NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:110.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

"Kamu mandi di kantor?" tanya Kiandra yang mencium aroma sabun dari tubuh suaminya.

Adam melerai pelukannya, raut wajahnya terlihat gugup menatap suaminya. "Iya sayang, tubuhku lengket, rasanya tidak enak jika tidak mandi" jawab Adam.

Kiandra hanya mengangguk percaya, tapi bayangan foto yang di tunjukkan oleh sang adik masih terekam jelas di kepalanya. Namun, dia berusaha menepis semuanya sebelum mendapatkan bukti yang konkrit.

"Bersihkan tubuhmu, setelah itu baru istirahat" titah Kiandra sambil menguap.

"Iya sayang" ucap Adam dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.

Kiandra memperhatikan punggung Adam yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Suara gemericik air yang kembali terdengar membuat dadanya terasa sedikit sesak, entah mengapa. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan pikirannya sendiri. Aroma sabun yang masih tertinggal di udara kamar justru semakin mengusik perasaannya, membawa bayangan-bayangan yang sejak siang tadi berusaha ia kubur rapat-rapat.

Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir keraguan yang mulai tumbuh liar. Jangan berpikir macam-macam sebelum ada bukti, batinnya mengingatkan diri sendiri.

Adam adalah suaminya, pria yang selama ini ia kenal, yang selalu pulang ke rumah dan menyapanya dengan senyum yang sama. Tidak adil rasanya jika ia menuduh hanya berdasarkan foto yang belum tentu kebenarannya.

Dengan langkah pelan, Kiandra beranjak dari atas ranjang. Kakinya melangkah menuju lemari pakaian besar di sudut kamar. Ia membuka pintu lemari itu, jemarinya meraba deretan pakaian yang tersusun rapi. Setelah beberapa detik, ia menarik satu set baju tidur favorit Adam, kaus katun berwarna gelap dan celana panjang yang nyaman. Kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan, menyiapkan baju suaminya, entah kenapa malam ini terasa berbeda. Ada perasaan asing yang menyelip di sela-sela rutinitas sederhana itu.

Ceklek…

Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Kiandra menoleh. Adam keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, air menetes di pelipisnya. Ia hanya mengenakan boxer, handuk kecil tersampir di bahunya. Wajahnya terlihat lebih segar, namun sorot matanya sekilas menangkap tatapan Kiandra yang sulit ia artikan.

“Ini baju tidurnya,” ucap Kiandra lembut, sambil melangkah mendekat dan menyerahkan pakaian itu.

Adam menerimanya, jemarinya sempat menyentuh tangan Kiandra sesaat sebelum ia mengenakan baju tersebut. Sentuhan singkat itu biasanya terasa hangat dan menenangkan, tetapi kali ini justru membuat jantung Kiandra berdegup lebih cepat. Ia memalingkan wajah, berpura-pura merapikan sisi ranjang.

Setelah selesai berpakaian, Adam duduk di tepi ranjang. Ia mengusap rambutnya dengan handuk, lalu menoleh ke arah Kiandra. “Kamu capek? Dari tadi kelihatan diam,” tanyanya, berusaha terdengar santai.

Kiandra tersenyum tipis tanpa menatap langsung. “Sedikit. Tadi siang aku baru dari rumah mama, Zayyan juga minta di temani main” jawabnya singkat. Ia merebahkan tubuh di sisi ranjang, menarik selimut hingga sebatas dada.

Adam ikut berbaring, mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram. Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan yang hanya diisi suara napas mereka berdua. Adam meraih tangan Kiandra, menggenggamnya seperti biasa. Genggaman itu hangat, akrab, namun pikiran Kiandra kembali melayang pada bayangan foto yang ditunjukkan sang adik, sebuah bayangan yang belum juga pergi.

Ia memejamkan mata, berusaha mempercayai apa yang ada di hadapannya, bukan apa yang berputar di kepalanya. Untuk malam ini, ia memilih diam. Bukannya karena tidak peduli, melainkan karena ia ingin memastikan, ingin yakin sepenuhnya sebelum membuka luka yang mungkin belum tentu ada.

Di sisi lain, Adam memandang langit-langit kamar, pikirannya tak kalah gelisah. Ia tahu, ada jarak tipis yang terasa di antara mereka malam ini. Sesuatu yang tak terucap, menggantung di udara. Namun ia memilih memeluk Kiandra lebih erat, berharap kehangatan itu cukup untuk meredam segala prasangka.

******

Dugh…

Dugh…

Pintu kamar utama kembali digedor tanpa ampun. Suaranya nyaring, penuh tenaga, seperti alarm darurat yang diprogram khusus untuk membangunkan orang tua paling lelap sedunia.

“Daddyyyy… bangun! Matahalinya udah bangun cih!” teriak Zayyan dari luar pintu, disusul tawa kecilnya sendiri seolah bangga dengan kalimat temuannya.

Adam mengerang pelan, menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya. “Astaga… ini alarm edisi bocah aktif,” gumamnya dengan suara serak.

Kiandra membuka mata, melirik jam di nakas. “Baru jam enam,” ujarnya sambil menguap lebar. “Energinya dari mana sih, pagi-pagi sudah seperti habis minum tiga gelas sirup.”

Dugh… dugh… dugh…

“Daddy! Kalau daddy nda bangun, Zayyan doblak yaaa!” ancam Zayyan polos, tapi nadanya justru terdengar menggemaskan.

Kiandra terkekeh kecil. “Dia sudah bangun. Biar aku saja yang membukanya,” ucapnya sambil hendak bangkit.

Adam langsung menahan tangan istrinya. “Jangan. biar aku aja, dia sedang mencariku,” katanya sok bangga. “Lagipula, kalau kamu yang buka, dia pasti langsung nanya sarapan.”

Kiandra mengangguk sambil tersenyum geli. “Baiklah, pahlawan kepagian. Aku ke kamar mandi dulu.”

Begitu Kiandra pergi, Adam bangkit dengan langkah malas. Rambutnya masih acak-acakan, matanya setengah terpejam. Ia membuka pintu perlahan.

Ceklek…

Belum sempat Adam berkata apa-apa, tubuh kecil Zayyan langsung menerobos masuk dan memeluk kaki ayahnya.

“Daddy lama cekali!” protes Zayyan sambil mendongak, kedua pipinya menggembung.

Adam menguap lebar. “Daddy bukan lama, daddy lagi ngecas baterai.” jawab Adam

Zayyan mengernyit bingung. “Daddy robot?” tanya Zayyan polos.

“Bukan, tapi hampur" jawab Adam mengusap kepala putranya.

Zayyan tertawa, lalu tiba-tiba menatap wajah ayahnya dengan serius. “Daddy tahu nda? Tadi Zay mimpi jadi dinocaulus.”

Adam langsung memasang wajah takjub. “Oh ya? Dinosaurus apa?”

“Dinosaurus yang bisa makan cokelat dan nggak disuruh tidur siang,” jawab Zayyan mantap.

Adam mengangguk serius. “Wah, dinosaurus langka itu. Daddy aja iri.”

Zayyan menarik tangan Adam menuju ranjang. “Daddy temenin Zayyan main. Jangan tidur lagi.” pinta bocah kecil itu.

Adam menjatuhkan diri ke kasur. “Main apa pagi-pagi begini?” tanya Adam.

“Main tebak-tebakan!” seru Zayyan antusias.

“Baik. Daddy siap,” jawab Adam sambil memejamkan mata setengah.

Zayyan berpikir keras. “Apa yang kalau pagi malah-malah, tapi kalau ciang baik?”

Adam berpikir sejenak, lalu tersenyum jahil. “Guru?” jawab Adam.

“Bukan!” Zayyan menggeleng cepat.

“Jawabannya adalah daddy!”

Adam langsung membuka mata. “Hah?”

“Iya. Kalau pagi daddy cucah bangun, tapi kalau ciang daddy baik,” ujar Zayyan polos. "Tapi juga nyebelim cih, nda pelnah main cama Zay"

Adam terdiam sesaat, lalu tertawa terbahak. “Kena juga daddy sama bocah sekecil ini.”

Zayyan ikut tertawa, lalu menepuk pipi ayahnya. “Daddy sekarang sudah bangun kan?” tanya Zayyan.

“Sudah, sudah,” Adam menghela napas pasrah. “Kalah daddy.”

Tak lama kemudian, Kiandra keluar dari kamar mandi dan mendapati pemandangan ayah dan anak itu tertawa bersama di atas ranjang.

“Sepertinya ada yang menang,” ucap Kiandra sambil menyilangkan tangan.

Zayyan langsung menunjuk Adam. “Daddy kalah cama dinocaulus!”

Adam mengangkat kedua tangan. “Aku menyerah. Anak ini terlalu kuat.”

Pagi itu pun dimulai dengan tawa, candaan sederhana, dan kehangatan kecil yang membuat kantuk seolah tak berarti apa-apa.

Kiandra berjanji akan bertahan untuk sang putra, dia akan menyingkirkan siapapun yang berusaha menghalangi kebahagiaan putranya.

1
Yana Phung
ih.. gemesnya kamu zayyan
Yana Phung
part yg aman tanpa nayla 😅😅😅
Yana Phung
wah.. semoga keluarga kecil kiandra bahagia selalu
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
Yuli Yulianti
seharus nya kamu sadar nay jgn sampai kamu jatuh lebih dalam lg pergi menjauh perbaiki diri mu selagi ad kesempatan
puji hastuti: betul sekali...bertobatlah,hidup di pondok pesantren, misalnya wkwk
total 1 replies
new user
D tunggu next up
Yana Phung
kira-kira pilihan apa yg akan diambil nayla??
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
wkwkw di barter sokorin 🤣
stela aza
si Nayla kurang kerjaan s ,, tinggal melanjutkan hidup j masih ngusik orang lain ,, apalagi yg di usik jauh di atasnya 🤦
Yana Phung
ternyata nayla beneran dijual haris 😅😅😅
falea sezi
karakter laki doyan selangor ya gini bloon
Agus Tina
Pqlingan Nayla "dijual" ...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
nah kerja begituan aja kau Nayla ..jadi pelacur cocok untuk mu 🤣
Yana Phung
astaga...
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
new user
Tks Update nya thor
Yana Phung
wah.. si kakak author updqte terus makasih kak ya
atau cerita ini akan segera tamat??
muthia
salut dg mama Ina betul-betul mertua idaman🙏
Agus Tina
Kiandra wanita luar biasa, dia hebat bisa menerima kèmbali suami yg telah menghianatinya. Buat Adam jangan sia2kan wanita swperti Kiandra tetap bahagia kalian ...
Yana Phung
sepertinya si nayla ini bukan terobsesi dg adam tapi lebih ke kiandra
maunya dia,, diatas segala-galanya dari kiandra
udah.. bikin gila aja kali ya 😅😅😅
new user
D tunggu next up
Yana Phung
aku penasaran dg endingnya
kalo sesuai judul harusnya kiandra dan adam tetap bersama
tapi melihat aksi gilanya nayla dan adam yg tidak melakukan apapun (atau itu cara adam membiarkan istrinya membalut luka),, entahlah...
karena yg memulai adam,, harusnya adam juga yg menegaskan kalo nayla memang tidak berarti apa-apa baginya

btw membaca topik ini di bulan ramadhan itu sesuatu banget ya 😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!