Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembatalan Pertunangan
Hujan kembali turun, merayapi kaca jendela apartemen dengan suaranya yang menenangkan. Adara duduk memeluk lutut di sudut kamar. Matanya sembab, kepalanya terasa berat, tubuhnya gemetar karena ketakutan yang makin menghimpit dadanya.
Ayumi berdiri tak jauh dari sana, sibuk bolak-balik menutup tirai, membuka ponsel, lalu menutupnya lagi dengan wajah muram.
“Dar… gue nggak tau harus ngapain. Ini… makin gila.” Ayumi duduk di samping Adara. “Orang-orang di media sosial… mereka makin ngehujat lo.”
Adara tidak merespons. Dia hanya semakin menenggelamkan kepalanya di antara lututnya. Dia sudah pasrah dengan apapun yang terjadi. Mungkin dia harus pindah keluar negeri dan memulai hidup baru.
Setelah menemui Adara dan meluapkan emosinya, Laras benar-benar menghubungi seluruh media yang mau menampung ceritanya. Wanita itu mempublikasikan foto-foto editan yang seolah menunjukkan Adara sedang memeluk suaminya. Ada voice note hoax, chat palsu, dan beberapa rekaman video yang entah direkayasa dari mana.
Dan seperti biasanya, publik langsung menelan mentah-mentah. Komentar-komentar penuh kebencian merayap masuk ke akun media sosial Adara.
“Sebaiknya lo klarifikasi, Dar…” ucap Ayumi.
“Apa mereka bakal percaya sama gue?” tanya Adara. “Sedangkan semua bukti-bukti palsu itu keliatan nyata banget.”
“Gue yakin… ada pelaku di balik scandal ini, Dar. Ada orang yang nyamar sebagai lo. Entah tujuannya buat apa—tapi ini keterlaluan banget dan jahat!” ucap Ayumi.
Adara hanya diam saja. Dia sudah kehabisan tenaga, bahkan untuk sekedar mengeluh.
Tiba-tiba saja ponsel Adara bergetar. Ayumi meraih ponsel Adara yang tak jauh darinya. Ia melihat nama yang tertera di layar.
“Dar… ini ibunya Rafka.”
Adara mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya memancarkan ketakutan. Ia meraih ponsel itu dengan tangan yang bergetar.
“Assalamu’alaikum, Umi…”
“Wa’alaikumussalam.” Suara seorang wanita paruh baya terdengar berat, namun jelas berusaha menjaga kelembutan. “Adara… Nak, kamu lagi di mana?”
“Saya… di apartemen, Mi.”
Hening sejenak, lalu suara helaan napas kasar menyusul. “Nak, kamu pasti sedang sangat sedih… Umi ngerti itu. Tapi keadaan ini sekarang sudah menyangkut banyak hal…”
Adara menelan ludah. “Maaf, Umi…”
“Keluarga-keluarga wali santri sudah mulai menghubungi pesantren,” lanjutnya. “Mereka… tidak setuju Rafka menikah dengan perempuan yang dianggap terlibat hal seperti ini. Banyak yang mengancam untuk menarik anak mereka dan pindah pesantren.”
Ayumi langsung menatap Adara dengan wajah khawatir.
“Umi tidak ingin memojokkan kamu, Nak… tapi ini menyangkut reputasi pesantren. Umi mohon… jangan libatkan pesantren dalam masalah pribadi kamu. Tolong buat klarifikasi yang tidak menghubungkan nama Rafka atau pesantren…”
Adara terdiam lama. Air matanya mulai mengalir tanpa suara.
“Nanti akan Umi jelaskan ke wali-wali santri bahwa pertunangan kalian sudah dibatalkan,” sambung ibunya. “Setidaknya sampai masalah ini benar-benar selesai.”
Jantung Adara serasa berhenti berdetak.
Pertunangan… dibatalkan?
Padahal semalam, Rafka berkata ia percaya. Padahal semalam, lelaki itu bilang dia sudah meminta pengertian kepada keluarganya.
Namun sekarang….
“Baik, Mi…” suara Adara hampir tidak terdengar.
“Terima kasih, Nak… Umi mohon maaf…” Telepon ditutup.
Ayumi menarik tubuh Ayumi ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan sahabatnya itu.
“Dar… Umi Nafisah bilang cuma sementara, kok. Setelah semuanya membaik mereka pasti kembali menerima kamu.”
Tapi Adara tidak menjawab. Ia terlalu sibuk berusaha bernapas agar tangisannya tidak pecah lagi.
Satu jam setelahnya, ponsel Adara kembali berdering. Kali ini nama yang muncul membuat tubuh Adara kembali gemetar.
Ayumi menatapnya, gelisah. “Angkat aja… lo harus denger dari dia langsung.”
Adara mengangguk pelan lalu mengangkat panggilan itu. “Assalamu’alaikum…”
“Dara!” suara itu terdengar panik, nyaris marah. “Umi bilang kamu setuju pertunangan kita dibatalin? Kamu bilang apa ke Umi?”
Adara terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Rafka. “Aku nggak mau kamu kena masalah. Ini pesantren keluarga kamu, Raf… bukan hal yang bisa aku anggap remeh.”
“DAR—” Rafka menghentikan kalimatnya, menarik napas kasar. “Aku mau ke Jakarta. Hari ini juga. Kita harus ketemu.
“Nggak usah…” Adara menutup mata. “Aku cuma bikin semuanya makin susah.”
“Kita tunangan!” Rafka meninggikan suara. “Kamu calon istri aku. Kamu pikir aku akan biarin orang-orang hina kamu gini?”
Adara menggigit bibirnya. “Raf… aku nggak kuat lihat pesantren kamu dihina gara-gara aku.”
“Aku yang bakal jelasin semuanya! Kamu cukup tahan—”
“Rafka.” lirih Adara. “Aku mau kamu berhenti.”
Keheningan menyergap seperti kabut dingin.
“Kenapa ngomong kayak gitu?”
“Aku mau kamu berhenti membela aku. Semuanya udah terlanjur kacau.”
“Dara, kamu jangan bilang—”
“Maafin aku.”
“Jangan lakuin apapun! Aku nggak mau pertunangan kita batal, Dar. Aku ke sana sekarang!” Rafka memutuskan sambungan telepon.
Adara hanya menghela napas kasar lalu beranjak dari tempatnya. “Gue mau istirahat, Yum.”
“Lo istirahat, ya. Jangan kemana-mana. Gue keluar dulu nyari makanan buat lo.” Ayumi ikut beranjak lalu meninggalkan Adara seorang diri di apartemennya.
Setelah kepergian Ayumi—gadis itu menatap layar ponselnya. Setelah berpikir sejenak, Adara membuka Instagram. Jemarinya bergerak lambat, mengetikkan kalimat-kalimat yang tidak ingin dia ucapkan.
“Assalamu’alaikum teman-teman. Saya Adara Naqia Selvira, ingin menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas semua kegaduhan yang terjadi.Dengan ini saya menyatakan bahwa pertunangan saya dan Rafka telah dibatalkan. Saya tidak ingin menyeret pesantren dan keluarga Rafka dalam masalah yang bukan kesalahan mereka.Saya mohon maaf kepada keluarga besar Rafka. Saya mohon maaf kepada masyarakat dan saya memohon maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan karena masalah ini… ”
Satu tetes air mata jatuh ke layar ponselnya. Namun ia tetap menekan enter dan mengirim tulisan itu ke status instagramnya. Dalam beberapa detik, notifikasi meledak. Puluhan ribu komentar masuk. Adara tak lagi peduli, dia tidak ingin membaca apa pun. Ia pun mematikan ponselnya.
Di luar hujan turun semakin deras. Adara merapikan hijabnya lalu meraih kunci mobil. Adara bergegas keluar apartemennya, ia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan mulai mengemudi tanpa tujuan.
Pikirannya sangat kacau. Semua suara di kepalanya berputar-putar, seperti sedang berada di tengah ribuan manusia yang melemparkan cacian dan makian untuknya. Adara menggenggam setir kuat-kuat. Napasnya memburu.
“Kenapa semuanya jadi begini, Ya Allah…” bisiknya.
Air mata masih mengalir deras membasahi pipinya.
Hujan deras membentur kaca mobil seperti ingin meretakkan segala yang ada di dalam kepala Adara. Wiper bergerak terburu-buru, tapi tetap saja pandangannya buram. Jalanan sepi, hanya lampu-lampu jalan yang berpendar kuning, memanjang oleh air yang mengalir di kaca. Adara menggenggam setir lebih erat, mencoba menenangkan napas yang mulai tak beraturan.
Di tikungan menuju persimpangan, ia sempat melirik kiri—sekadar memastikan tidak ada kendaraan lain. Namun suara gemuruh hujan menenggelamkan bunyi mesin besar yang melintas dari arah sebaliknya. Saat pandangannya kembali ke depan, bayangan gelap itu sudah memenuhi sisi mobil. Truk besar muncul dari persimpangan secepat kilat, seperti tubuh raksasa yang tiba-tiba memecah kabut.
Adara refleks menoleh, matanya membulat. “Astag—” suara itu bahkan tak sempat selesai. Truk itu menghantam sisi mobilnya dalam hentakan mengerikan.
Dentuman logam beradu memecah hujan, membuat tubuhnya terlempar ke arah jendela. Mobil berputar sekali, dua kali, sebelum menyeret dirinya ke pinggir jalan, tubuhnya terasa remuk, seolah dunia ikut runtuh bersamanya.
Rasa panas menyengat kepalanya, sementara suara hujan kini terdengar jauh… sangat jauh. Adara mencoba mengangkat tangan, tapi setengah tubuhnya terasa membeku. Lampu-lampu jalan tampak berpendar ganda di matanya, kabur seperti lukisan yang dioles dengan tangan gemetar. Hanya satu hal yang ia ingat sebelum gelap menelannya—denting hujan yang masih sibuk berbisik, seakan menuntutnya tetap terjaga.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.