Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~19
Firman mengangguk kecil. "Bagaimana menurut Abi dan Umi? Marni gadis yang baik dan aku sudah mengenalnya sejak kanak-kanak." ucapnya meminta pendapat kepada orang tuanya, meskipun ia tak mengatakan kedekatan mereka secara pasti tapi ia yakin kedua orang tuanya paham karena sepanjang hidupnya baru kali ini ia membicarakan seorang wanita dihadapan mereka.
Kedua orang tuanya pun menatapnya dengan serius terlebih sang ibu, walaupun ia tahu gadis bernama Marni warga desanya itu tapi ia tak terlalu mengenalnya dengan dekat tapi yang ia tahu gadis itu berasal dari keluarga kurang mampu.
"Lalu bagaimana dengan Kania, Firman? umi sudah terlanjur bicara dengan kedua orang tuanya lagipula apa salahnya kamu mencoba mengenalnya juga jadi kamu punya pilihan mana yang terbaik dari antara yang baik," ujar sang ibu yang memang sebelumnya ingin menjodohkan putranya itu dengan putri dari temannya yang saat ini masih menempuh pendidikan di pondok pesantren milik sang paman.
"Tapi perasaan tidak bisa dibandingkan umi." tukas Firman yang nampak tertunduk menahan kesal, sebelumnya ia sudah menolak permintaan ibunya itu untuk berkenalan dengan gadis lain namun rupanya penawaran itu masih berlaku hingga sekarang.
"Kamu hanya belum mengenalnya saja Firman, apa salahnya menjalin silaturahmi dengan Kania dan juga keluarganya, selain pintar Kania sosok gadis yang sangat baik yang ummi rasa bisa mendampingimu." mohon sang ibu mencoba meyakinkannya.
"Apa salahnya ummi juga mengenal Marni." potong Firman, meskipun kurang sopan tapi ia juga punya pendapat lain.
Kedua orang tuanya itu terlebih sang ibu nampak menghela napasnya pelan, putranya itu memang sosok mandiri sejak kecil. Segala keinginannya harus terwujud bagaimanapun caranya, tapi rumah tangga adalah ibadah terpanjang manusia dan di dalamnya tidak hanya tentang cinta tapi juga saling pengertian dari kedua belah pihak bersama-sama untuk menopang perahu ketika badai datang.
"Baiklah, undang gadis itu untuk berbuka puasa disini besok jika mas ingin kami mengenalnya!" perintah sang ibu pada akhirnya, secercah senyuman pun langsung terbit di bibir tipis putranya itu dan itu tak lepas dari pandangan sang ayah. Sepertinya anak sulungnya itu benar-benar sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Terima kasih ummi, terima kasih Abi." Firman pun langsung mengambil tangan mereka untuk ia cium lalu setelah berbincang sejenak pria itu pamit untuk masuk ke dalam rumahnya karena hari ini terlalu lelah dengan banyaknya kegiatan jadi ia ingin segera beristirahat dan tak lupa berkirim pesan dahulu dengan sang pujaan hatinya itu yang mungkin sudah menjadi rutinitas mereka sebelum tidur.
"Sepertinya kita juga harus mengundang Kania dan keluarganya Bi," ucap ibunya Firman setelah putranya itu pergi.
"Kenapa harus dalam waktu bersamaan umi, apa itu tidak terlalu menyinggung perasaan nak Marni?" ucap sang suami memberikan pendapatnya, pria itu memang tak terlalu mempersoalkan siapa yang menjadi jodoh putranya karena memang putranya sudah sangat mandiri dan dewasa jika ia lihat-lihat sosok bernama Marni itu sepertinya juga terlihat baik, teduh dan wanita penyabar.
"Justru alasan Ummi mengundang mereka bersama-sama agar Firman bisa membandingkan keduanya lagipula selama ini setiap kali ummi ingin mengundang keluarga nak Kania putra kita itu selalu saja banyak alasan untuk menolak." terang wanita paruh baya itu, sebagai seorang ibu tentu saja ia menginginkan yang terbaik untuk putranya agar kelak tidak menyesal dengan pilihannya karena rumah tangga itu ibadah yang sangat panjang dan harus dijalani dengan orang yang tepat.
"Baiklah terserah ummi saja aku juga sangat merindukan ayah nak Kania entah sudah berapa lama kita tak bertemu," sahut sang suami.
Ayahnya Kania adalah teman masa mereka berada di bangku kuliah dahulu yang saat ini tinggal di ibukota namun putri mereka jauh-jauh di pondokkan di pesantren milik keluarganya yang jaraknya hampir 5 jam perjalanan darat.
"Asslamu'alaikum Marni, kenapa hari ini tidak datang ke mushola? pesan mas semalam juga belum dibalas, apa kamu baik-baik saja?"
Marni yang baru bangun tidur nampak tersenyum membaca pesan dari Firman yang di kirim satu jam yang lalu itu.
"Maaf mas dari semalam aku haid jadi tidak puasa dan semalam setelah sampai juga langsung tidur."
Semalam saat hendak tidur ia tiba-tiba kedatangan tamu bulanannya alhasil ia tidak puasa hari ini dan ibunya pun melarangnya untuk membantunya memasak hidangan sahur.
"Oh pantas, apa merasa baik-baik saja? apa ada yang bisa mas bantu? jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya pada mas ya?"
Marni kembali tersenyum menatap pesan balasan pria itu, meskipun Firman bukan sosok pria yang suka menggombal tapi entah kenapa setiap perkataannya selalu berhasil menciptakan kupu-kupu terbang dalam perutnya.
"Aku hanya haid mas bukan sakit parah paling terkadang perutku sedikit kram tapi itu bisa diatasi,"
Ia memang tak memiliki keluhan yang berarti dengan haidnya, tamu bulanannya itu selalu datang tepat waktu namun selama ini ia terpaksa menggunakan pil kontrasepsi karena hari naas tak ada yang tahu mengingat pekerjaannya selalu bersinggungan dengan alkohol maupun pria hidung belang namun begitu hingga kini ia masih berhasil mempertahankan kesuciannya.
"Tunggu nanti jadi istrinya mas ya pasti akan mas usap perutnya sampai merasa tak kram lagi."
Marni langsung tertawa kecil membaca pesan pria itu yang terlihat sangat khawatir tentang keadaannya dan ia merasa semakin bersalah karena belum mampu berkata jujur padanya.
"Hm, baiklah tapi entah kapan hari itu tiba."
Marni tidak tahu apa pria itu sudah bicara dengan orang tuanya atau belum perihal hubungan mereka yang mungkin tak ada status pacaran tapi rasanya mereka sangat dekat dan lebih dari sekedar pacaran karena setiap hari yang mereka bicarakan terutama pria itu adalah rencana masa depan mereka, berapa memiliki anak dan hari-hari indah setelah menikah. Entah itu bisa menjadi kenyataan atau tidak karena ini semua masih seperti mimpi bagi wanita itu dan ia takut terbangun dari kenyataan, jika ini memang mimpi biarkan ia sedikit lebih lama terlelap untuk merasakan indahnya jatuh cinta.
"Secepatnya mas janji karena nanti ummi dan abi mengundang Marni untuk berbuka puasa bersama kami di rumah."
Deg!
Marni pun langsung terkejut membaca pesan tersebut, kenapa secepat itu mereka ingin bertemu dengannya? bagaimana jika mereka menolak hubungannya dengan pria itu?
"Dandan yang cantik ya dan jangan lupa kenakan pakaian yang kita beli semalam, mas ingin calon istrinya mas tampil yang terbaik malam ini."
Belum sempat ia balas pria itu kembali mengirim pesan yang membuatnya kembali terseyum dan melupakan kegalauannya akan diterimanya atau tidak hubungan mereka.
"Hm tentu saja mas, Marni takkan mengecewakan mas."
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu