NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Air Menolak Badai

Permukaan laut Selatan malam itu bukanlah hamparan air biasa. Itu adalah kawah peperangan yang mendidih. Ombak setinggi gedung bertingkat saling hantam dengan suara gemuruh yang mengalahkan suara guntur. Langit di atasnya terbelah oleh kilat biru yang terus menyambar-nyambar tanpa henti, menerangi sosok raksasa yang berdiri di atas panggung air yang bergolak.

Poseidon.

Dewa itu berdiri gagah di atas kereta perangnya yang ditarik oleh empat Hippocampus—kuda setengah ikan—yang ukurannya sebesar kapal pesiar. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, ribuan pasukan Merman (manusia duyung) berbaju zirah perunggu berbaris rapi di atas ombak, memegang tombak dan jaring. Di udara, ratusan Harpy berputar-putar seperti lalat yang mengerubungi bangkai, menjeritkan lagu perang yang memekakkan telinga.

"KELUAR!" suara Poseidon menggelegar. Suaranya bukan sekadar gelombang suara, tapi gelombang kejut yang membuat air laut di radius satu kilometer terlempar ke udara. "Jangan bersembunyi di balik karang, Ratu Kecil! Hadapi aku! Serahkan laut ini, atau aku akan mengeringkannya sampai ke dasar!"

Ia menghentakkan Trisula-nya ke permukaan air. BLAARRR! Sebuah pilar air raksasa meledak ke angkasa, lalu jatuh kembali menjadi hujan badai yang menyakitkan kulit.

Keheningan yang aneh tiba-tiba menyelimuti sisi selatan medan perang.

Dari kedalaman laut yang gelap, sebuah cahaya hijau lembut mulai berpendar. Awalnya kecil, seperti kunang-kunang. Namun perlahan, cahaya itu melebar, membelah ombak yang sedang mengamuk.

Air laut yang ganas itu tiba-tiba menjadi tenang di satu titik, seolah ada tangan raksasa yang menyetrikanya hingga licin seperti kaca.

Dari tengah ketenangan itu, muncullah kereta kerang raksasa yang ditarik oleh empat naga laut.

Sekar berdiri di sana, di atas kereta itu. Ia tidak memegang senjata. Ia tidak memakai baju zirah logam. Ia hanya mengenakan Dodot Bangun Tulak yang berkibar pelan ditiup angin badai, namun anehnya, tidak ada satu tetes air pun yang berani menyentuh kulitnya.

Ia berdiri tegak, dagunya terangkat sedikit, matanya yang digaris celak hitam menatap lurus ke arah Dewa Yunani itu. Wajahnya sedingin pualam, tanpa ekspresi, tanpa rasa takut.

Poseidon menyipitkan matanya. Ia mengharapkan pasukan perang. Ia mengharapkan monster laut lokal. Tapi yang ia lihat hanyalah seorang gadis kecil dengan riasan tebal.

"Siapa ini?" tanya Poseidon, suaranya meremehkan, namun ada sedikit rasa penasaran. "Apakah Ratu kalian sudah kehabisan jenderal, hingga mengirim penari untuk menyambutku?"

Sekar tidak menjawab. Pantang baginya untuk bersuara.

Simbah, sang kusir naga, yang menjawab. Ia terkekeh pelan, suaranya terdengar jelas di tengah badai. "Maaf, Tuan Tamu. Ratu kami sedang sibuk ngeracik jamu. Beliau bilang, tamu yang datang marah-marah biasanya butuh hiburan biar urat lehernya nggak putus."

Wajah Poseidon memerah padam. "Lancang! Kalian menghinaku?!"

Ia mengangkat Trisula-nya, bersiap melemparkan badai petir tepat ke arah Sekar. Pasukan di belakangnya bersorak, menantikan darah tumpah.

Namun, sebelum petir itu menyambar, Sekar mengangkat tangannya perlahan.

KLINTING.

Suara itu kecil. Sangat kecil. Hanya suara gesekan gelang emas di pergelangan tangannya. Tapi anehnya, suara itu memotong gemuruh badai seperti pisau panas memotong mentega.

Sekar mulai bergerak.

Ia merentangkan tangannya, melakukan gerakan sembahan pembuka. Gerakannya lambat, sangat lambat. Kontras sekali dengan kekacauan di sekelilingnya.

Saat ia bergerak, sesuatu yang ajaib terjadi.

Air laut di sekitar kereta kerangnya mulai naik. Bukan sebagai ombak yang menghantam, tapi sebagai selendang. Air itu meliuk mengikuti gerakan tangan Sekar, membungkus tubuhnya, lalu menyebar lagi menjadi butiran-butiran kristal yang memantulkan cahaya bulan.

Poseidon tertegun sejenak. Tangannya yang memegang Trisula turun sedikit. Ia melihat sesuatu yang mengganggunya.

Air laut itu... air laut itu menurut pada gadis ini.

Bukan karena dipaksa dengan kekuatan sihir kasar seperti yang dilakukan Poseidon. Air itu bergerak karena ingin menari bersamanya. Ada harmoni di sana yang tidak dimengerti oleh sang Dewa Penakluk.

"Trik murahan!" bentak Poseidon, menepis rasa kagumnya. "Serang dia! Hancurkan kereta itu!"

Tiga ekor Merman melompat dari barisan, berenang cepat dengan tombak terarah ke dada Sekar. Mereka melesat seperti torpedo.

Sekar tidak menghindar. Ia bahkan tidak melihat mereka.

Ia melakukan gerakan srisig (berjalan cepat dengan jinjit), berputar di tempat. Dodot panjangnya mengibas.

Bersamaan dengan kibasan kain itu, ombak di samping keretanya tiba-tiba memadat.

BLAM!

Ketiga Merman itu menabrak dinding air yang sekeras beton. Tombak mereka patah. Tubuh mereka terpental jauh, seolah ditampar oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Sekar tidak berhenti menari. Ia melanjutkan gerakannya, ukel (memutar pergelangan tangan), lalu nyempurit (memegang selendang). Wajahnya tetap datar, matanya kosong namun tajam, seolah ia sedang menari di pendopo keraton yang sunyi, bukan di tengah medan pembantaian.

Simbah tertawa lagi sambil menyalakan rokok klobotnya (yang entah bagaimana tetap menyala di tengah badai). "Waduh, Tuan. Di sini kalau mau nyawer jangan pakai tombak. Pakai sopan santun."

Poseidon menggertakkan giginya. Ia sadar ini bukan sekadar tarian. Ini adalah ritual. Gadis itu sedang membangun benteng pertahanan menggunakan ritme samudra itu sendiri.

Semakin lama Sekar menari, semakin luas area laut yang menjadi tenang di sekitarnya. Badai buatan Poseidon terdorong mundur, inci demi inci. Awan hitam di atas kepala mereka mulai berlubang, membiarkan sinar bulan purnama menyinari Sekar seperti lampu sorot panggung.

"Cukup!" teriak Poseidon.

Ia tidak lagi menyuruh pasukannya. Ia sendiri yang memacu kereta kudanya maju. Empat Hippocampus raksasa itu meringkik, menerjang ombak, mulut mereka terbuka lebar siap melahap kereta kerang yang kecil itu.

Jarak mereka semakin dekat. Seratus meter. Lima puluh meter.

Sekar melihat monster-monster itu mendekat. Ia bisa mencium bau napas busuk mereka. Ia bisa merasakan getaran ketakutan di dadanya, tapi ia mengingat kata-kata gurunya:

Jadilah wadah. Jangan lawan arusnya. Ikuti.

Sekar tidak mundur. Ia justru maju selangkah ke bibir keretanya. Ia menatap mata Hippocampus yang paling depan—makhluk buas yang siap menerkamnya.

Lalu, Sekar melakukan gerakan yang tak terduga.

Ia tersenyum.

Bukan senyum mengejek. Bukan senyum takut. Itu adalah senyum ibu yang melihat anak nakal. Senyum pamong (pengasuh). Senyum yang penuh dengan welas asih (kasih sayang) yang melumpuhkan.

Ia mengulurkan tangannya ke depan, telapak tangan terbuka, seolah menawarkan belaian.

Hippocampus itu mendadak mengerem di udara. Sirip-siripnya mengepak panik mencoba menghentikan momentum. Mata buasnya yang merah tiba-tiba berubah bingung. Di hadapan aura keibuan yang begitu pekat itu, insting membunuhnya tumpul seketika.

Makhluk itu berhenti tepat sepuluh senti dari telapak tangan Sekar. Napasnya yang kasar berhembus menerpa wajah Sekar, tapi Sekar tidak bergeming.

Poseidon hampir terlempar dari keretanya karena pengereman mendadak itu.

"Apa yang kau lakukan, bodoh?! Makan dia!" teriak Poseidon sambil memecut kudanya.

Tapi kuda itu tidak bergerak. Ia justru menundukkan kepalanya, membiarkan Sekar menyentuh hidungnya yang basah.

Di detik itu, seluruh medan perang hening. Ribuan pasukan terdiam melihat pemandangan mustahil itu: Seekor monster perang Yunani yang haus darah, tunduk di bawah elusan tangan seorang penari Jawa.

Poseidon menatap Sekar dengan tatapan horor. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat seorang gadis kecil.

Ia melihat sesuatu yang lebih tua, lebih purba, dan lebih menakutkan daripada dirinya. Ia melihat esensi dari Laut Selatan itu sendiri.

Dan di dalam hati Sekar, Jantung Samudra di lehernya mulai bersenandung. Suaranya bukan nyanyian perang. Itu adalah Lullaby (nina bobo).

Pertarungan fisik belum dimulai, tapi pertarungan mental baru saja dimenangkan ronde pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!