Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh sekali
Setelah mengalahkan Riko, Rio masuk ke kelas. Suasananya jauh berbeda; tidak ada tatapan meremehkan atau ejekan yang biasa menghujani hari-harinya.
Hening yang dulu terasa seperti hukuman kini berubah menjadi ruang bernapas. Namun tetap tidak ada yang mendekat, kecuali Elisa yang hanya memberi sapaan singkat sebelum berlalu.
Hari itu berjalan tenang sampai jam pulang. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada bayangan kekerasan di lorong-lorong sekolah. Saat tiba di rumah, Rani sudah duduk sambil makan malam. Rio berganti pakaian dan duduk di samping adiknya, mencoba menjaga ekspresi agar tidak mencerminkan apa pun tentang hari itu.
"Kakak Aku ingin masuk ke Sekolah menengah atas Naraya seperti mu."
Ketika Rani berbicara tentang rencananya masuk sekolah menengah atas yang sama, Rio hampir kehilangan kendali.
“Ahh itu…” Ia mencoba merespons dengan nada netral.
Menolak akan menyakiti hati adiknya, tetapi membiarkan itu terjadi berarti harus menjinakkan sekolah dalam hitungan bulan. "Kalau Rani sampai mengalami apa yang kualami… itu tidak boleh terjadi." Itu ambisi di pikirannya.
Pertanyaan berikutnya membuatnya terdiam.
“kenapa kak?,Atau ada yang merundung di sekolah?” Nada Rani melembut, namun matanya khawatir. Ia mendekat, menyentuh luka-luka di wajah Rio, seakan setiap sentuhan ingin memastikan kakaknya tidak sedang hancur dalam diam.
"Tidak apa apa ,aku hanya tergelincir.."
Rio berbohong, menyebut ia hanya tergelincir, membuat Rani tertawa kecil meski masih tampak cemas.
Setelah menenangkan adiknya, Rio masuk ke kamar. Ia menonton video tinju seperti biasa, tetapi pikirannya terpancing oleh rasa penasaran baru.
"Bagaimana kalau mempelajari teknik lain?." Ia membuka video taekwondo, dan pikirannya kembali fokus ke mode analisis yang tajam seperti semalam.
"Ini berhasil.."
Tubuhnya merespons dengan akurat, seakan teknik itu sudah tertanam di dalam memori sejak lama.
Ketika mencoba menendang hingga kakinya mencapai 90° ke samping, Rio terpaku. Ada rasa lega dan terkejut yang membuncah, seperti menemukan pintu baru dalam dirinya.
"Apa sebenarnya kemampuan ini? "Daya ingatnya menguat, tapi ini bukan sekadar mengingat,lebih seperti mengaktifkan sesuatu yang sudah lama dia lupakan.
Rio terduduk di tepi kasur, merenungkan fenomena itu. "Kalau ini supranatural… maka aku harus menamai teknik pikiran ini." Ia mengatur napas, meraba ketenangan yang terasa tidak wajar.
Analisis, adaptasi, prediksi gerakan,dan insting semuanya menyatu seperti indera tambahan. “King’s Sense…” gumamnya. Nama itu terasa tepat, seperti inti dari kemampuan barunya, "Karena mungkin aku akan menjadi raja."
Ia pun tidur, meski pikirannya masih berdenyut lembut oleh rasa ingin tahu. Pagi datang lebih cepat dari yang ia rasakan. Rani sudah berangkat lebih dulu. Rio menyusul tak lama kemudian, namun baru beberapa menit berjalan, seseorang berteriak memanggilnya. Riko muncul dari kejauhan, terengah-engah.
Rio melihat ke belakang,menunggu dengan sedikit waspada, memikirkan kemungkinan balas dendam. Namun jawaban Riko membuatnya terdiam.
"Ayo kita berangkat bersama."
Ia ingin berangkat sekolah bersama rio. "Apa yang terjadi dengan logika manusia ini?,apa aku memukulnya terlalu kencang?."
Bahkan Rio sampai mempertanyakan apakah pukulan kemarin membuat kepala Riko berubah arah.
"Bukannya kau yang menyuruhku untuk sekolah dengan baik?"
Ketika Riko mengingatkan tentang nasihat kemarin—yang bahkan Rio sendiri lupa telah mengucapkannya. ia hanya bisa menelan rasa malu.Tetapi ia menerima keputusan itu. Berjalan bersama seseorang yang ia tumbangkan sehari sebelumnya memberikan sensasi aneh, seperti memasuki bab baru yang tidak tertulis.
Kelas terasa lebih damai dari biasanya. Tidak ada perundungan, dan guru masuk lalu mengajar tanpa gangguan kecil apa pun. Saat istirahat, brosur-brosur klub bertebaran, dibagikan oleh siswa tahun kedua.
Suasana riuh, terlebih klub pertarungan yang berteriak penuh semangat—dan di sana berdiri Rivaldo. Rio memutuskan menghindari tempat itu sepenuhnya.
Dalam keramaian itu, perhatian Rio tertarik pada papan pengumuman. Ada satu klub yang tidak berteriak, tidak mempromosikan apa pun, hanya menempelkan pengumuman kecil yang sepi pengunjung. Klub Koran. Dalam kesunyian itu ada sesuatu yang terasa pas—tempat yang tidak memburu kekuatan, tidak mengandalkan suara keras.
Rio memutuskan untuk mendatangi klub itu.