Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Dini hari pukul 05:00 aksa sedang keluar rumah apartemennya.
Mengunakan sepatu khusus olaraga dengan celana traning hitam dan jaket putih olaraga.
Telinganya dia pasangi headset kabel yang terhubung langsung dengan ponsel di saku jaketnya.
Aksa juga mengenakan topi berwarna abu-abu membuat tampak terlihat tampan dan tubuh yang bugar.
Ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan pekarangan rumahnya untuk berjoging.
Lampu-lampu redup kota serta warna langit yang biru namun tampak masih gelap menemani perjalanan aksa saat berjoging.
Tak terasa ia telah berlari selama tiga puluh menit, aksa berhenti sebentar sambil melakukan sedikit pemanasan di depan sebuah gang.
Karena matahari mulai ingin terbit, langit mulai nampa kebiruan terang memberikan sedikit penglihatan pada gang yang gelap.
Saat kepala aksa tanpa sadar mengarah ke gang tubuhnya tersentak ketika melihat siluet bayangan seseorang yang tergelak di ujung gang.
Karena aksa pikir itu manekin iya mengabaikan penglihatannya dan melanjutkan untuk berlari.
Namun perasaan mengganjal memenuhi dirinya membuat aksa memundurkan langkah nya kembali ke depan gang.
Dia dengan cepat membuat senter di ponselnya yang masih terhubung dengan headset dan memberikan penerangan pada gang yang gelap.
Saat ia semakin maju perasaan aneh mulai merayapi dirinya.
Jantung berdetak kencang seolah merasakan ada yg tidak beres.
Dukk
Aksa terjatuh ke belakang, bokongnya menyentuh lantai gang yang dingin.
Nafasnya tak beraturan ketika melihat sebuah mayat dalam ke adaan mengerikan di hadapannya.
Dengan cepat dia menghubungi nomor seseorang.
"Ada pembunuhnya cepat kesini!" Teriak aksa disertai dengan rasa panik dan ngeri ketika melihat keadaan mayat tersebut.
***
Setelah melakukan beberapa penelusuran kini 5 Anggota kemarin kembali berdiskusi di ruang di ruangan yang sama.
" kami menemukan satu-satunya tersangka yang pasti!" Davis yang berdiri di depan mereka berbicara dengan nada tegas.
Sedangkan empat lainnya menatap davis dengan serius untuk meminta penjelasannya.
Setelah melihat tatapan rekan-rekannya, davis memperlihatkan potret seorang gadis yang berpakaian elegan dengan memakai perhiasan yang mahal.
"Vanya elsiana ini adalah mantan pacar korban, mereka putus satu tahun lalu ketika ayah korban meninggal dan perusahaan korban bangkrut"
Davis menjelaskan.
"Apa tersangka memiliki masalah pada korban!" Tanya ziel, meminta penjelasan.
"Sebelum putus, teman dekat korban berkata, bahwa korban menghabiskan uang tabungan pacarnya untuk melunasi hutang sang korban!"
"Hal ini mempererat kecurigaan kami pada tersangka!"
"Baiklah kalau begitu, ziel ikut aku menyelidiki rumah tersangka dan kalian gali apa ada petunjuk lain selain tersangka ini" aksa berdir memberi perintah dan yang lain segera mengangguk setuju.
Skip
Tak lama berlalu kini aksa dan ziel telah sampai di depan apartemen milik vanya yang di sebut sebagai tersangka.
Tok
Tok
Bunyi ketukan pintu terdengar dari luar membuat gadis y asik makan makanan nya segera berdiri membuat pintu.
"Iya sebentar" vanya segera mengintip dari celah kecil di pintu memastikan bahwa bukan orang jahat yg datang.
Ketika ia melihat dua orang berpakaian polisi datang membuat vanya sedikit bingung dan merasakan ada yang tidak beres.
"Siapa!" Tanya vanya di balik pintu.
Aksa yang menyadari bahwa vanya mengintip lewat celah segera memperlihatkan kartu identitas nya ke arah pintu sembari berkata:
"Kami kepolisian dari departemen roves datang untuk menyelidiki kasus, mohon meminta nona vanya memberikan izin"
Mendengar hal itu vanya segera membukakan pintu memberi sedikit hormat pada polisi sebelum mereka masuk.
Kedua polisi itu segera melangkahkan kakinya sambil melihat sekeliling rumah vanya.
Tindakan kedua polisi tersebut membuat vanya sedikit bingung, pikiran nya di penuhi pertanyaan tentang apa yang sebenarnya polisi ini ingin kan.
"Polisi, apa ada masalah pada saya hingga anda datang ke sini, atau ada kasus yang berkaitan dengan saya hingga membuat anda menyelidiki saya" tanya vanya.
Mendengar hal itu aksa tersenyum lembut pada vanya sedangkan ziel hanya diam sambil berkeliling rumah vanya untuk penyelidikan yang berguna.
"Pukul 05:30 terjadi kasus pembunuhan di gang sempit pada jalan kanca kota roves, dan nama korban adalah mirza gevano"
Mata vanya terbelalak ketika mendengar hal itu, ia mengangguk angguk mengerti sambil mengalihkan tatapannya ke sekeliling rumahnya.
"Lalu apa hubungannya dengan saya pak polisi!" Tanya vanya
"Anda adalah mantan pacar dari korban yang memiliki hubungan serta masalalu yang erat dengan korban, jadi kami menetapkan anda sebagai tersangka!"
Mendengar hal itu vanya jelas terkejut bukan main, ia bahkan sudah lama tak berhubungan dengan mirza bagaimana ia bisa membunuh sosok menjengkelkan itu.
Vanya hanya dia sembari berkata: "Tapi apa anda punya bukti cukup untuk menangkap saya sebagai tersangka!" Ucap vanya dengan sedikit sombong.
"Tahun lalu mirza mengambil semua tabungan anda untuk melunasi hutangnya, dan kami mengasumsikan bahwa anda balas dendam pada korban.
Terlebih lagi tetangga anda bilang bahwa anda pulang subuh kemarin malam apa iyu tidak bisa sebagai bukti!" Mendengar ucapan aksa, sudut bibir vanya terangkat, dia tersenyum kecut.
"Sejujurnya, saya telah lama tidak berurusan dengan mirza, dulu aku memang sempat pacaran namun aku memutuskannya, karena ia mencuri uang tabungan ku membuat ku marah besar
Tapi meskipun begitu aku ikhlas dengan uang yang dia ambil, dan untuk kemarin malam saya pergi bersama teman-teman saya ke pesta ulang tahunnya jadi saya pulang larut malam!"
Vanya berbicara menjawab tuduhan aksa yang menurut nya tak sesuai itu.
Aksa, hanya diam sambil melihat sekeliling, ia mencoba mengulur waktu untuk menunggu apa yang telah ziel dapatkan.
"Tidak juga!"
Tiba-tiba ziel muncul dari belakang aksa membuatnya menoleh ke arah ziel.
"Apa benar anda pergi bersama-sama teman-teman anda, lalu apakah anda sempat mengambil foto bersama" ziel segera melangkah mendekati vanya yang memiliki wajah angkuh di mata ziel.
Ziel menatap vanya dengan garang mencoba memprovokasi vanya.
"untuk soal foto kami memiliki kesepakatan untuk tak mengambil nya dan menikmati pesta tanpa adanya ponsel!" Jawab vanya menatap balik ziel dengan garang.
"Lalu bagaimana anda menjelaskan tentang ini!" Ziel dengan cepat menyerahkan sebuah botol kecil yang berisi sepihan kaca kepada vanya.
"Ini di temukan di dalam kamar anda" ucap ziel sambil menyodorkan botol kecil tersebut ke arah vanya.