"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: SINGA YANG TERLUKA
Kehancuran di ballroom malam itu menjadi berita utama di seluruh media sosial dalam hitungan jam. Video Reno dan Siska yang diseret keluar seperti sampah menjadi konsumsi publik yang paling dicari. Namun, bagi Gwen, kemenangan semalam hanyalah sebuah pesta kembang api kecil sebelum perang yang sesungguhnya dimulai.
Pagi itu, mansion Adiguna yang biasanya sunyi terasa mencekam. Reno tidak pulang semalaman, sementara Siska dikabarkan bersembunyi di sebuah hotel murah untuk menghindari kejaran wartawan.
Gwen duduk di ruang kerja ayahnya yang megah. Dia tidak lagi memakai perban. Matanya yang indah menatap tajam ke arah deretan berkas di atas meja. Di sudut ruangan, Elang berdiri dalam diam, tangannya bersedekap, memperhatikan Gwen dengan intensitas yang membuat udara terasa sesak.
"Jangan terlalu senang dulu, Nona," suara berat Elang memecah keheningan. "Reno memang dipermalukan secara publik, tapi secara hukum, dia masih suamimu. Dia masih memiliki hak atas sebagian asetmu jika kamu tidak segera bertindak."
Gwen menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran ayahnya. "Aku tahu. Pria seperti Reno tidak akan menyerah hanya karena rasa malu. Dia akan merangkak kembali seperti parasit yang kelaparan."
Tepat saat kalimat itu selesai, pintu ruang kerja terbanting terbuka.
Reno masuk dengan penampilan yang sangat kontras dengan pesonanya semalam. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kurang tidur, dan tuxedo-nya tampak kusut. Dia tidak lagi datang dengan wajah memelas, melainkan dengan wajah iblis yang telah melepas topengnya.
"Gwen Adiguna!" teriak Reno, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. "Hebat. Benar-benar hebat! Kamu membodohiku selama ini? Kamu bisa melihat dan kamu membiarkanku terlihat seperti badut di depan semua orang?"
Gwen tidak beranjak dari kursinya. Dia bahkan tidak berkedip. "Kamu sendiri yang memilih menjadi badut, Reno. Aku hanya menyediakan panggungnya."
Reno berjalan mendekat, hendak menggebrak meja kerja Gwen, namun dalam sekejap, Elang sudah berdiri di depan Gwen, menahan dada Reno dengan satu tangan yang sekeras baja.
"Jangan melangkah lebih jauh, Tuan Reno," ucap Elang dingin.
Reno tertawa histeris, menatap Elang dengan jijik. "Oh, jadi ini dia? Pengawal baru yang kamu sewa? Atau selingkuhan barumu, Gwen? Kamu menuduhku selingkuh, sementara kamu sendiri memelihara pria di rumah ini!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Reno. Bukan dari Elang, tapi dari Gwen yang sudah berdiri di depan suaminya. Tenaga Gwen begitu besar hingga sudut bibir Reno berdarah.
"Jangan samakan aku denganmu, Reno," ucap Gwen dengan suara rendah yang mengancam. "Aku memberikanmu cinta, rumah, dan jabatan. Tapi kamu membalasnya dengan penghianatan yang paling menjijikkan. Sekarang, keluar dari rumahku!"
Reno menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Seringai licik muncul di wajahnya. "Keluar? Kamu lupa, Gwen? Kita punya perjanjian pranikah yang lemah. Selama kita belum resmi cerai, setengah dari saham perusahaan ini masih di bawah kendaliku sebagai direktur utama. Dan jangan lupa... kecelakaanmu itu."
Gwen mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Polisi mungkin mengira itu kecelakaan murni. Tapi aku punya bukti kalau ayahmu, sang 'Adiguna' yang terhormat itu, memiliki banyak musuh. Jika aku membuka mulut tentang kecurangan perusahaan ayahmu di masa lalu, bukan hanya aku yang hancur, tapi seluruh nama baik keluarga Adiguna akan masuk ke liang lahat bersamaku!" Reno mendekatkan wajahnya, membisikkan ancaman yang membuat darah Gwen berdesir. "Kita jatuh bersama, Sayang. Atau kamu beri aku 50 persen asetmu, dan kita tutup mulut masing-masing."
Gwen terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Reno tahu sesuatu tentang rahasia ayahnya?
"Keluar," ucap Gwen sekali lagi, kali ini lebih tenang namun penuh penekanan.
Reno tertawa menang, merasa sudah memegang kartu as. Dia berbalik dan melangkah keluar dengan angkuh. "Pikirkan tawaranku, Gwen. Aku beri waktu 24 jam."
Setelah Reno pergi, Gwen terduduk lemas di kursinya. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Ancaman Reno bukan main-main. Ayahnya memang seorang pengusaha sukses, tapi Gwen tahu bisnis besar jarang sekali bersih sepenuhnya.
"Dia benar soal satu hal," Elang melangkah mendekat, matanya menatap Gwen dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Tentang apa?" tanya Gwen lemah.
"Tentang ayahmu yang punya banyak musuh," Elang mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jasnya dan meletakkannya di depan Gwen. "Itu adalah data yang kamu janjikan. Bukti keterlibatan keluarga Adiguna dalam menghancurkan keluarga saya sepuluh tahun lalu."
Gwen membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada dokumen-dokumen lama tentang penggusuran lahan paksa dan manipulasi pasar saham yang mengakibatkan perusahaan ayah Elang bangkrut total, hingga ayah Elang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Air mata Gwen jatuh tanpa bisa dibendung. "Elang... aku..."
"Jangan minta maaf, Nona. Maaf tidak akan menghidupkan orang tua saya," potong Elang dengan suara datar tanpa emosi. "Tapi ada satu hal yang menarik. Lihat halaman terakhir."
Gwen membalik lembarannya. Di sana ada sebuah foto lama yang menunjukkan ayah Gwen sedang berjabat tangan dengan seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta merah.
"Pria di foto itu... dia adalah pamanmu, Pratama Adiguna," jelas Elang. "Reno hanyalah pion kecil. Orang yang menyabotase mobilmu hingga kamu buta, dan orang yang memberikan perintah pada ayahmu untuk menghancurkan keluarga saya... kemungkinan besar adalah dia."
Gwen terbelalak. Pamannya? Pria yang selama ini terlihat sangat menyayanginya dan memberikan dukungan moral setelah orang tuanya meninggal?
"Reno bekerja untuk pamanmu, Gwen. Itulah kenapa dia begitu percaya diri," lanjut Elang. Dia kini berdiri tepat di depan Gwen, membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Sekarang kamu punya dua pilihan. Menyerah pada Reno dan pamanmu, atau bekerja sama denganku untuk menghancurkan seluruh kekaisaran Adiguna—termasuk membersihkan nama ayahmu dari pengaruh pamanmu."
Gwen menatap Elang. Di mata pria itu, dia melihat kobaran api dendam yang sama besar dengan miliknya. Namun, ada sesuatu yang lain... sebuah perlindungan yang terasa nyata di tengah dunia yang penuh kepalsuan ini.
"Kenapa kamu masih membantuku, Elang? Bukankah kamu seharusnya membenciku karena aku anak dari pria yang menghancurkan hidupmu?"
Elang mengulurkan tangannya, ibu jarinya menghapus air mata di pipi Gwen dengan gerakan yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan tatapannya yang tajam.
"Karena aku ingin kamu melihat dunia ini hancur bersamaku, Gwen. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya orang yang tersisa saat aku membakar mereka semua."
Sentuhan Elang terasa seperti api yang membakar kulit Gwen. Dia tahu, Elang adalah pria yang sangat berbahaya. Bersekutu dengannya sama saja dengan berjalan di atas duri. Tapi saat ini, Elang adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai.
Gwen meraih tangan Elang, menggenggamnya erat. "Bantu aku, Elang. Jangan biarkan Reno mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku akan memberikanmu keadilan untuk keluargamu, asalkan kamu tetap berada di sampingku sampai semua ini berakhir."
Elang menarik sudut bibirnya, sebuah senyuman tipis yang mematikan. "Saya tidak akan ke mana-mana, Nona. Sampai darah terakhir musuh kita tumpah, saya adalah bayanganmu."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar, sebuah aliansi baru yang lebih gelap terbentuk. Bukan lagi sekadar majikan dan bodyguard, tapi dua jiwa yang terluka yang siap membakar dunia demi pembalasan dendam.
Sementara itu, di sebuah hotel mewah, Reno sedang memegang ponselnya, berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Ya, Tuan Pratama. Gwen sudah tahu. Tapi tenang saja, saya akan memaksanya menyerahkan saham itu sebelum dia sempat melakukan langkah lebih jauh. Elang? Dia hanya pengawal bayaran, saya bisa mengurusnya."
Reno tidak tahu, bahwa di bawah kendali Elang, seluruh alat komunikasi di hotel itu sudah disadap. Dan di mansion Adiguna, Gwen sedang mendengarkan setiap kata yang diucapkan suaminya dengan senyum dingin.
"Makan malam yang hebat akan segera dimulai, Reno," gumam Gwen.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia