan harapan agar semua berjalan dengan baik baik saja bagi mereka berdua.
Setelah melihat pesawat mereka lepas landas dan menghilang di kejauhan langit, Hu Lian merasa sedikit sepi namun juga semakin termotivasi untuk fokus pada studi dan menyelesaikan ujiannya dengan baik.
Setelah mengantar orang tuanya ke bandara, Hu Lian tidak langsung pulang ke apartemen. Dia pergi ke sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari kampus untuk bertemu teman-temannya yang sudah menunggu di sana.
"Kalian sudah datang!" ucap Hu Lian dengan senyum ramah saat masuk ke dalam cafe yang cukup cozy. Teman-temannya langsung menyambutnya dengan antusias.
"kita ada kabar baik...!" kata salah satu teman, Wen Yang, dengan ekspresi yang penuh semangat. "Besok ulang tahun Wei Zhe, jadi kita berencana merayakannya di bar Hari ini!"
Awalnya Hu Lian langsung menggeleng dan menolaknya dengan agak tak enak. "Aku tidak bisa minum,kalian saja yang pergi.."
Namun rekannya segera membujuknya.
"Tenang saja! Bar itu milik pamanku, aku sudah meminta ijin dia setuju..... Selain itu, kita hanya akan merayakan di area khusus yang tidak ada orang asing, dan tidak akan ada minuman keras........." jelas Song Yi dengan yakin.
Setelah berpikir sebentar dan melihat wajah teman-temannya yang penuh harapan, Hu Lian akhirnya mengangguk setuju.
Total ada tujuh orang yang akan ikut merayakan—semua adalah teman dekat dari kampusnya. Karena hari masih sore, mereka memutuskan untuk makan bersama dulu di cafe itu sambil merencanakan acara ulang tahunnya, baru akan berangkat ke bar setelah pukul 9 malam.
Mereka memilih berbagai makanan kesukaan, mulai dari pasta hingga hidangan lokal, sambil bercanda dan berbagi cerita tentang kegiatan kampus belakangan ini.
Suasana sangat meriah dan membuat Hu Lian yang tadinya merasa sedikit sepi setelah orang tuanya pergi menjadi lebih bahagia dan riang.
Pada pukul 9 malam tepat waktu, rombongan mereka tiba di bar milik pamannya Wen Zhe. Ketujuh orang tersebut segera diarahkan ke lantai atas ke ruang pribadi yang sudah disiapkan, namun Wei Zhe menolaknya.
"Tidak perlu saudara, kita mau di lantai bawah aja! Lebih seru dan bisa bersenang-senang dengan suasana yang lebih meriah....." kata dia dengan penuh semangat, membuat teman-temannya juga mengiyakan dengan antusias.
Kelompok Hu Lian terdiri dari empat pria dan tiga wanita, termasuk dirinya sendiri. Mereka memilih meja besar di sudut yang cukup nyaman, lalu duduk berkelompok sambil mulai berbincang dan tertawa riang.
Semua orang telah berubah pakaian menjadi yang lebih santai namun tetap menarik. Para gadis berdandan secantik mungkin dengan riasan yang sesuai, begitu pula para pria yang mengenakan pakaian kasual namun tetap rapi.
Hu Lian sendiri terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dia mengikat rambut panjangnya menjadi satu kuncir kuda yang rapi di bagian belakang kepala.
Dengan jaket kulit hitam tipis yang dikenakan di atas kaos putih, celana jeans pendek yang menonjolkan bentuk kaki nya, serta sepatu boot tinggi hitam—semua itu membuatnya tampak jauh lebih jenjang.
Dia bahkan sedikit memakai riasan daripada biasanya: eyeliner yang membuat matanya terlihat tajam dan tegas saat tidak tersenyum, namun begitu dia mengangkat sudut bibirnya matanya langsung tampak berbinar dan penuh godaan.
"Kamu sangat cantik hari ini, Lian!" puji salah satu teman wanita nya dengan penuh kagum, membuat Hu Lian sedikit memerah dan menggeleng dengan rasa malu.
"Jangan banyak bicara, kamu juga cantik!"jawabnya dengan senyum kecil.Suasana semakin meriah ketika mereka mulai memesan makanan ringan dan minuman non-alkohol yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.
Musik yang tidak terlalu keras membuat suasana tetap nyaman untuk berbincang.
Saat jam semakin malam, ruang dansa di lantai bawah bar semakin penuh dengan pria dan wanita yang bergoyang mengikuti irama musik.
Teman-teman Hu Lian bahkan sudah mulai pergi ke panggung dansa, hanya menyisakan Hu Lian yang duduk sendiri di meja sambil melihat sekeliling.
Baru saja dia mengambil ponselnya, saat itu ponselnya itu tiba-tiba bergetar. Pesan masuk dari Bai Xuning yang selama beberapa minggu tidak pernah muncul sama sekali—
Tuan Bai: sedang apa? Sudah pulang ?
Hu Lian mendongak melihat suasana bar yang dipenuhi hiruk pikuk dengan lampu-lampu berwarna-warni yang memberikan nuansa mengoda. Dia kemudian tersenyum kecil sebelum cepat-cepat mengetik balasan singkat.
AhLian: Tentu saja tidur, selamat malam.
Setelah mengirimnya, dia menaruh ponsel di meja dan mengambil gelas jus buah yang masih tersisa.
Di ruangan lain yang lebih tenang dan eksklusif di lantai atas bar, suara getaran ponsel menarik perhatian dua pria yang sedang berbincang di seberang meja.
Bai Xuning membuka pesan dengan cepat dan langsung melihat balasan dari Hu Lian. Bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum kecil yang lembut.
Melihatnya tersenyum, Wang Yihan—teman masa kecilnya—langsung terkejut dan berbalik ke arah Zhang Fei.
"...Apa dia baru saja tersenyum?! Sudah lama sekali aku tidak melihatnya seperti ini!"teriaknya dengan suara cukup tinggi.
"Jangan berteriak..." sahut Zhang Fei dengan nada sedikit kesal, lalu melirik ke arah Bai Xuning yang seolah mengabaikan mereka berdua. "...Dia sedang jatuh cinta dan berusaha mengejar istrinya kembali..."
Bai Xuning mengangkat matanya mendengar pembicaraan mereka.
Zhang Fei segera mengajaknya untuk minum bersama. Karena sedang dalam suasana yang baik dan berencana untuk bertemu Hu Lian besok, Bai Xuning mengangguk setuju dan memutuskan untuk minum secukupnya saja.
Sementara itu di lantai bawah, Hu Lian yang mulai merasa bosan duduk sendiri segera ditarik tangan oleh Xie Fifie—teman sekelasnya yang sedang dalam suasana riang.
Tanpa banyak berpikir, Hu Lian dengan pasrah mengikuti teman nya untuk bersenang-senang di panggung dansa.
Keduanya bahkan kemudian diajak oleh beberapa penari wanita lain untuk naik ke panggung dansa utama yang lebih luas, bergoyang dengan penuh semangat mengikuti alunan musik yang semakin meriah.
Kehadiran yang Tak Terduga
Zhang Fei yang merasa bosan dengan obrolan di ruangan eksklusif akhirnya keluar dan berdiri di lorong yang menghadap ke lantai bawah. Dia melihat sekeliling pada kerumunan pria dan wanita yang sibuk menikmati musik dan dansa, menghela napas dengan rasa ingin ikut bersenang-senang.
Tanpa sadar, matanya tertuju pada panggung utama di tengah ruangan.
Di sana, seorang gadis mungil dengan rambut terikat kuncir kuda dan kaki jenjang yang terlihat jelas karena mengenakan celana pendek sedang menari dengan gerakan yang anggun namun penuh semangat—bahkan terkesan sedikit mengoda saat mengikuti irama musik yang semakin cepat.
Zhang Fei mengeluarkan suara siul kecil tanpa sengaja, kemudian matanya tiba-tiba melebar lebar wajah gadis itu nampak familiar.wajahnya menjadi pucat.
"Sial... bukankah itu kakak ipar?!" bisiknya dengan suara penuh terkejut, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" kakak ipar?" suara dengan nada rendah dan sedikit menakutkan terdengar dari belakangnya.
Zhang Fei langsung berbalik dengan cepat dan melihat Bai Xuning yang sudah berdiri di di sampingnya dengan wajah yang semakin gelap pekat.
Matanya yang tajam langsung menuruni pandangan ke arah panggung utama yang sedang ditunjuk oleh Zhang Fei.
Dalam sekejap, dia melihat sosok Hu Lian yang tengah tertawa riang sambil menari bersama teman wanitanya. Lampu berwarna-warni menerangi wajahnya yang ceria, dan gerakan tubuhnya yang biasanya terlihat anggun kini menjadi lebih bebas dan penuh semangat.
Bai Xuning mengingat pesan yang baru saja diterimanya beberapa saat yang lalu—"Tentu saja tidur, selamat malam."
Bibirnya menekuk ke bawah dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara tangannya secara tidak sengaja mengencangkan gelas yang masih ada di tangannya.
Zhang Fei merasa sedikit takut melihat wajah teman nya yang semakin memerah karena kemarahan atau mungkin kebingungan.
"Kak Bai... mungkin ada kesalahpahaman saja..." ucapnya dengan suara pelan, mencoba membujuk.
Namun Bai Xuning sudah tidak mendengarkan lagi. Tanpa berkata apa-apa, dia berjalan dengan cepat menuju lift untuk turun ke lantai bawah, membuat Zhang Fei hanya bisa mengikuti dengan tergesa-gesa sambil berdoa agar tidak ada yang salah terjadi.