NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Matahari sore baru saja tenggelam, menyisakan semburat jingga di ufuk barat Desa Asih. Di teras posko yang hanya diterangi lampu bohlam kuning redup, Mika dan Siti duduk bersila menghadap dua panci kecil berisi ramyeon instan yang masih mengepulkan uap. Aroma bumbu pedas dan irisan cabai rawit memenuhi udara, memberikan sedikit kehangatan di tengah udara desa yang mulai mendingin.

"Gila ya, Arga sama Asia bener-bener nggak punya perasaan," gerutu Mika sambil menyedot mi dengan semangat. "Kita di sini keringetan makan ginian, mereka asyik kencan di pasar malam desa sebelah. Kita emang jomblo ngenes ya Sit, ditinggal pergi mulu!"

Siti mendengus, ia meminum air mineralnya dengan rakus untuk meredakan rasa pedas. Ia menatap Mika dengan pandangan yang sangat skeptis, seolah-olah Mika baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak.

"Kalo gue, iya jomblo sejati, Mik. Tapi kalo lo? Gue rasa sih udah taken ya, tinggal nunggu pengumuman resmi dari Balai Desa aja," sindir Siti sambil menyeringai.

Mika tersedak, ia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah. "Uhukk! Apa sih! Gue jomblo abadi tau nggak! Jangan ngada-ngada lo!"

"Halah, nggak usah bohong sama gue. Gue liat ya tadi pagi pas di hulu, lo balik-balik muka penuh lumpur tapi senyam-senyum sendiri kayak orang kurang waras. Terus Pak Kades juga, biasanya galaknya kayak singa, tadi siang pas lewat depan posko malah nanyain 'koordinator sudah makan belum?'. Sejak kapan robot jalanan itu peduli asupan gizi orang lain?"

"Itu... itu kan profesionalitas kerja, Siti!" bela Mika, suaranya naik satu oktav.

"Terserah lo lah. Gue nggak mau debat, perut gue mendadak melilit. Aduh, cabainya kebanyakan kayaknya," Siti memegangi perutnya, wajahnya meringis. "Gue mau ke toilet, perut gue sakit banget! Jagain ramyeon gue, jangan lo abisin!"

Siti langsung bangkit dan berlari kencang masuk ke dalam posko menuju kamar mandi di bagian belakang, meninggalkan Mika sendirian di teras.

Mika menarik napas lega. Berdebat dengan Siti soal perasaan itu jauh lebih melelahkan daripada naik turun bukit. Ia kembali menyuap ramyeonnya, menikmati kesunyian malam. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

Sebuah bayangan tinggi besar menutupi cahaya lampu teras. Mika mendongak, dan jantungnya hampir saja melompat keluar dari tenggorokannya. Di depan pagar bambu yang hanya berjarak dua meter darinya, Alvaro berdiri dengan santai.

Malam ini ia tidak memakai baju dinas. Ia mengenakan kaos hitam polos yang melekat sempurna di tubuhnya dan jaket bomber hijau militer. Rambutnya yang biasanya disisir rapi kini sedikit berantakan karena angin malam.

"Kamu makan mi instan lagi?" tanya Alvaro, suaranya berat dan rendah, terdengar sangat intim di tengah kesunyian.

Mika melompat berdiri, matanya melotot ke arah pintu posko yang tertutup. "Kamu ngapain ke sini sih, Al?! Kalo Siti tau bahaya! Pulang sana!" bisik Mika setengah berteriak, tangannya memberikan isyarat agar Alvaro menjauh.

"Saya cuma mau mengantar ini," Alvaro mengangkat sebuah bungkusan plastik kecil. "Obat oles untuk memar di kakimu. Tadi saya lihat kamu terpeleset di akar pohon jati pas kita kejar-kejaran."

Mika mematung. Pria ini sengaja datang ke posko hanya untuk mengantar obat? "Al, please... sekarang bukan waktunya. Temen-temen aku sensitif banget. Kalau Siti keluar dari kamar mandi terus liat kamu di sini, habis aku diinterogasi semaleman!"

Mika melangkah turun dari teras, mendekati Alvaro di dekat pagar agar suara mereka tidak terdengar ke dalam. Ia terus menoleh ke belakang, waspada kalau-kalau Siti tiba-tiba muncul.

"Kenapa kamu takut sekali?" Alvaro melangkah maju, melewati gerbang kecil dan kini berdiri tepat di hadapan Mika. Jarak mereka sangat dekat, Mika bisa mencium aroma sabun dan udara malam dari tubuh pria itu. "Memangnya saya ini kriminal?"

"Bukan kriminal, tapi kamu itu Pak Kades! Dan aku mahasiswi KKN! Kita punya... etika!" Mika mencoba mendorong dada Alvaro agar pria itu mundur, namun dadanya yang keras seperti batu tidak bergeming sedikit pun.

Alvaro justru menangkap tangan Mika yang berada di dadanya. Ia menggenggam jemari Mika, memberikan sensasi hangat yang langsung menjalar ke seluruh tubuh gadis itu.

"Etika itu berlaku di Balai Desa, Mikayla. Di sini, saya cuma pria yang khawatir sama kaki kamu," ucap Alvaro lembut. Ia menatap Mika dengan pandangan yang sangat dalam, membuat Mika lupa bahwa ia sedang berada di teras posko yang rawan ketahuan.

"Tapi Siti—"

"Siti sedang di kamar mandi, kan? Kamu bilang tadi perutnya sakit. Dia akan lama di sana," Alvaro menyeringai kecil, seolah ia sudah merencanakan kedatangannya di saat yang tepat.

Alvaro menyerahkan bungkusan obat itu ke tangan Mika. Saat Mika menerimanya, Alvaro tidak langsung melepaskan tangan Mika. Ia justru menarik Mika sedikit lebih dekat.

"Apa harganya?" tanya Mika teringat chat tadi pagi.

Alvaro menunduk, wajahnya sejajar dengan Mika. "Harganya adalah... saya mau kamu janji. Besok malam, ikut saya ke acara syukuran di rumah Mbah Darmo. Bukan sebagai koordinator, tapi sebagai pendamping saya."

Mika membelalakkan mata. "Itu sama saja pengumuman resmi, Al! Nanti semua warga tau!"

"Biar saja. Biar tidak ada lagi yang berani merusak alatmu, dan tidak ada lagi pemuda desa yang berani menggoda kamu," sahut Alvaro posesif.

Tiba-tiba, suara pintu posko yang berderit terbuka terdengar dari dalam.

"MIK! LO MASIH DI LUAR?!" teriak Siti dari dalam rumah.

Mika panik luar biasa. Ia mendorong Alvaro sekuat tenaga. "Pergi, Al! Cepet!"

Alvaro tidak panik, ia justru mencuri sebuah kecupan singkat di pipi Mika yang masih terasa panas karena ramyeon—dan karena malu—sebelum ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan jalan desa dengan gerakan yang sangat lincah.

Mika segera duduk kembali di kursinya, memegang mangkuk ramyeonnya dengan tangan gemetar tepat saat Siti melangkah keluar ke teras dengan wajah yang masih sedikit pucat.

Siti memicingkan mata, menatap Mika yang tampak sangat gelisah. "Kok muka lo tambah merah, Mik? Terus itu... plastik apa di atas meja?"

Mika buru-buru menyembunyikan plastik obat dari Alvaro ke bawah piringnya. "Oh... ini? Ini... tadi ada... ada warga lewat! Iya, warga kasih... kasih kerupuk! Tapi gue tolak, eh plastiknya ketinggalan."

"Warga?" Siti duduk di samping Mika, menatap jalanan yang sepi. "Perasaan gue nggak denger suara langkah kaki atau orang ngomong."

"Lo kan di kamar mandi, Siti! Mana denger! Udah ah, itu ramyeon lo keburu mekar kayak bunga bangkai, buruan diabisin!" Mika mencoba mengalihkan pembicaraan dengan suara keras.

Siti kembali menyantap mi-nya, tapi matanya terus melirik Mika. "Mik, lo tau nggak? Bau parfum lo mendadak berubah."

"Berubah gimana?"

"Jadi bau parfum cowok. Bau kayu-kayuan gitu. Mirip bau... ah, sudahlah." Siti mengangkat bahu dan kembali makan.

Mika terdiam, hatinya bersorak sekaligus takut. Ia mencium pergelangan tangannya sendiri, dan benar saja, aroma parfum Alvaro tertinggal di sana saat pria itu memegang tangannya tadi.

Mika menatap ke arah jalanan gelap tempat Alvaro menghilang. 30 hari lagi di desa ini rasanya tidak akan cukup. Sandiwara ini semakin sulit, namun detak jantung yang ia rasakan setiap kali Alvaro muncul secara tiba-tiba adalah candu yang tidak ingin ia akhiri.

"Besok malam di rumah Mbah Darmo... tamatlah riwayat gue," batin Mika sambil tersenyum tipis di balik mangkuk ramyeonnya.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!