NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Ruang Ajaib / Time Travel / Tamat
Popularitas:290.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHARANI 5

Sret... sret... sret...

Langkah kaki Shen Yuhan melintasi koridor panjang menuju Istana Chiangnang tampak begitu ringan namun berwibawa. Jubah emasnya menyapu lantai dengan bunyi " yang ritmis. Namun, keheningan sore itu pecah ketika seorang pria berpakaian sutra tipis berwarna merah muda cerah berlari kencang ke arahnya.

"Yang Mulia! Yang Mulia Shen!"

Pria itu berlutut dengan tidak sabar, bahkan hampir terseret di atas lantai batu giok sebelum akhirnya menjatuhkan diri dan memeluk erat kedua kaki Yuhan. Air mata membasahi wajahnya yang cantik, tampan namun sedikit terlalu feminin untuk ukuran seorang pria.

"Yang Mulia... hamba mengira Anda benar-benar meninggalkan hamba! Hamba tidak bisa berhenti menangis sejak kabar buruk itu terdengar!"

Yuhan menunduk, menatap sosok yang sedang memeluk kakinya. Ini adalah Li Ming, gundik kesayangan Yuhan asli. Dulu, Li Ming adalah salah satu pengawal elit Istana Chiangnang sebelum Yuhan yang "bodoh" terpikat oleh ketampanannya yang luar biasa dan memaksanya menjadi gundik untuk sekadar menjadi penghibur mata.

Yuhan merasakan gejolak ngeri sekaligus jijik yang meluap dari dalam dadanya. Mengingat memori pemilik tubuh ini yang gemar mengoleksi pria tampan hanya untuk bersenang-senang meskipun ingatan itu menunjukkan bahwa Yuhan asli tidak pernah benar-benar berhubungan intim karena sifatnya yang kekanak-kanakan, tetap saja, bagi Shadow sang pembunuh bayaran, ini adalah tindakan yang sangat bodoh dan membuang waktu.

"Lepaskan," suara Yuhan terdengar sangat dingin.

Li Ming mendongak, matanya yang sembab menatap Yuhan dengan penuh pengabdian. "Yang Mulia?"

Yuhan menjepit dagu Li Ming dengan jari-jarinya yang ramping, mengangkat wajah pria itu agar menatap langsung ke matanya. Shadow menganalisis wajah di depannya. Li Ming bukan sekadar wajah cantik, ada kekuatan tersembunyi di bahunya yang lebar dan bekas kapalan di tangannya yang menandakan ia adalah praktisi bela diri tingkat tinggi. Pria ini setia, dan yang terpenting, dia bisa dipercaya di tengah sarang ular ini.

"Kau ingin menghiburku, bukan?" tanya Yuhan.

"Apapun, Yang Mulia! Nyawa hamba milik Anda," sahut Li Ming dengan suara bergetar.

Yuhan melepaskan dagunya dengan kasar. "Ambil pedangmu. Aku ingin melihatmu melakukan tarian pedang di halaman dalam sekarang juga. Jangan tunjukkan gerakan manja seorang gundik, tunjukkan padaku gerakan pengawal yang sesungguhnya!"

Li Ming tertegun sejenak. Tatapan Maharani benar-benar berbeda. "Ba-baik, Yang Mulia! Hamba segera melaksanakan!"

Balai Pengobatan Wushing

Sementara itu, sebelum menuju Istana Chiangnang untuk memenuhi panggilan Maharani, Mu Lian meminta pengawalnya untuk mendorong kursi rodanya kembali ke Balai Pengobatan Wushing. Pikirannya tidak tenang, ia harus memastikan kondisi Wu Sheng, tangan kanannya yang paling setia.

Saat ia tiba, Mu Lian terkesiap. Wu Sheng tidak lagi terbaring koma. Pria perkasa itu sedang duduk di tepi ranjang, meskipun tubuhnya masih dibalut perban.

"Pangeran..." Wu Sheng mencoba berdiri untuk memberi hormat.

"Jangan bergerak, Wu Sheng! Tetaplah duduk," perintah Mu Lian kaku. Ia mendekati ranjang itu. "Bagaimana mungkin kau sudah bisa duduk? Tabib bilang pendarahanmu merusak organ dalam."

Wu Sheng menatap tangannya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. "Hamba pun tidak tahu, Pangeran. Setelah meminum obat yang diberikan Yang Mulia Maharani, rasa sakit itu hilang seketika. Hamba merasa... tenaga dalam hamba tidak hanya pulih, tetapi seolah meledak dan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi. Aliran energi di meridian hamba menjadi sangat lancar."

Mu Lian terdiam. Air itu... dan pil itu. Siapa sebenarnya Shen Yuhan sekarang?

"Dia benar-benar kembali hidup?" tanya Wu Sheng lirih, masih diliputi rasa tidak percaya.

Mu Lian hanya mengangguk pelan, tatapannya menerawang jauh. "Dia kembali, tapi dia bukan lagi wanita yang kita kenal. Kepribadiannya sangat berbeda jauh. Jaga dirimu, Wu Sheng. Pulihkan kekuatanmu, karena badai yang lebih besar akan datang."

Dengan pikiran yang semakin berkecamuk, Mu Lian meninggalkan balai pengobatan. Ia dikawal oleh seorang kasim dan dua pengawal istana menuju Istana Chiangnang. Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang tampak seperti tumpahan darah di cakrawala.

Perjamuan di Istana Chiangnang

"PANGERAN KELIMA, MU LIAN, TIBA!"

Teriakan Kasim menggema saat kursi roda Mu Lian memasuki ruang makan pribadi Maharani. Ruangan itu sangat megah, diterangi oleh puluhan lilin lemak paus yang aromanya menenangkan. Shen Yuhan sudah duduk di kursi kebesarannya, di depan sebuah meja panjang yang penuh dengan hidangan terbaik.

"Hormat Yang Mulia Maharani, hidup seribu tahun," ucap Mu Lian sambil menundukkan kepala.

"Bawa dia ke meja," titah Yuhan kepada kasim.

Dua dayang pelayan segera menyajikan nasi hangat dan daging babi panggang yang aromanya sangat menggoda. Yuhan, dengan gerakan yang tenang, mengambil sepotong daging babi panggang dengan sumpit emasnya dan menaruhnya tepat di atas nasi Mu Lian.

"Makanlah Pangeran Lian. Ini baik untuk kesehatan tubuhmu yang lemah itu," ujar Yuhan datar.

Mu Lian terdiam. Jantungnya berdegup aneh. Selama bertahun-tahun, Yuhan asli selalu membuang muka atau menatapnya dengan rasa jijik karena bekas luka bakar di wajahnya dan kakinya yang lumpuh. Dia biasanya menyuruh Mu Lian makan di sudut ruangan atau tidak mengajaknya makan sama sekali.

Yuhan melihat kekakuan Mu Lian dan terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar misterius. "Kenapa diam saja? Apa kau takut aku menaruh racun di dalamnya? Jika aku ingin kau mati, aku tidak akan membuang tenaga untuk menangkap pedang tadi malam."

"Bukan begitu, Yang Mulia. Hamba hanya... terkejut," sahut Mu Lian pelan. Ia mulai menyuap nasi itu.

"Makanlah yang banyak, Pangeran. Karena kau akan memerlukan tenaga yang sangat besar untuk apa yang akan kita lakukan malam ini," ucap Yuhan dengan nada yang sulit diartikan.

Setelah makan malam usai, Yuhan memberikan isyarat tangan. "Semuanya keluar. Kosongkan istana ini. Siapa pun yang berani mendekat dalam radius lima puluh meter tanpa perintahku, penggal kepalanya."

Para kasim dan dayang segera membungkuk dan keluar dengan terburu-buru. Pintu kayu besar itu ditutup dan dikunci dari dalam. Kini, hanya tersisa Yuhan dan Mu Lian di dalam ruangan yang mulai mendingin.

"Buka pakaianmu!" perintah Yuhan tiba-tiba.

Mu Lian tersentak. Refleks, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menutupi tubuhnya. Meskipun mereka adalah suami istri secara sah, hubungan mereka sangat dingin. Yuhan lebih sering menghabiskan malam dengan gundik-gundiknya daripada menatap wajah Mu Lian.

"Apa maksud Yang Mulia?" tanya Mu Lian dengan nada defensif.

"Kau tidak mendengarkan perintahku, Pangeran?" Yuhan melangkah mendekat, auranya menekan.

"Ta-tapi... ini masih terlalu awal, dan hamba..."

1
Andrea
/Rose//Rose//Rose/
Andrea
😂😂😂
Andrea
lagian cerewet banget sih kan jdi dibekuin🤣🤣
Andrea
🤣🤣🤣
Andrea
berarti ruang dimensi'y lw barang diambil berkurang ya nggx tetep utuh kyk yg laen🤭🤭
Nia Risma
di sini Yuhan lebih mengedepankan ego,,
Nia Risma
hemm serba salah aja jadi mu Lian ya
Nia Risma
haaa gila ini gila,,
mu Lian kemana thor
Nia Risma
semangat mu Lian
tak bantu doa dari sini biar lancar semuanya,,
buat bisa tepat waktu sampai di depan Maharani dan tidak di cariin saingan cinta lagi
Nia Risma
si debay yg imut mulai tumbuh
Nia Risma
kenapa lagi Yuhan,,duh AQ ikutan pusing liat Maharani mode apapun itu
Nia Risma
hemmm,tapi Yuhan juga g bisa jaga jarak sama pria lain,pdhala. statusnya lebih tinggi dri siapapun dan harus jaga sikap toh
Nia Risma
tinggal satu tantangan,,kalaupun menang di tantangab ke tiga tetep aja masih kalah dari kekaisaren Tianjing Khan
si temulawak ini
Nia Risma
ya buah busuk yg akan jatuh itu kalian
Nia Risma
waktunya Yuhan tegas smaa para pria yg pengen jadi selir🤣
Nia Risma
hemmm kadang g suka sama sikap Yuhan yg keras kepala,,
g mikirin orang lain yg mengkhawatirkan dia
Nia Risma
eh,,Zen kamu kemana Zen,,
tuan muda mu sedang sekarat kamu malah ngilang GT aja Zen,,awas kena getok lagi nanti kepalamu
Nia Risma
akhirnya nongol juga Lian Lian,,
cepetan susul istrimu sebelum di rayu Ama berondong
Nia Risma
Thor kamu kasih jalan arah mana sih Mu Lian koq g cepet ketemu sama istrinya ini,,
Nia Risma: pinjem pesawat jet GT biar bisa barengan ngadepin para orang" jahat itu
total 2 replies
Nia Risma
si Zen sampe trauma ngeliat yg beku" pasti itu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!