Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Javier
Langkah kaki Javier dengan cepat menuruni tangga ia membawa barang Nella dan tak lupa semua pakaian yang kemarin di pakai ia akan bawa pergi.
Nenek dan kakek yang ada di meja makan melihat sikap buru-buru Javier terdiam menatap nya.
"Masih sepagi ini kau pulang?" Tanya Nenek yang menyiapkan kopi untuk kakek di meja makan dan kakek yang akan duduk tenang di kursinya.
Nella bahkan barusan mengambil roti dari oven masih hangat dan dihidangkan diatas meja makan untuk sarapan mereka.
"Terimakasih Nak." Ucapan sederhana nenek sedikit membuat Nella di hargai. Awalnya Nella turun kebawah bingung harus apa tapi, nenek yang muncul dari pintu belakang membawa beberapa sayuran di keranjang sayur memanggilnya tanpa menatapnya.
"Sama-sama nek."
Javier melihat Nella mulai di terima neneknya menahan rasa gelisah ya dan bergerak bergabung sarapan bersama. Nella pergi mengambil cangkir teh untuk dirinya dan Javier membantunya.
"Aku suka kopi dan teh tapi, kamu harus membuatnya untukku, aku suka kopi dengan gula sedikit dan kopinya harus punya bau seperti, jika kamu tidak menemukan kopi seperti ini teh dari bunga apa saja aku suka, tanpa gula... Aku harap kamu menyediakannya dengan penuh perasaan cinta untukku."
"Sayangnya aku tidak akan mengingat itu, lakukanlah sendiri aku tidak sudi." Nella membalas penjelasan dengan nada suara yang lembut dan penuh perhatian, dengan cuek dan malas.
Javier mengangguk tersenyum membawa kopinya sendiri dan Nella membawa cangkir tehnya ke meja makan. Javier yang berdiri didekatnya menarik kursi untuk Nella duduki.
"Eh, makasih." Salah tingkah dan malu dengan perlakuan ini, Nenek dan kakek sedikit melirik kearah mereka.
"Aku akan membawa Nella pulang kerumah sekarang Nek, kakek aku tidak bisa lama disini."
Sedikit kaget sampai roti yang mau masuk ke mulutnya berhenti didepan mulutnya.
"Nenek akan berdoa yang terbaik untuk kalian, Nella jika terjadi sesuatu denganmu atau Javier lari lah kemari, Nenek dan kakek juga keluargamu, jangan kemanapun."
Nella menoleh tersenyum anggukkan kecil yang malu. Sejujurnya hati nya langsung menjawabnya, kenapa hari lari kemari kenapa tidak ketempat lain kenapa harus mereka berdua lagi? Apa yang akan terjadi sebenarnya apa ini masalah hidup dan mati?
"Pergilah kalian setelah sarapan, kau juga harus siap dengan segala kemungkinan yang ada dan kau juga harus menjadi kannya istri terbaik, jangan sampai kau sia-siakan."
Kakek terdengar membela Nella begitu ketat seperti seorang ayah melindungi anak perempuannya dari pria kurang ajar.
"Aku ingat itu, aku sudah tahu."
Sarapan berlanjut dengan tenang, sampai waktunya berpamitan tiba.
Nenek memberikan sesuatu didalam tas kecil dan Nella tak berani mengintipnya sampai tatapan nenek sedikit berair dan Nella di peluknya dengan erat.
"Kamu mirip dengan Shellia, Javier jaga dia dengan baik jangan sampai rasa sakit itu sama seperti saat itu." Nenek pergi masuk lebih dulu sebelum Nella dan Javier pergi.
Kakek sekarang menatapnya dan Javier, berulang kali mencoba terbiasa dengan kakek tetap saja nenek yang mulai Nella terbiasakan tapi, kakek masih sama seperti saat bertemu.
"Kalian harus bahagia selamat dan sehat, nak... Kamu adalah kebahagian kami dan Javier jaga kesehatanmu dengan baik, dengarkan Javier karena setelah ini hanya Javier yang bisa kamu percaya."
Anggukan kepala dan senyuman malu. Javier di tarik dalam pelukan kakek dan Nella masuk mobil diantar Javier. Lalu Javier yang masuk memasang sabuk pengaman Nella juga mengikuti nya.
Di jalan yang sudah ada setengah jam perjalanan Nella tidak mau membuka suara sama sekali sampai akhirnya mobil memasuki halaman yang luas dan anginnya cukup kencang.
"Sekitar tuju jam lebih nanti di perjalanan kamu mabuk udara?"
Gelengan.
"Aku tidak akan menyusahkan mu." Javier mendengar suara sok kuat dari Nella hanya di tanggapi senyuman dan usapan di kepala Nella.
"Ayo." Ajaknya dan tangan Nella di minta menyambut tangan Javier yang terulur untuk ia gandeng saat turun dari mobil.
"Tanyakan apa yang mau kau tanyakan aku akan jawab."
"Aku curiga denganmu, aku akan naik duluan." Nella pergi masuk pesawat pribadi tanpa Javier. Tak lama Nella masuk pesawat mobil lain datang salah satu orangnya yang semalam Javier selamatkan.
"Tuan... Maaf terlambat."
"Tidak, kau tepat waktu, naiklah dan jaga dia sebentar aku harus bicara dengan orang rumah."
Seam pergi naik lebih dulu.
****
Pesawat yang mulai mengudara, Javier yang bersandar membaca bukunya tiba-tiba merasa Nella akan menjatuhkan ponselnya. Perlahan Nella di baringkan dengan nyaman pada kursi sandaran di beri selimut dan juga mengambil ponselnya. Pramugari menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, buat aku urus sendiri, terimakasih." Sopan namun, dingin.
Sampai di daratan dengan selamat dan turun dari pesawat dengan jas Javier yang menutup tubuhnya. Nella lelah dan lemas karena terlalu banyak tidur.
Javier yang melihatnya kasihan berjalan mendekat dan menggendongnya masuk kedalam mobil.
"Seam." Panggilan Javier dengan cepat di lakukan Seam untuk menjadi sopir.
Perjalanan darat menempu waktu lima jam lebih dan sopir bergantian Seam dan temannya.
Nella tidur nyaman di pangkuan Javier dan kepala bersandar di dada Javier.
"Wanginya enak..." Gumamnya didengar Javier yang hanya memejamkan matanya.
"Tidur lah sayang, perjalanan ini melelahkan."
Mendengar suara pintu terbuka Nella membuka matanya melihat sekeliling dan ini adalah kamar tidur, diatas kasur ia bangun dan rasanya badannya segar, ini di mana?
"Masih subuh jika mau tidur tidurlah lagi..." Javier membenturkan dahinya dan Nella yang tiba-tiba duduk melihat Javier barusan selesai mandi.
"Kau mau kemana?" Tidak mendengar ucapan Javier barusan malah bertanya.
"Mau keluar untuk urusan..." Nella menghela nafasnya kasar.
"Mau ikut?" Tawaran yang terdengar menyenangkan itu seketika wajah Nella berubah ceria melompat dari kasur.
"Sepuluh menit aku bersiap ya..." Teriakannya senang sekali, Javier mengangguk menunggunya dengan membuka laptop duduk di sofa kamarnya.
Setelah mandi kilatnya Nella keluar dengan jubah handuk rapat dan rambut di tutup handuk.
"Aku lupa? Apa aku bisa pinjam bajumu dulu?" Nella bersuara dengan malu menunduk takut, Javier tersenyum geli tapi ia merasa berdebar melihat pakaian Nella.
"Aku menyiapkannya di lemari, pakailah yang nyaman." Seketika kaget, kata sudah di siapkan.
"Kau bercanda, Javier?"
Mengedikkan bahu dan alis yang terangkat lalu senyuman manis itu jelas mengejek Nella yang tak percaya pada ucapannya.
Setelah sepuluh menit lebih dikit Nella keluar dengan pakaian santainya.
"Okay, itu lumayan... Cantik." Javier keluar kamar mendahului Nella yang mengekor di belakangnya.
Saat keluar dari pintu depan saat itu Nella sadar ia sudah ada di tempat berbeda.
Apa ini rumah Javier dan sepanjang perjalan ia tertidur. Nella benar-benar tak bisa tidak salah tingkah kalo Javier sudah terang-terangan memperlihatkan perhatiannya secara nyata.
"Sayangku... Hay apa kabar pagimu... Ouch siapa dia?" Nella terdiam dengan perempuan cantik yang menyambut mereka dan tinggi badan mereka sedikit berbeda.
"Sayangku, kemari." Javier mengulurkan tangannya untuk Nella dan didepan perempuan yang barusan memanggilnya sayang.
Nella percaya diri saja mendekat meraih tangan Javier tersenyum manis dan tak lupa ia bergerak sendiri memeluk lengan Javier.
"Aku istrinya Javier, sayang siapa perempuan yang memanggilmu sayang barusan?"
Javier tersenyum lembut membalas Nella yang bertanya dengan wajah manis dan suara lembut.
"Dia Renata, Tunangan yang ayah ibuku pilihkan untukku, aku harap kamu tidak memberinya celah..." Javier tersenyum licik melihat Nella sedikit kaget.
"Oh, Tunangan... Berarti bisa batalkan..." Tangan Nella terulur untuk berjabat tangan.
"Kau, pelacur sialan!"