NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Pelarian di Bawah Lampu Neon

[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 23.30 PM]

[Lokasi: Parkiran Gedung Gu Corp Menuju Pusat Kota, Shenzhen]

Setelah suapan terakhir bubur abalon pemberian Lin Xia masuk ke tenggorokannya, Gu Jingshen merasa dadanya sesak. Ruangan kantor yang luas dan mewah ini tiba-tiba terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap. Kata-kata Lin Xia tentang "berdiri sendirian di puncak kekuasaan" terus bergema, menghantam sisa-sisa ketegaran hatinya.

Jingshen menyambar kunci mobil di atas meja. Ia tidak bisa diam di sini. Ia butuh suara bising untuk meredam suara pikirannya sendiri.

Di lobi, ia berpapasan dengan Ah Cheng yang baru saja selesai membereskan berkas di ruang staf.

"Tuan? Anda mau ke mana malam-malam begini?" tanya Ah Cheng terkejut melihat bosnya berjalan dengan langkah terburu-buru.

"Aku butuh udara luar," jawab Jingshen singkat tanpa menoleh. "Kau pulanglah, Ah Cheng. Gunakan bus kota atau taksi, aku akan membawa mobil sendiri."

"Tapi Tuan, kondisi Anda..."

"Aku sudah sadar sepenuhnya. Pergilah," potong Jingshen tegas.

Ah Cheng hanya bisa terpaku menatap punggung Jingshen yang menghilang di balik pintu kaca lobi. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan menuju halte bus kota di depan gedung. Baginya, melihat Jingshen yang seperti ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada saat bosnya itu sedang marah besar.

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 00.15 AM]

[Lokasi: Klub Malam "The Mirage", Distrik Futian, Shenzhen]

Lampu neon berwarna ungu dan biru elektrik menghiasi pintu masuk The Mirage, klub malam paling eksklusif di Shenzhen milik Lin Feng. Dentuman musik techno yang rendah terasa hingga ke aspal jalanan. Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan pintu masuk, dan Gu Jingshen keluar dengan setelan jas yang sudah tidak rapi lagi—dasi sudah dilepas, dan kancing kemeja atas terbuka.

Para penjaga pintu yang mengenali wajahnya segera membungkuk hormat dan membukakan jalan tanpa bertanya. Jingshen berjalan lurus menuju lantai dua, area VIP tempat Lin Feng biasanya berada.

Di sebuah sofa beludru merah, Lin Feng sedang duduk sambil memegang tablet, tampaknya sedang memeriksa laporan keuangan klubnya setelah seharian "menyamar" jadi pelayan di cafe. Begitu melihat Jingshen masuk, Lin Feng hampir menjatuhkan tabletnya.

"Jingshen?! Wah, matahari pasti akan terbit dari barat besok. CEO paling disiplin se-Shenzhen datang ke klubku jam dua belas malam?" seru Lin Feng sambil berdiri.

Jingshen tidak menjawab. Ia langsung duduk dan menuangkan minuman ke gelas kosong di meja.

"Hei, pelan-pelan! Kau baru saja sembuh dari mabuk Baijiu maut kemarin, kan? Ah Cheng baru saja mengirim pesan padaku bahwa kau sedang dalam suasana hati yang sangat buruk," ucap Lin Feng dengan nada khawatir yang disamarkan oleh candaan.

"Lin Feng," suara Jingshen terdengar berat. "Katakan padaku... apakah aku benar-benar tampak seperti monster yang tidak punya perasaan?"

Lin Feng terdiam. Ia meletakkan tabletnya dan menatap sahabatnya itu dengan serius. "Kenapa? Karena kata-kata Lin Xia? Ah Cheng memberitahuku dia datang ke kantormu malam ini."

Jingshen menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap lampu-lampu yang berputar di langit-langit. "Dia membawakanku makanan. Dia peduli padaku. Tapi aku justru mendorongnya menjauh dengan kata-kata yang kasar. Aku melakukannya untuk melindunginya dari ayahku, tapi kenapa rasanya malah aku yang sekarat?"

Lin Feng menghela napas, ia menuangkan air mineral untuk dirinya sendiri. "Kau tahu, Jingshen? Masalahmu adalah kau selalu ingin menjadi pahlawan sendirian. Kau pikir dengan menjadi dingin, orang akan aman. Tapi bagi wanita seperti Lin Xia, ketidaktahuan itu lebih menyakitkan daripada bahaya itu sendiri. Kau baru saja melukai hatinya demi egomu yang ingin menjadi martir."

Jingshen terdiam. Kata-kata Lin Feng terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka.

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Jingshen lirih.

"Satu hal yang pasti, jangan jadi pengecut," jawab Lin Feng tegas. "Besok, temui dia. Bukan sebagai CEO, tapi sebagai pria yang berhutang maaf. Tapi sebelum itu, selesaikan dulu urusan 'perusahaan rahasiamu' itu. Jika kau ingin menjatuhkan Tuan Besar Gu, kau butuh fondasi yang kuat agar saat kau menarik Lin Xia ke duniamu, dunia itu tidak akan runtuh menimpanya."

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 01.30 AM]

[Lokasi: Apartemen Lin Xia, Distrik Bao'an, Shenzhen]

Di saat yang sama, Lin Xia sedang berbaring di tempat tidurnya, namun matanya menolak untuk terpejam. Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Rasa sesak di dadanya belum juga hilang. Ia teringat tatapan mata Jingshen yang dingin di kantor tadi—tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa semua kedekatan mereka di Suzhou hanyalah mimpi di siang bolong.

"Kenapa aku harus menangis untuknya?" bisik Lin Xia pada dirinya sendiri sambil menyeka sudut matanya yang basah. "Dia hanya seorang atasan yang sombong. Dia tidak layak mendapatkan bubur abalon buatanku."

Namun, di dalam lubuk hatinya, Lin Xia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Jingshen. Perubahan sikapnya terlalu drastis. Ia teringat saat Jingshen memegang tangannya di depan orang tuanya saat mabuk—itu terasa sangat nyata.

Lin Xia bangkit dari tempat tidur, menyalakan lampu meja, dan meraih laptopnya. Ia tidak bisa tidur, jadi ia memutuskan untuk menulis. Ia mulai mengetik naskah baru, sebuah adegan di mana sang Marsekal harus pergi ke medan perang dan terpaksa meninggalkan wanita yang dicintainya demi keselamatan wanita itu.

“Terkadang, pedang yang paling tajam adalah kata-kata yang kita gunakan untuk mengusir mereka yang paling kita sayangi, karena kita tahu, di sisi kita hanya ada api dan kehancuran,” tulis Lin Xia.

Tanpa sadar, Lin Xia mulai memahami Jingshen melalui naskahnya sendiri. Namun, rasa sakit di hatinya tetap nyata.

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 02.00 AM]

[Lokasi: VIP Lounge, Klub The Mirage, Shenzhen]

Kembali ke klub, Jingshen dan Lin Feng masih terlibat dalam pembicaraan serius. Jingshen sudah lebih tenang sekarang. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah data kepada Lin Feng.

"Ini adalah saham-saham yang sudah dikumpulkan oleh perusahaan rahasiaku di Shanghai," bisik Jingshen. "Aku butuh bantuanmu, Feng. Gunakan jaringanmu di pasar gelap keuangan untuk mencari tahu siapa saja pemegang saham minoritas yang punya dendam pribadi pada ayahku. Aku akan membeli saham mereka dengan harga dua kali lipat."

Lin Feng melihat data itu dan bersiul pelan. "Kau benar-benar ingin melakukan kudeta di Gu Corp, ya? Ini berisiko tinggi, Jingshen. Jika ayahmu tahu, dia bisa menghapusmu dari silsilah keluarga."

"Dia sudah menghapus kebahagiaanku sejak lama. Sekarang, giliranku menghapus kekuasaannya," jawab Jingshen dengan sorot mata yang kembali dingin, namun kali ini penuh dengan determinasi, bukan keputusasaan.

"Baiklah. Aku akan bantu," ucap Lin Feng sambil menepuk bahu Jingshen. "Tapi berjanjilah satu hal. Setelah semua ini selesai, kau harus benar-benar meminta maaf pada Lin Xia. Jika tidak, aku sendiri yang akan menjodohkannya dengan manajer klubku yang paling tampan."

Jingshen mendengus, sebuah senyum tipis—sangat tipis—muncul di wajahnya. "Dalam mimpimu, Feng."

Jingshen berdiri, merapikan jasnya yang kusut. Ia merasa sedikit lebih baik. Pelarian malam ini memberinya perspektif baru. Ia harus menjadi monster untuk melawan monster, tapi ia harus tetap menjaga bagian kecil dari hatinya tetap hangat untuk Lin Xia.

Ia berjalan keluar dari klub, menuju mobilnya. Angin malam Shenzhen yang dingin menerpa wajahnya. Di dalam mobil, ia melihat termos kosong pemberian Lin Xia di kursi penumpang. Ia meraih termos itu dan memeluknya sebentar.

"Tunggu aku, Xia. Sebentar lagi," bisiknya pada keheningan malam.

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 07.00 AM]

[Lokasi: Halte Bus Menuju Kantor Gu Corp, Shenzhen]

Pagi harinya, Ah Cheng berdiri di halte bus dengan mata yang sedikit mengantuk. Ia baru saja turun dari bus kota dan hendak berjalan kaki menuju gedung kantor. Ia merasa sedikit aneh melihat bosnya pergi sendiri semalam, tapi ia percaya Jingshen tahu apa yang dilakukannya.

Tiba-tiba, mobil sport hitam milik Jingshen berhenti di sampingnya. Kaca jendela turun, menampakkan wajah Jingshen yang tampak sudah rapi kembali, meski ada sedikit kantung mata di sana.

"Masuk, Ah Cheng. Kita punya banyak pekerjaan hari ini," perintah Jingshen.

Ah Cheng tersenyum lega. "Baik, Tuan!"

Hari baru telah dimulai di Shenzhen. Di balik kemegahan gedung-gedung pencakar langit, sebuah perang dingin di dalam keluarga Gu baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Dan di sebuah cafe kecil di Bao'an, Lin Xia bersiap menghadapi harinya dengan hati yang diperkeras oleh luka, tidak tahu bahwa sang Marsekal sedang berjuang habis-habisan di medan perang yang tak terlihat demi dirinya.

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!