"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pasien Paling Tidak Tahu Malu
Rasa tidak percaya itu berubah menjadi sebuah kepanikan kecil saat Adrian membaca baris pertama dari surat yang sepertinya merupakan sebuah rahasia yang sangat besar. Surat itu ditulis di atas kertas berwarna merah jambu yang beraroma parfum stroberi sangat menyengat hingga menusuk hidung sang dokter. Di sana tertulis bahwa Lala akan membawa seluruh teman sekolahnya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan massal hanya agar bisa melihat wajah Adrian setiap hari.
"Apa dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya sampai ingin merusak jadwal operasi saya dengan cara konyol seperti ini?" gumam Adrian sambil meremas surat tersebut dengan tangan yang bergetar karena marah.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar tanpa ketukan sedikit pun hingga menghantam dinding dengan suara dentuman yang sangat keras. Sesosok gadis dengan seragam sekolah yang berantakan masuk sambil menyeret sebuah koper besar berwarna perak yang terlihat sangat berat. Lala memberikan senyuman paling lebar yang pernah Adrian lihat seumur hidupnya sambil menyeka keringat di dahinya yang tertutup poni.
"Kejutan! Aku datang kembali sebagai pasien tetap yang membutuhkan perawatan intensif selama dua puluh empat jam penuh!" seru Lala sambil menghempaskan diri di atas kursi periksa.
"Ruangan ini bukan hotel dan saya bukan pelayan yang bisa kamu perintah sesuka hati, segera bawa koper itu keluar!" bentak Adrian sambil berdiri dari kursi kebesarannya.
Adrian melangkah mendekat dengan tatapan mata yang seolah ingin menembus jantung Lala agar gadis itu merasa takut dan segera pergi. Namun Lala justru membuka kopernya dan mengeluarkan bantal leher serta selimut tipis bergambar kartun kucing yang sangat mencolok mata. Dia menata benda-benda itu di atas ranjang pasien dengan sangat rapi seolah sedang berada di dalam kamar pribadinya sendiri.
"Dokter, kepalaku tiba-tiba merasa sangat pening dan hatiku terasa seperti sedang ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum asmara," ucap Lala sambil berbaring dan memejamkan mata dengan gaya yang sangat dramatis.
"Jangan mencoba untuk berakting di depan seorang ahli bedah, saya tahu persis mana orang yang benar-benar sakit dan mana yang hanya mencari perhatian," sahut Adrian dengan suara dingin.
Lala tidak menghiraukan ucapan Adrian dan justru menarik tangan pria itu untuk diletakkan di atas keningnya yang terasa sedikit hangat. Adrian terkesiap karena sentuhan mendadak itu terasa seperti aliran listrik yang menyengat saraf-saraf di sepanjang lengannya yang kokoh. Dia ingin menarik tangannya kembali namun kekuatan genggaman Lala ternyata cukup kuat untuk menahan pergerakan sang dokter yang kaku tersebut.
"Lihatlah, keningku panas sekali bukan? Ini adalah bukti nyata bahwa rindu ini sudah mencapai suhu yang sangat membahayakan jiwa," bisik Lala dengan nada suara yang dibuat-buat agar terdengar sangat lemah.
"Suhu tubuhmu naik karena kamu baru saja berlari menyeret koper besar ini dari tempat parkir, bukan karena hal mistis lainnya," balas Adrian sambil melepaskan tangannya dengan paksa.
Adrian segera mengambil termometer digital dan menempelkannya di telinga Lala untuk membuktikan bahwa gadis itu sedang melakukan sandiwara tingkat rendah. Hasil yang muncul di layar kecil tersebut menunjukkan angka normal yang membuat Adrian mendengus puas sambil menunjukkan angka tersebut ke depan wajah Lala. Namun Lala sama sekali tidak terlihat malu dan justru menunjukkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah dari dalam saku seragamnya.
"Kalau begitu aku akan minum cairan ini supaya lambungku benar-benar terasa perih dan Dokter harus mengobatiku sampai sembuh total!" ancam Lala sambil membuka tutup botol tersebut dengan gigi.
"Berhenti! Jangan berani-berani meminum cairan kimia apa pun di dalam ruangan steril saya!" teriak Adrian sambil berusaha merebut botol itu dari tangan Lala yang lincah.
Kejar-kejaran singkat terjadi di sekeliling ranjang pasien hingga Adrian berhasil menangkap botol tersebut dan membuangnya ke dalam tempat sampah limbah medis. Dia mengatur napasnya yang mulai memburu sambil menatap Lala dengan pandangan yang penuh dengan rasa frustrasi yang sangat mendalam. Gadis di depannya ini benar-benar tidak memiliki rasa malu sedikit pun demi mendapatkan perhatian dari pria yang baru dikenalnya beberapa hari.
"Kenapa kamu sangat terobsesi untuk mengganggu hidup saya yang sudah sangat tenang dan damai sebelum kamu datang?" tanya Adrian dengan nada yang terdengar sangat lelah dan putus asa.
"Karena aku sudah memutuskan bahwa Dokter Adrian adalah satu-satunya orang yang boleh menyembuhkan segala macam rasa sakit yang aku miliki," jawab Lala dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tulus.
Adrian terdiam seribu bahasa saat melihat binar kejujuran yang terpancar dari mata bulat milik gadis sekolah menengah yang dianggapnya pengganggu tersebut. Ada sesuatu yang aneh yang mulai merayap di dalam lubuk hatinya yang paling dalam yang selama ini selalu ia tutup rapat-rapat. Dia segera membuang muka ke arah jendela untuk menghindari kontak mata yang bisa merusak tembok pertahanan es yang sedang ia bangun kembali.
"Pergilah sekarang sebelum saya benar-benar melaporkan tindakan tidak menyenangkan ini kepada kepala rumah sakit dan orang tuamu," ucap Adrian dengan suara yang sedikit bergetar tanpa ia sadari.
Lala menghela napas panjang lalu mulai membereskan kembali selimut dan bantal lehernya ke dalam koper besar yang ia bawa tadi. Dia merasa bahwa untuk hari ini sudah cukup memberikan guncangan kecil pada jantung sang dokter kulkas yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Sebelum keluar, dia menempelkan sebuah kertas kecil di punggung jas putih Adrian tanpa disadari oleh pria yang sedang melamun tersebut.
"Sampai jumpa besok, Dokter Sayang, jangan lupa untuk memimpikan pasienmu yang paling cantik dan paling tidak tahu malu ini!" seru Lala sambil berlari keluar dari ruangan dengan tawa yang sangat riang.
Adrian hanya bisa mengurut pangkal hidungnya sambil mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewibawaannya yang sudah hancur berantakan akibat ulah Lala. Dia melangkah menuju cermin besar di sudut ruangan untuk merapikan jas putihnya yang sedikit kusut karena pergulatan kecil tadi. Saat itulah dia melihat sebuah kertas kuning tertempel di punggungnya dengan tulisan tangan yang sangat besar dan mencolok mata.
Kertas kuning itu bertuliskan sebuah tantangan besar yang membuat Adrian merasa bahwa besok akan menjadi hari yang jauh lebih melelahkan daripada melakukan operasi bedah selama sepuluh jam penuh.