Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Gudang yang Membara
Matahari mulai memanjat naik, namun hawa dingin di sekitar gudang pupuk Desa Makmur Jaya sama sekali tidak terasa. Atmosfer di sana justru mendidih. Puluhan petani, lengkap dengan caping dan arit yang terselip di pinggang, berkerumun di depan gerbang besi gudang yang tergembok rapat.
"Buka pintunya! Kami mau lihat sendiri apa pupuk kami masih ada!" teriak Pak Darmo, suaranya menggelegar mengalahkan kebisingan massa.
Di barisan depan, Pak Sabar tampak berdiri gemetar di depan pintu gudang. Wajahnya yang biasanya licin kini tampak kuyu. "Bapak-Bapak, tolong tenang! Pak Kades sedang dalam perjalanan. Kunci gudang dibawa oleh petugas dinas, saya tidak pegang!"
"Bohong! Tadi malam ada truk keluar dari sini! Saya lihat sendiri!" sahut seorang pemuda dari belakang.
Tepat saat massa mulai mendorong pagar, suara raungan motor Kawasaki KLX milik desa membelah kerumunan. Baskara turun dengan gerakan cepat, diikuti Marno yang wajahnya sudah sepucat kertas. Baskara tidak tampak kaku seperti biasanya; ada kilat kemarahan dan ketegasan yang baru di matanya—sebuah pengaruh dari pembicaraannya dengan Arum tadi pagi.
"Bapak-Bapak! Mundur semua!" teriak Baskara. Suaranya yang berat dan berwibawa seketika membuat massa sedikit mereda.
Baskara berjalan menghampiri Pak Sabar yang mencoba bersembunyi di balik pilar. "Pak Sabar, kunci gudangnya."
"Anu... Pak Kades, kan saya bilang tadi..."
"Saya tidak suka diulangi," potong Baskara dingin. Ia merampas kunci yang melingkar di sabuk Pak Sabar yang sedari tadi coba ditutupi pria tua itu. "Marno, buka gerbangnya!"
KRIEEET...
Pintu besi itu terbuka. Warga merangsek masuk, dan seketika itu juga, desah kecewa dan amarah meledak. Gudang yang seharusnya penuh dengan tumpukan karung pupuk subsidi berwarna oranye itu kini kosong melompong. Hanya tersisa debu dan beberapa karung sobek di sudut ruangan.
"Mana pupuk kami, Pak Kades?! Kamu jual ke pabrik di kota, ya?!" Pak Darmo menarik kerah baju Baskara.
Baskara tidak melawan. Ia justru mengangkat tablet digital yang diberikan Arum tinggi-tinggi. "Saya tidak menjualnya. Tapi seseorang di ruangan ini melakukannya semalam."
Baskara menekan tombol play. Rekaman CCTV itu berputar. Layar tablet yang terang menunjukkan dengan sangat jelas wajah Pak Sabar yang sedang mengarahkan kuli panggul memuat pupuk ke truk tanpa plat nomor pada jam dua dini hari.
Warga tertegun. Keheningan yang mengerikan menyelimuti gudang. Semua mata kini tertuju pada Pak Sabar.
"Sabar... kamu..." suara Pak Darmo bergetar karena marah.
"Itu... itu bukan saya! Itu editan! Pak Kades memfitnah saya karena saya tahu rahasianya!" teriak Pak Sabar histeris.
Namun, di saat yang bersamaan, ponsel para ibu-ibu yang ikut berkerumun di luar gudang berdenting secara serentak.
"Lho, ini videonya sama! Di grup PKK sudah ada!" seru salah seorang ibu.
"Iya! Ini ada foto Pak Sabar lagi terima amplop dari supir truknya juga!"
Arum telah melepaskan 'bom' informasinya lewat Bu Tejo di saat yang paling tepat. Serangan dua arah fisik melalui Baskara dan digital melalui Arum membuat Pak Sabar tidak punya jalan keluar.
"Bakar saja rumahnya!" teriak salah satu warga yang sudah terpancing emosi.
"Jangan!" Baskara berdiri di depan Pak Sabar yang sudah jatuh terduduk sambil menangis. "Kalau kalian membakarnya, kalian yang akan masuk penjara. Pak Sabar akan diproses secara hukum. Dan saya berjanji, truk yang membawa pupuk itu belum jauh. Saya sudah melacak koordinatnya."
Baskara melirik tabletnya lagi. Arum telah memasang pelacak GPS di salah satu karung "umpan" yang sengaja ia letakkan di gudang kemarin sore. Titik merah di peta menunjukkan truk itu sedang berhenti di sebuah gudang penggilingan padi milik... Pak Broto.
"Pak Darmo, ikut saya. Kita ambil kembali hak kalian di tempat yang seharusnya," ujar Baskara dengan nada menantang.
Sementara itu, di rumah dinas, Arum duduk dengan tenang di beranda sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Di depannya, Bu Tejo sedang sibuk mengetik di ponsel dengan kecepatan luar biasa.
"Aduh, Jeng Arum, bener-bener ya itu Pak Sabar. Gak nyangka saya. Padahal kalau pengajian paling depan," cerocos Bu Tejo.
Arum tersenyum tipis. "Manusia memang penuh kejutan, Bu. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah siapa yang menyuruhnya. Apa Bu Tejo tidak penasaran ke mana truk itu pergi?"
Bu Tejo langsung menghentikan kegiatannya. Matanya berbinar penuh nafsu gosip. "Ke mana, Jeng?"
"Ke penggilingan padi Pak Broto. Tapi... tolong jangan bilang-bilang ya, Bu. Ini rahasia. Saya takut nanti Pak Broto marah kalau warga tahu beliau menimbun pupuk subsidi untuk sawahnya sendiri."
Arum tahu persis apa yang akan terjadi. Kata-kata "tolong jangan bilang-bilang" bagi Bu Tejo adalah instruksi untuk segera menyebarkannya ke seluruh penjuru kecamatan.
Begitu Bu Tejo pamit dengan alasan ada urusan mendadak (yang sebenarnya adalah ingin berkeliling desa untuk bergosip), Arum menghela napas. Ia membuka laptopnya kembali. Ia melihat titik merah GPS di layar bergerak sedikit.
"Mas Baskara sedang menuju ke sana," bisiknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Arum. Dari nomor asing.
"Istri cerdik memang menarik. Tapi apa kamu bisa tetap cerdik saat rumahmu mulai terbakar? Lihat ke belakang."
Arum tersentak. Ia menoleh ke arah dapur. Asap hitam pekat mulai keluar dari celah pintu dapur. Seseorang telah masuk lewat pintu belakang dan menyalakan api saat ia sibuk meladeni Bu Tejo di beranda.
Arum tidak panik. Ia segera meraih alat pemadam api ringan (APAR) yang memang sudah ia siapkan di bawah meja ruang tamu sejak hari pertama. Namun, saat ia menuju dapur, ia melihat sosok pria tinggi besar berdiri di sana, memegang korek api dan jerigen bensin yang masih tersisa separuh.
Pria itu adalah salah satu preman pasar yang ia setrum kemarin. Wajahnya penuh bekas luka bakar akibat semprotan merica Arum.
"Satu sama, Ibu Kades," desis pria itu.
Arum tidak mundur. Ia justru melepaskan pin pengaman APAR-nya. "Kamu tahu tidak, Mas? Api itu mudah dipadamkan. Tapi karirmu dan bosmu yang akan hangus total setelah ini."
Di kejauhan, sirine mobil polisi kabupaten mulai terdengar sayup-sayup. Arum telah memanggil mereka sepuluh menit yang lalu, bukan untuk urusan pupuk, melainkan untuk "tamu tak diundang" yang sudah ia prediksi akan datang membalas dendam.
Asap hitam mulai memenuhi langit-langit dapur. Arum menatap preman di depannya dengan ketenangan yang ganjil, seolah api yang menjilat taplak meja di belakang pria itu hanyalah gangguan kecil dalam jadwal hariannya.
"Kamu pikir polisi akan sampai tepat waktu?" preman itu menyeringai, memutar-mutar korek api di jarinya. "Rumah ini kayu tua, Nyonya. Dalam lima menit, kamu dan semua dokumenmu akan jadi abu."
"Masalahnya," Arum mengangkat tabung APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dengan mantap, "kamu terlalu banyak bicara, sementara aku sudah terbiasa bekerja dengan data dan durasi."
WUSHHH!
Tanpa aba-aba, Arum menekan tuas APAR. Bubuk kimia putih menyembur deras, bukan ke arah api, melainkan tepat ke wajah preman itu. Pria itu terbatuk hebat, matanya perih tertutup serbuk putih, dan keseimbangannya goyah.
Arum tidak membuang waktu. Sambil terus menyemprotkan APAR untuk memadamkan api yang mulai merambat ke lemari kayu, ia menendang jerigen bensin menjauh ke area yang belum terbakar. Dengan gerakan sigap, ia menyambar sebuah wajan besi berat dari gantungan dan TANG! menghantamkannya ke tengkuk preman yang masih sibuk mengucek mata itu.
Pria itu jatuh tersungkur, pingsan seketika di lantai dapur yang kini tertutup bubuk putih dan sisa-sisa bensin.
Arum segera mematikan api yang tersisa. Napasnya tersengal, dadanya sesak karena asap, tapi ia segera berlari ke ruang tengah untuk membuka semua jendela agar udara segar masuk. Di luar, suara sirine polisi kini terdengar sangat dekat.
Di saat yang hampir bersamaan, di depan gudang penggilingan padi milik Pak Broto, suasana tak kalah mencekam. Baskara berdiri di barisan depan bersama puluhan warga yang matanya merah karena amarah.
"Buka pintunya, Broto! Jangan jadi pengecut!" teriak Pak Darmo sambil menggedor gerbang gudang yang tinggi.
Pintu kecil di samping gerbang terbuka. Pak Broto keluar dengan kemeja batik sutra yang rapi, tampak sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Ada apa ini, Pak Kades? Kenapa membawa massa ke tempat pribadi saya? Ini bisa saya laporkan sebagai perbuatan tidak menyenangkan."
"Kami mencari pupuk subsidi desa kami yang hilang, Pak Broto. Dan GPS di tablet saya menunjukkan barang itu ada di dalam sana," Baskara menunjukkan layar tabletnya tepat di depan wajah Pak Broto.
Pak Broto tertawa meremehkan. "GPS? Teknologi bisa salah, Bas. Mungkin ada gangguan sinyal. Di sini hanya ada gabah milik petani yang saya beli secara sah."
"Kalau begitu, izinkan kami masuk untuk membuktikannya," tantang Baskara.
"Tanpa surat geledah? Jangan harap," Pak Broto menyilangkan tangan di dada.
Namun, Baskara tidak menyerah. "Pak Broto, Anda mungkin bisa mengendalikan Pak Sabar atau menyuap orang kabupaten. Tapi Anda tidak bisa menghentikan kejujuran warga yang melihat truk tanpa plat nomor masuk ke sini dua jam lalu."
Tiba-tiba, suara pintu gudang bagian belakang yang terbuat dari seng digedor dari dalam. "Tolong! Jangan dikunci! Saya mau keluar!" suara itu sangat dikenal oleh warga. Itu suara asisten Pak Sabar yang ikut menghilang tadi malam.
Warga tidak menunggu perintah lagi. Mereka merangsek maju, mendorong gerbang hingga engselnya jebol. Pak Broto terdorong jatuh ke tanah, batiknya yang mahal kini kotor terkena lumpur.
Di dalam gudang, ratusan karung pupuk oranye berlogo subsidi tersusun rapi, menumpuk hingga ke langit-langit. Sebagian pekerja sedang sibuk mengganti karung-karung itu dengan karung polos tanpa merk.
"Maling! Ini pupuk kami!" teriak warga.
Baskara menoleh ke arah Pak Broto yang sedang berusaha berdiri dengan wajah pucat. "Sepertinya 'gangguan sinyal' itu sangat akurat, Pak Broto."
Satu jam kemudian, polisi sampai di lokasi penggilingan padi untuk mengamankan barang bukti dan menangkap Pak Broto serta anak buahnya. Baskara segera memacu motornya kembali ke rumah dinas setelah mendengar kabar dari Marno bahwa ada asap keluar dari rumahnya.
Baskara melompat dari motornya bahkan sebelum mesinnya mati total. Ia berlari ke dalam rumah, meneriakkan nama Arum.
Ia menemukan Arum sedang duduk di teras, wajahnya hitam terkena jelaga, bajunya kotor dengan bubuk putih APAR, tapi ia sedang tenang mendiktekan keterangan kepada seorang polisi di sampingnya. Di sudut teras, preman yang tadi menyerang Arum tampak sudah diborgol dengan wajah yang masih berlumuran serbuk kimia.
"Arum!" Baskara memeluk istrinya erat, tidak peduli pada jelaga dan bau asap. "Ya Tuhan, kamu tidak apa-apa? Aku dengar ada kebakaran."
Arum membalas pelukan suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. "Hanya api kecil, Mas. Sudah aku padamkan. Tapi dapur kita berantakan sekali sekarang."
Baskara melepaskan pelukannya, menatap wajah Arum dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku... aku meninggalkanmu sendirian di saat bahaya."
"Jangan minta maaf," Arum tersenyum tipis, tangannya mengusap pipi Baskara yang kotor. "Kamu melakukan tugasmu sebagai pemimpin desa dengan luar biasa. Pupuknya kembali, kan?"
Baskara mengangguk. "Semuanya. Pak Broto juga sudah dibawa ke polres."
Arum menghela napas lega. Ia melirik ke arah preman yang sedang dibawa ke mobil polisi. "Mas, ini baru kemenangan pertama. Pak Broto punya banyak koneksi. Perjalanannya masih jauh untuk benar-benar membersihkan desa ini."
Baskara menggenggam tangan Arum, menatap mata istrinya dengan keyakinan baru. "Aku tahu. Tapi selama aku punya kamu di sisiku, biarpun seluruh desa ini terbakar, aku tidak akan takut lagi."
Arum tersenyum, kali ini senyum yang penuh kemenangan. Ia menatap ke arah matahari yang mulai turun ke ufuk barat. "Baiklah, Pak Kades. Tapi untuk sekarang... mari kita cari makan siang. Aku terlalu lelah untuk memasak di dapur yang penuh bubuk putih itu."
menegangkan ..
lanjut thor..