Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang menjadi nyata.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rajendra dengan nada yang terdengar membentak, matanya memerah dengan hidung mengembang.
"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" tanyanya lagi yang membuat Elea gemetar, rasa takutnya yang mendadak membuatnya menelan ludah dan berpikir bahwa ia salah dan bodoh.
Elea hanya diam, melihat dan mendengar respon suaminya saat ia memakai pakaian haram. Tak ada salahnya bagi Elea karena mereka suami istri yang sudah sah dimata hukum dan agama, tapi kenapa respon suaminya lain?
"Ganti pakaianmu, kau terlihat seperti lacur," ujar Rajendra terdengar merendahkannya, menusuknya hingga menembus jantung hati Elea.
Ini menyakitkan bagi Elea, ia merasa dijebak oleh kebodohannya yang percaya akan ucapan sahabatnya. Tanpa terasa air matanya meleleh, tak bisa lagi menahan bendungan disudut matanya. Ia merutuki diri pada apa yang sudah ia lakukan.
Namun ia tak mau sampai disini, ia mendekati Rajendra yang hendak ke kamar mandi lalu memeluknya erat. Sangat erat, sampai kepalanya bersandar disana merasakan kehangatan tubuh yang ia rindukan.
"Tidakkah mas tergoda sama aku? Pernahkah sedikit saja mas menyukai aku?" terasa memalukan bagi Elea untuk bertanya, ia merasa seperti pengemis cinta tapi ia butuh kejelasan. Rumah tangga ini seperti tak berjiwa, terasa mati dan sangat gelap baginya.
Namun, seolah tak ada hati. Sikap Rajendra makin menjadi jelas bahwa ia tidak mencintainya.
"Ah," ringis Elea ketika kedua tangannya dihempas kasar oleh suaminya, ia hampir terjatuh ke lantai karena tindakan yang dilakukan dari respon suaminya.
Ia menatap punggung kokoh itu, punggung yang menjadi satu-satunya sandaran hidupnya, tempatnya pulang dan juga bernafas. Dulu masih bisa ia peluk, sekarang ia begitu kesulitan untuk bersandar dan semakin menjauhinya.
Pikiran negatif yang merasukinya menuntunnya untuk meminta penjelasan, ia hanya ingin menjadi rumah yang penuh cinta bagi suaminya bukan hanya sekedar tempat bernaung kala butuh.
"Mas punya wanita lain kan? Siapa dia?" tanya Elea, menghentikan langkah kaki Rajendra yang berjalan menghindarinya.
"Bukan urusan kamu," jawab Rajendra sekenanya, mengabaikannya dan hendak melanjutkan jalannya.
"Tapi aku ini istri kamu!" balas Elea dengan nada yang naik sekian oktaf, ia sudah terbawa arus api yang berkobar dihatinya.
"Aku berhak tahu, siapa yang bersama kamu diluaran sana. Kamu bahkan gak ijinkan aku ke kantor kamu lagi. Aku butuh kepastian, aku istri kamu atau bukan?" ucap Elea nadanya melunak, merasakan sesak yang makin menderanya.
Rajendra berbalik badan, ia menatap tajam dan berjalan mendekati istrinya. Setelah dekat, ia cengkram dagu mungil Elea dengan kuat sehingga mata mereka bertemu dalam satu pandangan.
Mata yang sudah sering Elea lihat, sangat jelas bahwa suaminya sangat marah.
"Sudah ku bilang, jangan pernah membuatku kesal! Jika kau begini lagi, tidur saja dikamar lain." ujar Rajendra menjawab dan menolak bahkan mengusir Elea dari kamar mereka.
Rajendra berdecih, ia menghempas kasar dagu istrinya kemudian berbalik badan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Sebelum sampai diruang lembab itu ia kembali berujar.
"Oh ya! Kalau kau memang menginginkannya, kau bisa memakai alat bantu s3ks. Kau bisa melakukannya dengan sendiri," katanya tersenyum sinis lalu pergi.
Luruh sudah badan Elea, seakan tak ada harapan baginya untuk masuk kedalam hati seorang Rajendra. Suami yang sudah sepuluh tahun ini bersamanya, hanya menganggapnya bayangan tak jelas.
Bibir Elea bergetar dengan air mata yang kian deras menetes, ia duduk sambil menyentuh dadanya. Kata-kata suaminya tak hanya melukai harga dirinya, tapi juga jiwa dan mentalnya. Tapi bodohnya, ia malah jatuh cinta pada Rajendra.
Apa yang sukai dari pria itu?
Seorang suami yang hanya bisa menyakiti dan melukainya. Sampai kapan ia harus bertahan?
*
Dikamar lain Elea merenung, ia duduk sembari memeluk lututnya dengan mata menonton video pesta ulang tahun anak kembarnya. Keluarga mereka sungguh sempurna, sangat sempurna tetapi hanya dilihat dari luar saja.
Senyuman Rajendra begitu merekah melihat anak kembarnya saat masih bayi, hal itu membuat Elea ikut tersenyum. Namun saat luka itu melayang dikepalanya, mengingatkannya, senyumannya luntur dan kembali menangis.
Ia tak tahu lagi harus bagaimana, semua yang ia lakukan untuk menjadi istri dihidup dan hati suaminya terasa tak ada asa.
Klek
Pintu kamar itu terbuka menampakkan seorang yang masuk ke dalam kamarnya. Elea yakin siapa yang datang tanpa ia harus menoleh pun. Tubuhnya di selimuti oleh kain tebal dan sosok itu berdiri dibelakangnya, menemaninya dalam keheningan malam yang dingin.
"Sudah larut malam, nona belum tidur?" tanya bibi Halim, kepala asisten rumah tangganya.
"Aku tak bisa tidur, aku ingin menangis," jawab Elea jujur dan benar saja ia menangis dengan keras didepan bi Halim, ia tak bisa berbohong lagi bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Sementara dikamar, Rajendra baru selesai mandi. Ia melihat ke sekitar kamar yang sudah sepi, tak ada sosok Elea lagi disana jadi ia bisa tenang sekarang.
Tanpa memakai pakaian dan hanya memakai kimono handuk, ia rebahkan badannya. Masih terbayang jelas tubuh yang hampir polos itu, istrinya itu hampir membuat akal sehatnya rusak.
"Sialan! Aku menginginkannya," gumam Rajendra merutuki diri, dia memang munafik didepan Elea tapi ia tak bisa berbohong pada sosok wanita lain.
Matanya masih terbuka, ia kesulitan untuk tidur. Otaknya terus merangsang ingatan yang barusan ia lihat, sungguh pemandangan yang indah.
Namun, ia tak bisa terus menerus terjatuh pada ikatan pernikahan ini. Ia ingin melepaskan diri, tapi konsekuensinya pasti akan merusak keluarganya karena egonya.
☘☘☘
Langit siang ini begitu mendung, hari ini adalah hari ulang tahun suaminya. Ia tak sempat mengucapkan selamat karena kejadian semalam, jadi ia memberanikan diri untuk pergi ke kantor suaminya.
Mungkin dengan memberinya kejutan hati suaminya bisa melunak dan mereka bisa berbaikan, walau sebenarnya ia tak yakin. Ia begitu penasaran apa alasan suaminya melarangnya untuk ke kantornya lagi, perasaan ia tak pernah melakukan kesalahan sama sekali.
Jadi ia ingin tahu, siapa wanita itu?
Jika bukan dikantor, mungkin ditempat lain.
Jika suaminya tak ada, mungkin ia bisa bertanya pada asisten Sen atau mungkin orang lain kalau bisa. Ia punya uang, mereka akan jujur kalau diberi uang, bukan.
Kakinya melangkah masuk kedalam gedung tinggi menjulang itu, ia berhenti didepan resepsionis wanita yang tengah duduk bekerja.
"Maaf, aku ingin bertemu suamiku. Apa dia ada disini?" tanya Elea memulai rencananya.
"Suami ibu siapa? Dibagian apa?" tanya balik wanita muda yang tak Elea kenal, sepertinya pekerja baru karena dulu seingat Elea adalah laki-laki.
"Tentu saja pak Rajendra hadi kusuma, presdir perusahaan ini," jawab Elea dengan jelas.
Bukannya menjawab, gadis muda itu malah tertawa seolah apa yang ia katakan sebuah khayalan konyol.
"Mbak ngelantur ya, saya kenal betul siapa istrinya pak Rajendra. Mbak jangan mengaku-ngaku," ujar gadis itu menertawakan dan menganggapnya pembohong.
Lalu rekannya menghampiri mereka, ia bertanya pada wanita berambut pendek lurus itu mereka berbisik-bisik lalu tertawa didepan Elea.
Sementara Elea malah bingung sendiri, ia tak tahu ternyata mereka tak mengenalinya. Justru mereka mengenal istri Rajendra yang lain, istri yang mana?
Kecurigaannya kian meyakinkannya sekarang, bahwa suaminya benar-benar membawa wanita lain ke kantornya. Itu kah alasan ia tak diperbolehkan ke tempat kerjanya lagi.
Tangannya mengepal kuat, ini tak bisa dibiarkan. Elea tak akan diam sampai sini sebelum mengetahui siapa wanita atau istri lain suaminya.
"Maaf, ya mbak. Sepertinya mba salah alamat, silahkan pergi dari sini dan jangan membuat keributan," ujar rekan wanita itu.
"Tidak apa kalau kalian tak percaya, aku akan bertemu asisten Sen. Maksudku asisten Arsena prasetyo," balas Elea membuat dua wanita itu saling tatap dan bingung.
Ia melangkah melanjutkan niatnya, Elea yakin suaminya berada diruangannya sekarang. Ia tak boleh membuang kesempatan itu, bukan. Jadi ia harus tahu sekarang juga.
Siapa wanita yang menjadi selingkuhan suaminya itu?
Elea membuka pintu besar, yang menjadi lubang masuk kedalam ruangan kerja bos perusahaan tersebut. Jantungnya berdebar untuk mengetahui siapa wanita lain itu, namun keningnya berkerut ruangan itu kosong tak ada sesosok pun disana.
"Dia tak ada, padahal ini masih jam kerja," gumam Elea sembari melihat arloji yang menempel ditangan kirinya.
Ia menaruh paperbag yang berisi kue ulang tahun diatas meja, ia akan menunggunya sambil melihat-lihat ruangan kerja suaminya yang berubah. Dulu ada foto pernikahan mereka dan anak-anak, sekarang malah kosong dan hanya buku juga dokumen perusahaan saja.
"Hebat sekali wanita itu, sudah mengubah tempat ini," pujinya makin penasaran tentang siapa selingkuhan suaminya.
Ia melihat ke sudut lain, ada rak yang berbeda model sekarang, juga warna gorden yang sudah diganti dengan warna yang lebih gelap. Ia menyentuh kain panjang itu, ia ingat betul Rajendra tak suka barangnya disentuh dan ruangan ini diganti apalagi diubah. Tapi sekarang ia mengganti dan mengubahnya.
Sayup-sayup ia mendengar suara langkah, bersahutan dengan suara tawa seorang wanita. Ia sudah siap untuk menemui suami dan wanita itu, tapi saat pintu terbuka matanya membulat melihat siapa yang bersama suaminya.
Entah kenapa, ia mendadak tak ingin menemuinya dan memilih untuk bersembunyi dibalik kain yang menjuntai ke bawah. kebetulan ruangan ini sedikit gelap karena cuaca yang mendung, sehingga tak ada cahaya terang yang masuk ke dalam.
Namun, Elea bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Dibalik kain yang ia singkap sedikit, ia melihat pemandangan yang tak biasa.
Mereka saling memagut bibir dengan mesra didepan matanya. Kecurigaannya kini menjadi nyata.